[Review] Catatan Perjalanan Indonesia JaneXLiaRC

by Rivai Hidayat
Buku catatan perjalanan indonesia

Sudah sepatutnya jika kita memberikan apresiasi yang tinggi kepada Prof DR. H.O.K Tanzil. Beliau dikenal sebagai seorang dokter, pejalan, dan penulis buku perjalanan. Sebelum dibukukan, DR. Tanzil kerap mengirimkan tulisannya ke Majalah Intisari. Salah tujuannya agar bermanfaat bagi mereka, baik tua, maupun muda (terutama remaja) yang senang berkelana ke luar negeri. Karena tulisan di majalah ini, DR. Tanzil kemudian dikenal oleh banyak orang. Hal ini kemudian memberikan kemudahan tersendiri dalam perjalanannya. Termasuk dalam perjalanannya yang dibukukan dalam buku Catatan Perjalanan Indonesia.

Buku Catatan Perjalanan Indonesia berisi kumpulan catatan perjalanan di Indonesia yang dilakukan DR. Tanzil dalam kurun waktu tahun 1970 hingga 1980-an. Buku ini terdiri dari delapan cerita perjalanan, yaitu Jakarta-Banda Aceh PP, Bertigabelas naik Gunung Tengger, Mengunjungi Tana Toraja, Melancong ke Kalimantan, Melancong di sekitar daerah Cianjur Jabar, Ke Pangumbahan dengan kombi VW untuk melihat penyu laut bertelur, Ke Lombok mampir di Bali, dan Keliling Lombok dan Madura.

Buku ini merekam tentang apa yang dialami dan dilihat oleh DR. Tanzil selama perjalanan. Bagiku, buku ini telah berhasil membawaku untuk membayangkan kehidupan yang terjadi di Indonesia di kisaran tahun 1970-1980-an.

Buku catatan perjalanan indonesia
Peta Jalur Sumatera

Dalam cerita perjalanan Jakarta-Banda Aceh PP di bagian pertama, penulis menggunakan sudut pandang mobil yang mereka gunakan dalam perjalanan sebagai tokoh utama. Ini unik, jarang sekali penulis memilih sudut pandang ini. Mobil menjadi tokoh utama yang menceritakan apa saja yang dialami dalam perjalanan tersebut. Seperti mengalami kerusakan ketika di Bangko, melewati jalan rusak di sepanjang perjalanan, dan terperosok dalam lumpur dalam perjalanan pulang menuju Kota Baturaja. Di tahun 1970-an jalan lintas Sumatera masih belum memadai. Banyak jalan berlubang, rusak dan tidak beraspal. Sangat berbeda dengan yang kita lihat sekarang yang layak untuk dilalui.

“Berlainan dengan maksud trip-trip terdahulu, kami sudah menduga bahwa trip ini (Jakarta-Banda Aceh PP) adalah berat. Istilah saya: mencari penyakit. (Hal. 24)

Pada 15 September 1977, DR. Tanzil melakukan perjalanan darat ke kawasan Gunung Tengger (Gunung Bromo). Tidak hanya istrinya, anak dan cucu DR. Tanzil juga ikut dalam perjalanan tersebut. Total peserta perjalanan berjumlah 13 orang. Dr. Tanzil menggunakan mobil VW Combi untuk perjalanan keluarga ini.
Baca Juga: Review Meraba Indonesia

Jalan akses menuju Gunung Penanjakan pertama kali dibuka untuk mobil pada tahun 1977. Jalan akses ini diinisiasi oleh Bapak Joyorejo, Kepala Desa Wonokitri. Jalan akses sepanjang 20 km ini dibangun secara gotong royong oleh warga desa sejak tahun 1971 hingga April 1977. Jalan akses inilah yang menjadi jalur wisata bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke kawasan Gunung Bromo sampai sekarang.

Kuburan di tebing dan gua-gua menjadi salah satu alasan DR. Tanzil mengunjungi Tana Toraja. Tepatnya pada tanggal 19 Juli 1978. DR. Tanzil juga mengunjungi beberapa tempat wisata, seperti Desa Siguntu, Londa, Desa Kete, Marante, dan Narmada. Ada beberapa tempat wisata tidak jadi dikunjungi karena akses jalan yang rusak.

Saat itu Tana Toraja sudah banyak dikunjungi oleh wisatawan asing. Sedangkan wisatawan lokal masih sangat jarang. Suatu siang di sebuah rumah makan hanya ada DR. Tanzil dan istrinya yang merupakan wisatawan lokal, sedangkan 70 orang lebih lainnya merupakan wisatawan asing.

Buku catatan perjalanan indonesia
Peta Jalur Sulawesi Selatan

Petualangan DR. Tanzil di Pulau Kalimantan tidak kalah seru dengan petualangan di daerah lainnya. Tepatnya pada tanggal 23 April 1979. Petualangan di Pulau Kalimantan berfokus pada pelayaran bus air atau kapal ferry pengangkut penumpang yang menghubungkan Kota Samarinda dengan kota-kota pedalaman melalui Sungai Mahakam.

Perjalanan bus air dimulai dari Samarinda menuju Muara Bengkal sejauh 376 km. Kepala proyek bus air yang merupakan pembaca Majalah Intisari memberikan tiket gratis kepada DR. Tanzil dan istrinya dalam pelayaran uji coba ini. Total pelayaran ini menghabiskan waktu selama 40 jam. Bus air singgah di beberapa tempat, seperti di Muara Kaman, dan Tenggarong. Selain Kota Samarinda di Kalimantan Timur, DR. Tanzil juga mengunjungi Kota Balikpapan dan Tenggarong di Kalimantan Timur, Kota Tanjung (Kabupaten Tabalong) dan Banjarmasin di Kalimantan Selatan, dan Kota Kuala Kapuas di Kalimantan Tengah.
Baca Juga: [Review] Bersepeda Membelah Pegunungan Andes

*****

DR. Tanzil melakukan sebagian besar perjalanan darat dengan cara mengendarai mobil. Baik mobil pribadi, mobil pinjam, maupun mobil sewa. DR. Tanzil naik bus dalam perjalanan dari Ujung Pandang (Makassar) menuju Tana Toraja. Selama di Tana Toraja dan perjalanan lintas provinsi di Pulau Kalimantan, DR. Tanzil menyewa mobil beserta sopirnya. Sedangkan ketika berada di Samarinda, DR. Tanzil dipinjami mobil jenis jeep oleh kenalannya. Mobil yang sesuai dengan kondisi jalan di Pulau Kalimantan saat itu. Meskipun suka mengendarai mobil dalam perjalanan, DR. Tanzil tidak paham mengenai mesin mobil.

“Bos saya berpendirian, tidak ada gunanya membawa macam-macam perlengkapan kalau ia tidak mengetahui sama sekali tentang mobil.” (Hal 2)

Buku Catatan Perjalanan H.O.K Tanzil

Istri DR. Tanzil selalu ikut serta dalam setiap petualangan suaminya. DR. Tanzil menyebut bahwa istrinya tidak pernah kapok ikut bertualang, meskipun banyak hal tidak menyenangkan yang ditemui dalam perjalanan. Mulai dari mabuk perjalanan, digigit nyamuk, berjalan kaki di jalan berlumpur, mobil mogok berkali-kali, kesulitan bernapas ketika berada di Kota La Paz, Bolivia, hingga pernah dioperasi usus buntu ketika berada di Kota Budapest, Hungaria. Hal-hal tersebut tidak menyurutkan niat Ny. Tanzil untuk ikut serta dalam petualangan suaminya.

“Untuk orang yang berbadan rapuh agar badan tidak rontok sebaiknya tidur saja di rumah! Istri saya katanya kapok! Ucapan ini selalu dikeluarkan setelah bepergian, tetapi tidak mau ditinggal bila hendak pergi. (Hal. 104)

*****

Buku Catatan Perjalanan Indonesia merupakan buku jilid keempat dari tulisan-tulisan DR. Tanzil di Majalah Intisari yang telah dibukukan. Tujuan pembuatan buku-buku DR. Tanzil adalah untuk melestarikan tulisan-tulisan DR. Tanzil. Semua honorarium yang diperoleh dari buku ini didonasikan untuk panti-panti sosial. Fungsi sosial inilah yang mendorong DR. Tanzil untuk terus menulis agar sumber bantuan dapat berjalan kontinu.

DR. Tanzil telah mengunjungi lebih dari 90 negara, tetapi tidak semua kunjungan itu ia tulis. Banyak hal yang sifatnya umum dan cerita yang terlalu singkat untuk ditulis. Tulisan-tulisan DR. Tanzil merupakan pengalaman-pengalaman pribadinya, sehingga tidak dapat memberikan keterangan-keterangan lain yang lebih terperinci. Sebaiknya cari sumber informasi lain untuk mendapatkan informasi yang lebih terperinci dan detail.

Catatan Perjalanan Indonesia
Penulis: Prof. DR. H.O.K Tanzil
Penerbit: Alumni – Bandung
Tahun: 1982

You may also like

8 comments

Masichang October 31, 2022 - 9:45 am

untuk buku perjalanan saya baru baca bukunya om JJ.POLNAJA yg keliling dunia pake motor. menarik juga nih sepertinya buku itinerary seperti ini.

Reply
Rivai Hidayat November 5, 2022 - 5:48 am

Aku belum pernah baca bukunya kang JJ. Makasih mas untuk info referensi bukunya

Reply
Nasirullah Sitam November 2, 2022 - 8:01 am

Ngoleksi buku-buku seperti ini po mas? Kok menarik sekali.
Aku malah gak punya buku-buku beliau

Reply
Rivai Hidayat November 5, 2022 - 5:47 am

Kalau buku-buku H.O.K Tanzil aku ga punya mas. Kebetulan ini pinjam. Aku koleksi beberapa buku perjalanan mas.

Reply
Peri Kecil Lia November 8, 2022 - 4:47 pm

Bicara soal memakai sudut pandang dari mobil, aku jadi keinget dengan buku Ziggy yang berjudul Semua Ikan di Langit karena memakai sudut pandang dari bus. Menurutku, ketika penulis menulis cerita berdasarkan sudut pandang benda itu hebat banget, kayak kok kepikiran aja sih? Hahaha. Nggak jarang malah bikin pembaca jadi baper sama benda yang menjadi pembawa narasi tsb :'(
Ngomong-ngomong, buku ini terlihat tipis, Kak. Berapa halaman kah isinya? Foto buku yang banyak itu koleksi pribadi Kakak kah?

Reply
Rivai Hidayat November 11, 2022 - 12:20 am

bener banget, bikin baper. Malah ikut imajinasi tentang apa yang akan terjadi dengan barang tersebut. Mungkin lia suatu saat bisa nulis pakai sudut pandang yang lain..hihihi
sekitar 140 halaman. Bukunya koleksi temanku. Aku hanya ikut baca 😀

Reply
fanny_dcatqueen November 15, 2022 - 1:47 am

Aku pengen sungkem dulu Ama bapak hok Tanzil dan istri. Luar biasa loh petualangannya.

Dan aku LGS sadar, selama ini berarti aku ga suka berpetualang yg model begitu. Mungkin langsung tepar setepar2nya .

Palingan journey ku yg bisa dibilang paling jelek, pas dari Bangkok ke Siam Rep naik kereta ekonomi tanpa AC, kursi keras, dan mereka bawa ayam juga ternak di dalam wkwkwkwk. Itu udh aku anggab luar biasa dan kapok mau ngelakuin lagi. Ga tau kesambit apa sampe bisa2nya milih ekonomi paling murah

Jakarta Aceh PP jalur darat. Luar biasa sih. Sblm ada tol yg skr, JKT Medan aja semingguan, dengan kondisi jalan aduhai. Apalagi di zaman itu ya mas . Bahkan setelah ada tol yg bagus pun, aku Ama suami blm satu suara juga utk road trip kesana . Aku kuatir dia nya sakit, 3 hari di jalan. Hrs beneran santai kalo mau. Tapi cutinya kan terbatas juga. Atau cari supir. Cuma blm Nemu yg sreg yg mau lintas sumatera

Reply
Rivai Hidayat November 21, 2022 - 2:55 am

Di jaman beliau belum banyak orang melakukan perjalanan. Kalau sekarang hampir semua orang menyukai jalan-jalan. Kita pun bisa dengan mudah menemukan bermacam-macam jenis perjalanan yang dilakukan. Setidaknya beliau telah meletakan pondasi sebuah perjalanan bagi generasi-generasi selanjutnya.

Ga semua tipikal perjalanan orang lain sesuai dengan diri kita. Jadi rencana dibuat sesuai dengan kemampuan diri kita. Di perjalanan pulau jawa, H.O.K Tanzil lebih sering menggunakan mobil pribadinya.

Milih kereta ekonomi paling murah ternyata memberikan pengalaman tersendiri yaa mbak, meskipun akhirnya membuat kapok. Ini mirip seperti yang aku alami ketika ke rangkasbitung sebelum adanya kereta ber-AC. Penumpang banyak dengan segala barang dagangannya..wkkwkwk

mbak fanny, aku thu seneng kalau lihat bus ALS yang melintas di Pulau Jawa (aku pernah lihat di Magelang & jogja). Kemudian membayangkan perjalanan sekitar 5 hari perjalanan menggunakan bus…wkwkwkk
emang harus santai, apalagi nyetir sendirian. Semangat mbak fanny 😀

Reply

Leave a Comment