Menyusuri Peninggalan Thomas Karsten

by Rivai Hidayat

Sore ini, Jalan Suari terpantau tersendat karena banyaknya bus pariwisata parkir di sepanjang jalan. Hal ini mengganggu perjalanan kami menuju gedung Monod Diephuis yang berada di kawasan Kota Lama. Sore ini, Mas Arry mengajak kami untuk walking tour dengan rute menyusuri bangunan peninggalan Thomas Karsten yang berada di kawasan Kota Lama.

Sesuai informasi kami berkumpul di gedung Monod Diephuis terlebih dahulu. Ada sekitar 10 orang yang akan mengikuti walking tour. Aku pernah ketemu dengan sebagian besar peserta. Semua peserta telah datang dan kami siap memulai perjalanan menyusuri peninggalan Thomas Karsten yang ada di Kota Lama.

Thomas Karsten

Herman Thomas Karsten atau yang lebih dikenal dengan nama Thomas Karsten merupakan seorang arsitektur kelahiran Belanda. Dia berkontribusi dalam arsitektur dan perencanaan wilayah di Indonesia pada masa kolonial Hindia Belanda. Hasil rancangannya tersebar di berbagai kota di Indonesia. Seperti Semarang, Solo, Malang, Jakarta, Bandung, Madiun, Yogyakarta, Cimahi, Padang, dan Medan.

Sekitar tahun 1920-an, Thomas Karsten menyatakan bahwa Jawa sebagai rumahnya. Dia menjadi seorang pengkritik kolonialisme. Sikapnya itu ditunjukkan dengan cara memasukkan unsur lokal pada setiap bangunan yang dirancang. Thomas Karsten menikahi seorang perempuan Jawa. Perjalanan Thomas Karsten berakhir dengan menjadi tawanan pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Thomas Karsten meninggal pada tahun 1945 dan dimakamkan di Ereveld Leuwigajah di Cimahi.

Kami mulai berjalan meninggalkan Gedung Monod Diephuis dan menyusuri Jalan Kepodang. Hampir semua jalan di Kota Lama diberi nama burung, seperti gelatik, kepodang, branjangan, merak, cendrawasih, garuda, meliwis, suari, kutilang, dan nuri.
Baca Juga: Ikut Gebyuran Bustaman

Dalam perjalanan itu kami melewati bekas Gedung Oei Tiong Ham Concern yang kini dimiliki oleh P.T. RNI. Gedung ini dirancang oleh Liem Bwan Tjie pada tahun 1930-1931. Arsitek Liem Bwan Tjie merupakan arsitek kelahiran Semarang yang menempuh pendidikan di Delft, Belanda. Saat ini gedung ini sedang kosong dan akan disewakan.

Bekas Gedung Oei Tiong Ham Concern

Di seberang bekas Gedung Oei Tiong Ham Concern terdapat gedung yang rusak dan terbengkalai. Beberapa bulan yang lalu, salah satu bagian bangunan itu roboh. Beruntungnya tidak ada korban. Sebagian besar bangunan di Kota Lama adalah milik pribadi dan swasta.

Proses perbaikan menggunakan biaya pribadi atau swasta. Selain itu, pengelola dan pemilik gedung tidak boleh asal merenovasi bangunan karena renovasi mesti sesuai dengan kaidah-kaidah cagar budaya. Mereka mesti berkoordinasi dengan dinas terkait. Merawat dan memperbaiki bangunan cagar budaya memang tidak mudah. Prosesnya panjang dan biaya yang dikeluarkan sangat mahal.

Gedung rusak yang ada di Kota Lama

Gedung Jiwasraya

Thomas Karsten merancang Gedung Jiwasraya pada tahun 1916. Pada awalnya gedung ini dikenal dengan nama Gedung NILLMIJ yang merupakan perusahaan asuransi pada masa Hindia Belanda. Menurut Mas Arry, proses perancangan gedung ini tidak mudah. Hal ini dikarenakan lokasinya berada di seberang Gereja Blendukā€“bangunan termegah yang ada di Kota Lama. Thomas Karsten tidak ingin bangunan yang dirancangnya kalah dengan kemegahan Gereja Blenduk.

peninggalan thomas karsten
Gedung Jiwasraya

Bentuk bangunan dan atap gedung ini bisa dibilang sangat unik. Bangunan ini mampu bersanding dalam kemegahan Gereja Blenduk. Gedung ini mampu bertahan lebih dari seratus tahun. Bentuk bangunan tidak pernah mengalami perubahan. Salah satu keunikan gedung ini adalah lorong dan deretan jendela yang setiap lantainya. Bahkan lantai tiga gedung ini menjadi lokasi terbaik untuk melihat Gereja Blenduk.

Gedung ini menjadi gedung pertama di Indonesia yang dilengkapi dengan lift khusus orang. Saat ini lift sudah tidak dapat digunakan lagi. Pihak pengelola pernah berencana untuk memperbaiki lift. Namun, setelah dihitung ternyata biaya yang dikeluarkan terlalu tinggi. Hal ini dikarenakan sparepart yang sulit dicari dan teknisi yang didatangkan dari negara penyedia lift. Saat ini gedung dalam keadaan kosong dan tidak digunakan lagi.

peninggalan thomas karsten
Gereja Blenduk yang berada di seberang Gedung Jiwasraya

Gedung Jakarta Lloyd

Kami kembali melanjutkan perjalanan dengan menyusuri Jalan Letjend Soeprapto. Selain sebagai jalan utama, Jalan Letjend Soeprapto menjadi pembatas antara dua kelurahan, yaitu Kelurahan Purwodinatan dan Kelurahan Semarang Utara. Kawasan Kota Lama masuk dalam wilayah administrasi dua kelurahan.

Sore ini kawasan Kota Lama terlihat ramai dengan wisatawan. Berjalan kaki di sore hari adalah pilihan tepat untuk menikmati kawasan ini. Mas Arry mengajak kami untuk melewati lorong samping Gedung Bank Mandiri.
Baca Juga: Dari Titik Nol Kilometer Semarang

Gedung rancangan Jacob Frederick Klinkhamer ini masih berdiri dengan kokoh dan terawat baik. J.F. Klinkhamer juga orang yang merancang Gedung Lawang Sewu yang saat itu menjadi kantor NIS. Bisa dibilang Gedung Bank Mandiri dan Gedung Lawang Sewu disebut sebagai saudara karena dirancang oleh orang sama dan memiliki bentuk yang mirip. Senang rasanya bisa melihat bangunan jaman dulu yang masih terawat dengan baik.

peninggalan thomas karsten
Gedung Djakarta Lloyd

Kami sudah tiba di depan Gedung Djakarta Lloyd yang menjadi tujuan kedua dalam menyusuri peninggalan Thomas Karsten.. Gedung ini dirancang oleh Thomas Karsten pada tahun 1929-1930. Gedung ini pada awalnya bernama Stoomvaart Maatschappij Nederland (SMN) yang merupakan perusahaan pelayaran yang melayani penumpang langsung dari Belanda ke Hindia Belanda dengan melewati Terusan Suez.

Pasca kemerdekaan, SMN dinasionalisasi menjadi P.T. Djakarta Lloyd. Bidang usaha yang dikerjakan masih sama, yaitu pelayaran dan logistik. Menurut Mas Arry, bangunan yang megah itu hanya berisi tiga pegawai yang berada di bagian depan gedung. Gedung ini terdiri dari tiga lantai. Para arsitek menyebut atap Gedung Djakarta Lloyd dengan sebutan atap bawang. Hal ini dikarenakan bentuknya mirip dengan bawang.

Pada proses pembangunannya, tampilan Gedung Djakarta Lloyd dipercantik dengan penggunaan kaca patri yang berwarna-warni. Di kawasan Kota Lama banyak bangunan yang menggunakan kaca patri. Kondisi gedung ini masih bagus dan terawat. Bahkan sekitar 90% kondisinya masih sama seperti di masa lalu. Sungguh luar biasa karena bangunan ini berusia hampir satu abad.

Hari semakin sore. Mas Arry mengajak kami meninggalkan Gedung Djakarta Lloyd dan menuju Pasar Johar yang menjadi tujuan akhir walking tour sore ini. Pasar Johar menjadi salah satu peninggalan Thomas Karsten yang sangat terkenal. Sore itu jalanan di sekitar Kota Lama tampak sangat bersahabat bagi kami.

Cerita dari Semarang
H. Thomas Karsten
29 Februari 2024

You may also like

10 comments

Nasirullah Sitam March 27, 2024 - 9:22 am

Niatku ingin keliling jogging di sini akhirnya terealisasikan meski jarang motret.
Seru banget kalau tiap di sini.

Reply
Rivai Hidayat March 29, 2024 - 12:55 am

Kota Lama sering jadi rute untuk event lari di kota semarang mas sitam. Kalau tiap minggu pagi banyak pelari yang melintas.

Reply
fanny_dcatqueen March 27, 2024 - 10:17 am

Waduuuh banyak yg kosong ya mas. Jiwasraya Segede itu ga kepake juga? Aku mikir LGS biaya maintenance nya. Ga kepake, tp biaya rutin ttp ada.

Ini pada banyak kosong apa Krn sewa terlalu tinggi?

Kuatir aja, bangunan apapun pasti rusak soalnya kalo ga rutin di maintenance. Sementara ini bangunan cagar budaya.

Djakarta lyod cuma 3 pegawai maksudnya staff perusahaan logistik ini cuma 3 orang aja di gedung sebesar itu?? .

Gedung lama seperti ini memang menarik. Apalagi kalo terawat. Tp ga dipungkiri cerita seremnya juga pasti banyak . Kayak Lawang Sewu, bagi yg indigo Bbrp orang udh cerita kalo vibe nya agak seram.

Cuma aku bersyukur sih ga bisa melihat hal2 begitu

Reply
Rivai Hidayat March 29, 2024 - 12:59 am

Iyaa, sejak jiwasraya bangkrut bangunan sudah digunakan lagi. Biaya sewa dan perawatan gedung terbilang mahal mbak fannya. Beberapa gedung tidak terpakai karena ada yang mengalami rusak.
Bener banget, pekerjanya hanya berjumlah tiga orang. Terdiri dari dua admin dan satu marketing.

kebanyakan orang lebih menyukai hal-hal mistis daripada sejarah gedung itu sendiri. Padahal banyak hal yang bisa dikulik dari gedung-gedung peninggalan masa kolonial belanda. Harapannya gedung-gedung ini bisa terjaga dengan baik.

Reply
Heni March 28, 2024 - 9:35 am

Banyak gedung-gedung tua bersejarah ya ,mirip di kota tua Jakarta,sayangnya ada sedikit yg gak terawat tapi yang lain masih bagus-bagus, dan ciri-ciri penggunaan kaca patri nya itu yg bikin cantik,memang butuh dana yang gak sedikit untuk merenovasi nya dan gak ngasal juga

Reply
Rivai Hidayat March 29, 2024 - 1:03 am

kota lama itu kota tua-nya semarang mbak heni. Dulu di sini jadi pusat pemerintahan kolonial hindia belanda. Sebagian besar bangunan terawat, tapi ada bangunan yang rusak. Harapannya gedung-gedung lawas di kota lama dan tempat lainnya bisa terawat dengan baik.

Reply
Keza felice March 29, 2024 - 12:34 pm

Terharu baca kisahnya Thomas, kasihan banget udah berjuang dan bertahan malah wafat di penjajahan Jepang. Padahal udah banyak menorehkan kenangan di bebagai bangunan ya.
GedungĀ² besar yg bersejarah. Kelihatan usianya udh cukup tua. Dan makin sayang kalau gak terawat dan digunakan dg baik.

Biasanya kalau ada gedung tua gak kepake gini, orng2 mikirnya bakal serem. Liatnya aja dh horor ya hihi

Reply
Rivai Hidayat April 2, 2024 - 9:42 pm

Pada masa peralihan ke penjajahan Jepang banyak warga sipil Belanda dan eropa ditawan di kamp interniran. Para tawanan banyak yang meninggal karena sakit, termasuk Thomas Karsten.
Perawatan untuk gedung cagar budaya lumayan mahal dan prosesnya lama. Pasti banyak yang menganggap bangunan lama itu sangat horror..hiks

Reply
Agus April 4, 2024 - 10:29 am

Ternyata merenovasi bangunan lama tidak boleh asal ya, karena bangunan itu sudah jadi cagar budaya sehingga harus sesuai dengan arsitektur lamanya.

Renovasi juga pasti mahal, contohnya gedung Jiwasraya itu, mau memperbaiki lift tapi mahal harganya sehingga batal. Seharusnya pemerintah ikut membantu ya.

Reply
Rivai Hidayat April 4, 2024 - 11:11 am

Karena bangunan yang direnovasi mesti mempertahankan keaslian bangunan tersebut. Oleh sebab itu biaya yang dibutuhkan sangat mahal.

Reply

Leave a Comment