Gagal ke Gunung Tangkuban Perahu

by Rivai Hidayat

Perjalanan selanjutnya adalah menuju ke Gunung Tangkuban Perahu. Saudaraku sering bercerita tentang bagusnya pemandangan gunung itu ke ibuku. Ibuku pun tertarik dan akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke sana. Sebelumnya aku belum pernah ke Gunung Tangkuban Perahu, tetapi aku tahu mesti lewat mana. Aku menebak kalau kami akan lewat daerah Dago dan kemudian melewati daerah Lembang.

Saudaraku melaju di depan dengan memanfaatkan aplikasi sebagai panduan peta dan jalan kami. Aku pikir akan melewati daerah Dago, tapi ternyata aplikasi mengarahkan kami melewati Kota Cimahi. Aku masih menduga kalau ini jalannya lebih sepi dan bagus makanya aplikasi memberikan pilihan jalan tersebut. Kami sempat terpisah ketika di dekat Alun-Alun Kota Cimahi. Namun, tak butuh waktu lama aku bisa menyusul saudaraku.

Kami mulai melintas di jalanan menanjak. Jalannya tidak lebar. Hanya terdapat satu lajur untuk tiap arahnya. Siang itu jalanan itu terlihat lancar. Beberapa kali angkot berhenti dan akhirnya menyebabkan arus lalu lintas tersendat sesaat. Di sebuah persimpangan jalan kami salah memilih belokan. Arah Lembang seharusnya berbelok ke arah kanan, tetapi kami malah berbelok kiri. Kami bertanya kepada warga sekitar dan ternyata kami memang salah jalan.
Baca Juga: Safar ke Kota Bandung

Kami putar balik dan terus melanjutkan perjalanan. Udara segar khas pegunungan menyapa kami sepanjang perjalanan. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Sudah lebih dari dua jam kami dalam perjalanan menuju Gunung Tangkuban Perahu. Perjalanan berlangsung lebih lama dari perkiraan. Penyebabnya karena kami memilih jalan yang memutar dan lebih jauh. Selain itu, salah jalan juga menghabiskan banyak waktu kami.

Gunung Tangkuban Perahu
Alun-Alun Lembang

Waktu menunjukkan pukul 14.00 dan kami memutuskan untuk singgah di Masjid Raya Lembang. Di sela-sela istirahat, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke Gunung Tangkuban Perahu. Menurut kami waktu itu hari sudah sore, sedangkan untuk tiba di Gunung Tangkuban Perahu masih membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit. Belum lagi macetnya arus lalu lintas yang biasa ditemui di kawasan Lembang dan sekitarnya.

Selain di Masjid Raya Lembang, kami juga singgah di Alun-Alun Lembang yang saat itu ramai dengan warga. Cuaca di bulan Desember membuat kawasan ini menjadi lebih sejuk dan dingin. Ketika duduk santai di Alun-Alun Lembang aku memperhatikan gerombolan anak-anak yang sedang berada di tepi jalan. Usianya sekitar 10-12 tahun. Mereka sedang menunggu bus pariwisata wisata melintas. Tentu bukan hal yang sulit untuk menemukannya di kawasan yang selalu ramai dengan wisatawan, seperti kawasan Lembang ini.

Sambil mengangkat tangan dan memberikan sebuah kode, anak-anak tersebut meminta sopir bus untuk membunyikan suara klakson mereka. Ada sopir bus dengan senang hati membunyikan klakson mereka yang bersuara sebuah lagu. Namun, ada beberapa sopir yang mengabaikan permintaan anak-anak tersebut.

Gunung Tangkuban Perahu
Anak-anak yang sedang menunggu bus melintas

Beberapa bus melaju secara beriringan. Beberapa sopir membunyikan klakson mereka sesuai dengan permintaan anak-anak. Jalanan menjadi berisik dengan suara-suara klakson bus yang saling bersahutan. Mendengarkan suara klakson bus yang saling bersahutan menjadi kesenangan tersendiri bagi anak-anak. Tidak lupa mereka merekamnya dengan menggunakan smartphone milik mereka. Suara klakson ini mengingatkanku pada tren Om telolet, Om!!! yang pernah ramai pada beberapa tahun yang lalu.

Ke Cihampelas

Tujuan selanjutnya adalah ke daerah Cihampelas. Daerah ini menjadi pengganti karena kami gagal ke Gunung Tangkuban Perahu. Kami mulai meninggalkan kawasan Lembang. Motor melaju dengan pelan karena arus lalu lintas sedang macet. Dalam perjalanan menuju Cihampelas aku masih menemukan gerombolan anak-anak yang meminta sopir bus untuk membunyikan klakson mereka. Memang hal ini sedang jadi tren tersendiri di kalangan anak-anak.
Baca Juga: Pagi di Masjid Al Jabbar

Sore itu jalanan di Cihampelas terpantau sangat padat. Kebetulan waktu sudah menunjukkan jam pulang kantor. Kami memutuskan untuk berjalan kaki di sepanjang trotoar jalan ini. Di sepanjang jalan banyak pedagang yang menjajakan aneka macam oleh-oleh. Mulai dari pakaian, tas, kerajinan tangan, hingga makanan.

Gunung Tangkuban Perahu
Jalan Cihampelas

Kami berhenti di salah satu penjual tas. Ibuku berencana untuk membelikan tas sebagai oleh-oleh kepada saudariku. “Namanya juga orang tua, kalau sedang liburan mesti ingat beli oleh-oleh untuk anak dan cucunya.” Pikirku sambil meninggalkan penjual tas yang sedang menata uang hasil berjualan.

Dalam perjalanan pulang kami melewati beberapa ruas jalan yang ramai dengan tenda penjual makanan. Ibuku heran karena tenda makanan ramai dengan pengunjung ini memenuhi sepanjang jalan sejauh ratusan meter. “Ya beginilah Bandung, mau cari makanan seperti apa banyak tersedia di sini. Orang Bandung suka jajan dan makan,” ujarku kepada ibu.

Lembang,
Cerita dari Gunung
16 Desember 2023

You may also like

16 comments

Heni January 25, 2024 - 10:24 pm

Kalo ke Tangkuban Parahu memang enaknya agak pagian karena jalan ke Lembang pastinya bakalan macet kalau sudah kesorean, Bandung memang kreatif dalam perkulineran, ada aja menu”baru yang bisa jadi pilihan buat jajan.

Reply
Rivai Hidayat February 1, 2024 - 1:58 pm

Benar banget mbak heny. Mestinya berangkat lebih pagi agar terhindar dari macetnya lembang. Selain itu, juga bisa menikmati udara segar lembang dan sekitarnya.

Reply
Sibayukun January 29, 2024 - 7:12 am

Aku seumur-umur juga belum pernah ke Tangkuban Perahu.. Too bad nggak jadi ya mas karena kesorean… Ya semoga next time sewaktu mengunjungi Bandung lagi bisa OTW kesana. Aminn

Ingat banget sama Cihampelas.. soalnya disini sandalku hilang sewaktu lagi solat ashar . dan iya Rame banget tapi super lengkap. Ada jajanan Cilok seribuan pke saus kacang di pinggir jalan dan rasanya enak nggak kaya di tempatku yang pake saus sama kecap..

Reply
Rivai Hidayat February 1, 2024 - 1:57 pm

Nanti kalau ke bandung, jangan lupa menyempatkan diri ke Gunung Tangkuban Perahu. Saranku berangkat pagi agar bisa menikmati suasana segar daerah lembang dan sekitarnya.

Mungkin karena ciloknya dimakan di kota tempat dia berasal jadi rasanya lebih berasa. Saus kacang itu memang lebih enak dibandingkan saus biasa bay.

Reply
Titik Asa January 29, 2024 - 11:42 am

Ah sayang ya Mas gagal ke Gunung Tangkuban Perahu. Tapi akhirnya mampir ke Cihampelas. Jadi belanja apa disana Mas? Jeans?

Hehehe…itu anak-anak sekarang ramai lagi ya menunggu bus lewat, nanti jingkrak-jingkrak deh kalau dengar nada-nada dari klakson.

Salam,

Reply
Rivai Hidayat February 1, 2024 - 1:44 pm

Kalau aku cuma jalan-jalan om. Suka menikmati suasana kota.
Bener banget, kalau bus membunyikan klakson mereka tampak riang gembira.

Reply
Nadya Irsalina January 29, 2024 - 10:13 pm

Yah sayang banget gajadi ke Gunung Tangkuban Perahu padahal udah dikit lagi loooh. Tapi kalau kesorean emang kurang enak sih, takutnya kemrungsung dan view disananya keburu gelap dll. Semoga next time kalau ada kesempatan bisa main kesana deh ya. Taun 2019 aku sempet dadakan main kesana tapi startnya dari Orchid Forest Cikole, cuma setengah jam udah sampe wkwkwk. Kesana pas udh agak sore kalo gasalah, alhamdulillah sampai ke kota Bandung belum malem2 banget.

Reply
Rivai Hidayat February 1, 2024 - 1:43 pm

Ya pasti balik lagi ke bandung dan tangkuban perahu. Suasanya daerah lembang dan sekitarnya memang layak untuk dikunjungi. Meskipun daerah sana sering maceet. Kalau sudah sampai cikole lebih dekat nad, jadi tanggung kalau ga lanjut ke tangkuban perahu.

Reply
Cerita Fotografi January 30, 2024 - 12:32 pm

Wow kemacetannya di jalan Cihampelas! Nyaing-nyaingin Jakarta ya.
Sudah lama banget nggak ke Gunung Tangkuban Perahu jadi nggak tahu suasananya sekarang.

Reply
Rivai Hidayat February 1, 2024 - 1:39 pm

macetnya di cihampelas masih bisa gerak. Apalagi itu hanya terjadi di waktu tertentu dan adanya lampu lalu lintas. Sepertinya mbak pheb perlu hunting foto ke tangkuban perahu.

Reply
Nasirullah Sitam January 31, 2024 - 7:34 am

Aku tahun 2019 pernah diajak ke Tangkuban Perahu naik sepeda, langsung kutolak. Soalnya, sebelumnya udah diajak nak ke Lembang dari Ujungberung, itu saja setengah hari hahahahahha

Reply
Rivai Hidayat February 1, 2024 - 1:35 pm

Bagi penyuka tanjakan, arah gunung tangkuban perahu memang jadi tantangan tersendiri mas. Tapi kalau dari ujung berung ke lembang itu jauh banget dan penuh tanjakan. Luar biasa kuat nanjak ke arah lembang.

Reply
fanny_dcatqueen February 1, 2024 - 7:59 pm

Waaah sayang gagal ke takuban perahu ya mas. Tapi memang macetnya ke arah sana wassalam laah . Aku beberapa kali ke sana, semuanya maceeeet mas. Butuh waktu lama naik ke atas. Memang hrs dr pagi. Waktu itu kebetulan temen Malaysia DTG, dan aku ajakin ke bandung . ..

Jalurnya masih 2 line ga sih? Itu pun utk pulang pergi, jadi kebayang aja macetnya.

Memang kalo ke bandung itu enaknya sih mager . Kalo keluar2 kok ya udah capek duluan aku bayangin macet

Reply
Rivai Hidayat February 3, 2024 - 6:48 pm

Jalannya masih 2 line. Hanya satu arah ketika di alun-alun lembang.
Kalau ke bandung mesti ekstra sabar mbak fanny. Mesti semagnat untuk berangkat lebih pagi agar tidak kena macet di sekitar tempat wisata.

Reply
Agus February 1, 2024 - 9:38 pm

Ternyata masih banyak anak anak yang minta bis membunyikan klakson ya, kirain sudah tak ada sejak tren om tolelot om turun. Memang jadi kenangan sendiri saat anak-anak dengar bunyi klakson.
Namanya jalan-jalan ya harus beli oleh-oleh.

Reply
Rivai Hidayat February 2, 2024 - 3:55 pm

tren om tolelot om kembali muncul mas. Emang jumlah belum sebanyak dulu 😀
ya begitulah orang tua, selalu identik dengan kalau jalan-jalan yaa harus beli oleh-oleh

Reply

Leave a Comment