Walking Tour: Sejarah Kereta Api di Semarang

by Rivai Hidayat

Stasiun Semarang Tawang menyimpan cerita tentang kita. Baik ketika kita bertemu, maupun berpisah. Pagi itu datang ke Stasiun Semarang Tawang. Dalam cuaca yang gerimis. Sisa hujan semalam. Aku ke sini bukan untuk melakukan perjalanan keluar kota, atau untuk mengenangmu. Meskipun alunan musik Gambang Semarang berhasil mengingatkanku pada kedatangan dan kepergiaanmu di stasiun ini. Aku datang ke Stasiun Semarang Tawang dalam rangka walking tour dengan jalur sejarah kereta api.

Dari beberapa literasi yang aku baca, Kota Semarang merupakan kota pertama di Indonesia yang memiliki jalur kereta. Tepatnya pada tahun 1864 dengan jalur yang dimulai dari Stasiun Samarang menuju Stasiun Tanggung, di Kabupaten Grobogan sejauh 25km. Stasiun Tanggung masih berdiri kokoh sampai sekarang. Sedangkan Stasiun Samarang sudah hilang karena banjir rob yang terjadi di pesisir utara Kota Semarang. Menurut Dimas, yang bertugas sebagai storyteller dari Bersukaria, β€œStasiun Samarang sudah hilang. Hanya tersisa sedikit bagian yang kini menjadi sebuah perkampungan.”

Aku baru tahu jika pembangunan jalur kereta api awalnya difokuskan untuk mengangkut logistik dan hasil perkebunan. Bukan untuk mengangkut penumpang seperti sekarang ini. Pembangunan jalur kereta api ini juga dipengaruhi oleh adanya Perang Diponegoro yang berlangsung lama. Perang tersebut telah menghabiskan banyak dana dan mengganggu neraca keuangan pemerintah Hindia Belanda. Sehingga saat itu pemerintah Hindia Belanda membutuhkan sarana untuk mempercepat pengiriman logistik.

Pembangunan jalur kereta ini menghabiskan waktu sekitar tiga tahun (1864-1867). Hal itu disebabkan karena adanya perbedaan kontur tanah dan masih sederhananya teknologi yang digunakan. Jalur kereta ini dibangun oleh perusahaan Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS). NIS merupakan salah satu perusahaan kereta api terbesar yang ada di Hindia Belanda pada masa itu.

Stasiun Semarang Tawang

Kami belum beranjak dari Stasiun Semarang Tawang. Kami masih asyik mendengarkan cerita dari Mas Dimas sambil menikmati arsitektur yang ada di gedung ini. Stasiun ini merupakan stasiun terbesar di Kota Semarang. Posisinya sangat strategis, yaitu berada di dekat kawasan Kota Lama, Semarang. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Sejarah kereta api

Halaman Stasiun Tawang

Pembangunan Stasiun Semarang Tawang juga memiliki cerita tersendiri. Stasiun ini mulai dibangun oleh NIS pada tahun 1911 dan diresmikan pada 1 Juni 1914 dengan arsitektur Mr. Sloth Blauwboer. Sejak awal Stasiun Semarang Tawang memang dikhususkan untuk kereta mengangkut penumpang. Terutama untuk para tamu dan peserta Semarang De Koloniale Tentoonstelling pada tahun 1914. Nama Tawang diambil dari nama desa yang ada di sekitar stasiun, yaitu Desa Tawangsari.
Baca Juga: Trekking di Semarang

Koloniale Tentoonstelling merupakan sebuah pameran yang diikuti oleh negara-negara kolonial dengan menampilkan berbagai hasil bumi dan kebudayaan yang ada di daerah jajahannya. Acara ini juga sebagai perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda atas Prancis. Pameran ini diikuti dari berbagai negara, seperti Inggris, Belanda, India, Amerika Serikat, dan Prancis. Semarang merupakan satu-satunya kota di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara yang pernah menyelenggarakan koloniale tentoonstelling.

Trem Uap Semarang

Dari Stasiun Semarang Tawang, kami melanjutkan perjalanan menuju bekas kantor Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS). Bangunan dua lantai yang terletak di persimpangan jalan ini masih berdiri kokoh. Beberapa kerusakan parah terjadi di beberapa bagian. Perusahaan ini merupakan pengelola kereta trem uap yang ada di Kota Semarang.

Rute Walking Tour

Trem uap ini memiliki jalur di dalam Kota Semarang. Rute jalur trem ini kemudian dijadikan acuan oleh operator bus untuk menyediakan layanan transportasi di Semarang. Saat itu trem memang menjadi pilihan utama masyarakat untuk berpergian di dalam kota. Selain trem uap, SJS juga memiliki rute menuju Demak, Kudus, hingga Juwana (Pati). Jalur yang melewati kota di jalur Pantura ini sudah tidak aktif lagi. Namun, bangunan bekas stasiun masih bisa ditemui di beberapa lokasi.

Sejarah kereta api

Bekas Kantor Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij

Sekitar tahun 1940, trem uap mulai berhenti beroperasi. Hal ini disebabkan karena moda transportasi ini dinilai sudah ketinggalan jaman, tidak efisien, dan tidak mampu bersaing dengan moda transportasi lainnya. Stasiun yang menjadi pusat operasional perusahaan SJS juga telah hilang. Tidak ada sisa. Bangunan stasiun dirobohkan dan diganti dengan terminal bus. Kemudian saat ini telah berkembang menjadi area pertokoan.

Stasiun Semarang Poncol

Dari bekas stasiun trem, kami berpindah menuju Stasiun Semarang Poncol. Bicara tentang kereta api dan Kota Semarang, rasanya kurang lengkap jika tidak bicara tentang Stasiun Semarang Poncol. Meskipun lokasinya berdekatan dengan Stasiun Semarang Tawang, tapi sesungguhnya jalur kedua stasiun ini tidak pernah menyatu. Hal itu disebabkan karena kedua stasiun ini dikelola oleh dua perusahaan berbeda. Stasiun Semarang Poncol dibangun pada tahun 1914 oleh Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) dengan arsitek Henri Maclaine Pont.
Baca Juga: Hunting Foto di Rawapening

Sesuai nama perusahaanya, stasiun ini memiliki rute tujuan ke Cirebon atau kearah barat Kota Semarang. Sedangkan Stasiun Semarang Tawang memliki rute tujuan menuju Surabaya atau kearah timur Kota Semarang. Jalur penghubung antara kedua stasiun ini baru dibangun setelah masa kemerdekaan. Di jaman dahulu, jika seorang penumpang yang berasal dari Batavia, maka penumpang itu akan naik kereta jurusan Batavia-Cirebon. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan berganti kereta api dengan tujuan Cirebon-Semarang.

Tahu kan aku yang mana?

Kota Semarang memang tidak bisa dilepaskan dari sejarah kereta api di Indonesia. Selain sebagai kota pertama yang memiliki jalur kereta api, ketiga perusahaan kereta api yang beroperasi di Kota Semarang, yakni Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS), Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS), Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), yang beroperasi merupakan sepuluh besar perusahaan kereta api terbaik pada masa itu. Kantor operasional NIS yang terletak di gedung Lawang Sewu masih berdiri kokoh hingga sekarang. Sedangkan kantor operasional perusahaan SCS saat ini digunakan sebagai Kantor Daops IV Semarang.

*****

Hari mulai beranjak siang ketika kami tiba lagi di Stasiun Semarang Tawang. Aku dan teman-teman diajak untuk berjalan kaki mengunjungi dan sekaligus belajar tentang sejarah kereta api di Indonesia. Khususnya di Kota Semarang. Sebagai orang yang lahir dan besar di Semarang, tentunya merasa bangga bahwa Kota Semarang menjadi kota pertama yang memiliki jalur kereta api di Indonesia. Sejauh mana aku merantau, kereta dan stasiun memiliki cerita tersendiri dalam perjalananku. Termasuk menunggu dan melepas kepergianmu dari kota ini.

Jadi teman-teman punya cerita apa tentang stasiun dan kereta api?

Semarang, April 2018

You may also like

110 comments

Thessa February 22, 2021 - 5:20 pm

Akhirnya Mar Rivai update postingan blog. Yeeeeyyy

Aku baru tau loh ternyata Semarang itu kota pertama yg punya jalur kereta api. Tp memang kebanyakan kereta api awalnya itu buat logistik. Kaya kereta api di kampungku dulu, di Sumatra Barat, itu dipake buat ngangkut batubara. Justru ga ada kereta penumpang. Kereta penumpangnya cuma sebatas kereta wisata ke bbrapa tempat wisata aja. Jd aku pertama kali ngerasain naik kereta api yg bener2 buat transportasi ke kota lain itu pas di Jawa

Reply
Rivai Hidayat February 23, 2021 - 3:51 am

iyaa mbak thesa, maaf bikin menunggu..hehehehe

mbak thessa sumatera baratnya di sawahlunto yaa?
kereta batubara di sawahlunto memang sangat terkenal mbak. Bahkan ada monumen untuk mengenang eksplorasi batubara di masa lalu.
Di sumatera barat ada jalur kereta untuk penumpang. ketika aku ke padang, aku melihat sisa rel atau rel mati yang membetang di payakumbuh dan lembah anai. Jalur ini sudah lama mati.

Reply
thessa March 6, 2021 - 3:40 pm

Aku bukan di Sawahlunto mas, tp memang yg terkenal itu kereta api buat ngangkut batubara di situ. Hehehe..
Jalur lembah anai klo ga salah masih ada yg dibuka mas, buat kereta wisata. Tp itu juga cuma ada di hari2 tertentu πŸ˜€

Reply
Rivai Hidayat March 7, 2021 - 12:10 am

oyaa kah…?aku kira jalur lembah anai sudah lama ga digunakan. Padahal jalur dan pemandangannya bagus.
kayaknya mesti cari info tentang kereta wisata ini πŸ˜€

Reply
Nasirullah Sitam February 23, 2021 - 2:36 am

Palagi stasiun di Mayong, Jepara. Nyaris hilang tanpa ada dokumentasi yang menyimpan dengan baik. Kok sayang banget hal-hal seperti ini lambat laun tergerus oleh waktu dan sejarahnya menguap.

Reply
Rivai Hidayat February 23, 2021 - 3:44 am

bangunan stasiun mayong malah sudah diangkut ke hotel mesastila, magelang mas.
cerita-cerita stasiun di sepanjang demak ke pati banyak yang hilang mas. Aku pernah lihat stasiun sayung, demak. Yang lain belum pernah singgah.

Reply
Dinilint February 25, 2021 - 12:18 am

Eh aku pernah main ke Stasiun Lasem. Bangunannya masih cakep. Tapi sekarang peruntukannya untuk parkir bus.

Reply
Rivai Hidayat February 25, 2021 - 11:50 am

Sekarang sudah tidak ada kereta kearah pantura sana. Jadi banyak bangunan bekas stasiun tidak terpakai lagi. Termasuk stasiun Lasem.

Reply
ina February 23, 2021 - 7:28 am

wah asik banget ikutan walking tour rute stasiun. jadi pengen ikutan, nanti kalo ada lagi ah.
cerita 2018 ya, hebat bener sih masih bisa diceritakan dengan sangat lugas.
kisahku dengan kereta yang paling nyesek adalah kereta berjalan duluan di depanku. karena helm ojek online masih kupakai πŸ™

Reply
Rivai Hidayat February 23, 2021 - 11:53 am

salah satu rute walking tour favoritku juga. Ceritanya sangat berhubungan dengan banyak hal pada masanya dan masih bisa ditemui hingga sekarang.
Karena suka bikin drfat tulisan. Akhirnya masih bisa diceritakan kembali..hehhehee

Ah, dulu aku juga hampir ketinggalan kereta. Bahkan 3 menit sebelum kereta berangkat…hehhehe

Reply
Ina February 25, 2021 - 3:40 pm

yes yes yes, kapan2 aku intip besukaria deh, kalo waktunya pas nanti aku ikutan rute kereta ini, hehehe. mungkin mas vay mau ikut lagi? sekadar mengulang cerita lama atau mengenang saat menunggu dan mengantar orang juga gapapa lho~~

hampir ketinggalan, aku juga, beberapa drama kalo naik kereta tu, antara pesen tiketnya di poncol naik di tawang, dan ya. ketinggalan, kereta jalan semenit di depan idungku. πŸ™

Reply
Rivai Hidayat February 26, 2021 - 2:42 am

gampanglah kalau mau ikut lagi. Asal waktunya cocok aja..hihihi
terlalu banyak kenangan yang tertinggal di stasiun kereta..hahahhaha

duh, rasanya langsung galau kalau ketinggalan kereta yaa. Dulu pernah ketinggalan kereta di stasiun senen. Kemudian beli tiket baru di stasiun gambir..wkwkwk

Reply
Ina February 26, 2021 - 3:06 pm

hiyaa hiyaa hiyaa…
bahas-bahas kenangan, stasiun memang tempat yang memiliki cerita tersendiri, dari jaman dulu, sampe sekarang yang pelayanannya sudah lebih baik lagi.
tempat mengantar dan menjemput dia juga ya. :3

dulu waktu ketinggalan kereta mikirnya, oke er. kamu emang kudu nyoba naik bis. jadi yaaa itu pertama kali ke barat naik bis sendirian. adeeemm… hahaa

Rivai Hidayat March 1, 2021 - 12:02 am

Tidak ada sekadar temapt antar jemput atau tempat untuk berjumpa. Tapi ada rasa yang terbawa dalam setiap momennya. :p
yaa emang ga boleh mepet-mepet kalau datang ke stasiun, bandara, atau terminal. Kalau ketinggalan tinggal cari angkutan yang lain πŸ˜€

Mariaa February 23, 2021 - 8:38 am

Wah, info menarik banget nih. Baru tahu kalau Semarang merupakan kota pertama yang dibangun jalur kereta api! Kebetulan udah pernah mampir ke Stasiun Tawan maupun Semarang Poncol, tapi nggak pernah tahu info ini. Sayang ya kereta trem uap nggak beroperasi. Mungkin, kalau masih ada jalur pendek di dalam kota, bisa dialihfungsikan menjadi kereta wisata. Hehe.

Reply
Rivai Hidayat February 23, 2021 - 11:58 am

meskipun baru tahu cerita ini, setidaknya mbak maria sudah pernah melihat kemegahan Stasiun Semarang Tawang dan Stasiun Semarang Poncol. Itu bangunan sisa masa kolonial yang masih berdiri kokoh hingga ratusan tahun. Itu kehebatan arsitek (khususnya Belanda) yang mampu membuat bangunan bertahan hingga ratusan tahun.
Nanti kalau mbak maria balik lagi ke semarang, jangan lupa perhatikan detail yang ada di stasiun. Masih banyak peninggalan aslinya..hehhehe

Makasih telah berkunjung di sini mbak maria πŸ˜€

Reply
Peri Kecil Lia ‍♀️ February 23, 2021 - 12:11 pm

Sayang banget bangunan kantor pusat trem-nya udah nggak ada. Bangkai-bangkai trem-nya gitu, masih ada nggak Kak?
Kalau di Jakarta, stasiun yang berbau peninggalan Belanda yang pernah aku lihat itu Beos, Jatinegara sama Tj.Priuk. Kalau peninggalan Belanda gitu, desainnya khas banget ya hahaha megah dan warnanya putih.
Ngomongin kereta api, aku jadi ingat perjalanan terjauhku dengan kereta tuu dari Gambir ke Bandung hahaha. Seruuu walaupun berangkatnya udah malam dan nggak kelihatan apa-apa sih tapi pengalaman yang tak terlupakan.
Sama jadi ingat saat waktu aku kecil, kereta api ada yang ekonomi dan express. Waktu itu yang ekonomi udah kayak pasar berjalan dan rasanya kalau naik kereta itu campur aduk, di satu sisi males karena sesek dan panas tapi di satu sisi senang karena jadi bisa cuci mata lihat pedagang asongan yang lalu lalang what a memory!

Reply
Rivai Hidayat February 24, 2021 - 3:33 am

bangkainya sudah tidak ada. Bekas stasiunnya tidak ada peninggalan atau sisa bangunannya. Agak sedih sih, karena stasiun ini seperti stasiun pusat dan memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan stasiun lainnya yang ada di kota Semarang.
Stasiun Jakarta Kota (BEOS) itu sangat bagus mbak lia, dan jadi salah satu stasiun termegah pada masanya. Sedangkan stasiun jatinegara sudah mengalami renovasi. Bentuk aslinya sudah hilang…huhuhuu

Rute kereta jakarta-bandung itu salah satu rute yang memiliki pemandangan bagus di indonesia. Harusnya sih melakukan perjalanan pada pagi atau sore hari..hehhehee

aah, itu jaman sebelum kai melakukan perubahan. Aku mengalami masa-masa itu. Naik kereta ekonomi semarang-jakarta PP dan tidur di bawah kursi. EMang dulu semrawut dan kacau. Setuju dengan mbak lia, di sisi lain memberikan pengalaman seru lainnya. Salah satunya bisa bertemu dengan penjual asongan dan kopi..hahhaa

Reply
Dinilint February 25, 2021 - 12:21 am

Eh ngomongin pengalaman naik kereta ekonomi, aku pernah bela-belain beli tiket jakarta-surabaya padahal naiknya dari Semarang. Kebetulan aku emang pergi bareng temen dari jakarta, jadi aku minta tolong mereka untuk jagain tempat dudukku. Saat aku naik di Stasiun Tawang, keadaan kereta ekonomi penuh sesak. Kursi yang jadi hak aku udah didudukin orang dong. Jadilah dateng-dateng ngajak berantem orang. Ekonomi oh ekonomi.

Reply
Rivai Hidayat February 25, 2021 - 11:55 am

Apalagi kalau momen rebutan kursi sebelah jendela. Pernah sih kayak gini. Tapi ga sampau adu mulut. Cuma dibilang sekali aja…hahahaha
Kalau jaman sekarang sudah nyaman. Kalau dulu mesti berjuang dan kuat untuk berdesak-desakan. Sekarang semua penumpang dapat tempat duduk sesuai dengan tiketnya. amanlah selama perjalanan..ehhehee

Reply
Fanny_dcatqueen February 24, 2021 - 4:20 am

Jujurnya aku cuma sekali naik KA kalo yg di Indonesia ya mas :D. JKT – Solo. Udah lama pun. Sekarang udh jauh LBH bgs yaaa πŸ™‚

Kalo commuter di JKT jujurnya ga berani, gila desak2an nya. Mungkin selama pandemi berkurang jauh kali yaaa, tp dulu bisa sampe dorong2an hahahaha. Aku yg kecil begini bisa kegencet ntr :p. Makanya aku ga berani.

Naah kalo kereta yg utk jarak jauh, aku cm malesnya Krn ngabisin waktu hahahaha. Makanya kalo ga terpaksa banget, ya masih milih pesawat . Eh tapi aku penasaran tuh pgn nyobain yg kereta luxury. Itu baru menarik … Ntr laah kalo udh aman mau coba naik itu , ke Surabaya :D.

Reply
Rivai Hidayat February 24, 2021 - 12:26 pm

sekarang sangat nyaman sih naik kereta. Perjalanan juga tepat waktu. Paling yang mengganggu adalah aroma popmie di dalam gerbong. Yang makan satu orang, aromanya ganggu satu gerbong…hiiks

jadi orang jakarta kurang lengkap kalau belum jadi anker (anak kereta) yaa mbak.. Naik krl pas jam sibuk resikonya emang seperti itu mbak. Harus kuat berdesakan..hehhehe

nah ini, kereta luxury memang sangat menarik. Kadang harganya emang lebih mahal dari pesawat. Tapi emang gada salahnya kalau pengen dapat pengalaman lain naik kereta. Kalau ga pengen rugi, emang mesti naik kereta jarak jauh. bisa Jakarta-surabaya atau jakarta-jogja.

Reply
Dinilint February 25, 2021 - 12:23 am

Vai, punya sinyal yaaa,, bisa updet. πŸ˜›
Rute kereta api ini emang menarik ya. Jalan kaki menyusuri jejak kereta api. Aku pun baru tahu kalo ternyata di jaman Belanda perusahaan yang ngurusin kereta api itu banyak banget. Ini nih untungnya dijajah Belanda, ada warisan rute kereta api. Eh, tapi nggak semua rute bisa dipake lagi. Padahal aku pengen tuh naik kereta jalur pantura ke arah Demak, Jepara, Pati, Lasem. Mungkin di masa depan akan dihidupkan lagi kali ya.

Reply
Rivai Hidayat February 25, 2021 - 12:04 pm

Kebetulan lagi di pesisir kapuas. Jadi sinyal aman. Kalau berada di perbukitan, meski lebih sabar dengan sinyal..hahahaa
Itu belum seberapa, masih banyak perusahaan lainnya. Biasanya satu jalur kereta dimiliki oleh satu perusahaan. Jadi mereka bangun jalur itu sendiri dan investasi ke rangkaian gerbong keretanya.
Salah satu peninggalan masa penjajahan belanda, apalagi arsitek belanda terbiasa membangun bangunan yang bisa bertahan hingga puluhan-ratusan tahun. Yaa tahu sendirilah, di semarang banyak bangunan karya orang asli atau orang yang pernah sekolah di Belanda.

jalur magelan-jogja teramsuk jalur mati. Katanya ada rencana untuk diaktifkan lagi, tapi entah kapan. Masih sebatas rumor aja.

Reply
Dodo Nugraha February 25, 2021 - 12:46 am

Haloo mas Rivai apa kabar. Akhirnya update lagi yaak

Stasiun nya keren yaak. Klasik, penuh dengan sejarah. Yaa tapi sayangnya skng stasiun Trem nya udah ga ada lagi yaa

Reply
Rivai Hidayat February 25, 2021 - 12:13 pm

hai mas dodo, kabar baik mas. Meskipun lama ga update blog..hehhehe
Stasiun kebanggaan warga kota semarang mas πŸ˜€
stasiun trem memang, sekarang berganti dengan area perniagaan

Reply
CREAMENO February 25, 2021 - 1:37 am

Mas, bagunannya cakep cakep amattttt, apalagi yang Trem Uap itu, warnanya merah πŸ˜€ syukaaaaa ~

Padahal kalau trem masih ada di Indonesia, bakal keren bangets yaaa, looks classic hihihi ~ Dan interesting baca alasan kenapa stasiun Tawang dan Poncol nggak pernah bersatu, ribet ugha jadinya jaman dulu harus transit-transit dulu πŸ˜€ Tapi sekarang, semua stasiunnya sudah dikelola oleh PTKAI kaaah, mas? —- saya jarang naik kereta api, tapi menurut saya, naik kereta api adalah salah satu pengalaman menyenangkan yang sayang untuk dilewatkan hahahaha.

Terus jadi penasaran, kenapa jalur kereta pertama justru ada di Semarang bukan Batavia. Sepertinya ada sejarah menarik di sana, meski saya nggak tau itu apa hehehehe. Berarti dulu Semarang ini salah satu kota penting di Pulau Jawa yaaa, jadi semakin ingin ke sana πŸ˜€

Reply
Rivai Hidayat February 25, 2021 - 12:48 pm

Yang warna merah itu kompleks susteran gedangan mbak eno. Bukan kantor atau stasiun untuk trem. Nah kebetulan pas jalan lewat sana. Yaudah aku foto aja. Bangunan tersebut memang sangat ikonik dan sampai saat ini masih terawat dengan baik. Beberapa kali pernah digunakan untuk syuting film…hehhehe

Trem yang saat itu dipakai adalah trem uap yang menghasilkan asap yang mengganggu. Kalau mungkin saat itu diganti dengan trem listrik, mungkin bisa bertahan hingga sekarang. Namun, biaya investasinya terlalu besar. Ngomongin trem, jadi ingat trem yang ada di lisbon, portugal, yang masih beroperasi. Pernah dapat postcard dari sana, si pengirim bercerita tentang trem yang ada di sana..hehehhee

Bener mbak eno, semua stasiun dikelola oleh KAI. Kemudian dibagi berdasarkan daerah operasi (Daops)-nya. di bali gada jalur kereta api yaa mbak eno. Dulu aku pernah ke bali naik kereta mbak eno. naik kereta dari solo-banyuwangi. lama perjalanan 12 jam. Kemudian lanjut nyeberang naik kapal..hehhee

Semarang dulu merupakan salah satu kota pelabuhan dan perdagangan penting (selain batavia dan surabaya). Pada awalnya jalur kereta dibangun untuk perpindahan logistik. Salah satunya hasil perkebunan. Apalagi di Semarang pernah hidup raja gula dari Asia, Oei Tiong Ham.

Ayolah ke Semarang…hahahhaa

Reply
Alid Abdul February 25, 2021 - 7:01 am

Wah ada napak tilas jalur kereta yak? Klo ada lagi aku diinfoin dong, aku tertarik ikutan. Apalagi NIS adalah cikal bakal KAI sekarang ini.

Reply
Rivai Hidayat February 25, 2021 - 1:58 pm

Iyaa mas alid, bisa di cek di IG: @bersukariawalk mas. Nanti tinggal cari aja jadwal rute spoorweg. Ada belasan rute walking tour. Tinggal disesuaikan aja sama minat dan waktunya. Semua aset perusahaan kereta yang pernah beroperasi di hindia-belanda dinasionalisasi jadi milik PJKA (sekarang KAI)

Reply
ainun February 26, 2021 - 4:41 pm

mas vayyyy yampun gini ini yang bikin aku galau kan, kapan daku ini ke semarang
beberapa hari lalu sohib aku lagi halan halan santai di semarang, kulineran, makan, kulineran, gitu aja
agenda walking tour kayak gini ini menyenangkan plus dapet temen baru yang seru seru juga. apalagi di Semarang sono banyak bener bangunan tua dan beberapa history perkereta apiannya menarik banget buat diulik

Reply
Rivai Hidayat March 1, 2021 - 12:29 am

halo mbak ainun, semoga baik-baik saja setelah baca tulisan ini πŸ˜€
Kalau dari jember, bisa ke surabaya dulu. Kemudian tinggal lanjut surabaya-semarang mbak..hehhehehe

walking tour itu adalah cara lain berwisata dan menikmati kota dengan cara yang berbeda. Di beberapa kota sudah ada kelompok walking tour. termasuk jakarta dan surabaya. Selain kereta api, bangunan di kawasan kotalama semarang masih terawat dengan baik.

ayo datang ke semarang mbak πŸ˜€

Reply
ainun March 6, 2021 - 4:39 pm

aku dulu di semarang karena habis dari karimunjawa dan turun di pelabuhan Emas, duh apa ya namanya lupa hahaha
terus naik ojek kayaknya, ke terminal bis yang tujuan surabaya. Dan solo traveling.
jadi nggak sempet explore kotanya

Reply
Rivai Hidayat March 7, 2021 - 12:09 am

ouw..abis dari karimunjawa yaa. Pelabuhan tanjung emas mbak ainun.
Kalau terminalnya namanya terminal terboyo. Kalau musim hujan seperti sekarang sering banjir..hehehhe

yaa berarti mesti explore semarang mbak ainun πŸ˜€

Reply
ainun March 21, 2021 - 2:24 pm

ohh iya pelabuhan tanjung emas ya dan terboyo hahaha, astagahhh udah lama bener
nah iitu mas Vay, aku udah wishlist aja ini Semarang

Rivai Hidayat March 22, 2021 - 6:31 am

berarti mesti ke semarang lagi mbak ainun..hahhahaa

nursini rais February 27, 2021 - 3:10 pm

Semoga saya berkesempatan berkunjung ke Semarang

Reply
Rivai Hidayat March 1, 2021 - 12:29 am

Ditunggu kedatangannya di semarang πŸ˜€

Reply
Merry Olivia February 28, 2021 - 3:32 pm

Oalah begitu toh, jadi dulunya Poncol sama Tawang pisah, terus baru disatuin ya. Kebalik kaya dia yang dulu satu eh sekarang pisah, eh apa sih, maaf ya jadi kebawa suasana gara-gara pembukaan ceritanya nelangsa gitu, β€œAku ke sini bukan untuk melakukan perjalanan keluar kota, atau untuk mengenangmu. Meskipun alunan musik Gambang Semarang berhasil mengingatkanku pada kedatangan dan kepergiaanmu di stasiun ini.”
Thanks mas vay buat kisah dan infonya πŸ™‚

Reply
Rivai Hidayat March 1, 2021 - 1:31 am

hahhaa..bisa saja mbak merry πŸ˜€
dulu pernah mengalami masa-masa sering ke stasiun untuk jemput dan antar seseorang. Jadi punya banyak cerita tentang stasiun tawang.
Stasiun, terminal, dan bandara itu punya cerita bagi orang-orang yang selalu berjuang untuk berjumpa dan berusaha memangkas jarak.

mbak merry juga punya pengalaman serupa? hehehehhe

Reply
Merry Olivia March 1, 2021 - 1:55 am

Iya pernah sih. Hehehe. Kalau saya lebih suka bandara, soalnya suka numpang tidur juga di bandara, ngerasain kehidupan malam yang ternyata beda banget sama kehidupan pagi atau siang. Kaya waktu di KLIA ternyata menjelang subuh ada ibu-ibu jualan nasi lemak bisik-bisik gitu. Unik aja liatnya sekelas bandara sebesar itu masih nemu aja yang begitu.

Reply
Rivai Hidayat March 1, 2021 - 5:14 am

numpang istirahat memang lebih nyaman yaa kak merry πŸ˜€
Ini sih yang sangat menarik. Jadi tahu, dan kemudian kalau butuh nasi lemak tinggal nyari yang jualan aja. Dulu di stasiun pernah lihat ada yang berjualan dengan bisik-bisik seperti itu.

Reply
Tuty Prihartiny February 28, 2021 - 4:14 pm

Begitu membaca tulisan Mas Rivai, saya teringat buku Aditya Dwi Laksana mengenai ‘ the Beauty of Indonesian Railways’. Ya, sejarah mIencatat bahwa pada tanggal 10 Agustusv1867 pembukaan jalur kereta pertama di Indonesia pada masa kolonial adalah di Semarang. Sebagai penumpang, saya pernah ke stasiun KA Tawang maupun Poncol. Ternyata sejarah yang menyertainya sangat luar biasa ya Mas Rivai? Kapan ada walking tour KA Semarang lagi kah Mas? Kalau pas waktu saya sangat ingin memgikutinya. Oh ya, yang saya pernah mengikuti trip sejarah perkeretaapian Jakarta dan sekitarnya.

Reply
Rivai Hidayat March 1, 2021 - 1:27 am

Benar sekali mbak tuty, tanggal 10 agustus 1867 menjadi tonggak perkembangan kereta api di indonesia. Yang awalnya melayani perpindahan barang, sekarang juga melayani perpindahan orang.

Kalau ingin ikut walking tour bisa cek di ig-nya @bersukariawalk mbak tuty. Tidak hanya jalur kereta api, tapi jalur yang lainnya juga. Termasuk Kotalama dan pecinan semarang. Rutenya tergantung jadwalnya sih. Jadi bisa dipantau di IG nya untu info rutenya πŸ˜€

Reply
Febi February 28, 2021 - 5:29 pm

Seru ya walking tour bgini..
Trakhir gw ikut walking tour di tahun 2018 juga bareng komunitas historia indonesia..
Waktu itu tentang jejak islam di batavia..

Btw, balik lagi ke topik, gw termasuk yang jarang naik kereta karena pas sekolah sampe kuliah di Jakarta aja..hehe..
Pengalaman pertama naik kereta waktu mau pulang main dari Depok ke Jakarta..
Dulu kereta listrik ngga kayak sekarang alias misalnya kayak topeng monyet masih bisa ikut masuk, dll..
Gw ngga terganggu sama atraksi topeng monyet, tapi lucunya temen gw yg ikut naik kereta takut sama topeng monyet jadi sering teriak2 kalo monyetnya deket2 dan pawangnya kayak selow aja gitu..hehe..

Yah, mungkin kita lumayan jadi ‘hiburan” buat penumpang yang lain ya pas itu πŸ˜€

Nice post!

Reply
Rivai Hidayat March 1, 2021 - 1:12 am

Walking tour itu cara menikmati sebuah kota dengan cara yang berbeda mbak..hehhehe
Jadi anak jakarta dan sekitarnya itu enak, ada kereta yang bisa menjangkau banyak tempat. Kalau pas di bekasi, setiap akhir pekan sering menyempatkan diri untuk ke jakarta.. Biasanya naik krl.

Kalau di stasiun semarang tawang, hiburannya adalah musik keroncong mbak febi. Hampir setiap malam, terutama akhir pekan, musim keroncong siap menemani para penumpang kereta yang sedang menunggu keberangakatan kereta mereka.

Reply
Zam February 28, 2021 - 10:10 pm

satu hal yang tidak terlupakan soal sejarah kereta api, terutama di Semarang, yaitu keberadaan Lawang Sewu, yang dulunya merupakan kantor Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM).

Reply
Rivai Hidayat March 1, 2021 - 12:49 am

Lawang sewu sekarang dijadikan museum kereta api. Pengelolaan dibawah kewenangan PT Kai. Bangunan itu jadi ikon kota semarang dan masih terawat dengan baik sampai sekarang.

Reply
Antin Aprianti March 1, 2021 - 5:39 am

Aku naik kereta kayanya baru hitungan jari aja deh, salah satunya ke Semarang Tawang karena kerjaan kantor jadi belum punya kisah atau drama dengan stasiun.

Pas baca tulisan ini wow ternyata stasiun Semarang Tawang banyak sekali sejarahnya. Seru banget deh kalau bisa walking tour gini, belajar sejarahnya jadi nggak bosen ya mas. Ah menyesal waktu di stasiun ini nggak sempet eksplore bangunannya

Btw, Mas Vai yang paling pojok kiri bukan sih?

Reply
Rivai Hidayat March 1, 2021 - 2:20 pm

kalau sampai di stasiun semarang tawang yaa paling disambut dengan alunan musik gambang samarang. Itu jadi salah satu ikon stasiun semarang tawang dan stasiun poncol.

Bener sekali mbak antin, belajar sejarah dengan cara begini menjadi lebih menyenangkan dan kita bisa langsung bisa melihat sisa sejarah yang ada.hhehehee
kalau di foto aku paling kanan. Kalau dari pandangan yang baca yaa sebelah kiri..hehhhee

Reply
Syifana Priliana March 1, 2021 - 6:50 am

Kak Rivai, aku baru tau loh Semarang adalah kota pertama yang punya jalur kereta! Ku kira Batavia, atau lainnya! Aduh, aku kudu belajar banyak nih.

Ngomong-ngomong soal trem uap, rasanya seperti apa ya naik satu transportasi itu? Kayaknya seru, sayangnya udah nggak ada

Kak Rivai yang pakai kacamata, bukan ya? Kayaknya salah,

Reply
Rivai Hidayat March 1, 2021 - 2:54 pm

Batavia memang ibota pemerintahan hindia belanda. Semarang jadi salah satu kota pelabuhan penting dalam perdagangan pada masa itu. untuk mendukung perdagangan, dibangunlah jalur kereta api.

di indonesia sudah tidak ada trem. Aku pernah baca jika di lisabon, portugal masih ada trem. Bukan trem uap, tapi trem listrik yang lebih ramah lingkungan. Trem ini masih melayani perjalanan warga di sana. Beberapa negara eropa masih menggunakan trem listrik sebagai moda transportasinya..hehehhee

Kalau di foto, aku berada di sebelah paling kanan. Saat itu belum memakai kacamata. Baru berkaca mata sekitar awal tahun 2019..hehehhee

Reply
Bayu Kurniawan March 1, 2021 - 1:30 pm

Wahhh bring back my memory banget.. hahah
Khususnya Tawang sih.. soalnya prnah ikutan nganterin teman kosan…… tapi baik poncol sama tawang, keduanya sama2 juaaauuhh menurut saya dari Unnes…*buat saya yahh.. soalnya berasa lama aja gtu perjalanannya atau mngkin karena saya yg jarang main kesana. Soalnya kalau ke Semaramg Kota paling ujung2nya cuma ke Indrasari.. Mas Rivai tahu Toko Indrasari nggak?? mesti tau donk yah.. toko kimia terlengkap di Semarang.

Skrang kereta api sudah bagus banget yah.. sistemnya juga sudah enakk.. nggk kaya dlu.. tapi naik kereta ke Jawa udh lama banget nggk saya rasain.. semoga next bisa..

Kalau Lawang Sewu itu cuma museum kereta doank kan yah Mas Rivai?? Bukan bekas stasiun??

Reply
Rivai Hidayat March 1, 2021 - 3:21 pm

yaa emang karena unnes yang jauh dari kota mas bay..hehhee
Biasanya setiap hari juma-sabtu, stasiun selalu dipenuhi dengan mahasiswa yang akan mudik ke daerah sekitar semarang. Kalau sudah tiba lagi di semarang, tak jarang mereka juga ditawari ojek atau taksi untuk menuju kosan mereka.

tentu saja tahulah mas. Beberapa kali ke toko indrasari buat antar teman. Tokonya kecil, tapi kalau beli pasti antri. Antrinya pun juga mesti berdesak-desakan.

Kalau lawang sewu itu bekas kantor NIS. setelah NIS berkembang pesat, akhirnya kantor pusat NIS pindah ke Lawang sewu. Dahulunya berada di sekitar stasiun. Pemilihan lokasi lawang sewu juga tidak lepas dari sudah berkembangannya daerah tersebut. yaitu jalan bodjong (sekarang jalan pemuda) yang merupakan area perkantoran pemerintahan, sekolah, bisnis, dan hiburan.

Reply
Iqbal March 2, 2021 - 10:50 am

Agak mirip dengan sejarah kereta api di Aceh juga, awalnya bukan untuk penumpang. Malah di Aceh lebih ekstrim, untuk angkut senjata buat perang lawan Aceh. Tapi sekarang jalur kereta di Aceh hanya sedikit saja, sisanya habis. Yang sedikit itupun sepi peminat

Reply
Rivai Hidayat March 2, 2021 - 1:02 pm

Dulu di jawa juga dimanfaatkan untuk itu mas iqbal. Memang saat itu mobilitas logistik sangat diperlukan agar perputaran barang dan uang menjadi lebih cepat.

Dulu ketika di aceh juga diberitahu stasiun kereta api yang ada di lhokseumawe. Jalur rel juga masih ada dan terawat. Hanya saja tidak melihat kereta api melintas..hehehe

Reply
Ning! March 2, 2021 - 11:02 am

Aku jadi inget masa kecilku, suka diajak kakek naik Sepur ke Solo. Iya, Kakekku nyebutnya bukan kereta, tapi Sepur. Kayakya karena pengaruh bahasa belanda kali ya,? Soalnya itu nama perusahaannya juga ada kata Spoornya, hehe

Keren ya, Semarang jadi kota pertama yang punya stasiun kereta api. Keinginan buat explore Semarang jadi makin menggebu nih, semoga pandemi lekas usai ya. Dan btw, gaya bercerita Mas Vay asyik. Kaya informasi tapi nggak ngebosenin.

Reply
Rivai Hidayat March 2, 2021 - 1:14 pm

Iyaa mbak ning, kata sepur memang serapan dari kata spoor. Dari bahasa belanda. Banyak kata belanda yang diserap ke bahasa indonesia. antara lain ticket dan kantoor.
Kalau daerah solo dibangun jalur kereta untuk memudahkan akses ke daerah keraton mataram dan surakarta. Jalur kereta smarang-solo juga masih ada dan dulunya dikelola oleh NIS.

ayo ke semarang mbak ning. Banyak tempat dan cerita tentang semarang yang bisa digali..hehhehe
makasih mbak ning. Makasih sudah singgah disini πŸ˜€

Reply
Mrs.kingdom17 March 5, 2021 - 12:49 am

Beberapa kali naik turun di stasiun Tawang maupun poncol…yang sampe skrg aku masih bingung ini stasiun deketan kenapa gak jadi satu aja sih…ternyata beda pengelola..memang kalau masuk stasiun tawang suka berasa megahnya ya…tapi aku gak terlalu memperhatikan. Yg aku suka dari stasiun di tawang ehh apa poncol ya…dpn stasiun banyak kuliner dengan enak…hahaha…btw nice info mas…

Reply
Rivai Hidayat March 5, 2021 - 3:20 am

Dahulunya beda perusahaan. Kalau sekarang sudah jadi sastu dibawah KAI. Secara desain aristektur bangunan memang terlihat beda. Stasiun Semarang tawang terlihat lebih megah dibandingkan stasiun semarang poncol.

Kalau banyak kuliner, kemungkinan stasiun tawang. Karena lokasinya tidak jauh dari kawasan kotalama, semarang.

Reply
Lenifey March 3, 2021 - 9:31 am

Pas pembukaan eh kok romantis. Pas kalimat “Aku ke sini bukan untuk melakukan perjalanan keluar kota, atau untuk mengenangmu” langsung ketawa2 sambil bilang uhuy. Haha.

Btw baru tahu loh kalo semarang itu yang punya kereta pertama. Ternyata seru ya tur kereta ini. Nggak pernah nggeh kalo semarang dan kereta ini udah melekat banget sejarahnya.

Yang sedih sih trem uap dan jalurnya udah nggak ada sama sekali bangkainya. Padahal kalo ada bisa banget jadi obyek wisata sejarah. Sekalian melambangkan ikon semarang dan kereta.

Reply
Rivai Hidayat March 3, 2021 - 1:51 pm

Stasiun itu tempat yang banyak menampung cerita dan kenangan..wkwkwkwk
Bahkan gedung lawang sewu yang jadi ikon kota semarang dulunya merupakan kantor operasional NIS. Bentuk bangunan juga masih sama dengan ketika pertama kali dibangun.

Karena saat itu trem dinilai kurang efektif, efisien dan kalah bersaing dengan moda transportasi lain. Belum lagi uap yang dihasilkan juga mengganggu kenyamanan. Trem uap sudah tidak beroperasi di indonesia..hehhee

Reply
Elsa Martina Lova March 3, 2021 - 9:32 am

walking tournya tampaak menarik. Aku belum pernah nih liat tream uap ini. Sepertinya aku harus ke semarang lagi

Reply
Rivai Hidayat March 3, 2021 - 1:26 pm

Trem uap sudah lama tidak beroperasi di Indonesia. Salah satu penyebabnya moda transportasi ini dinilai tidak efektif dan efisien. Kalah dengan moda transportasi lainnya. kemudian trem up juga berganti dengan trem listrik. yang aku tahu, di kota lisabon, portugal masih terdapat trem yang bisa digunakan untuk transportasi.

ayo datang ke semarang lagi πŸ˜€

Reply
Retno Nur Fitri March 4, 2021 - 6:52 am

Perjalanan penuh dengan kenangan ya kak, bisa jalan2 sambil belajar sejarah.. Pengen ngerasain juga naik kereta ke luar kota yang selalu pasti punya banyak cerita

Reply
Rivai Hidayat March 4, 2021 - 7:21 am

bukan perjalanan naik kereta sih ka. Tapi lebih banyak bercerita tentang sejarah kereta api di semarang.
Ini salah satu cara untuk belajar sejarah dengan cara yang asyik dan menyenangkan πŸ˜€

Reply
nico krisnanda March 4, 2021 - 10:32 pm

Ngeri penjelasannya lengkap

Reply
Rivai Hidayat March 5, 2021 - 3:21 am

Bener sekali mas, soalnya ini penting untuk menambah wawasan

Reply
duniamasak March 5, 2021 - 1:58 am

duh kangen semarang, pengen makan lumpia πŸ˜›

Reply
Rivai Hidayat March 5, 2021 - 3:18 am

sini, nanti ditraktir lumpia

Reply
RULY March 5, 2021 - 9:08 am

Penjelasan Yang menarik Sekali Mas, memang Semarang sudah maju lebih Dulu dalam Hal perkeretaapian, Bahkan Ikon kota nya Sendiri Lawang Sewu adalah bekas Kantor Kereta Api

Reply
Rivai Hidayat March 5, 2021 - 12:48 pm

Dulu, semarang merupakan slah satu kota perdagangan yang penting bagi pemerintah hindia belanda. Makanya di semarang ada kantor perwakilan dan rumah dinas untuk gubernur jendela hindia belanda.
Lawang seru dibangun juga tidak jauh dari jalan raya pos (Postweg) dan kawasan perkantoran dan perniagaan pada masa itu.

makasih mas ruly sudah singgah.

Reply
Clara Kinasih March 6, 2021 - 2:44 am

Baca artikel kakak, jadi tau salah satu sejarah kota Semarang.
Nggak kepikiran sebelumnya kota mana yg pertama kali memiliki jalur kereta pertama.
Thank you yah kak infonya.

Reply
Rivai Hidayat March 6, 2021 - 3:53 am

Sejarah kereta api (KAI) dimulai dari stasiun semarang menuju stasiun tanggung. Kemudian berlanjut dengan rute-rute lainnya.

terima kasih telah singgah di sini.

Reply
EkaRahmawatizone March 6, 2021 - 8:15 am

Saya belum pernah ke Semarang nih. Jadi pengetahuan baru soal Stasiun Semarang Tawang, Trem Uap Semarang, dan Stasiun Semarang Poncol.

Baru tahu juga kalo zaman dulu pembangunan jalur kereta api awalnya tujuan pembuatannya untuk angkut logistik dan hasil perkebunan.

Ternyata hasil jelajah tempat2 stasiun zaman dulu bisa semenarik itu yaa

Reply
Rivai Hidayat March 6, 2021 - 12:28 pm

Jadi perlu ke semarang biar bisa melihat stasiun-stasiun yang bersejarah ini secara langsung.

Walking tour adalah salah satu cara menikmati kota dengan cara yang berbeda.

Reply
Deny Oey March 6, 2021 - 9:34 am

Minggu lalu abis dari semarang dan ke museum kereta yg di ambarawa pula. Next semoga kalo ke semarang lagi bisa ikut walking tur disana. Uda lama jg gak naik kereta ke stasiun tawang. Hahha

Reply
Rivai Hidayat March 6, 2021 - 12:29 pm

Lokomotif kereta jaman dulu banyak disimpan di museum ambarawa. Ditunggu kedatangannya di semarang

Reply
Taumy Alif March 6, 2021 - 11:12 am

Jadi ingat, stasiun Poncol jadi saksi pertama kali naik kereta api menuju ibukota mencark rezeki. Berbekal tiket sobek ukiran 3 x 10 cm berwarna merah dan tidam memiliki nomor kursi. Alhasil, harus duduk beralaskan tikar diantara gerbong (tepat depan pintu WC). Alhamdulillah, bersyukur tetap bisa sampai ibukota.

Reply
Rivai Hidayat March 6, 2021 - 12:31 pm

Waah..pernah mengalami karcis tanpa tempat duduk. Pas kecil pernah mengalaminya juga. Dulu sering diajak ke jakarta sama oramg tua.

Reply
Dian Restu Agustina March 6, 2021 - 11:47 am

Senangnya baca ini jadi tahu banyak tentang kereta api terkhusus Semarang dengan jalur KA pertama di Indonesia.
Jujur kalau kenangan tentang stasiun hampir ga ada haha..kalau terminal bis banyak karena dulu kuliah di Bali jadi rute bus yang dijalani hihi
Tapi saat sudah merantau Jakarta sesekali naik kereta ke buat mudik lewat di stasiun ini, Semarang Tawang

Reply
Rivai Hidayat March 6, 2021 - 12:35 pm

Bali gada jalur kereta sih..hahaha
Kalau mudik ke jawa timur via jalur pantura, bakal berhebti di stasiun tawang atau poncol. Kalau sudah sampai sini, berarti setengah perjalanan lagi..heheheh

Reply
Lisa Fransisca March 6, 2021 - 1:05 pm

Wah seru ya Mas Vay ikutan walking tour begini. Salah satu cara belajar sejarah yang asyik nih, secara dulu aku selalu ngantuk kalau pelajaran Sejarah. Haha.

Btw, baru tahu kalau ternyata Semarang merupakan kota pertama yang memiliki jalur kereta api. Dan ternyata dulu tujuannya untuk angkut logistik ya. Sayang ya trem uapnya sudah berhenti beroperasi. Kira-kira, ada enggak sih museum di Semarang yang mengabadikan trem uap ini? Kalau ada, pasti menarik.

Reply
Rivai Hidayat March 7, 2021 - 12:51 am

Dulu kita diajari sejarah dengan fokus kapan kejadian itu terjadi. Akhirnya hanya ingat tanggal-tanggal saja. Kurang pemahaman tentang apa yang terjadi. Akhirnya ngantuk dengan ingatan-ingatan tanggal sebuah kejadian..hihihi

Sekarang, kereta dimanfaatkan lagi sebagai pengangkut logistik. Jadi bisa kirim barang melalui kereta.
operasional trem uap dihentikan karena kurang efektif, efisien dan kalah bersaing dengan angkutan transportasi lainnya. Apalagi usap yang dihasilkan cukup mengganggu. Trem ini beroperasi di daerah kota.

cerita tentang trem uap ini hilang begitu saja kak. Hanya ada sisa kantor operasionalnya saja. Bahkan bekas stasiunnya saja tidak banyak yang tahu sejarahnya.

Reply
Anni NS March 6, 2021 - 1:31 pm

Benar sekali masvay, selalu ada sebuah atau beberapa kisah tentang stasiun dan kereta api. Kisahku sendiri adalah tentang ketika masih bersama seseorang yang begitu spesial dalam hidupku saat itu. Ia yang menganggap diri ini yang biasa-biasa saja begitu spesial dan penting baginya. Sepenggal kisah lalu.
But, anyway..rasanya jadi seperti belajar sejarah, dengan membaca cerita versi ‘Walking Tour’. Jadi ingin Walking Tour bersama seseorang itu jadinya hehehe…saya jadi membayangkan dan berharap bisa melakukan Walking Tour pula ke Semarang bersama teman Belanda saya, dan saya pun kini jadi penasaran dan bertanya-tanya, apakah ia sebagai orang Belanda juga sudah mengetahui tentang sejarah perkeretaapian di Jawa-Tengah.
Ceritanya menyenangkan dan tidak membosankan masvay, membuat saya jadi belajar lagi tentang sejarah Belanda yang pernah ada meski sedikit sedikit. Jujur, saya baru tahu kalau Belanda adalah negara bekas jajahan Perancis, hehe…wkwkwk. Terimakasih banyak untuk infonya masvay. Nice sharing!

Reply
Rivai Hidayat March 7, 2021 - 1:33 am

waah, mbak ani punya cerita dan kenangan di stasiun juga πŸ˜€

ajak aja mbak anni, justru orang belanda termasuk orang yang sangat menghormati para leluhurnya. Termasuk dengan hasil karya para leluhurnya. Maka dia akan senang sekali dengan perjalanan ini.

Bahkan perang antara perancis dan belanda juga memberikan efek ke wilayah hindia belanda.

Reply
Mamak Rempong March 6, 2021 - 2:28 pm

Kuliah di Semarang, tapi ngga pernah eksplore kemana mana, sekarang nyesel hahhaha. Semoga ada kesempatan lagi untuk mengenal Semarang dengan lebih baik.

Kereta selalu jadi pilihan utama kalo kemana mana, seneng aja kalo naik kereta, tenang, ngga sesek. Dulu sering naik kereta dari Poncol ke Cirebon, tiketnya hanya 8 ribu hahahha, ya Allah…waktu berlalu sangat cepat.

Terima kasih sharingnya, membuka kenangan lama hahahhahaha

Reply
Rivai Hidayat March 7, 2021 - 12:40 am

Tiketnyaa masih 8ribu, ini berarti anker (anak kereta) angkatan lama. Yang sering dapat tiket tanpa tempat duduk. Mesti bersabar, meskipun duduk berdesak-desakan. Kalau di kereta bakal ketemu dengan pedagan asongan. Rasanya semuanya berjalan cepat sekali..hehehehe

Reply
Lovelypink March 6, 2021 - 2:58 pm

Saya udah pernah ngerasain 2 stasiun Semarang ini, paling seneng kalo lewat stasiun di Semarang. Biasanya kereta berhentinya lebih cepet trz kita bisa jajan deh. Ditambah arsitekturnya masi bangunan lama, seneng euy liatnya. Iiiish… jadi kangen pengen ke Semarang deh.

Reply
Rivai Hidayat March 7, 2021 - 12:38 am

Biasanya kereta berhenti lebih lama. Selain banyak penumpang yang turun, biasanya juga mengisi persedian air. Jadi penumpang bisa ikut turun sebentar. Kalau mau beli jajan atau makanan berat juga bisa. Sama kak, kayaknya tahun 2020 ga ke stasiun sama sekali..hahahaha

Reply
Titi March 6, 2021 - 3:02 pm

Aku agak gagal fokus, jadi aku prihatin sm stasiun semarang tawang dan poncol. Walopun jarak mereka dekat tapi jalur kereta nya g akan pernah bersatu. Klo ini ibarat 2 insan dimabuk asmara kan yaaa jd pedih. Wkwkwk

Btw seru juga ya jalan2 sejarah gini ya, jd pas baca ohh2 gtu. Pdhl aku bbrpa kli lwt tmpat2 yg disebutin tp g tau apa2

Reply
Rivai Hidayat March 7, 2021 - 12:35 am

Jangankan stasiun, rel kereta api pun kayak gitu. Selalu bersama tapi ga pernah bersatu. Sekalinya bersatu kemudian berpisah lagi. Jalan sendiri-sendiri..wkwkwk

walking tour ini adalah cara belajar sejarah yang perlu dikenalkan kepada anak-anak, khususnya bagi mereka yang suka dengan sejarah.

Reply
inez March 6, 2021 - 3:07 pm

keren ya oldies banget bangunannya. Jadi pengen deh jelajah ke semarang juga!

Reply
Rivai Hidayat March 7, 2021 - 12:32 am

yaudah buruan ke semarang kak..!!!

Reply
Sri Raditiningsih March 7, 2021 - 11:03 am

Karena baca tulisan ini aku jadi tahu kalau ternyata Semarang kota pertama yang ada rel keretanya, ya ampuunn aku kek orang buta sejarah hahaha betewee aku samsek belum pernah nginjekin kaki ke semarang

Reply
Rivai Hidayat March 8, 2021 - 12:04 am

Sejarah kereta api kayaknya ga masuk dalam kurikulum pelajaran sejarah kak…hahahhaa
Nah ini, ayo ke semarang. Ke semarang naik kereta yaa, biar bisa lihat kemegahan stasiun semarang tawang..hhehhehe

Reply
Ursula Meta Rosarini March 9, 2021 - 7:34 am

Aku baru sekali ke stasiun tawang mas, baisanya poncol mulu wkwkwk,
Waktu itu abis backapakeran sama tmn2, pulangnya via stasiun tawang, kami sempat numpang mandi di stasiun malah, maklum seharian di jalanan hahhaha, stasiunnya bersih. tp ga sempat walking tour, kayaknya harus ke semarang lagi nih

Reply
Rivai Hidayat March 9, 2021 - 1:44 pm

Tahun berapa itu mbak ursula?
seingatku kamar mandi yang di luar itu ukurannya kecil. Ga nyaman untuk numpang mandi.
Tapi kalau misalnya di kamar mandi yang di dalam lebih lebar ukurannya…

Ayo ke semarang lagi mbak ursula πŸ˜€

Reply
Agus Warteg March 10, 2021 - 2:02 pm

Dulu sebelum ada pol bis sinar jaya di Balaraja Tangerang maka tiap ke Serang biasanya aku naik kereta api dari stasiun Brebes terus di pasar Senen, setelahnya di sambung dengan naik bis ke Serang.

Ternyata Semarang adalah kota pertama di Indonesia yang ada kereta api, baru tahu aku. Wajar saja sih tahun 1860an kereta buat ngangkut logistik karena penduduk pulau Jawa masih sedikit dan juga biasanya sesama saudara masih berdekatan.

Reply
Rivai Hidayat March 10, 2021 - 3:16 pm

Banayk kereta yang ga berhenti di brebes. Hanya beberapa saja. Kebanyakan berhenti di stasiun tegal.

Penumpang kereta api pada jaman dahulu kebanyakan adalah orang kulit putih atau para priyayi dan keluarga bangsawan. Jadi untum pribumi biasa, jarang menggunakan kereta api sebagai moda transportasinya.

Reply
Prisca March 16, 2021 - 2:51 am

Duhhh makin pengen ke Semarang. Belum pernah sama sekali ih πŸ™

Reply
Rivai Hidayat March 19, 2021 - 1:34 am

ayo main ke semarang kak πŸ˜€

Reply
morishige March 30, 2021 - 5:06 pm

Buruh kereta api di Semarang kayaknya dulu juga punya peran pas zaman pergerakan, Mas. Sangar, sih, perkeretaapian Semarang ini. πŸ˜€

Reply
Rivai Hidayat March 31, 2021 - 2:44 am

Zaman pergerakan, Gedung Lawang Sewu, bekas kantor NIS, juga menjadi bagian sejarah dari pertempuran 5 hari di semarang. Bahkan di area gedung didirikan monumen untuk menghormati korban pertempuran.

Reply
Zae AbJal April 13, 2021 - 7:36 pm

Baca artikel ini, jadi tetiba kangen naik sepur lagi..

Reply
Rivai Hidayat April 18, 2021 - 3:21 am

lama ga piknik naik kereta yaa mas

Reply
Pipit Widya October 25, 2021 - 3:15 am

Wah, jadi kangen Semarang. Ya, saya akrab dgn st.Tawang krn wong Semarang jek, hehe. Dulu pas masih kerja di Jakarta juga sering dinas di Semarang. Oia, lagu Gambang Semarang khas banget. Seneng banget pas sampai atau ke st ini denger lagunya.
Saya dulu sekolah TK dan SD di kota lama Mas. Ada nggak piknik di daerah susteran? Nah, TK dan SD saya di situ. Dulu ada 3, SD St. Theresia, Clara, Kristus Rex, halah ini nulisnya gimana. Sekarang kayaknya dilebur jadi satu, entah namanya apa. SD kekurangan murid krn sering banjir. Kenangan banget di situ.

Tulisannya keren2 mas. Apalagi yg Kalimantan, tadi udah baca.

Reply
Rivai Hidayat October 25, 2021 - 11:46 am

Lagi gambang semarang di stasiun tawang magisnya emang terasa beda. Penuh dengan kenangan sebuah pertemuan dan perpisahan. Sejak pandemi, aku belum naik kereta lagi..hiks

Ouw..aku tahu. Kesusteran gedangan yΓ ? Aku belum pernah masuk ke sana. Atau mungkin gedung kesusteran yang lainnya…?

Makasih mbak pipit sudah singgah di sini. πŸ˜€

Reply
Pipit Widya October 25, 2021 - 2:43 pm

Bener banget, lagu Gambang Semarang di stasiun Tawang memang magis. Alunan keroncongnya enak didengar. Syahdu dan kayak membawa ke masa lalu. Halah..

Kayaknya stasiun Tawang jadi tempat yang sangat berkesan buat Mas Rivai ya. Hehehe.

Betul, kesusteran Gedangan. Ada beberapa yayasan di sana. Yayasan Kanisius dan Marsudirini. RS Panti Siwi juga kayaknya milik kesusteran. Eh, tahu RS Panti Siwi nggak? Masih ada nggak ya RS ini. RS bersalin sih tepatnya.

Dulu sekolah saya rame banget, Mas. Entahlah sekarang jadi apa gedungnya. Pernah jadi lokasi syuting film Joko Anwar yang bintangnya Maudy Kusnaedi jadi suster. Saya lupa judul filmnya.

Reply
Rivai Hidayat October 27, 2021 - 7:14 am

berkesan banget sih. Bahkan rasanya masih terasa sampai sekarang..hahhahaha
Sekarang yayasan SD dan TK. Kalau RS aku tahunya RS Pantiwilasa. Kalau RS Panti Siwi malah baru dengar dari mbak pipit.
Iyaa, bener baget. Film Ave Maria ambil lokasi di tempat ini. Bentuk gedung dan interiornya masih terjaga dengan baik sampai sekarang. Termasuk dalam bangunan cagar budaya

Reply

Leave a Comment