Singgah di Desa Jongkong Hulu

by Rivai Hidayat

Pada awalnya, Desa Jongkong Hulu tidak masuk dalam daftar desa yang akan kunjungi. Karena adanya perubahan rencana, akhirnya aku diminta untuk membantu menyelesaikan pekerjaan di desa ini. Perjalanan menuju Desa Jongkong Hulu bisa ditempuh dalam waktu 30 menit dari Desa Gudang Hilir. Desa tempat kami tinggal. Dalam perjalanan kami akan melewati Desa Gudang Hulu dan Desa Mensusai. Desa Jongkong Hulu juga berbatasan langsung dengan Desa Benuis. Jalan berlubang dan jalan tanah masih menjadi pemandangan kami dalam perjalanan ini.

Pertama kali ketika tiba di Desa Jongkong Hulu, aku bertemu dengan seorang penjual es krim keliling. Setelah aku perhatikan dan dengar suaranya, ternyata dia berasal dari Semarang. Sudah hampir satu tahun merantau di Kabupaten Kapuas Hulu. Dia bertanya tentang apa yang aku lakukan di sini. Memang menyenangkan bisa ketemu orang satu kota di daerah perantauan. Di akhir perpisahan, dia menawarkan kami untuk singgah di rumah kontrakannya yang berada di Desa Semitau Hulu.

Anak-anak dari Desa Jongkong Hulu

Aku berkenalan dengan Bang Yudi yang menjabat Kepala Desa Jongkong Hulu. Masih sangat muda. Usianya belum ada 30 tahun. Mungkin paling muda di antara kepala desa yang lainnya. Baru 10 bulan menjabat sebagai kepala desa.  Selama di desa ini, aku akan tinggal di rumah milik Pak Jelani yang berada di Dusun Simpedik. Salah satu dusun yang ada di Desa Jongkong Hulu. Letak tempat tinggal kami tidak jauh dari rumah Bang Yudi. Tentu saja hal ini memudahkan kami untuk berkoordinasi.
Baca Juga: Dusun Lidung

Rumah Pak Jelani ini merupakan rumah lamanya. Sudah beberapa bulan dibiarkan kosong dan tidak ditempati. Terdiri dari ruang depan, dua kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Sumber air di kamar mandi ini berasal dari mata air yang berada di daerah perbukitan. Sumber air dialirkan ke rumah warga menggunakan pipa. Terdapat sebuah teras yang dilengkapi dengan dua buah kursi. Di teras ini aku terbiasa menikmati suasana malam Desa Jongkong Hulu.

Suasana dari tempat kami tinggal

Desa Jongkong Hulu terdiri dari tiga dusun, yaitu Dusun Simpedik, Dusun Resak, dan Dusun Sarai. Kantor kepala desa berada di Dusun Simpedik. Tepatnya di tepi jalan penghubung antar desa. Jauh dari rumah-rumah warga Dusun Simpedik. Dusun ini unik. Karena sebagian besar rumah warganya tidak berada di tepi jalan penghubung antar desa.

Pemukiman warga Dusun Simpedik masuk ke dalam melewati jalan dusun. Dekat dengan area perkebunan mereka. Ini merupakan ciri khas pemukiman masyarakat Dayak. Tempat tinggal tidak jauh dari area kebun, ladang, atau sawah mereka. Perkebunan meliputi kebun singkong, buah, sayuran, dan cabe. Sedangkan sawahnya merupakan sawah tadah hujan. Sumber air untuk sawah mengandalkan air hujan dan tidak membutuhkan saluran irigasi.

Menurut cerita beberapa warga, pada masa dahulu warga membuka lahan untuk berkebun dengan cara dibakar. Namun, cara ini sudah lama ditinggalkan. Warga sadar dan paham dengan kerusakan lingkungan yang disebabkan dengan pembakaran lahan. Warga desa sudah menerapkan cara yang lebih ramah terhadap lingkungan. Selain berkebun, ada beberapa warga desa yang memiliki kolam ikan arwana dan sarang walet.
Baca Juga: Hutan Desa Benuis

Aku mulai menyesuaikan diri dengan pola kerja yang ada. Pagi itu aku ditemani oleh Pak Jais. Beliau merupakan salah satu tetua Dusun Simpedik. Usianya sekitar 45 tahun. Tubuhnya kecil, tapi gerak langkah kakinya sangat cepat dan lincah. Beberapa kali aku tertinggal mengikuti jejak langkahnya. Tak terlihat kelelahan ketika mesti naik ke bukit yang memiliki kemiringan 60o. Selain memiliki kebun, Pak Jais juga memiliki sawah dan kolam arwana. Padi hasil dari sawah biasa digunakan untuk konsumsi rumah tangga.

Desa jongkong Hulu
Warga yang pergi ke kebun

Satu hal yang menarik dari Pak Jais adalah dia suka bercerita. Apalagi jika dalam keadaan mabuk karena arak. Pak Jais bisa bercerita lebih banyak hal. Pernah suatu malam Pak Jais tidak pulang ke rumah karena dia sedang mabuk. Pak Jais memilih tidur di pondok dekat kolam miliknya. Enggan pulang ke rumah dan keluarganya yang sedang beristirahat jadi terganggu.
Baca Juga: Tinggal di Desa Benuis

Arak sudah menjadi bagian dalam kehidupan warga Desa Jongkong Hulu yang selalu hadir dalam kegiatan sehari-hari. Seperti ketika bersantai dan berkumpul. Bahkan ketika berkebun warga juga membawa arak sebagai bekal minum. Begitu juga ketika ada gawe Dayak. Arak menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari warga desa.

Rumah di sebelah tempat yang aku tinggali memproduksi dan menjual arak. Satu liter arak dijual dengan harga Rp10.000. Arak ini dibungkus dalam plastik bening. Beras dan ragi menjadi bahan utama pembuatan arak. Beras yang menjadi bahan pembuatan arak didapat dari padi hasil panen sawah mereka. Hampir tiap hari aku melihat ragi-ragi ini dijemur di depan rumah. Di bagian belakang rumah menjadi tempat penyulingan arak. Terkadang, aroma arak ini menyeruak hingga ke tempat aku tinggal.

Cerita Dari Kapuas
Desa Jongkong Hulu
24 Januari-3 Februari 202
1

You may also like

10 comments

Ursula Meta Rosarini November 23, 2021 - 7:49 am

Suasananya kampung banget ya mas, dulu jaman kecil kampungku di Purwokerto Jateng juga seperti ini kok, tapi skrg udah rumahnya udah padat, jalanan juga udah cor semua.

Reply
Rivai Hidayat November 23, 2021 - 9:58 am

suasana memang tidak terlalu ramai dan tenang. tidak terletak di jalan utama. Jalan cor di kampung memang bagian dari penggunaan dana desa. Purwokerto memiliki letak geografis yang bagus. Jadi pertumbuhan di sana juga lebih cepat

Reply
Endah April November 24, 2021 - 6:06 am

Mas Vay, bau arak buatan warga sama kayak apa? Apa mirip bau arak biasanya? (((Arak biasanya))), padahal nggak pernah sama sekali menghirup bau arak xD

Reply
Nasirullah Sitam November 24, 2021 - 7:14 am

Mas, jajal minum arak gak? ehhehehehe. Menarik loh kalau sekalian bikin konten tentang proses pembuatan arak, kan masih tradisonal.
Aku suka dengan suasana seperti ini, mengingatkan waktu di Karimunjawa

Reply
Liii November 25, 2021 - 3:17 am

Kak Rivai, aku malah salfok membayangkan betapa air di sana rasanya sueger dan jernih banget karena langsung dari mata air pegunungan. Apakah air ini juga digunakan untuk minum? Dan suasana desanya bikin hati hangat melihatnyaaa deh >.< terima kasih Kak Rivai sudah selalu ajak jalan-jalan virtual ke desa-desa seperti ini 😀

Reply
Ikrom November 25, 2021 - 8:48 am

wah masih muda sekali kepala desanya
biasanya banyak sekali ide cemerlang buat membangun desanya
saya senang lihat semangat warga desanya
aku penasaran banget sama araknya mas

Reply
Uphiet November 26, 2021 - 6:03 am

Kampungnya mengingatkan pada kampung mertuaku di sumbawa. Mereka banyak yang mempunyai tempat tinggal di kebun atau ladang, meskipun ada juga perkampungan kecil tapi tetap saja dikelilingi kebun dan ladang. Suasana begini membuat lupa sejenak hiruk pikuk kota besar dan membuat pikiran lebih relaks.
Thanks for sharing 🙂

Reply
Agus November 26, 2021 - 6:59 am

Unik juga ada daerah namanya dusun di Kalimantan, kirain aku dusun cuma ada di Yogyakarta dan Jawa tengah.

Rata rata desa yang mas Vay kunjungi itu jalannya masih tanah ya, ngga kebayang kalo musim hujan seperti sekarang, pasti licin dan juga becek.

Jadi beras dan ragi itu bahan utama pembuatan arak ya mas, kalo berasnya pulen dan wangi mungkin araknya enak ya.

Reply
ainun November 26, 2021 - 5:02 pm

suasananya nggak beda kayak pergi ke rumah sodara di desa
vibesnya sama, jadi kangen suasana yang kayak gini, rame anak-anak main waktu sore, terus ketemu bapak-bapak sepulang dari sawah.
tadi aku liat fotonya cepett wuss, malah aku kira rumah di foto atas bukan rumah panggung, ternyata masih rumah panggung ya

Reply
Dede Sandi Rahmat November 27, 2021 - 6:07 am

Hebat sih kepala desanya masih dibawah 30 tahun. Semangatnya masih semangat muda.
Nyobain minum araknya juga, mas? Kayaknya seru tuh kalo dibahas cara pembuatan arak nya.

Sepertinya adem ya tinggal di daerah kampung seperti di sini

Reply

Leave a Comment