Cerita Dari Timur #JaneXLiaRC

by Rivai Hidayat

Sepi, itulah kesan pertama yang dirasakan oleh tim ekspedisi begitu tiba di Kota Sofifi, Ibukota Provinsi Maluku Utara. Meskipun sebagai ibukota provinsi, sebagian besar pegawainya malah berdomisili di Pulau Ternate. Suasana seperti itulah yang ditemui tim ekspedisi dalam perjalanan menuju Kantor Taman Nasional Aketajawe-Lolobata. Satu dari empat taman nasional yang diceritakan dalam buku ini, Cerita Dari Timur.

Taman Nasional Aketajawe-Lolobata (TNAL) terletak di Pulau Halmahera, Maluku Utara. Taman Nasional Aketajawe-Lolobata memiliki dua blok pengelolaan, yaitu Blok Aketajawe yang berada di Kabupaten Halmahera Tengah, Kota Tidore Kepulauan, dan Kabupaten Halmahera Timur. Sedangkan Blok Lolobata berada di wilayah Kabupaten Halmahera Timur. TNAL memiliki daya tarik berupa kawan konservasi burung dan bentang alam karst. Kedua hal inilah yang menjadi tujuan ekspedisi ke taman nasional ini.

Cerita Dari Timur
Bab 1 bercerita tentang TN. Akatejawe-Lolobata

Burung bidadari Halmahera menjadi daya tarik tersendiri di Taman Nasional Aketajawe-Lolobata. Burung ini masih satu famili dengan burung cendrawasih dari Papua. Warga lokal menyebut burung ini dengan nama weka-weka. Burung ini memiliki lekatan sepasang segitiga hijau di tubuh dan empat bulu putih panjang yang keluar dari dari kedua bahu sayapnya, serta kicauan lantang yang menjadi ciri khas burung ini. Burung bidadari Halmahera dipilih menjadi ikon Taman Nasional Aketajawe-Lolobata.

Dua ilmuwan Prancis, Vieillot dan Audebert, memasukan burung bidadari Halmahera dalam salah satu Burung Firdaus (birds of paradise). Hingga saat ini terdapat 42 jenis burung yang tergolong dalam Burung Firdaus; 2 jenis di Maluku Utara, 2 jenis di Australia, dan sisanya, 38 jenis terdapat di Papua. (Hal. 37)

Sampai saat ini, burung bidadari Halmahera merupakan jenis burung yang belum terekam jejaknya secara utuh. Burung ini sudah ada sejak pertama kali ditemukan oleh A.R. Wallace di Pulau Bacan sekitar tahun 1858-1859. Hingga kini tidak ada tak ada yang dapat memastikan dimana tempat bersarang dan bertelur burung bidadari Halmahera.
Baca Juga: Perjalanan 1982: Eropa, Tibet, & Timur Tengah

Cerita dari Timur
Burung Bidadari Halmahera

Taman Nasional Aketajawe-Lolobata memiliki bentang alam karst yang unik. Karst adalah bentang alam yang terbentuk dari pelarutan batuan seperti batu gamping yang banyak ditemui di Pulau Halmahera. Bentang alam ini memperlihatkan bentuk permukaan yang khas dengan drainase bawah permukaan serta memiliki gua. Di kawasan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, tim ekspedisi berhasil menjelajahi beberapa gua, seperti Gua Melisa, Gua Angin, Gua JPG, Gua Santa, Gua Pagi, Gua Dua Pintu, Gua Kulintang. Beberapa gua berhasil dipetakan oleh tim ekspedisi.

Bab 2 bercerita tetnang Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung

Bentang alam karst juga bisa ditemui di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Taman nasional yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan ini dikenal dengan Karst Maros-Pangkep. Karst ini menjadi karst terluas di Indonesia dan terluas kedua di dunia setelah karst Guangzhou, Tiongkok. Tim ekspedisi berhasil memasuki beberapa gua yang ada di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Baik gua yang berbentuk horisontal, maupun vertikal (leang). Gua-gua tersebut antara lain adalah Leang Pute, Gua Dinosaurus, Gua Salukang Kallang, dan Gua Saripa. Tim ekspedisi juga melakukan pemanjatan di beberapa tebing yang ada di wilayah taman nasional. Selain bentang alam karst, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung juga dikenal sebagai kerajaan kupu-kupu.

Julukan Kingdom of Butterfly, kerajaan kupu-kupu merupakan julukan yang diberikan A.R. Wallace karena keragaman jenis kupu-kupu yang sangat tinggi dalam perjalanannya yang kedua di Sulawesi Selatan pada bulan Juli sampai November 1857. Total ada 118 jenis kupu-kupu berhasil ditemukan dalam perjalanan saat itu. Saat ini jumlah jenis kupu-kupu di taman nasional mengalami tren penurunan. Hal itu disebabkan karena proses seleksi alam yang sedang terjadi dan perubahan lingkungan yang terjadi. Selain itu, penangkapan kupu-kupu juga diduga menjadi salah satu penyebab berkurangnya jumlah jenis kupu-kupu di alam liar.

TN. Bantimurung-Bulusaraung

Penurunan populasi satwa juga terjadi di Taman Nasional Wasur, yaitu walabi. Walabi merupakan satwa yang masih berkerabat dengan kanguru dan tersebar di padang rumput dataran di bagian selatan Papua, terutama di Taman Nasional Wasur, di Kabupaten Merauke. Perburuan walabi diatur dalam aturan, tradisi, dan adat yang dibuat oleh leluhur. Perburuan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan protein warga yang tinggal di taman nasional. Namun, tingginya permintaan daging walabi di pasaran memicu pergeseran tata cara perburuan di kalangan suku-suku asli. Adat dan tradisi dalam berburu seringkali terabaikan.
Baca Juga: Pesta Telah Usai

Cerita dari timur
Berburu di Taman Nasional Wasur
Walabi hasil buruan di TN. Wasur

Hal yang berbeda di Taman Nasional Lore Lindu. Di taman nasional ini, masyarakat terbagi dalam dua enklave (area pemukiman masyarakat), yaitu enklave Lindu dan enklave Besoa. Masyarakat Lindu masih memegang teguh adat istiadat dalam masyarakat terdapat seorang ketua adat yang disebut Tua Ada. Tua Ada dipilih di antara tokoh masyarakat. Beberapa adat yang masih berlaku di masyarakat antara lain adalah adat perkawinan, mendirikan rumah baru, membuka lahan, mengolah tanah, dan ketika panen. Ada sebuah sanksi yang diberikan kepada pelanggar hukum adat.

Brung Allo atau Julang Sulawesi

Enklave Lindu terletak di sekitar Danau Lindu. Danau Lindu dimanfaatkan masyarakat Lindu sebagai sumber bahan makanan dengan cara memancing atau menjala ikan. Tidak hanya masyarakat, hewan-hewan memanfaatkan Danau Lindu dan hutan yang berada sekitar danau sebagai sumber makanan mereka. Beberapa hewan yang bisa ditemui di Taman Nasional Lore Lindu antara lain adalah monyet boti (Macaca tonkeana), ular, katak, burung ibis rokoroko, burung elang, monyet boti, burung bubut alang-alang, burung jalak tunggir merah, dan burung allo (julang Sulawesi). Burung allo atau julang Sulawesi merupakan burung rangkong endemik Pulau Sulawesi dan dijadikan maskot Taman Nasional Lore Lindu.

*****

Buku Cerita dari Timur adalah cerita sekelompok anak muda yang tergabung dalam tim ekspedisi Taman Nasional-Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Silvagama setelah menjelajahi empat taman nasional yang berada di timur Indonesia; Aketajawe-Lolobata, Bantimurung Bulusaraung, Wasur, dan Lore Lindu.

Kegiatan ketika berada di TN. Bantimurung-BUlusaraung

Mapala Silvagama merupakan organisasi mahasiswa pencinta alam Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada (UGM). Berbekal pengetahuan yang didapat dari kajian ilmu konservasi kehutanan, ditambah dengan penguasaan keterampilan petualangan di alam bebas, anak-anak muda ini mendengarkan bagaimana sejarah dituturkan sambil merekam pengamatan serta kisah mereka selama menyusuri kegelapan gua di perut bumi, memanjat tebing, menyambangi kerajaan serangga, burung, reptil, dan mamalia, menembus rimba, serta mengarungi rawa, danau, dan laut.

Buku Cerita dari Timur adalah sebuah catatan kecil dari segudang masalah yang tersimpan dalam kawasan konservasi di Indonesia. Sebuah catatan anak muda yang juga mencerminkan semangat dan harapannya.

Selagi saat ini masih ada kesempatan, akan lebih baik jika kita memanfaatkan waktu untuk mengenali kekayaan negeri ini. Bukan hanya mendengarnya dari media massa atau cerita orang, melainkan memiliki pengalaman langsung berinteraksi dengan alam Indonesia akan membuat kita menyadari betapa indahnya negeri ini. Menghirup aroma hutan tropika, mendengar kicau burung-burung liar, menatap eksotika tumbuhan-tumbuhan langka dan bercengkrama dengan masyarakat adat tentunya akan menjadi pengalaman tersendiri. (Hal. 213)

Pertama kali aku mengetahui buku Cerita dari Timur dari temanku yang juga suka mengoleksi buku-buku tentang perjalanan. Aku tidak menyangka jika buku ini bercerita lengkap dan detail tentang taman nasional yang dijelajahi. Membaca buku ini seperti diajak ikut bertualang dalam setiap kalimatnya. Bahasa yang digunakan ringan dan mudah dipahami, tapi memberikan banyak informasi yang bermanfaat.

Burung Julang Sulawesi

Buku ini dilengkapi dengan dengan glosarium sehingga memudahkan pembaca untuk memahami kata-kata yang jarang ditemui. Buku ini dilengkapi foto-foto berwarna yang dilengkapi dengan keterangan. Hal ini sangat membantu dalam memvisualkan kata dana kalimat yang ada di buku. Halaman buku didesain dengan menarik dan berwarna-warni. Buku Cerita dari Timur sangat cocok bagi mereka yang menyukai catatan perjalanan, dan ekspedisi.

Saya ingin budaya menjelajah, meneliti, mendokumentasi, dan membuat buku menjadi budaya di kalangan pecinta alam dan peneliti. Dan Mapala Silvagama sudah melakukannya dengan baik. – Riza Marlon (Penulis dan Fotografer Alam Liar)

Judul: Cerita Dari Timur
Penulis: Indra Hermawan, dkk
Penerbit: Gadjah Mada University Press
Cetakan: Cetakan Kedua (Maret 2017)
ISBN: 978-602-386-076-0

You may also like

2 comments

fanny_dcatqueen June 28, 2022 - 2:00 am

Sukaaaa, aku suka buku yg berdasarkan banyak riset dan pengalaman begini. Apalagi ttg tempat2 yg sulit dijangkau Krn aksesnya.

Jadi bisa tahu cerita di sana tanpa hrs kesana . Aku sampe skr belum terlalu berani datang ke tempat2 begini mas. Blm yakin bakal kuat. Makanya lebih memilih utk cari tahu tempat konservasi begitu dari buku aja. Apalagi kalo pakai gambar2 berwarna. Puas itu bacanya. Jadi bisa dibayangin seperti apa yg dituliskan di buku ya

Reply
Endah April June 29, 2022 - 4:20 am

Dari judulnya aku kira bukunya bakal tentang traveling biasa ke tempat-tempat wisata bersejarah atau landmark terkenal. Eh ternyata tentang taman nasional lengkap beserta flora dan faunanya. Keren banget mahasiswa-mahasiswa yang berangkat. Mana mereka punya dasar ilmu konservasi hutan pula. Aku tadi agak mempertanyakan kok bisa mereka membahas sedetail itu, lha wong memang punya ilmunya. Anak UGM memang beda. 😀 Duh beneran deh aslinya aku pingin banget ke taman nasional kayak begini, sejauh ini cuma pernah ke TNBTS aja wkwk.

Reply

Leave a Comment