Trekking di Semarang

by Rivai Hidayat
Trekking di Semarang

Setelah semua peserta berkumpul di titik kumpul, perjalanan akan dibagi dalam tiga grup. Tujuannya untuk menghindari kerumunan di antara para peserta. Pagi itu, kami diajak untuk trekking di salah satu sudut Kota Semarang yang menghubungkan daerah Gunungpati dengan Banyumanik. Dalam trekking ini, rute yang akan kami lewati adalah pemukiman warga, jalan tanah daerah hutan, dan aliran sungai.

Dari titik kumpul, kami langsung disapa dengan pemukiman warga. Kota besar yang identik dengan pemukiman padat,  begitu juga dengan Semarang. Namun, pemukiman warga di sini masih lengang. Jarak rapat tidak rapat. Bahkan warga masih memiliki kebun yang ditanami dengan aneka buah. Seperti rambutan yang saat itu mulai berbuah. Ruang di pemukiman ini masih luas. Sejauh mata memandang, sungguhan warna hijau pepohonan masih bisa dinikmati. Teduh, itu kesan pertama yang aku dapatkan ketika menyusuri pemukiman ini. Menyusuri jalan pemukiman membuatku seperti tidak sedang berada di Semarang.
Baca Juga: Trekking di Gunung Merapi

Di penghujung jalan pemukiman, jalan aspal berganti dengan jalan setapak menurun yang berupa tanah. “Perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai.” Begitulah kata Nadien. Yang bertugas jadi storyteller bagi grup satu. Jalan setapak berupa tanah ini menuju aliran sungai Kaligarang. Jalurnya terlihat sangat jelas. Ini menandakan jalur ini masih sering dilewati oleh warga sekitar.

Menuruni jalanan yang curam ini membuat kami mesti berhati-hati. Hujan semalam membuat jalan tanah ini semakin licin. Kami berusaha mencari batang kayu yang patah untuk membantu kami berjalan. Grup satu ini sebagian besar adalah perempuan. Di barisan paling depan ada Nadin yang bertugas sebagai penunjuk jalan. Sedangkan aku berada di barisan belakang, membantu mengawasi pergerakan semua anggota grup.

Selain warga, ternyata jalur ini sering digunakan untuk latihan lintas medan. Jalur sungai, dan hutan memang sangat cocok untuk digunakan sebagai latihan fisik dan stamina. Suara aliran sungai mulai terdengar. Tidak jauh, tapi kami tidak boleh terburu-buru. Setapak demi setapak perjalanan terus berlanjut. Hingga kami tiba di turunan terakhir. Tibalah kami di tepi sungai.

Trekking di semarang

Setelah tiba di tepi sungai

Di tepi sungai terdapat tanah lapang dan bebatuan yang bisa digunakan sebagai tempat istirahat. “Akhirnya tiba juga di tepi sungai.” Ujar Anisha, salah satu teman satu grup. Berada di tepi sungai ini berasa berada di sungai daerah pedalaman.  Dengan tebing-tebing tinggi yang menjulang dan aliran sungai yang deras, sampan para warga sedang melaju di aliran sungai.

Trekking di Semarang

Pemandangan dari atas jembatan

Tidak jauh dari tepi sungai terdapat sebuah jembatan gantung yang menghubungkan daerah Gunungpati dan Banyumanik. Dari atas jembatan ini, aku bisa melihat aliran sungai, tebing, dan bebatuan yang memecah aliran sungai menjadi jeram-jeram. Kami diajak menyeberang untuk menuju daerah Banyumanik.

Berbeda dengan daerah Gunungpati, akses jalan di daerah Banyumanik telah dimiliki oleh seseorang. Bahkan telah dibangun jalan aspal sebagai akses jalan. Letaknya tidak jauh dari area pabrik yang ada di daerah Banyumanik. Sebelum menuju titik akhir, kami mesti melewati jalanan menanjak yang terjal. Beberapa peserta terlihat sangat lelah.

Menikmati aliran sungai

Setelah berhasil menyeberang dan beristirahat, kami melanjutkan perjalanan kembali ke titik kumpul. Perjalanan pulang jadi lebih seru, karena kami akan melewati jalur menanjak yang terjal. Dibutuhkan stamina dan pengaturan napas yang bagus agar semuanya berjalan dengan lancar. Kami beristirahat beberapa kali. Lelah, itulah yang dialami salah satu peserta. Ketika tiba di penghujung permukiman, aku meminta salah satu temanku yang ada di grup lain untuk menjemput teman satu grupku yang mengalami kelelahan menggunakan motor. Aku pikir lebih baik dia dijemput naik motor daripada melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Dalam perjalanan kembali ke titik kumpul, kami singgah di salah satu warung milik warga. Awalnya hanya untuk membeli minum, tapi ternyata ibu penjual sedang menggoreng aneka gorengan. Aku terlalu lemah untuk menolak suguhan gorengan hangat. Siang itu, aku memakan tiga gorengan. Sebetulnya bisa lebih, aku berhasil menahan diri untuk tidak berlebihan. Selain itu, peserta lain juga membeli rambutan yang sedang dipanen. Sebagai pengunjung, sudah selayaknya jika membantu perekonomian warga dengan cara membeli barang dagangan warga sekitar.
Baca Juga: Hunting Foto Bersepeda di Semarang

Trekking di Kota Semarang ini diadakan oleh teman-teman Bersukaria. Mereka sering mengadakan walking tour di beberapa sudut Kota Semarang. Bisa dibilang aku adalah peserta angkatan pertama. Yup, aku pertama kali ikut walking tour dengan teman-teman Bersukaria sekitar tahun 2016. Masa awal ketika Bersukaria mulai dirintis. Hampir semua rute pernah aku ikuti. Banyak cerita menarik dan sejarah tentang Kota Semarang dari walking tour ini. Dengan cara ini, aku jadi bisa bercerita banyak hal tentang sejarah Kota Semarang kepada teman-temanku, khususnya yang berasal dari kota lain dan tertarik dengan kota ini. Kota ini sangat unik. Saking uniknya, salah satu temanku dari Jogja bilang jika Semarang itu terdiri tiga kata, bukan satu kata. Semarang itu singkatan dari Semakin Rindu & Sayang.

Meskipun lahir dan besar di Kota Semarang, trekking kali ini memberikan kesan tersendiri bagiku. Selain untuk olahraga, trekking seperti ini adalah caraku untuk lebih mengenal kota kelahiranku. Jadi hal yang aneh jika kita tidak mengenal kota atau tempat tinggal kita.

Jadi, sudah sejauh mana kalian mengenal kota kelahiran atau tempat tinggal kalian?

Semarang, 12 Desember 2020

You may also like

58 comments

Annisa Rizki Sakih December 29, 2020 - 10:51 pm

Semarang, saya kenal cukup baik setelah 6 tahun sempat bermukim disana. Kalau kota kelahiran, Jakarta, malah ga terlalu ‘kenal’ karena selalu mengikuti ortu pindah2 kota.

Reply
Rivai Hidayat December 30, 2020 - 1:16 pm

Waah lumayan, pasti punya banyak cerita dan kenangan di semarang. Kapan-kapan bisa nostalgia di semarang mbak 😀

Reply
Annisakih January 11, 2021 - 12:44 am

InsyaAllah, ntar cari referensi spot seru baru di blog ini dulu

Reply
Rivai Hidayat January 12, 2021 - 2:33 pm

Siaap mbam anisa 😀

Reply
Nasirullah Sitam December 30, 2020 - 12:24 am

Di Jogja, aku beberapa kali menyusuri Kali Code,
Sepertinya aktivitas seperti ini memang menyenangkan. Kita bisa jauh lebih mencintai kota tersebut dari sudut pandang yang berbeda

Reply
Rivai Hidayat December 30, 2020 - 1:17 pm

Dulu pernah diajak menelusuri perkampungan yang ada di kali code. Sangat menarik ketika berada di sana.
Setuju mas sitam, ini salah satu cara sederhana mencintai kota

Reply
Just Awl January 21, 2021 - 9:13 am

Udah lama banget aku nggak trekking begini ramai-ramai, mas Rivai Baca ini jadi sambil ikut bernostalgia, deh, sekaligus kenalan sama sisi lain dari kota Semarang. Terakhir kali aku ikut kegiatan walking tour seperti ini kayaknya udah hampir satu tahun lalu, itupun kegiatan kampus. Jadi nggak terlalu bisa menikmati karena ada susunan acara, dll.
Pingin bisa walking tour juga di kota-kota lain selain tempat tinggal sendiri, tapi langsung berasa disadarkan sama pertanyaan terakhir *lah belum kenal banget sama kota sendiri udah mau keluar kota aja, wk*. Kayaknya seru ya bisa punya grup yang suka trekking begitu, namanya aja Bersukaria

Reply
Rivai Hidayat January 23, 2021 - 9:24 am

Saat pandemi, kegiatan walking tour sangat dibatasi, termasuk jumlah pesertanya.
Sebetulnya gada masalah kalau mau walking tour di kota lain. Itu malah lebih seru karena kita bakal diajak mengenal kota lain dengan cara yang beda. Tidak hanya datang, foto-foto, kemudian pulang. Tapi juga mendengarkan dan berbaur dengan orang lokal.
Semoga awl juga bisa sering walking tour 😀

Reply
Lia The Dreamer December 30, 2020 - 11:58 am

Kak, seru banget walkingtour seperti ini. Beberapa kali aku lihat walkingtour di Jakarta kota tua sana, bikin pengin ikutan hahaha
Jika dibandingkan dengan Kak Rivai, level pengetahuanku akan tempat asal sangat jauh di bawah 🙁 hanya sekedar tahu beberapa hal, tapi tidak mendalam.
Kak Rivai, terima kasih udah ajak aku jalan-jalan dan lebih mengenal akan Semarang sepanjang tahun ini!
Selamat menjelang tahun baru 2021 ya, Kak

Reply
Rivai Hidayat December 31, 2020 - 5:35 am

di jakarta juga ada yang mengadakan walking tour mbak lia. Rutenya jugasangat bervariasi. Aku pernah ikut rute pasar baru..hehhehe
Aku jadi lebih tahu karena ikutan kegaitan walking tour kayak gini.heheheh
semoga tahun depan mbak lia bisa main ke semarang. Setelah semuanya lebih baik untuk melakukan perjalanan 😀

Selamat tahun baru 2021 mbak lia 😀

Reply
Thessa December 30, 2020 - 12:47 pm

Menarik juga ikut walking tour gitu ya Mas.. aku udah lama berminat ikut tour2 kaya gini, apalagi bs sampe trekking ke alam n menikmati sungai yaa.. Kebayang klo medannya ga berat, trus bawa anak2, pasti seruu yaa..
Suka banget sungai yg pas deket tebing2 itu, refresh bgd liatnya

Reply
Rivai Hidayat December 31, 2020 - 4:40 am

di Jakarta juga ada jakarta good guide mbak thesa. Punya banya rute di daerah jakarta 😀
Lumayan untuk menikmati suasana alam yang asri mbak 😀

Reply
Ina January 1, 2021 - 1:51 am

Semarang memang cantik, banyak tempat yang sangat bisa diulas dan diceritakan, sehingga aku betah untuk tinggal di sini.
sejarahnya, apalagi pembuktian bahwa gunungpati-banyumanik itu dekat yang dilakukan dengan trekking ini. seruuu..
ayok kapan2 trekking lagi kalo waktunya pas.

Reply
Rivai Hidayat January 2, 2021 - 2:53 am

Semarang cantik dan panasnya sedikit berlebihan 😀
Gunungpati dan banyumanik ada akses untuk motor. Jalannya lumayan curam. Jadi mesti hati-hati kalau lewat sana 😀

Reply
Ina March 4, 2021 - 4:56 pm

Tapi lama pasti pembangunannya kalo jalan itu dibuka, hahaha iya ga si? :3

Reply
Rivai Hidayat March 5, 2021 - 3:25 am

yaa mungkin lebih baik ditata dulu sih. Kalau dibangun agak susah

Reply
Ikrom January 4, 2021 - 12:25 am

daerah semarang yg deket gunung ungaran memang sejuk banget
aku pernah ke sana dan pingin lagi
duh sungainya jerih banget mas
pengen aku keceh alias main air di sana
kapan kapan pingin ikut mas hehe

Reply
Rivai Hidayat January 4, 2021 - 4:00 am

Semakin ke selatan (arah ungaran), wilayah semarang Semakin sejuk mas. Khan berbatasan dengan perbukitan.
Di sekitar ungaran juga banyak curug mas. Airnya jernih dan seger. Cocok buat keceh di sana 😀
ayo nyemarang lagi mas..hahahha

Reply
Bayu Kurniawan January 4, 2021 - 10:49 pm

Kayanya Saya tau ini tempat apa… Ini eks kebun binatang itu bukan sih?? yg deket sama kampus Unika?? Apageh namanya?? Tinjomulyo tah?
Soalnya dulu yah juga ada sungainya.. ahahahah. Tapi kalau salah. Maafkan atas kesotoyan saya yah.. hehe.
Soalnya postingan ini nggak tau kenapa bring back memory banget sewaktu kuliah di Semarang. Singkat cerita kita ngadain malam keakraban di daerah yg katanya bekas kebun binatang itu.. Tapi malamnya ternyata mencekam karena ada orang2 yg dugem malem2 terus sempat konflik sama pengurus tempatnya.. Hahaha.. Alhasil 7 tenda yg kita dirikan cuma sebagai hiasan. Sedangkan, kita berjejer tidur di embung dengan latar belakang musik yang jedag jedugg… konyol bnget sih sumpah…

Reply
Rivai Hidayat January 7, 2021 - 5:33 am

bukan mas. Kalau alirannya memang mengalir melewati daerah tinjomoyo juga. Tapi untuk tempatnya bukan..hahhaa
Tempatnya bisa diakses dari daerah patemon, gunungpati mas.

Daerah tinjomoyo memang sering digunakan untuk camping. Meskipun belum tempatnya belum nyaman untuk camping 😀
daerah tinjomoyo juga sering digunakan untuk treking 😀

Reply
Fanny_dcatqueen January 5, 2021 - 1:09 pm

Brp jam biasanya makan waktu mas? Tapi memang kontur Semarang itu naik turun yaaa. Kemarin aku ke Semarang, walo kebanyakan mager di hotel, tp pas jalan ngeliat sendiri jalanannya banyak tanjakan turunan. Lumayan juga kalo utk walking tour hahahahaha. Berasa tuh capeknya

Aku sndiri blm pernah ikutan walking tour di kota manapun. Bukannya ga mau sih, tp kdg aku mikirnya kayak JKT, ga terlalu nyaman utk jalan kaki. Polusi dan trotoar yg tau sendiri seperti apa. Makanya blm tertarik ikutan

Reply
Rivai Hidayat January 7, 2021 - 4:36 am

kemarin sekali jalan sektiar 60 menit mbak fanny. Kalau jarak memang ga terlalu jauh. Hanya saja jalannya naik-turun.
Kemarin nginep di hotel mana mbak..?
kalau walking tour biasanya malah di daerah kota mbak. Yang jalannya relatif datar. Karena wilayah kota memang jadi pusat perkembangan kota sejak dulu..hehhee
biasanya setiap rute walking tour ditempuh dengan waktu sekitar dua jam. Tapi aku pernah ikut walking tour selama 4 jam. Karena terlalu seru dan kami menikmati perjalanannya..hahhaha
Jogja dan solo juga ada walking tour mbak. kapan-kapan bisalah ikutan yang di sana 😀

Reply
Phebie January 6, 2021 - 1:51 am

Trekking di Jakarta yang ada pulang-pulang sudah belepotan debu polisi mas Rivai paling ke gunung Salak ya..
Asik bener disana bisa trekking yaa..

Duh beneran gorengan itu goda banget. Sewaktu hunting di Putuk Setumbu turun dari atas berjejer gorengan dan lalapan akhirnya gali lubang tutup lubang kalori deh

Reply
Rivai Hidayat January 7, 2021 - 4:32 am

tapi di jakarta ada banyak walking tour mbak phebie 😀
Daerah sentul juga bisa digunakan untuk trekking mbak. Sering lihat postingan teman yang sering trekking di sentul 😀
Tooss…berarti kita termasuk orang yang ga bisa tahan dengan godaan gorengan..hahhahaha

Reply
Ursula Meta Rosarini January 6, 2021 - 4:55 am

Hy salam kenal mas vay, kali pertama aku ke blog ini kayaknya.
Jadi kangen semarang nih, aku sm suami udah berencana pgn bgt backpackeran ke semarang lagi sama si kecil juga,
tp kalau liat sungi2 kaya gini inget kampungku Purwokerto mas, disana byk juga sungai2 besar kaya gini dr gunung Selamet ke laut kidul

Reply
Rivai Hidayat January 7, 2021 - 4:29 am

salam kenal mbak ursula. Selamat datang di blog ini 😀
Hati-hati datang ke semarang dalam waktu dekat. Sedang ada pembatas aktivitas di semarang, mbak. kasus covid di kota ini sedang meningkat 😐
Jangan dibandingkan dengan purwokerto mbak, yang pasti semarang kalah jauh untuk aliran sungai dan curugnya…hahahhaa
Purwokerto memang juara untuk curugnya. Air jernih, deras dan masih alami 😀

Reply
Agus warteg January 7, 2021 - 1:17 pm

Pemandangan alamnya cakep banget mas, memang terasa seperti di pedalaman, jadi ingat film kingkong yang dibintangi Naomi Watts.
Kebanyakan anggota nya wanita ya mas, malah enak jadinya bisa kenalan, siapa tahu jadi jodoh.

Wow gorengan, aku juga suka apalagi pas capek seperti habis trekking, makan rambutan juga enak biar badan segar lagi.

Reply
Rivai Hidayat January 17, 2021 - 12:34 am

pas itu seperti berasa ga di semarang..hahhaaha
Setidaknya nambah kenalan mas, nambah teman 😀

gorengan memang benar-benar jadi penyelamat di kala lapar dan lelah setelah treking mas agus 😀

Reply
Agus warteg February 22, 2021 - 5:03 am

Benar mas Rivai, nambah kenalan dan juga nambah teman baru. Lebih asyik lagi kalo nambah pacar, becanda mas.

Btw, ngomong ngomong lama ngga update mas, semoga sehat selalu ya.

Reply
Rivai Hidayat February 22, 2021 - 12:54 pm

dari teman, siapa tahu bisa berlanjut jadi pacar..hihihii
iya mas agus, hampir dua bulan. Lagi banyak kerjaan kok. Tapi beberapa tulisan juga sudah disiapkan untuk diupdate secara berkala..hehhee

Reply
ainun January 10, 2021 - 4:38 am

aku sendiri nggak khatam mengenal kota kelahiranku, malah mungkin second home aku adalah Malang, karena dulu sempet stay disana sekian tahun ketika kuliah, dan merasa Malang adalah hometown aku dan aku lebih mengenal lebih jauh Malang ketimbang Jember
kalau ditanya orang, tempat wisata apa di Jember yang menarik, jawabanku biasa aja, kalau nggak pantai watu ulo, payangan
pernah mendengar beberapa nama pantai atau tempat tersembunyi seperti di semarang ini yang memang jarang diketahui publik di jember, tapi lagi lagi karena waktu yang nggak cocok, jadi nggak semua tempat aku explore.

dan beberapa bulan terakhir ini karena aktivitas weekend di kantor juga berkurang, jadi cukup sering ikutan temen temen komunitas untuk sekedar main ke tempat yang asing dan baru buatku. menyenangkan

Reply
Rivai Hidayat January 16, 2021 - 11:14 am

Terkadang ketika merantau, baik kuliah atau kerja, kita malah lebih mengenal perantauan. Yaa mungkin itu karena kebiasaan menghabiskan waktu di kota tersebut dan kemudian mencari sesuatu yang baru yang belum kita temui di kota kelahiran kita.

Aku juga ada teman yang tinggal di jember mbak ainun, mereka malah mengundangku untuk main ke sana. Pandemi ini semakin membuatku menunda untuk pergi ke sana..hehehhee

Reply
ainun February 3, 2021 - 10:45 pm

woww mas Vay pernah stay di Jember ya? tahun berapa itu
iya ya sejak pandemi gini mau keluar kota jauh rada nggak aman gitu

Reply
Rivai Hidayat February 15, 2021 - 2:46 pm

belum pernah stay di jember. Tapi ada teman yang tinggal di jember sudah ngundang buat main ke sana. Cuma belum ketemu waktu yang tepat..hehhehee

Reply
Justin Larissa January 16, 2021 - 3:34 am

Waw itu ada yang pakai sandal jepit, canggih pasti keseimbangan badannya pas jalan di tanah wkwk. Saya dulu pas ke Semarang juga ikutan walking tour, yang mimpin Si Mbah, diajak keliling kawasan rumahnya terus dikenalin sama ibu warung langganannya wakakakak. Habis itu diajak Bapak main ke Demak, eh deket gak sih itu dari Semarang? Kami main ke Masjid Wali Sanga, terus makan bakso dan es serut.

Ini trekking ke sungai gak ada yang berenang kah Mas? Apa emang gak ada agenda berenang? Pengen nyemplung bener liatnya. Segerrrr!

Reply
Rivai Hidayat January 16, 2021 - 9:56 am

Mungkin pikirnya ga bakal ketemu trek tanah. Makanya tetap santai pakai sandal jepit. Padahal sudah dikasih tahu untuk pakai sepatu..hhehehhe
Semarangnya mana mbak..?
dekat sih mbak, paling sekitar45-60 menit. Kalau mau lebih cepat juga bisa..hehehhe

Asli, pengen nyebur juga. Tapi itu gada temannya. Mungkin malu-malu pengen nyebur..hahahhaa
ada yang mancing juga di aliran sungai itu 😀

Reply
Rudi Chandra January 18, 2021 - 3:20 am

Nggak nyangka di kota sebesar Semarang sungainya secantik ini. Airnya pun bersih dan keliatan segar.

Reply
Rivai Hidayat January 20, 2021 - 9:57 am

Masih digunakan untuk mancing mas 😀

Reply
amiria January 18, 2021 - 7:57 am

wah aku pernah kesini jaman kuliah, jadi kangennn :’)

Reply
Rivai Hidayat January 19, 2021 - 9:27 am

Waah..pasti dulu alumni anak unnes yaa 😀

Reply
Dea January 20, 2021 - 2:21 pm

Wah seru bangeettt jadi kangeen susur sungai, hiking, dkk
Semoga tahun ini aman jd bisa menjelajah dengan nyaman lg
Jadi inget jaman kuliah dulu pernah trekking di jember trus di tengah jalan ujan deres. Sempet takut karna kudu ngelewatin sungai yg arusnya kenceng. Asli pikiranku lgsng kemana-mana pas itu

Btw mas, apakah ajakan tukar postcard nya masih berlaku? Aku tu lupa mo ngimel dan cari2 di postingan mbak eno yg mn hehe

Reply
Rivai Hidayat January 23, 2021 - 3:14 am

Terus akhirnya gimana mbak?
kalau hujan deras, lebih baik berhenti dulu sih mbak dibandingkan melanjutkan perjalanan.

Masih mbak. Kirim aja alamatnya ke email hairivai@gmail.com
nanti kalau pas di semarang aku kirim postcardnya. Kebetulan sekarang lagi di luar kota. Jadi belum bisa kirim

Reply
Digital Poin January 21, 2021 - 4:35 am

Keren banget suasananya ya, alami. tentunya sangat menyenangkan bisa eksplore alam seperti itu bersama teman-teman, jadi lebih hidup dan tidak akan membosankan.. Jadi ingin berjelajah lagi…

Reply
Rivai Hidayat January 23, 2021 - 3:16 am

Menikmati alam bersama teman-teman merupakan pilihan terbaik untuk refreshing mas 😀

Reply
Just Awl January 21, 2021 - 9:16 am

Udah lama banget aku nggak trekking begini ramai-ramai, mas Rivai. Baca ini jadi sambil ikut bernostalgia, deh, sekaligus kenalan sama sisi lain dari kota Semarang. Terakhir kali aku ikut kegiatan walking tour seperti ini kayaknya udah hampir satu tahun lalu, itupun kegiatan kampus. Jadi nggak terlalu bisa menikmati karena ada susunan acara, dll.
Pingin bisa walking tour juga di kota-kota lain selain tempat tinggal sendiri, tapi langsung berasa disadarkan sama pertanyaan terakhir haha *lah belum kenal banget sama kota sendiri udah mau keluar kota aja, wk*. Kayaknya seru ya bisa punya grup yang suka trekking begitu, namanya aja Bersukaria.

Reply
Rivai Hidayat January 23, 2021 - 9:24 am

Saat pandemi, kegiatan walking tour sangat dibatasi, termasuk jumlah pesertanya.
Sebetulnya gada masalah kalau mau walking tour di kota lain. Itu malah lebih seru karena kita bakal diajak mengenal kota lain dengan cara yang beda. Tidak hanya datang, foto-foto, kemudian pulang. Tapi juga mendengarkan dan berbaur dengan orang lokal.
Semoga awl juga bisa sering walking tour

Reply
Dinilint February 3, 2021 - 2:27 pm

Foto-fotonya bagus Vai!
Aku penasaran juga pengen nyoba treking di sini, tapi kemarin lupa daftar, trus kehabisan slot dong.
Tapi baca post-mu yang ini lumayan mengobati rasa penasaran.
Semarang lagi sering hujan, kok jadi mager ya buat trekking. Wkwkwkwk

Reply
Rivai Hidayat February 15, 2021 - 2:51 pm

sayang sekali yaa ga bisa ikutan..hahhaha
Iyaa kalau hujan, jangan cari rute treking seperti ini. Jadi cari yang lebih datar dan aman aja..hehhee

Reply
tari lestari February 14, 2021 - 1:35 pm

pemandangannya oke pisan mas rivai??? tapi, kalau untuk mencoba streking kayaknya tidak deh takut air sungainya yang deras , takut celaka dan lain sebagainnya. dan ??? berbicara semarang, saya sering mahin ke sana tapi ya cuma jalan – jalan ke seputaran alun – alun semarang dan kulineran cari makanan langka nan murah.

Reply
Rivai Hidayat February 15, 2021 - 1:18 pm

jalur yang dilewati masih terbilang aman karena masih sering dilewati orang. Jika berada di sungai, sebaiknya juga melihat kondisi air. Jika hujan sebaiknya tidak berada di sekitar sungai. Hal itu sangat berbahaya..hehehhee

Reply
Syifana Priliana February 19, 2021 - 5:29 am

Kak Rivai, keren sekali pengalamannya!!! Aku jadi ingin mencoba hahaha Sayangnya di tempatku sepertinya tidak ada Kak komunitas walking tour seperti itu, atau akunya yang tidak tahu?
Anyway, untuk trekking seperti itu ada jadwalnya tidak Kak? Misal monthly atau berapa bulan sekali? Hehehe, sungguh aku agak iri

Reply
Rivai Hidayat February 20, 2021 - 1:03 am

Emang daerah kamu dimana..?
mungkin kamu belum ketemu sama yang suka walking tour..hehhehe

Biasanya mereka tiap hari sabtu-minggu dan hari libur dengan berbagai rute. Tergantung jadwal untuk rutenya.

Reply
Syifana Priliana March 1, 2021 - 6:52 am

Aku sekarang berdomisili di Tegal, kak! Kayaknya sih enggak ada deh

Reply
Rivai Hidayat March 1, 2021 - 2:50 pm

tegal yaa, belum ketemu sih. Nanti kalau ada info aku kasih tahu yaa.
tegal ke semarang juga dekat. Tinggal naik kereta sekali aja sudah sampai semarang 😀

Reply
Tara March 7, 2021 - 3:57 pm

Waaa… Akhirnya nemu blog ini lagi dan jalan2 virtual lagi

Jalan2 ke alam perlu banget yaa buat mengingatkan kita atas kebesaranNya biar lebih bersyukur. Di daerah aku ada satu tempat yang biasanya dijadiin tempat trekking gitu, karena daerahnya gak terlalu sulit untuk di daki dan juga gak terlalu luas. Jadi gak perlu bawa bekal yang banyak tapi masih bisa menikmati alam

Sejak punya blog, aku lebih sering explore daerah aku sihh, berbagi ke orang2 tentang kekayaan alam yang kami miliki, yaaay

Reply
Rivai Hidayat March 7, 2021 - 11:49 pm

Selamat datang kak tara 😀

Penting sih untuk mengeksplore daerah sendiri. Tujuannya agar lebih mengenal tentang daerah-daerah yang ada di sekitar kita.
blog ini memang dikhususkan untuk tulisa traveling dan pengalamannya 😀

Reply
morishige March 30, 2021 - 4:50 pm

Jalurnya menarik, Masvay.

Btw, kalau dipikir-pikir, kayaknya kita kurang banget jalur trekking dekat kota begini, khususnya yang nggak perlu nanjak kayak naik gunung.

Reply
Rivai Hidayat March 31, 2021 - 2:39 am

Kalau di semarang sangat kurang mas. Taman kota juga panjang jalurnya. Ada jalur hutan sih, tapi kurang terawat dan tertata dengan baik..huhu

Reply

Leave a Comment