Pasar Johar: Mahakarya dari Thomas Karsten

by Rivai Hidayat
pasar johar

Kami melanjutkan perjalanan menuju Pasar Johar dengan menyusuri Jalan Mpu Tantular. Di masa Hindia Belanda, jalan ini dikenal dengan nama Wester Wal Straat. Jalan ini berbatasan langsung dengan Kali Semarang. Keberadaan Kali Semarang sangat penting dalam perkembangan Kota Semarang.

Di masa lalu, Kali Semarang dimanfaatkan sebagai jalur transportasi dan perdagangan. Kali Semarang mengalir dari sekitar Tugu Muda melewati daerah Pecinan, sekitar Kota Lama dan bermuara di Laut Jawa. Dulu banyak perahu yang melintas di Kali Semarang.

Banyak daerah yang kemudian berkembang karena keberadaan Kali Semarang. Seperti lahirnya Pasar Baru, Pecinan yang letaknya dekat Kali Semarang. Barang dagangan milik pedagang dipasok melalui jalur Kali Semarang.
Baca Dulu: Menyusuri Peninggalan Thomas Karsten

Kemudian ada beberapa klenteng di Pecinan yang dibangun di dekat kali Semarang. Hal ini memudahkan nelayan untuk singgah terlebih dahulu ke klenteng sebelum mereka berlayar. Kini, Kali Semarang tidak dimanfaatkan lagi sebagai jalur transportasi. Telah terjadi sedimentasi sehingga tidak bisa dilalui oleh perahu.

pasar johar
Jalan Empu Tantular dan Kali Semarang

Dugderan

Setelah menyusuri Jalan Empu Tantular kami tiba di Jalan Agus Salim. Sore itu Jalan Agus Salim terlihat ramai karena ada kegiatan Dugderan. Kegiatan Dugderan digelar mulai hari ini hingga tanggal 9 Maret 2024 mendatang. Kegiatan ini diadakan dekat dengan Pasar Johar. Dugderan merupakan tradisi yang digelar di Semarang untuk menandai dimulainya ibadah puasa di bulan Ramadan.

Mainan yang dijual di Dugderan

Dugderan berasal dari dua kata, yaitu dug yang berarti bunyi dari bedug , dan -der yang berarti suara dari mercon untuk memeriahkan acara ini. Menurut cerita, tradisi Dugderan sudah dilaksanakan sejak tahun 1881. Saat itu Bupati Semarang, R.M. Tumenggung Aryo Purboningrat ingin menyatukan pendapat tentang kapan dimulainya ibadah puasa di bulan Ramadan.

Pada hari akhir Dugderan akan diramaikan dengan kirab yang dimulai Kantor Balaikota Semarang menuju Alun-Alun Masjid Agung Semarang atau Masjid Kauman. Kirab itu juga diramaikan dengan tarian Warak Ngendog. Warak Ngendog ini merupakan simbolisasi dengan bentuk seekor hewan berkaki empat dengan kepala menyerupai naga. Ini merupakan sebuah bentuk etnis yang tinggal di Semarang, yaitu etnis Jawa, Arab, dan Tionghoa.

Di antara lapak pedagang Dugderan

Dugderan yang dulunya berupa kirab kini telah diramaikan dengan banyaknya penjual yang berjualan seperti layaknya pasar malam. Aneka barang mereka jual, seperti makanan, pakaian, mainan, kurma, dan hiburan lainnya. Tradisi Dugderan terus terjaga hingga sekarang dan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi warga. 

Pasar Johar

Setelah menyusuri jalan di antara lapak pedagang, akhirnya kami tiba di halaman depan Pasar Johar. Thomas Karsten merancang Pasar Johar sekitar tahun 1936. Nama Pasar Johar diambil dari pohon johar yang banyak tumbuh di kawasan ini. Lokasi Pasar Johar dekat dengan Alun-Alun Masjid Agung Semarang. Lokasi ini juga dekat dengan penjara yang ramai dengan kunjungan dari keluarga para tahanan.

Daerah tersebut berkembang semakin ramai. Pada saat itu pemerintah Hindia Belanda membutuhkan pasar yang lebih besar dan modern. Bangunan penjara kemudian dibongkar dan akan diganti dengan pasar. Pemerintah Hindia Belanda pun mengadakan sayembara untuk desain pasar tersebut. Dari beberapa desain yang masuk, akhirnya desain milik Thomas Karsten dipilih sebagai pemenang. Desain ini membutuhkan anggaran yang lebih besar dibandingkan desain lainnya. Thomas Karsten menawarkan penggunaan tiang beton dengan bentuk cendawan atau jamur.

pasar johar
Pasar Johar

Sebelum proses pembangunan dilakukan, Pemerintah Hindia Belanda dan Thomas Karsten melakukan pengujian rancangan dengan membangun Pasar Jatingaleh. Pasar ini dianggap sebagai versi mini dari Pasar Johar. Pasar Jatingaleh memiliki tiang cendawan dan ventilasi yang cukup besar di bangunan utamanya.
Baca Juga: Ikut Gebyuran Bustaman

Salah satu yang menjadi ciri khas Pasar Johar adalah tiang berbentuk cendawan atau jamur. Di Kota Semarang terdapat tiga bangunan yang menggunakan tiang cendawan, yaitu Pasar Johar, Pasar Jatingaleh, dan Pasar Randusari. Sebetulnya dulu ada Pasar Bulu yang juga memiliki tiang cendawan. Namun, tiang itu dirobohkan ketika proses revitalisasi pasar menjadi bentuk bangunan yang lebih modern. Kejadian ini sangat disesalkan oleh para penggiat sejarah, dan cagar budaya, serta arsitek.

pasar johar
Tiang cendawan Pasar Johar

Pasar Johar dilengkapi dengan ventilasi dengan yang berada di atap bagian tengah. Hal ini memungkinkan sirkulasi udara berjalan dengan baik dan membuat ruangan pasar tetap sejuk. Pasar Johar diresmikan pada tahun 1939 dan menjadi pasar terbesar di Asia Tenggara pada masa itu. Pasasr modern ini terus berkembang dan banyak pedagang memenuhi lapak-lapak yang ada di pasar.

Di sekitar tahun 2010 aku sering sekali pergi ke pasar ini. Biasanya aku mengantar ibuku yang suka blusukan ke pasar tradisional atau membeli perlengkapan olahraga. Saat itu kondisi pasar semrawut. Banyak lapak pedagang yang tidak tertata dengan baik. Sebagian pedagang memenuhi lorong yang menjadi jalan utama pasar. Arus hilir mudik pengunjung membuat pasar selalu ramai. Meskipun semrawut, aku jarang tersesat ketika berada di pasar ini.

Kebakaran Tahun 2015

Pada bulan Mei 2015, Pasar Johar mengalami kebakaran yang menghabiskan seluruh lapak pedagang. Kebakaran yang disebabkan karena adanya hubungan arus pendek itu terjadi pada malam hari dan baru bisa dipadamkan pada siang hari keesokan harinya. Belasan mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk menjinakkan si jago merah. Pasar ini ditutup dan para pedagang direlokasi ke tempat lain. Kejadian ini menjadi pukulan telak bagi pemerintah kota dan para pedagang.

Pada tahun 2018, Kementerian PUPR melakukan revitalisasi Pasar Johar. Proses revitalisasi ini melibatkan penggiat sejarah dan cagar budaya karena pasar ini merupakan bangunan cagar budaya. Proses revitalisasi mesti menggunakan kaidah-kaidah cagar budaya. Salah satunya adalah tetap mempertahankan bentuk asli tiang cendawan yang menjadi ikon Pasar Johar.
Baca Juga: Dari Titik Nol Kilometer Semarang

Kerusakan di beberapa tiang cendawan bekas kebakaran tetap dipertahankan. Hal itu bertujuan untuk mengenang peristiwa kebakaran yang memilukan itu. Beberapa fasilitas ditambahkan untuk melengkapi pasar ini, mulai dari perbaikan drainase, alat pemadam kebakaran, kamera CCTV, mesin genset, tenaga keamanan, hingga jalur untuk penyandang disabilitas.

Pasar Johar circa 2012

Pada tanggal 5 Januari 2022, Presiden Jokowi meresmikan Pasar Johar sebagai penanda bahwa proses revitalisasi telah selesai dilaksanakan. Kami pun menyempatkan diri untuk berfoto di dekat plakat yang ditandatangani oleh presiden. Kini pasar ini lebih tertata dengan baik dan telah bangkit dari masa keterpurukan.

Sore itu, Pasar Johar sudah terlihat sepi. Banyak pedagang sudah meninggalkan lapak milik mereka. Pasar Johar akan tutup pada pukul 17.00. Setiap pintu masuk pasar dijaga oleh pihak keamanan dan pedagang dilarang memasuki area pasar jika tidak ada keperluan mendesak. Ini merupakan amanat dari Presiden Jokowi yang menginginkan Pasar Johar tetap terjaga kebersihan dan keamanannya sehingga bisa menjadi pasar yang bersih, rapi, tertata, dan tidak jadi pasar yang kotor dan bau.

*****

Peninggalan Thomas Karsten di Kota Semarang tidak hanya Gedung Jiwasraya, Gedung Djakarta Lloyd, dan Pasar Johar. Masih banyak gedung atau bangunan yang sudah dirancang dan masih bertahan hingga sekarang, seperti Gedung Sobokartti, RS Elisabeth, Pasar Jatingaleh, Kantor KAI Daops IV, Taman Diponegoro, dll. Bahkan di Kota Semarang Thomas Karsten juga merancang kawasan permukiman, seperti kawasan Candi Baru, Kampung Senjoyo, Mlatiharjo, dll.

Perjalanan menyusuri peninggalan Thomas Karsten telah berakhir. Rasanya sangat menyenangkan bisa mengenal Thomas Karsten melalui karyanya. Thomas Karsten telah menjadi bagian penting dalam perkembangan Kota Semarang. Kami kembali menuju ke Gedung Monod Diephuis.

Cerita dari Semarang
H. Thomas Karsten
29 Februari 2024

You may also like

11 comments

Heni April 5, 2024 - 9:09 am

Gegara kali Semarang saya jadi keinget lagu
keroncong… Semarang kaline banjir..kalo gak salah lagu keroncong Jawa ,penyanyinya Bu Waljinah yang legend itu, barangkali terinspirasi dari kali ini hehe…..kebanyakan pasar tradisional di beberapa tempat memang agak jorok,lembab dan becek ya, pasar tradisional tempat saya juga gitu mas, sudah di pindahkan di gedung yang baru,tapi para pedagangnya tetap jorok,jadinya kesannya kumuh,padahal belanja di pasar tradisional itu enak nawarnya dan sayuran juga masih segar.

Reply
Rivai Hidayat April 11, 2024 - 1:17 pm

Aku juga baru ingat tentang lagu ini. Terus ada lagu gambang semarang yang sering dimainkan pengelola stasiun semarang tawang ketika kedatangan penumpang di stasiun. Pengelolaan kebersihan di pasar tradisional memang jadi tantangan tersendiri mbak heni. Gerakan ini tidak hanya jadi tanggung jawab pengelola, tapi juga dari pedagang pasar dan pengunjung. Kalau pasar bersih dan terawat dengan baik maka pengunjung akan nyaman dan siap berkunjung di lain waktu.

Reply
Djangkaru Bumi April 5, 2024 - 5:44 pm

Pasarnya unik
punya ciri khas yang apik, tidak ada kembarannya
Semarang memang top, bangunan bersejarah dirawat dengan baik

Reply
Rivai Hidayat April 11, 2024 - 1:10 pm

Semarang memang terkenal dengan bangunan jaman dulunya, mas.

Reply
fanny_dcatqueen April 6, 2024 - 11:06 am

waaah dari thn 1881 tradisi dugderannya ya mas ^o^.. itu bupati semarangnya menjabat di tahun itu? aku pikir pas 1881 krn masih penjajahan, blm ada bupati dan sebagainya.. kalopun ada mikirnya orang belanda yg pegang kedudukan itu..

jadi tahu ttg tiang cendawan.. kereeen bentuknyaaa :D.. jd waktu kebakaran besar tiang ini ttp berdiri kokoh yaaa? aku salutnya ama bangunan2 belanda ini, semua kokoh loh, banyak yg msh kuat berdiri ratusan tahun hingga sekarang…

aku biasanya males ke pasar, krn identik kotor dan bau.. tapi kalo pasarnya dibuat tertib, bersih seperti ini, malah penasaran pengen lihat dalamnya 😀 . syukurlah pas kebakaran akhirnya di renovasi tapi tetap menjaga bentuk aslinya yaa..

Reply
Rivai Hidayat April 11, 2024 - 1:45 pm

Pas Hindia Belanda memerintah dibantu para bupati yang bertanggung jawab atas wilayah tersebut mbak.
Pas kebakaran tiang-tiang tersebut masih berdiri tegak. Hanya ada beberapa kerusakan kecil. Bangunan peninggalan kolonial belanda memang terkenal bisa bertahan hingga ratusan tahun.
Masalah utama di pasar memang masalah kebersihan. pascakebakaran diberikan himbauan untuk selalu menjaga kebersihan dan disediakan banyak tempat sampah. Aku pun ingin ke sana lagi, kebetulan ibuku juga suka blusukan ke pasar.

Reply
Djangkaru Bumi April 8, 2024 - 10:02 pm

Tampilan halaman depannya kok sedikit rusak
itu mainan kapal-kapalan masih tren juga ya

Reply
Rivai Hidayat April 11, 2024 - 1:05 pm

Mainan kapal-kapalan ini sudah jadi identitas dari dugderan mas.

Reply
ainun April 8, 2024 - 10:29 pm

dengan adanya tiang atau pilar di bangunan area dalam pasar, pasar johar terlihat wah ya, pantesan juga merupakan pasar terbesar di asia tenggara waktu itu
ngebayangin zaman dulu, kalau di pasar ini ruamenya kayak apa ya, rame pol pastinya, apalagi semarang juga merupakan lalu lintas perdagangan internasional
aku ngebandingin sama pasar terbesar di Jember, kotaku sini, masih terlihat mewah dan besar pasar johar, di kotaku terlihat kumuh dan sempit juga lorong lorongnya

Reply
Rivai Hidayat April 11, 2024 - 1:09 pm

Sebelum terjadi kebakaran kondisinya juga ramai dengan pedagang yang tidak tertata rapi dan akhirnya terkesan kumuh. Pasar Johar ini juga terbilang ramai dan besar hingga akhirnya menarik minat pedagang untuk memiliki lapak di pasar ini. Sekarang pasar Johar lebih tertata rapi. Pemerintah kota juga sedang mengajak masyarakat untuk kembali meramaikan pasar johar.

Reply
Wahyudin Tamrin April 13, 2024 - 8:21 pm

Woow pasarnya sudah cukup tua yah. Keren, masih bisa lestari hingga saat ini. Nama dan bangunan yang tidak berubah jadi saksi sejarah masa lalu.

Perjalanan ke tempat2 seperti ini sangat menarik untuk dikunjungi.

Reply

Leave a Comment