“Buruan jalan kakinya”, kataku kepada Didy
“Emang masih jauh yaa..?”, jawab didy
“Sudah hampir sampai, kita tinggal melewati jembatan itu aja”, jawabku
“Emang kita mau kemana sih?” tanya Didy
“Kota Lama”, jawabku singkat
“Hah…Kota Lama..?”, tanya Didy dengan penasaran
“Semacam Kota Tua gitu yaa?”, lanjutnya
“Iyaa, Kota Tua-nya Semarang”, jawabku
![]() |
Gereja Blenduk Semarang |
Kita mempercepat langkah kaki kita menuju sebuah jembatan tua. Jembatan Mberok, begitu masyarakat Semarang menyebutnya. Nama Jembatan Mberok merupakan pelafalan dari kata burg yang berarti jembatan oleh masyarakat sekitar dan nama itu masih dipake sampai saat ini. Jembatan Mberok salah satu pintu gerbang menuju kawasan Kota Lama. Kita berdua langsung menuju ke Taman Sri Gunting, sebagai pusat dari kawasan Kota Lama.
![]() |
Jembatan Mberok, pintu masuk Kota Lama Semarang |
Kawasan Kota Lama disebut juga Outstadt. Luas kawasan ini sekitar 31 hektare. Kawasan ini juga mendapatkan julukan Little Netherland. Kawasan Kota Lama Semarang telah menjadi bukti sekaligus saksi bisu sejarah Indonesia pada masa kolonial Belanda lebih dari 2 abad. Di kawasan ini ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri kokoh. Banyak bangunan yang berubah fungsi menjadi perkantoran, café atau restoran, galeri dan tempat ibadah. Namun ada banyak bangunan yang tak terawat dan rusak.
![]() |
Gedung Spiegel yang sekarang menjadi cafe & resto |
![]() |
Gedung Marba yang digunakan sebagai perkantoran |
Setelah meneguk air mineral, kita mulai berjalan kaki berkeliling kawasan Kota Lama. Aku mulai bercerita sedikit tentang kawasan Kota Lama, mulai gereja GPIB Immanuel atau gereja Blenduk, gedung Marba, gedung Spiegel, gedung Jiwasraya, dan gedung Semarang Art Gallery hingga beberapa kuliner yang ada di kawasan Kota Lama. Masyarakat lebih mengenal gereja GPIB Immanuel dengan nama gereja Blenduk. Hal itu dikarenakan bentuk kubah gereja yang berbentuk setengah lingkaran. Sehubungan dengan bentuknya itu, kemudian orang Semarang menyebutnya dengan nama “blenduk”. Gereja Blenduk berusia lebih dari dua abad dan sampai sekarang masih digunakan untuk kegiatan keagamaan umat Kristen.
![]() |
Gedung Jiwasraya |
![]() |
Gedung Semarang Art Gallery |
Kita mulai berjalan menuju jalan Garuda melewati belakang gereja Blenduk, namun langkah kita terhenti di sebuah kedai gulai kambing. Kedai Gulai Kambing Pak Sabar Khas Bustaman.
“Kamu doyan gulai kambing ga Dy?”, tanyaku kepada Didy
“Doyanlah Vai, apalagi maemnya bareng kamu”, jawab Didy sambil ketawa
“Aah, preet..!! hahhahha. Yuk kita coba, udah lama aku ga makan gulai disini” ajakku ke Didy
“Ayuukkk…!!!”, sambil melangkah menuju kedai.
“Seperti rendang, gulai ini juga kaya akan rempah-rempah”, kataku ke Didy.
“Kamu tahu darimana Vai?” tanya Didy sambil keheranan
“Sering nemenin ibu belanja bumbu gulai..hahhaa”, jawabku sambil ketawa
![]() |
Kedai gulai kambing pak Sabar |
Penyajian gulai disini juga terlihat unik. Daging kambing dipotong-potong dan disajikan ke dalam sebuah piring kecil. Setelah itu potongan daging tersebut disiram dengan kuah gulai yang panas. Pelanggan bisa memilih daging kambing sesuai selera mereka. Menu gulai kambing telah tersaji dihadapan kita. Pertama kita cicipi kuahnya terlebih dahulu. Aku menambahkan beberapa biji cabai setan agar rasanya lebih pedas. Bumbu gulai yang meresap mampu menggoyang lidahku. Perasan jeruk nipis dan rajangan bawang merah memberikan rasa segar dan menghilangkan bau prengusdari daging kambing. Gulai kambing terasa begitu menggoda.
![]() |
Sajian gulai kambing pak Sabar |
Setelah makan, kita langsung menuju taman Garuda. Taman ini baru dibangun tahun lalu dan kini menjadi salah satu tempat nge-hits di kota Semarang, khususnya kawasan Kota Lama. Banyak sekali anak muda yang antri untuk berfoto di tempat itu. Aku pun menunggu hingga sepi, agar mendapatkan foto yang tidak terlalu ramai dengan orang.
![]() |
Taman Garuda yang terletak di Kawasan Kota Lama Semarang |
“Kalo kita kesana”. Kataku kepada Didy, sambil menunjuk sebuah jalan
“Ntar kita ke stasiun Tawang. Disana juga ada Noeris Cafe”.
“Cafenya unik, di dalam cafe banyak terdapat barang jadul”
“Mulai dari radio, piano, sepeda ontel, kamera, piringan musik, hingga gramaphone”
“Desain ruangan dan kursinya juga kuno”
“Menu makanan dan minumannya juga enak Dy. Kamu harus nyoba kapan-kapan”
“Diujung jalan ada pabrik Rokok Praoe Lajar”
“Pabrik rokoknya juga jadul dan masih produksi sampai saat ini”. ceritaku ke Didy.
![]() |
Pabrik rokok Praoe Lajar |
![]() |
Noeris Cafe |
![]() |
Stasiun kereta api Semarang Tawang |
Didy sangat tertarik mendengar ceritaku tentang kawasan Kota Lama. Aku juga memberitahunya jika setiap tahun di taman Garuda diadakan Garuda Art Festival. Festival diikuti beberapa komunitas kesenian yang ada di kota Semarang dan sekitarnya. Acaranya selalu ramai dan meriah. Tahun kemarin aku juga datang kesini. Kawasan ini juga sering digunakan sebagai tempat foto. Mulai dari foto katalog tahunan sekolah, hunting foto model, hingga foto prewedding. Dulu aku juga foto katalog SMA disini.
“Eeeh…Abis ini aku ajakin kamu liat adu ayam yaa”, kataku pada Didy
“Boleh, dimana tempatnya..?”, jawab Didy singkat.
“Ada di gang sempit samping gedung itu”, jawabku sambil menunjuk sebuah gedung
“Ntar kamu bisa lihat puluhan ayam jago yang siap diadu”, lanjutku
“Ntar kamu bisa lihat puluhan ayam jago yang siap diadu”, lanjutku
Kita berdua langsung bergegas ke tempat adu ayam.
Semakin jauh kaki ku melangkah, semakin jauh pula aku merasa tersesat di Kota Lama. Entah mengapa aku merasa tersesat saat mengelilingi kawasan ini, namun saat ini aku hanya bisa menikmati setiap langkahku menyusuri sudut – sudut Kota Lama, bersamanya.
Baca juga Tersesat di Kota Lama Semarang (Bagian 2-Habis)