Dari Titik Nol Kilometer Semarang

by Rivai Hidayat
titik nol kilometer semarang

Aku menghampiri sopir ojek online yang sudah tiba di lokasi penjemputan. Helm sudah aku kenakan, kami siap berangkat. Sopir mulai membawaku menyusuri Jalan Gajah Mada yang terpantau sepi. Jalan satu arah ini akan berakhir di persimpangan Jalan Pemuda. Tujuan kami adalah Kantor Pos Semarang yang terletak di dekat Titik Nol Kilometer Semarang.

Pagi ini aku mengikuti kegiatan walking tour yang diadakan oleh teman-teman Bersukaria. Ini walking tour pertama yang aku ikuti di tahun 2024. Rute kali ini adalah rute spesial dengan tema Bestie Date. Aku pun bertanya-tanya tentang tema ini. Mulai dari rute, apa yang diceritakan, hingga seperti apa walking tour kali ini.

Tema Bestie Date merupakan gambaran dalam sebuah perjalanan dengan teman dekat kita. Jadi kami diajak berjalan kaki layaknya seorang teman dekat, bukan orang yang pertama kali bertemu. Selain itu, dalam perjalanan ada beberapa pertanyaan yang akan ditanyakan kepada para peserta. Pertanyaan itu berhubungan dengan pengalaman yang yang pernah dialami. Yang bertugas sebagai storyteller kali ini adalah Uzzy.

Rute dimulai dari Kantor Pos Semarang dan kawasan Titik Nol Kilometer Semarang, kemudian menuju kawasan Kota Lama dan sekitarnya. Kantor Pos Semarang ini merupakan salah satu kantor pos tertua yang ada di Kota Semarang. Dibangun dengan desain ala bangunan Eropa membuat kantor pos ini terlihat megah. Di depan kantor pos terdapat kotak pos yang masih bisa digunakan untuk mengirim surat.

titik nol kilometer semarang
Kantor Pos Semarang

Pada masa lalu, pegawai kantor pos merupakan salah satu pekerjaan bergengsi di kalangan masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan pakaian seragam yang dipandang sebagai cerminan seorang pekerja kantoran yang selalu berpenampilan menarik dan rapi. Mereka juga dipandang sebagai orang-orang yang pandai dan berpendidikan.
Baca Juga: Jalan Kaki ke Simpang Lima

Generasi sekarang mungkin sudah lupa dengan kebiasaan berkirim surat di kantor pos. Aku pernah bertemu dengan pegawai kantor pos yang kebingungan ketika aku membeli perangko untuk kartu pos yang akan aku kirim. Pegawai tersebut mengulangi pertanyaanku dan ingin memastikan aku tidak salah beli. Seringnya orang datang ke kantor pos untuk membeli materai, bukan perangko. Perangko sudah lama ditinggalkan. Namun, aku tetap menyukai berkirim kartu pos yang dilengkapi dengan perangko yang berstempel kantor pos.

Di sebelah Kantor Pos Semarang terdapat gedung Kantor Keuangan Negara. Di masa lalu gedung ini dikenal dengan Gedung Papak. Pada awalnya gedung ini dimanfaatkan sebagai gedung keuangan. Kemudian digunakan sebagai Kantor Gubernur Jawa Tengah dan Residen Kota Semarang. Sekitar tahun 1954, gedung ludes terbakar dan banyak arsip yang hilang. Kemudian Gedung Papak dibangun ulang dengan bentuk yang lebih modern seperti saat ini.

titik nol kilometer semarang
Gedung Bank Mandiri

Di depan Gedung Papak terlihat taman dan Tugu Nol Kilometer Semarang yang telah dipercantik. Tugu Nol Kilometer Semarang ini digunakan sebagai titik awal atau akhir dalam pengukuran sebuah jarak. Lokasinya yang terletak di kantor pos karena pada masa lalu hanya kantor pos yang membutuhkan informasi jarak yang ditempuh dalam pengiriman barang.

Kami melanjutkan perjalanan menuju kawasan Kota Lama dengan menyeberangi Jembatan Mberok. Di dekat jembatan kami berhenti sejenak untuk melihat gedung Kantor Bank Mandiri yang dibangun oleh seorang arsitek Belanda, Thomas H. Karsten. Beberapa orang menyebut bentuk gedung ini mirip dengan Gedung Lawang Sewu. Hal itu bisa dilihat dari bentuk lorong yang ada di kedua gedung ini.

Perjalanan berlanjut dengan menyusuri Jalan Kepodang. Banyak gedung-gedung peninggalan jaman kolonial Hindia Belanda masih berdiri dengan kokoh. Sebagian besar gedung ini dulunya difungsikan sebagai bank atau lembaga keuangan.

titik nol kilometer semarang
Gedung Soesmans Kantoor

Di masa lalu, Kota Semarang menjadi salah satu kota yang besar perdagangan di Pulau Jawa. Hal ini membuat banyak perbankan dan jasa keuangan membuka kantor cabang di Kota Semarang. Dari sekian banyak gedung yang ada, salah satu menarik perhatianku adalah gedung Soesmans Kantoor.
Baca Juga: Jalan Kaki di Jalan Tembus UNDIP

Dulunya Soesmans Kantoor merupakan kantor percetakan dan penyedia tenaga kerja. Didirikan oleh keluarga Soesmans. Para pekerja ini disalurkan ke beberapa perusahaan pertambangan dan perkebunan. Bahkan Soesmans Kantoor juga mengirimkan pekerja perkebunan di Suriname yang kemudian menjadi bagian dari sejarah orang Jawa di Suriname.

Penjual barang bekas di Jalan Sendowo

Perjalanan kembali berlanjut dengan menyusuri Jalan Sendowo yang ramai dengan penjual barang bekas. Tidak hanya perkakas, tapi ada yang berjualan pakaian bekas. Semua barang dagangan dijual di atas trotoar jalan. Para penjual barang bekas ini menjadi sisi lain yang bisa dijumpai ketika berada di Kota Lama. Di antara bangunan-bangunan megah peninggalan masa kolonial Hindia Belanda, kita bisa menemui penjual barang bekas yang menjajakan barang dagangannya.

Dari Jalan Sendowo kami menuju Jalan Cendrawasih dan berhenti di Toko Wingko Babad Cap Kereta Api. Toko yang didominasi dengan warna oranye akan menjadi tempat pemberhentian kami. Wingko babad menjadi oleh-oleh khas dari Kota Semarang.

Sejarah wingko babad sendiri berasal dari seorang pasangan suami-istri yang berasal dari Babad–sebuah kecamatan di Lamongan–yang pindah ke Semarang. Suaminya bekerja sebagai pegawai kereta api, sedangkan istrinya membuat kue yang berbahan dasar tepung ketan yang kemudian dikenal dengan nama wingko. Kata “babad” diambil dari daerah asal mereka berdua. Nama dan logo Cap Kereta Api diambil dari pekerjaan suami yang seorang pegawai kereta api.

Toko WIngko Babad Cap Kereta Api

Wingko Babad Cap Kereta Api menyediakan empat varian rasa, yaitu rasa original, coklat, pisang, dan nangka. Uniknya. pembeli bisa membeli wingko babad secara ketengan atau per biji. Harganya pun sangat terjangkau. Rasa original dibanderol dengan harga Rp6.000/biji, sedangkan rasa coklat, pisang, dan nangka dibanderol dengan harga Rp6.500/biji.

Seperti yang aku ceritakan di atas, ada pertanyaan dari Uzzy yang mesti kami jawab. Saat itu kami sedang berada di Toko Wingko Babad Cap Kereta Api. Pertanyaan kali ini adalah berkaitan dengan makanan atau oleh-oleh yang kami suka. Aku mendapatkan kesempatan pertama untuk menjawab. Setelah berpikir beberapa saat, aku menjawab moaci Semarang sebagai oleh-oleh yang aku sukai. Kekenyalan dan gurihnya moaci memberikan kesan tersendiri bagiku.

Makan di warung soto yang ada di Kota Lama

Kami melanjutkan perjalanan menuju warung Soto Seger Kota Lama. Namanya juga Bestie Date, tentu saja menyempatkan diri untuk makan bersama. Aku menyukai soto yang disajikan dalam kuah yang bersantan dan kaya akan rempah seperti soto seger ini. Harga soto masih terjangkau, tapi harga mendoan menurutku terlalu mahal, yaitu Rp3.500/biji. Mendoan itu memang memiliki ukuran yang besar dan rasa yang enak, tapi menurutku harganya masih terhitung mahal untuk sebuah mendoan. Pada akhirnya aku hanya memakan satu mendoan.

Soto Ayam

Satu hal yang menarik dari Soto Seger Kota Lama ini adalah bangunan ini masuk dalam daftar cagar budaya Kota Semarang. Bangunan ini merupakan bangunan milik keturunan Tasripin–saudagar kulit asal Semarang. Tasripin dikenal sebagai saudagar sukses yang memiliki banyak aset properti yang tersebar di beberapa wilayah Kota Semarang. Di dinding juga terdapat foto-foto Tasripin beserta keluarga besarnya, dan foto-foto yang berhubungan dengan Kota Semarang.
Baca Juga: Singgah di Jakarta

Kami menyusuri kawasan Kota Lama dan melewati gedung H. Spiegel yang sedang direnovasi. Kafe dan resto H. Spiegel memang terkenal di kalangan wisatawan yang berkunjung ke Kota Lama. Di masa lalu, gedung ini difungsikan sebagai minimarket yang menjual kebutuhan sehari-hari. Sempat kosong dan terbengkalai lama, akhirnya gedung ini difungsikan sebagai kafe dan resto.

Stasiun Semarang Tawang

Kami melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Semarang Tawang yang menjadi tujuan akhir kami. Stasiun ini dibangun sekitar tahun 1911 oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dengan tujuan menggantikan Stasiun Samarang yang terkena banjir rob. Di sekitar Stasiun Semarang Tawang masih sering terjadi banjir rob. Bahkan operasional stasiun pernah dihentikan karena banjir rob yang masuk ke area penumpang, peron, dan jalur kereta. Kemudian keberangkatan dan kedatangan penumpang dipindahkan ke Stasiun Semarang Poncol.

Untuk mengurangi dampak banjir rob dibangunlah polder yang ada di depan stasiun. Banjir rob yang menggenangi sekitar stasiun akan dialirkan ke polder ini. Beberapa tahun yang lalu polder dipercantik dengan dibangunnya patung presiden pertama, Ir. Soekarno. 

Hari sudah beranjak siang dan matahari terasa terik. Kami akan mengakhiri walking tour ini. Aku dan salah satu peserta kembali menuju Kantor Pos Semarang yang berada di dekat Titik Nol Kilometer Semarang karena motor miliknya diparkirkan di sana. Setelah itu aku melanjutkan jalan kaki menuju sebuah toko mainan anak untuk membeli sebuah mainan anak-anak untuk hadiah ulang tahun untuk keponakanku yang paling kecil. Hari ini dia berulang tahun yang keempat.

Cerita dari Semarang
18 Februari 2024

You may also like

20 comments

Heni March 4, 2024 - 7:26 am

Unik juga naman tema jalan sehatnya bestie date, dapet bestie gak mas : D….saya nih harus rajin jalan, soalnya kalo gak ada temen jalan tuh suka mager .

Dulu sih saya masih ngerasain kirim”surat lewat kantor pos, dan beli kartu ucapan lebaran buat kirim ke temen”…atau ngumpulin perangko dalam album…sekarang udah jarang banget kayaknya orang” kenal deket yang begini….sotonya kuah bening ya mas…segeeer

Reply
Rivai Hidayat March 11, 2024 - 5:15 pm

Jalan kaki memang sebaiknya ada temannya mbak heni biar merasa ga sepi. Kalau jalan ada temannya bisa mampir jajan juga.

Orang sekarang jarang kirim surat pakai perangko mbak, paling yang punya hobi aja. Sotonya seger mbak, kuahnya banyak rempahnya.

Reply
Keza felice March 4, 2024 - 2:28 pm

Selalu berkelilng kota ya kak. Perjalannya padet banget jadwalnya. Tapi serasa dibawa keliling kota beneran.
Btw apa semua kota punya kota tua begini ya? Aku pikir dulu yg ada Kota Tua-nya itu cuma jakarta, ternyata semarang juga ada.
Soal makanan khasnya ini unik banget, tapi aku malah kebayang makan moci stroberi hihi
kapan-kapan keliling lampung kak heheh nanti ketemunya sama aku dan kak mreneyoo hihihi gayak banget sh aku

Reply
Rivai Hidayat March 11, 2024 - 5:32 pm

Aku kurang tahu apakah setiap kota memiliki kota tua atau ga, tapi kota tua di jakarta dan kota lama di semarang yang sangat dikenal masyarakat.

Oalah mbak kezia dari lampung juga yaa. Banyak juga yang berasal dari lamm[ung. Mungkin hampir mirip dengan moci dengan rasa stroberi.

Reply
Kang Ismet March 4, 2024 - 7:43 pm

Unik juga tema-nya, btw ngomong-ngomong kantor pos jadi inget jaman 90an. Dimana harus ke kantor pos buat kirim kartu lebaran, kirim uang via wesel, pokonya serba lama.. tapi hikmahnya belajar sabar dan tidak tergesa-gesa..

Reply
Rivai Hidayat March 11, 2024 - 5:38 pm

Berkirim surat atau kartu pos pakai peranko itu memang melatih kesabaran. Bahkan ada surat atau kartu pos yang ga pernah sampai ke penerima.

Reply
fanny_dcatqueen March 5, 2024 - 9:33 am

Duuuuh seruuuu. Jakarta sebenernya banyaaak sih walking tour juga. Tapi kok aku blm Nemu yg sreg. Kemarin itu pengen ikutan yg tempat2 didatangi cakrabirawa di sekitaran Menteng, tapi baru juga mau book, dah habis slot hahahahha. Banyak peminatnya kalo destinasi ‘serem’ begitu.

Soto semarangnya kliatan enak. Agak beda bentuknya dr soto Semarang yg dijual di jakarta. Kayaknya ga putih begitu kuah yg di sini. Tapi karena yg mas foto lokasinya udah di Semarang, jadi aku percaya Soto aslinya begitu :D.

Aku juga LBH suka mochi Semarang mas..kalo wingko ntah kenapa ga doyan. Apa Krn ada campuran kelapanya kali yaa.. aku ga terlalu suka kelapa kalo dicampur ke kue 😀

Reply
Rivai Hidayat March 11, 2024 - 5:58 pm

Kalau yang di jakarta yang paling terkenal itu jakarta good guide. Mereka menyediakan banyak rute. Rute-rute spesial memang ramai dengan peminatnya makanya lebih cari jalur reguler aja..hihihii

Di semarang juga ada soto semarang yang kuahnya bening. Lebih bening yang aku makan ini. Kadang bingung juga dengan tampilan soto semrang yang bermacam-macam. Tapi setahuku soto semarang itu terkenal dengan kuahnya yang bening.

Bisa jadi karena kelapanya. Moci semarang memang beda dengan moci lainnya 😀

Reply
Surya Adhi March 5, 2024 - 5:18 pm

Selepas tak lagi merantau di Semarang, kenapa justru baru sekarang saya mengetahui kalau ternyata ada kegiatan seru seperti ini, cukup kecewa dan menyesal melewatkannya, apalagi setelah membaca perjalanan dari mas rivai di sini, terlihat seru dan menyenangkan, harusnya dulu saya ikutan ya, haha
ya, semoga lain kali ada kesempatan buat mengikuti kegiatan seperti ini, selain bisa lebih menikmati berada kota tersebut, juga itung-itung bisa sekalian belajar sejarahnya 🙂

Reply
Rivai Hidayat March 11, 2024 - 6:00 pm

Wah, sepertinya mas surya sesekali mesti main ke semarang lagi. Entah untuk bernostalgia atau eksplore lagi tentang semarang. 😀

Reply
Sibayukun March 6, 2024 - 9:11 pm

Akuu malah baru tahu ik kalau ada istilah Walking Tour begini? Kok di Kota tempat tinggalku nggak pernah dnger ya. Apa akunya yang kudett? Tapi sumpahh itu seru banget. Jalan bareng, dapet kenalan, terus ngobrol kaya Bestie. Hahah.. bayangan aku soalnya seru, di cerita Mas Rivai juga seru.

Wahh mampir sini sekalian Belajar Sejarah. wkwk. Aku tuh dulu sewaktu tinggal Semarang ndak pernah main jauh. Paling pernah Sekaran-Tembalang seringnya… Kalau destinasi wisata pernah tuh Pantai Maron yang agak bikin aku garuk-garuk , terus Lawang Sewu.. Uis itu tokk.. Paling sama jalan ke daerah mana gtu pesisir tempat sewaktu ikut event nanem Manggrove… Ohh o sama jadi korban begal sewaktu pulang tengah malam sama temen di Jalan Pemuda.. Ya Ampun kalau diingat-ingat seremm tuhhh. Soalnya bawa celurit… Temen kosanku yang udah ngajak by one, + adegan lempar helm….

Untung langsung tak ajakin surrender dengan ngasih uang 600k … Si Begal udah ngibrit kesenengan kayanya. Ndaan sekarang masih rawan mas?

Reply
Rivai Hidayat March 11, 2024 - 6:22 pm

Kurang tahu kalau di cilegon bay, kalau di jakarta banyak yang mengadakan walking tour. Di jogja, solo, bandung, kudus, bogor juga ada. Sebetulnya masih ada beberapa pertanyaan, tapi ga aku tulis. Takut kepanjangan nanti tulisannya…hiks

Mungkin dulu terlalu fokus kuliah jadi kurang eksplore daerah lainnya. Buset, di daerah pemuda ada yang bernai begal ya? padahal itu lumayan ramai daerahnya. Kalau rawan sih ada beberapa tempat yang rawan dan sepi, tapi biasanya memang dihindari kalau pulang malam. Sekarang sudah jarang terdengar berita begal di semarang.

Reply
Agus Warteg March 8, 2024 - 10:12 am

Zaman dahulu memang keren kerja di kantor pos karena pakai seragam. Dahulu juga suka nunggu pak pos, soalnya orang tua merantau di Jakarta, jadi kadang kirim surat lewat pos. Tapi yang ditunggu kiriman wesel.

Reply
Rivai Hidayat March 11, 2024 - 6:01 pm

Kita masih mengalami masa di mana menunggu kedatangan pak pos yaa mas 😀
dulu aku sering nunggu surat dari saudara 😀

Reply
Nasirullah Sitam March 8, 2024 - 1:52 pm

Dulu kepikiran pengen ikutan walking tour seperti ini di Semarang, tapi kok apa daya, waktu belum juga bisa pas. Hahhahaha. Memang menyenangkan sih kalau bisa motret sambil mendapatkan informasi baru

Reply
Rivai Hidayat March 11, 2024 - 6:24 pm

Kalau bagi wisatawan dari luar kota mesti mencocokan jadwalnya. Biasanya ada jadwal di hari sabtu dan minggu, Baik di waktu pagi dan sore.

Reply
dunia kecil indi March 9, 2024 - 3:23 pm

Bentuk bangunan Kantor Pos nya agak mirip di Bandung ya, klasik-klasik gitu. Di depan Gedung Mandiri itu memang sepi kah, atau kebetulan aja pas ambil fotonya? Soalnya kelihatan damai banget, hehehe. Gara-gara tulisan ini aku jadi tau sejarah Wingko Babad, ternyata nama daerah ya. Kupikir ada artinya gitu.

Mendoannya mahal mungkin karena daerah wisatawan kali ya? —-Eh tapi di sini harga mendoan juga sama sih, segituan. Kalau beli pakai Ojol 20 ribuan dapatnya 5 potong aja ukuran standar xD
Baca ini jadi kangen Semarang deh, semoga ada kesempatan ke sana lagi 🙂

Reply
Rivai Hidayat March 11, 2024 - 6:42 pm

Sama-sama memiliki gaya artdeco. Mungkin sama-sama artisteknya orang belanda jadi desain seperti ini menjadi tren pada masa itu. Di depan kantor bank mandiri sebetulnya ramai dengan kendaraan, aku nunggu sepi dulu kemudian baru difoto.

Mungkin, karena soto ini terletak di kawasan kota lama. Tapi untuk ukuran semarang harga mendoannya masih terbilang mahal. Kami akui mendoannya enak dan renyah 😀
Ayo kak indi, ke semarang lagi 😀

Reply
Peri Kecil Lia ‍♀️ March 13, 2024 - 12:23 am

waktu aku beli prangko di kantor pos dekat rumahku, pegawainya juga terlihat bingung. untung ada pegawai yang lebih senior yang langsung sigap buka album koleksi prangko kantor pos hahaha, ternyata di kantor pos sini prangkonya ditata rapih di dalam album jadi masih lurus-lurus meski tahun terbitnya udah lama 🙁 sayang ya Kak, jaman surat-menyurat ini udah ditinggalkan di Indonesia padahal seru 🙁

btw, aku baru tahu sejarah wingko babad dan baru pertama kali lihat soto seger! menarik sekali. kuahnya nyaris bening mirip sop ayam hahaha. kalau wingko, aku paling suka yang original dan selain cap kereta api, kayaknya yang gambarnya kapal laut yang agak mirip logo permen fisherm4n itu juga cukup terkenal(?)

Reply
Rivai Hidayat March 14, 2024 - 2:09 pm

Banyak yang berpikir kalau surat menyurat sudah tidak lagi efektif dan cepat untuk berkirim kabar. Akhirnya mulai ditinggalkan oleh masyarakat. Aku malah baru tahu tentang tahun terbit perangko. Biasanya aku hanya mengamati seri perangko yang dijual. Setiap seri bisa terdiri beberapa perangko.

Lebih bening dari sop ayam. Ini kuahnya penuh dengan rempah-rempah makanya rasanya menyegarkan. Bener banget ada merek dengan logo kapal. Itu juga sering ditemui di toko oleh-oleh. Banyak brand yang mengeluarkan produk wingko babad.

Reply

Leave a Comment