Jalan Kaki di Jalan Tembus ke UNDIP

by Rivai Hidayat
jalan tembus ke undip

Pagi itu kami bangun lebih awal dari biasanya. Selepas salat subuh, aku dan kedua keponakanku memutuskan untuk olahraga jalan kaki. Aku dan kedua keponakanku ini sering pergi atau olahraga bareng. Mulai dari jalan kaki, jogging di lintasan lari, hingga trekking di curug. Kedua keponakanku usianya 10 dan 9 tahun. Rencana awal kami akan jalan kaki di rute yang biasa kami lewati. Namun, setelah berdiskusi akhirnya kami memilih rute melewati Jalan Burangrang Utara atau yang lebih dikenal dengan jalan tembus ke UNDIP (Universitas Diponegoro).

“Om, jalannya sepi kayak kota mati,” ujar si bungsu ketika kami keluar dari gang kampung. Pagi itu memang kondisi jalanan masih sepi, meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 06.00. Mungkin hal ini dikarenakan hari ini adalah hari Sabtu. Pelajar dan sebagian pekerja sedang libur. Keramaian baru terlihat di sekitar Pasar Jangli. Terlihat beberapa pedagang sedang menata barang dagangan mereka.

Jarak satu kilometer pertama berhasil kami lalui dengan baik. Terdapat satu jalan menanjak, tapi hal itu tidak menjadi halangan bagi kami. Dalam perjalanan menuju kilometer kedua dan ketiga kondisi jalan terpantau sepi. Kami melewati area permukiman warga. Jalannya tidak lebar, tapi ini merupakan satu-satunya akses menuju jalan tembus ke UNDIP. Jika ada dua mobil berpapasan, salah satu mobil mesti berhenti terlebih dahulu.

Jalan menjadi lebih lebar ketika kami tiba di dekat Jalan Burangrang Utara atau jalan tembus ke UNDIP. Di sekitar jalan ini banyak kompleks perumahan. Sebelum mulai melintas di jalan tembus ke UNDIP, seorang pemuda menghampiri kami. Tadi aku melihat dia sedang duduk di sebuah taman di kompleks perumahan. Dia meminta ijin untuk bergabung bersama kami karena dia takut ada tiga ekor anjing yang berada tidak jauh dari tempat kami.
Baca Juga: Singgah di Jakarta

Sedari tadi ketiga anjing itu sibuk mondar-mandir dan menggonggong. Mungkin hal itu yang membuatnya takut untuk melintas. Setelah jauh dari ketiga anjing itu, pemuda itu langsung berjalan lebih cepat dan meninggalkan kami di belakangnya. Jalan tembus ke UNDIP yang berupa jalanan menanjak tanpa sebuah pepohonan di tepi jalan. Pasti jalan ini terasa sangat panas ketika siang hari. Kami memulai perjalanan dengan langkah kaki yang santai.

Pedagang minuman yang menggelar dagangannya

Jalan tembus ke UNDIP ini memiliki panjang hampir satu kilometer. Proses pembangunan jalan ini dengan membelah area perbukitan yang ada di kawasan ini. Tujuan pembangunan jalan ini adalah untuk memecah kemacetan yang sering terjadi di Jalan Prof. Sudharto pada jam-jam sibuk. Selain itu, jalan ini menjadi penghubung antara daerah Jangli dengan daerah Tembalang. Pada akhir tahun 2022 jalan ini bisa dilewati oleh warga.

Proses perbaikan dan penyempurnaan jalan masih terus dilakukan. Khususnya pada bagian saluran air. Terlihat beberapa ruas mengalami kerusakan pada aspal. Selain itu, jalan ini pernah mengalami ambles. Hal ini disebabkan kondisi tanah yang labil. Saat kami melintas terlihat sebuah alat berat, bahan material, dan garis pembatas area perbaikan.

Hampir setiap sore hari di jalan ini selalu ramai dengan para pemuda yang nongkrong menikmati sore. Beberapa pedagang minuman juga menggelar barang dagangan mereka. Berjejer rapi dan menyediakan tikar sebagai alas tempat duduk. Di hari Minggu pagi warga memanfaatkan jalan ini untuk berolahraga. Mulai dari jalan kaki, jogging, hingga bersepeda. Jalan tembus ke UNDIP ini menciptakan keramaian tersendiri.

jalan tembus ke undip
Gedung Fakultas Psikologi yang terlihat dari kejauhan

Ujung jalan sudah terlihat dengan jelas. Gedung Fakultas Psikologi UNDIP pun terlihat semakin dekat. Selama perjalanan melewati jalan tembus ke UNDIP ini kami isi dengan obrolan ringan dengan berbagai bahasan. Seperti si sulung yang bertanya tentang berbagai jurusan yang ada di universitas. Usianya memang masih 10 tahun, tapi dia sudah penasaran dengan dunia perkuliahan. Bahkan dia memintaku bercerita tentang kisahku yang hampir menjadi mahasiswa Fakultas Peternakan UNDIP.
Baca Juga: Gagal ke Gunung Tangkuban Perahu

Kami mulai meninggalkan jalan tembus ke UNDIP dan menuju Jalan Sekip yang ada di seberang Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UNDIP. Sebelum ada Jalan Burangrang Utara, Jalan Sekip sering digunakan sebagai jalan tembus ke UNDIP. Namun, jalan ini terlalu sempit, berlubang, dan kondisinya kurang ideal untuk dilakukan pelebaran jalan. Bahkan sebuah mobil sulit untuk melintas di jalan ini.

Pemandangan dari ujung jalan tembus ke UNDIP

Dari Jalan Sekip ini kami bisa melihat area Bukit Diponegoro yang dalam beberapa bulan terakhir selalu ramai dikunjungi anak muda di kala sore hari. Mereka menikmati waktu sore dan tenggelamnya matahari dari bukit ini. Warga sekitar mengelola tempat ini dengan cukup baik. Berbagai fasilitas dibangun untuk menambah kenyamanan pengunjung. Mulai dari warung, area parkir, kursi dan meja, tikar bagi mereka yang ingin lesehan, lampu penerangan, hingga toilet.

Dalam perjalanan pulang aku baru menyadari bahwa terdapat sebuah jalan yang baru saja dibuka. Jalannya cukup lebar. Mungkin sekitar sepuluh meter. Jalan ini memiliki aspal yang bagus dan dilengkapi besi pembatas jalan. Aku belum pernah melewati jalan ini. Setelah aku cek di aplikasi, ternyata jalan ini tembus ke kompleks perumahan dan Kantor Kelurahan Jangli. Aku jadi tertarik suatu saat bisa melintasi jalan ini. Entah itu dengan cara berjalan kaki, bersepeda, maupun naik motor.
Baca Juga: Safar ke Kota Bandung

Dalam perjalanan pulang kami melewati jalan yang sama ketika kami berangkat. Hari semakin siang dan jalanan sudah mulai ramai dengan kendaraan bermotor. Tidak ada trotoar sehingga kami mesti berhati-hati berjalan kaki di tepi jalan. Dalam perjalanan pulang kami juga berpapasan dengan guru-guru kedua keponakanku yang ternyata sedang ada kegiatan jalan pagi bersama. Mereka berdua menyapa guru-guru mereka. Sepertinya guru mereka ikut senang melihat kedua anak asuhnya sedang berolahraga.

Menurut aplikasi, total perjalanan yang kami tempuh pagi itu adalah sejauh 8.3 kilometer dalam waktu sekitar 2 jam. Jarak ini terbilang lebih jauh dibandingkan jarak dengan rute yang biasa kami lewati yang memiliki jarak sekitar 5 kilometer. Jarak terbilang jauh bagi mereka berdua. Si bungsu sampai merasakan lelah di kaki kanannya. Raut mukanya juga sudah basah dengan keringat.

Selain jarak yang kami tempuh, ada sebuah hal yang lebih berarti bagi kami. Kami jadi memiliki banyak waktu dan bisa mengobrol sepanjang perjalanan. Hanya obrolan santai, tapi hal itu bisa menambah kedekatan kami. Selain itu, mereka bisa berlatih untuk terus berpikir, berbicara, dan bertanya. Anak-anak memang selalu identik dengan rasa penasaran. Mereka punya kesempatan untuk menemukan banyak hal yang mungkin jarang mereka lihat. Aku juga berharap mereka berdua selalu bersemangat untuk terus berkegiatan dan berolahraga.

Cerita dari Semarang
3 Februari 2024

You may also like

14 comments

Heni February 10, 2024 - 7:28 am

Wah ceritanya kali ini jalan bareng ponakan ya mas..anak”memang rasa ingin taunya cukup tinggi,selama itu positif,kita” yang dewasa cukup mengawasi dan mengarahkan…pemandangannya bagus banget,daerah ketinggian ini berarti ya..eeh UNDIP itu bukannya kalo dari tol Semarang itu kelihatan gak sih gedungnya,..iya bukan sih,soalnya kalo lewat tol Semarang ada kayak gedung/universitas gitu,tapi saya lupa namanya.

Reply
Rivai Hidayat February 11, 2024 - 6:10 pm

Daerah UNDIP berada di daerah semarang atas mbak heny. Dekat dengan pintu tol tembalang. Di sekitar jalan tol semarang itu ada beberapa kampus. Salah satunya undip.

Reply
Agus February 10, 2024 - 11:53 am

Bagus juga ya pembangunan di Semarang, ada jalan tembus juga yang nembus perbukitan agar jalan utama tidak terlalu macet. Jadi mau ke Undip bisa lewat jalur alternatif.

Cuma karena daerah bukit kadang tanahnya masih belum labil ya.

Tapi jalannya Alus dan pakai aspal ya. Kirain cuma beton. Banyak yang jualan lagi, jadi tidak khawatir barang kali ada begal

Reply
Rivai Hidayat February 11, 2024 - 5:07 pm

Bener mas agus, daerah perbukitan memang punya tanah yang labil. Di semarang ada beberapa jalan yang rusak yang disebabkan karena labilnya tanah. Setiap beberapa tahun jalan itu bakal diperbaiki.

Kalau malam daerah sini sepi mas. Banyak orang yang memilih untuk leewat jalan utama karena daerahnya lebih ramai.

Reply
Endah April February 11, 2024 - 11:00 am

Kalau jalannya dikasih pohon dan trotoar enak kali ya, bisa buat jalan kaki siang-siang. Mas Vay pernah nggak jalan-jalan di dalam UNDIP? Btw seandainya dulu aku tau mas-mas Semarang yang jadi guide keliling area CFD Simpang Lima hampir aja jadi mahasiswa peternakan UNDIP, pasti aku kejar kenapa kok “hampir” xD

Reply
Rivai Hidayat February 11, 2024 - 5:05 pm

Kalau malam daerah sini sepi. Ya mungkin nanti dibagian gorong-gorong bisa ditambahi penutup dan bisa dijadikan trotoar buat pejalan kaki. Kalau jalan-jalan di dalam undip belum pernah, meskipun tempatnya sangat nyaman dan teduh untuk jalan kaki.
Yaa itu buat bahan cerita nanti kalau pas kita ketemu lagi 😀

Reply
Titik Asa February 11, 2024 - 8:25 pm

Asik ya Mas jalan kaki ditemani keponakan. Sambil berjalan bisa ngobrol jadi lebih akrab hubungan kekeluargaannya.
Sudut-sudut yang dilewati juga tampak asik kalau difoto, jadi pengen juga deh jalan kaki disana.
8,3 km dalam 2 jam? Rata-rata 4 km-an per jam ya Mas? Demikian juga kecepatan rata-rata jalan kaki saya.

Salam,

Reply
Rivai Hidayat February 15, 2024 - 10:30 am

Iyaa om, rata-rata jarak yang aku tempuh selama 1 jam sekitar 4 km. Itu sudah termasuk dalam rute yang menanjak dan turunan. Mungkin kalau datar bisa lebih jauh lagi. Pernah menempuh sejauh 5 km dalam waktu 1 jam.

Reply
Nasirullah Sitam February 12, 2024 - 7:14 am

Jalane luas banget kalau dari foto, Mas. Jalur seperti ini biasanya asyik buat jogging ataupun sepedaan. Kalau capek tinggal mlipir, kayake ada yang jualan stand itu ahhahahah

Reply
Rivai Hidayat February 15, 2024 - 10:32 am

Banyak yang jualan ketika sore. Khususnya hari sabtu dan minggu. Banyak remaja yang nongkrong di sana. Kalau hari biasanya sepi banget. Jalan ini cocok buat olahraga, khususnya pelari dan pesepeda yang menyukai jalan menanjak.

Reply
ainun February 12, 2024 - 10:49 pm

omaigodd udah banyak post dan aku ketinggalan 😀
kalau jalanannya menanjak kayak gitu, lumayan juga ya, tapi kalau dibuat jalan santai tanpa beban, meskipun agak menanjak ayo ajah

memang seru banget ya kalau ajak anak-anak, apalagi sama keponakan sendiri. Buat mereka bakalan jadi memorable moment gitu saat dewasa nanti kalau diajakin jalan sama omnya ke kawasan Undip.

Reply
Rivai Hidayat February 15, 2024 - 10:38 am

Masih berusaha untuk rajin posting cerita mbak..ahhahaa
Kalau jalan menanjak seperti ini lebih baik jalannya santai. Ga perlu dipikir seberapa nanjaknya. Tinggal dijalani aja 😀
Setuju mbak, ini memang jadi salah satu caraku untuk memberikan pengalaman tersendiri bagi mereka berdua 😀

Reply
Fanny_dcatqueen February 19, 2024 - 8:59 pm

Waaah hebaaaaat. Lumayan jauuuh itu mas . Sama kayak dari rumahku di rawamangun ke mangga dua .

Tapi pasti asyik kalo dilakuin bareng, jadi ga terlalu berasa capek kan.

Aku pernah muterin daerah undip, tapi udah lamaaa. Diajakin mertua waktu keduanya masih hidup. soalnya papa mama mertua lulusan sarjana hukum undip . Makanya tiap kali ke Solo, pasti mampir semarang trus muter2 deket kampus. Sambil cerita nostalgianya .

Yg aku inget selain area kampus, diajakin makan nasi goreng babat deket situ hahahahah. Memang asyik kalo jalan ke suatu tempat dengan orang yg udah paham daerah yaaa. Jadi bisa sekalian dijelasin macem2.

Reply
Rivai Hidayat February 21, 2024 - 12:45 pm

Kalau ramai-ramai jadi ada teman ngobrolnya sehingga jarak tidak terasa jauh.
Kemungkinan mertuanya mbak fanny di undip kampus pleburan, dekat dengan simpang lima. Dulu fakultas soshum ada di kampus pleburan, sedangkan teknik berada di kampus tembalang. Sekitar tahun 2012 secara bertahap mahasiswa soshum pindah di kampus tembalang.
Kalau dengar cerita mbak fanny ya bisa jadi keliling kampusnya terasa menyenangkan. Di sana lebih ramai dibandingkan kampus tembalang. Tempat makan dan nongkrong juga banyak. Suasananya juga adem karena banyak pohon rindang.

Cerita dari warlok adalah kunci karena cerita macam ini ga bisa ditemukan di buku dan google 😀

Reply

Leave a Comment