Walking Tour: Menyusuri Sejarah Kereta Api di Kota Semarang

by Rivai Hidayat
Alunan musik Gambang Semarang menyambut kedatangan kereta Ambarawa Express di Stasiun Semarang Tawang. Kereta ini akan membawa para penumpangnya menuju Stasiun Surabaya Pasar Turi, Kota Surabaya. Alunan musik Gambang Semarang ini selalu menyambut kedatangan setiap kereta dan penumpang yang berhenti di Stasiun Semarang Poncol dan Stasiun Semarang Tawang. Begitu juga ketika kedatanganmu di Kota Semarang. Kamu pernah bilang bahwa kamu begitu menyukai alunan musik ini di setiap kedatanganmu di Kota Semarang. Bahkan alunan musik Gambang Semarang mampu membuatmu seolah-olah menari mengikuti alunan musik. Tangan dan kakimu mulai bergerak mengikuti irama. Terus menari hingga berada di hadapanku di pertemuan kita di kala itu.

Stasiun Tawang

Pagi ini, pukul 08:00 WIB, aku sudah berada di Stasiun Semarang Tawang. Tidak dalam rencana melakukan perjalanan keluar kota atau sedang menunggu kedatanganmu. Aku datang ke stasiun untuk belajar tentang sejarah kereta api di Semarang bersama teman-teman dari Bersukaria. Oyaa, Stasiun Semarang Tawang ini memiliki sejarah dan cerita yang panjang dalam dunia perkeretaapian di Indonesia, termasuk cerita tentang pertemuan dan perpisahan kita. Bagi yang sering ke Semarang dengan menggunakan kereta api, pasti tidak asing dengan dua stasiun yang ada di Semarang, yaitu Stasiun Semarang Tawang dan Stasiun Semarang Poncol. Padahal, dahulu di Semarang terdapat tiga stasiun besar. Namun jalur ketiga stasiun ini tidak terhubung sama sekali. Hal itu dikarenakan ketiga stasiun tersebut dimiliki oleh tiga perusahaan kereta api yang berbeda. Baru setelah Indonesia merdeka, jalur Stasiun Semarang Poncol dan Stasiun Semarang Tawang dihubungkan. Begitu yang dikatakan oleh Mas Dimas yang akan menjadi storyteller kami di pagi ini di rute Spoorweg.

Baca Juga: Walking Tour: Sepotong Cerita Dari Kawasan Candi Baroe, Semarang

Bercerita tentang kereta api, tentunya tidak bisa dilepaskan dari Kota Semarang. Sebab kota Semarang merupakan kota pertama di Indonesia yang memiliki kereta api. Pembangunan jalur kereta api dipengaruhi adanya Perang Diponegoro yang menghabiskan banyak dana pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah Hindia Belanda kemudian mencoba berbagai cara untuk mengembalikan keuangan mereka. Salah satunya dengan cara pembangunan jalur kereta api untuk memangkas biaya logistik.

Pada tahun 1864, jalur kereta api pertama di Indonesia mulai dibangun di Kota Semarang dengan rute menuju Stasiun Semarang-Stasiun Tanggung di Kabupaten Grobogan dengan jarak 25 km. Pembangunan menghabiskan waktu selama tiga tahun (1864-1867). Hal itu disebabkan karena adanya perbedaan kontur wilayah dan teknologi yang sangat masih sederhana mengakibatkan lamanya pembangunan jalur kereta api ini. Pada tahun 1867 kereta api mulai beroperasi di Indonesia dengan rute Stasiun Semarang menuju Stasiun Tanggung sejauh 25 km. Namun, saat ini bentuk Stasiun Semarang sudah tidak dapat ditemui lagi.

Hujan deras mulai mengguyur Kota Semarang di pagi ini. Di sudut stasiun terlihat rombongan anak-anak TK sedang belajar tentang kereta api. Sedangkan di depanku Mas Dimas sedang bercerita tentang Stasiun Tawang kepada para peserta walking tour. Menurut beberapa sumber, Stasiun Tawang merupakan stasiun yang dibangun oleh perusahaan kereta api yang bernama Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) dengan seorang arsitek dari Belanda yang bernama Mr. Sloth Blauwboer. Mulai dibangun pada tahun 1911 dan diresmikan pada 1 Juni 1914. Stasiun Semarang Tawang dikhususkan untuk melayani kereta api penumpang. Nama Tawang diambil dari kampung yang berada di sekitar stasiun, Kampung Tawangsari. Sedangkan kantor NIS berada kantor di Gedung Lawang Sewu.
Baca Juga: Jejak Kekayaan Oei Tiong Ham: Raja Gula Dari Semarang

Sudut Stasiun Tawang

Stasiun Semarang Tawang menjadi bagian penting dalam sebuah acara yang bernama Semarang De Koloniale Tentoonstelling pada tahun 1914. Koloniale Tentoonstelling merupakan sebuah pameran yang diikuti oleh negara-negara kolonial dengan menampilkan berbagai hasil bumi dan kebudayaan yang ada di daerah jajahannya. Acara ini juga sebagai perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda atas Prancis. Pameran ini diikuti dari berbagai negara, seperti Inggris, Belanda, India, Amerika Serikat, dan Prancis. Semarang merupakan satu-satunya kota di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara yang pernah menyelenggarakan koloniale tentoonstelling. Para pengunjung pameran yang datang menggunakan kereta api yang berhenti di Stasiun Semarang Tawang. Bangunan Stasiun Semarang Tawang masih sesuai dengan bentuk aslinya, hanya ada beberapa perbaikan yang dilakukan karena stasiun ini sering terkena banjir rob yang berasal dari Laut Jawa.

Ruang tunggu Stasiun Tawang

Sepertinya belum ada tanda-tanda hujan akan reda, sedangkan perjalanan ini harus tetap berlanjut. Beberapa peserta menggunakan jas hujan, topi, dan payung untuk melindungi diri dari guyuran hujan. Aku hanya menggunakan jas hujan plastik yang aku beli di salah satu minimarket yang ada di stasiun. Kami akan berjalan menuju ke sebuah bangunan yang dulunya merupakan kantor salah satu perusahaan kereta api yang ada di Kota Semarang, yaitu Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS).

Salah satu rute yang dilewati

Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) beroperasi di Semarang sejak tahun 1882 dengan rute Semarang-Joana dengan melewati Demak, Kudus, dan Pati. Di belakang bekas kantor SJS terdapat area tambak ikan dan permukiman. Tambak dan permukiman itu dulunya merupakan bekas lokasi Stasiun Semarang NIS dan jalur kereta. Bahkan ada ada jalan di permukiman tersebut diberi nama jalan Spoorland. Hal itu dikarenakan dahulu di daerah tersebut terdapat jalur dan depo kereta api. Sedangkan semua aktivitas kereta api SJS berlangsung di Stasiun Jurnatan. Letaknya tidak terlalu jauh dari bekas kantor SJS.
Baca Juga: 11 Hal yang Bisa Kamu Temui di Pasar Karetan

Bekas kantor Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij 

Kami melanjutkan perjalanan menuju bekas Stasiun Jurnatan. Nasib Stasiun Jurnatan tidak sama dengan Stasiun Semarang Tawang dan Stasiun Semarang Poncol karena stasiun ini sekarang hanyalah tinggal kenangan. Pada tahun 1980, Stasiun Jurnatan dirobohkan dan kemudian dibangun kompleks pertokoan. Sebelum dirobohkan, Stasiun Jurnatan dimanfaatkan terlebih dahulu untuk terminal bus. Kemudian terminal bus dipindahkan ke Terminal Terboyo.

Menurut Pak Wawan, salah satu peserta walking tour, dahulu Stasiun Jurnatan sangat besar dan megah dengan kontruksi baja dan kaca dan memiliki beberapa  jalur kereta api. Selain melayani jalur antar stasiun, SJS juga mengelola jaringan kereta trem di Kota Semarang. Trem ini menggabungkan beberapa daerah di Kota Semarang, seperti Bulu, Jalan Bodjong (Pemuda), dan Jomblang. Namun pada tahun 1940, layanan kereta trem mulai dihentikan oleh pemerintah Hindia Belanda. Hal itu dikarenakan trem dianggap ketinggalan jaman, tidak efisien, dan tidak mampu bersaing dengan angkutan darat lainnya. Kami terus berjalan melewati area pertokoan yang dulu merupakan area Stasiun Jurnatan.
Baca Juga: Minggu Pagi di Pasar Karetan

Penanda bekas Stasiun Jurnatan

Kami melanjutkan perjalanan dalam cuaca yang masih gerimis, melewati beberapa sudut kawasan Kota Lama Semarang menuju depan Kantor Pos Pusat Johar. Kami akan berganti angkot untuk menuju Kantor KAI Daop IV Semarang yang berada di Jalan M.H. Thamrin. Kebetulan hari ini merupakan hari Sabtu dan operasional kantor sedang libur. Petugas keamanan tidak mengijinkan untuk memasuki area halaman kantor.
Kantor KAI Daop IV Semarang merupakan salah satu bangunan peninggalan masa kolonial yang dirancang oleh arsitek Belanda, Thomas Karsten. Dahulunya gedung ini digunakan oleh sebagai kantor bersama perusahaan kereta api  yang bernama Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) dan Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS). Di halaman kantor terdapat lokomotif kuno buatan pabrik lokomotif dari Manchester, Inggris.
Baca Juga: Menyusuri Romantisme Jalan Bodjong

Hujan tidak menghalangi perjalanan kami

Kami melanjutkan kembali dengan jalan kaki menuju Stasiun Semarang Poncol. perjalanan tidak terlalu jauh, kurang lebih sekitar 1 km dari Kantor Daop IV Semarang. Cuaca gerimis masih menemani perjalanan kami menuju Stasiun Semarang Poncol. Stasiun Semarang Poncol dibangun pada tahun 1914 oleh Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) denga arsitek Henri Maclaine Pont. Jalur di Stasiun Semarang Poncol memiliki rute menuju Cirebon. Stasiun ini dibangun dengan tujuan untuk melayani kereta penumpang dan barang.

Stasiun Poncol
Peserta walking tour (foto oleh mbak Indah)

Stasiun Semarang Poncol menjadi tempat terakhir kami dalam menyusuri sejarah kereta api di Semarang. Kami akan melanjutkan perjalanan kembali ke Stasiun Semarang Tawang. Banyak ilmu baru yang aku dapat hari ini. Aku kagum dengan Kota Semarang. Kota ini memang tak memiliki tempat wisata yang menarik bagi sebagian orang. Namun kota ini memiliki banyak cerita dan sejarah yang sangat berpengaruh dalam kehidupan masa lampau. Kota ini menjadi kota lahirnya kereta api di Indonesia. Seperti kita tahu, setiap tahunnya kereta api mampu membawa jutaan orang berpindah tempat. Dari satu kota ke kota lain. Seperti ketika membawamu datang dan pergi dari kota ini.

Happy Walking Tour

You may also like

41 comments

Devidhede April 10, 2018 - 11:57 am

Infonya lengkap ya hihi..
Semarang itu kota penuh sejarah dan heritage <3

Reply
erina julia April 10, 2018 - 12:20 pm

Ini pas mak injul, alid dkk main ke semarang ya? Huhu…

Reply
Rivai Hidayat April 11, 2018 - 5:15 am

Iya bener banget, kota lama juga dijuluki little netherland

Reply
Rivai Hidayat April 11, 2018 - 5:16 am

Aku ndak tau…soale mereka juga ga ikut acara…hahahaa

Reply
Evrinasp April 14, 2018 - 8:45 am

Ternyata kereta api pertama ada di semarang, pantesan stasiunnya lebih besar dan masih dipertahankan bentuk aslinya ya, suka sama stasiun tawang di sekitarnya jalanan masih pakai paving blok, seringnya memang turun di stasiun tawang kalau mau pulkam ke salatiga

Reply
Liana April 15, 2018 - 3:20 am

Hi Mas, asik yang walking tour lagi!
Duh jadi rindu walking tour di Semarang. Semoga lain kesempatan bisa join lagi.
Makasih buat share dan info lengkapnya masvay 🙂

Btw siapa itu guidenya?

Reply
Anonymous April 15, 2018 - 4:42 am

Sangat disayangkan nasib dari Stasiun Jurnatan. Bangunan yang bersejarah malah dirobohkan.

Reply
Rivai Hidayat April 15, 2018 - 5:51 am

Semoga bisa walking tour lagi di semarang. Banyak rute yang belum kamu nikmati. Guidenya mas dimas

Reply
Rivai Hidayat April 15, 2018 - 5:52 am

Sayang banget sih mas, tapi begitulah kalau sudah bicara kepentingan dan bisnis. Bangunan bersejarah pun bisa dirobohkan

Reply
Rivai Hidayat April 15, 2018 - 5:55 am

Stasiun tawang masih termasuk dalam kawasan kota lama. Makanya jalan paving blok tidak diubah

Reply
Ella fitria April 15, 2018 - 8:44 am

Woha, aku jd kangen kota semarang nih.. Ya ampun,

Reply
Rivai Hidayat April 15, 2018 - 1:46 pm

Yuk cus ke semarang…bulan mei banyak acara 😀

Reply
Anindita Ayu April 18, 2018 - 11:58 pm

Baru tau kalau Semarang ini kota pertama yang memiliki kereta api di Indonesia. Pantas saja ada museumnya di Lawang Sewu ya kak.

Reply
Misu Pinku April 19, 2018 - 12:04 am

Semarang memang memiliki banyak sejarah ya.

Reply
Dinilint April 20, 2018 - 2:58 pm

Wuih,, semangat banget pesertanya,, sampe hujan-hujanan juga tetep jalan. Thumbs up!

Reply
Rivai Hidayat April 21, 2018 - 12:29 pm

Lawang sewu dulunya merupakan kantor salah satu maskapai kereta api, yaitu NIS

Reply
Rivai Hidayat April 21, 2018 - 12:30 pm

Bahkan dahulunya semarang mendapat julukan Little Netherland dan Venezia dari timur 😀

Reply
Nia Nurdiansyah April 22, 2018 - 8:18 am

Duuh keren banget nih rute walking tournya. Harus sering kepoin bersukaria walk biar ngga ketinggalan. Terus itu foto2nya vai…kereenn2…aku jadi mupeng

Reply
Adie Riyanto April 23, 2018 - 8:18 am

Setiap ke sini cuma 'numpang lewat' doang. Waktu itu pernah nyusuri kota lama dengan jalan kaki. Panase pol. Akhirnya berteduh di lunpia delight aja hehehe 😛

Reply
Rivai Hidayat April 23, 2018 - 4:57 pm

Tungguin aja mbak nia untuk rute spoorweg. Rute ini jadi salah satu rute favorit mbak peserta, termasuk aku 😀

Reply
Rivai Hidayat April 23, 2018 - 4:58 pm

Kunjungan selanjutnya mesti keliling semarang mas. Banyak hal yabg bisa ditemui di semarang 🙂

Reply
Liana April 25, 2018 - 8:21 am

Amin mas, jgn bosen ngajak ya :p

Reply
Rivai Hidayat April 25, 2018 - 11:52 pm

Siaap, ditunggu di semarang 😀

Reply
himawan sant May 2, 2018 - 8:40 am

Aku juga kagum sama interior bangunan kuno stasiun Tawang,tertata apik.

Reply
Wisnu Tri May 2, 2018 - 10:26 am

Saya belum pernah ngreta ke Semarang. Terakhir kesana, motoran dan pernah diajak main ke kawasan Kota Lama. Nah, stasiun yang deket sama Kota Lama itu, Stasiun yang Tawang apa yang Semarang Poncol mas? Wqwq *apa banget dah*

Reply
Andi Nugraha May 4, 2018 - 12:30 pm

Nice post, Mas. Lengkap banget nih, belum kesampaian juga saya ke Semarang, ini bisa dijadikan reverensi tempat yang bisa dikunjungi juga..he

Reply
Rivai Hidayat May 11, 2018 - 2:11 am

samapi sekarang masih terawat dengan baik. bahkan setiap hari ada burung gereja yang singgah di dalam stasiun

Reply
Rivai Hidayat May 11, 2018 - 2:12 am

Semarang memiliki banyak tempat bersejarah yang layak untuk dikunjungi dan dipelajari

Reply
Rivai Hidayat May 11, 2018 - 2:14 am

yang dekat dengan kota lama itu stasiun tawang mas. bisa jalan kaki, sekitar 10 menit.

Reply
gus Wahid United August 8, 2018 - 4:44 pm

Alurnya kok mloncat Pay…diawal sdh bagus pake kata ganti orang kedua, endingnya jg. Tp di tengah,hilang.
Mgkn lbh baik klo 'kamu' ttp slalu ada, seolah menemani dikau walking tour lalu dikau mengenang kamu ini di sela selanya.
Keep it up ah

Reply
burgeRkeju August 8, 2018 - 4:45 pm

Saya pernah mengalami dan melihat waktu ex stasiun Jurnatan menjadi terminal bis; aura singup kental sekali di sana. Sayang sudah tidak ada lagi bangunannya.

Stasiun Tawang tidak banyak perubahan; beberapa tahun lalu sempat mengalami kebanjiran hingga sepinggang orang dewasa pas bulan Desember. Dari pinggir jalan masuknya mesti lewat jembatan di sisi kanan kalau dari pintu masuk.

Nice article anyway.

Salam.

Reply
Diah Ariani August 9, 2018 - 7:45 am

Waahhh aku baru tau kalo ada walking tour rute ini
Udah lama nggak kepoin instagramnya bersukaria
Pengen banget bisa ikutan walking tour lagi

Reply
Rivai Hidayat August 10, 2018 - 1:05 am

woow….aku malah ga mengalami masa-masa itu. tahu-tahu jurnatan udah jadi pusat perdagangan saja.

oiya, pas itu banyak kereta api yang ga bisa lewat. kemudian stasiun penumpang dialihakn ke stasiun poncol.

Reply
Rivai Hidayat August 10, 2018 - 1:06 am

makasih gus wahid.
kamunya memang jadi pembuka aja 😀

Reply
Rivai Hidayat August 10, 2018 - 1:09 am

salah satu ret favorit dan paling banyak diikuti peserta. Rute ini memang memberikan info yang sangat bermanfaat tentang perkembangan kereta api di indonesia.

Reply
gaeguri August 11, 2018 - 8:08 am

Baru tau ternyata kereta api pertama di indonesia itu di semarang.. Dari bangunannya keliatan emang udah tua yaa tapi tetap bagus

Reply
yudo rahadya August 11, 2018 - 1:31 pm

Keren jadi mau jalan2 kesana deh

Reply
Linda Leenk August 14, 2018 - 5:20 am

seru banget walking tour nya, aku baru tau ada stasiun junartan

Reply
Rivai Hidayat August 15, 2018 - 8:24 am

Di sumbar juga ada kereta api di jaman dulu.

Bangunan buatan Belanda memang punya kualitas yang bagus dan bertahan lama.

Reply
Rivai Hidayat August 15, 2018 - 8:25 am

Ayo ke semarang mas

Reply
Rivai Hidayat August 15, 2018 - 8:29 am

Aku tahunya juga karena ikut walking tour mbak 😀

Reply

Leave a Comment