Perjalanan Semarang-Pontianak

by Rivai Hidayat
Perjalanan Semarang-pontianak

“Vai, besok kamu rapid test ya! Senin siang berangkat ke Kapuas Hulu.” Isi pesan singkat dari salah satu teman kerjaku. Info ini membuat semua rencanaku di bulan Desember berubah total. Mulai dari ikut acara yang diadakan sebuah dinas, hingga rencana merayakan pergantian tahun di rumah salah seorang temanku. Bukannya aku tidak gembira mendapatkan kabar ini. Justru sebaliknya. Aku sangat antusias. Berarti aku bakal mendapatkan pengalaman baru di penghujung tahun 2020. Melakukan perjalanan Semarang-Pontianak, kemudian berlanjut ke Kabupaten Kapuas Hulu. Perjalanan ini akan menjadi perjalanan keduaku di tanah Borneo. Setelah tahun 2019 lalu, aku datang ke Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.

Pukul 11:00 aku bertemu dengan Pak Nur dan Ubet di ruang tunggu Bandara A. Yani, Semarang. Kami bertiga akan melakukan perjalanan Semarang-Pontianak dengan transit di Jakarta. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Kabupaten Kapuas Hulu melalui jalur darat. Menurut jadwal, pesawat yang kami tumpangi akan berangkat pada pukul 12:20. Waktu sudah menunjukkan pukul pukul 11:00. Namun, tidak ada informasi tentang penerbangan kami. Aku mencoba menanyakan hal ini kepada petugas yang ada counter check in.

“Maaf pak, untuk penerbangan ke Jakarta pukul 12:20 dibatalkan. Penerbangan dipindahkan ke jadwal penerbangan tadi pagi.” Jawab petugas tersebut.
“Kenapa kami tidak mendapatkan informasi perubahan jadwal?” Tanyaku kesal
“Untuk informasi perubahan jadwal bisa dilakukan di ruang pelayanan maskapai yang ada di depan Pak.” Jawab petugas tersebut sambil memberitahu lokasi ruangan tersebut.

Kami memang tidak mendapatkan pemberitahuan perubahan jadwal penerbangan. Dengan adanya pembatalan ini, perjalanan Semarang-Pontianak dengan transit di Jakarta mengalami perubahan. Setelah melakukan komplain atas perubahan jadwal tanpa pemberitahuan, akhirnya kami diberikan perubahan jadwal terbang pada esok hari pukul 06:50. Kemudian dilanjutkan dengan penerbangan Jakarta-Pontianak pada pukul 12:20. Kami sengaja memilih penerbangan pagi agar tidak mengalami perubahan jadwal lagi. Siang itu kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.

Pemandangan Bandara A. Yani, Semarang

Ada sesuatu yang aku lupakan dalam penerbanganku kali ini, yaitu tidak ada fasilitas gratis untuk bagasi pesawat. Akhirnya aku berhasil membawa tas laptop dan tas ransel gunung ke dalam kabin pesawat. Aku memang terbiasa menenteng ransel gunung dengan ukuran 35L dibandingkan membawa koper kecil. Lebih nyaman dan mudah dibawa ketika butuh mobilitas tinggi. Jarang sekali membawa koper. Lebih nyaman membawa ransel dibandingkan menyeret koper.
Baca Juga: Sejarah Kereta Api di Semarang

Penerbangan Semarang menuju Jakarta cukup ramai. Meskipun itu adalah penerbangan pagi. Perjalanan tidak lama, hanya sekitar 45 menit. Penerbangan kami berjalan dengan lancar dan mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta. Tak perlu waktu lama, kami langsung check in ulang dan pindah terminal. Perpindahan ini cukup melelahkan.

Siang itu di ruang tunggu terminal 2G Bandara Soekarno Hatta sangat ramai dengan calon penumpang dengan berbagai tujuan penerbangan. Seperti tujuan Jambi, Medan, Pangkal Pinang, dan Pontianak. Tempat duduk di ruang tunggu penuh. Tidak sedikit penumpang memilih duduk di lorong menuju ruang tunggu. Jangan pikirkan lagi tentang jaga jarak. Jadwal penerbangan yang berdekatan ini membuat penuhnya ruang tunggu.

Pesawat mulai bersiap untuk take off meninggalkan landasan bandara. Pemandangan teluk Jakarta langsung terlihat. Tak jauh dari sana, mulai terlihat gugusan Kepulauan Seribu. Cuaca siang sedang terlihat mendung. Beberapa kali turbulensi mengganggu perjalanan kami. Kru pesawat beberapa kali memberikan peringatan agar tetap duduk di kursi. Memasuki area Provinsi Kalimantan Barat, terlihat Sungai Kapuas yang meliuk-liuk membelah Pulau Kalimantan di bagian barat. Roda pesawat berhasil mendarat di landasan Bandara Supadio, Pontianak. Penerbangan ke Pontianak menghabiskan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Siang itu bandara terlihat lengang. Meskipun ada beberapa penerbangan sebelum kami mendarat. Area parkir dipenuhi taksi yang siap membawa penumpang menuju kota-kota yang ada di Provinsi Kalimantan Barat.

“Akhirnya tiba di Pontianak.” Gumamku dalam hati. Perjalanan Semarang-Pontianak berjalan dengan lancar. Meskipun selama penerbangan terjadi beberapa kali turbulensi selama penerbangan. Sesampainya di bandara, kami langsung dijemput oleh sopir yang sudah janjian dengan kami. Kami dibawa ke sebuah warung yang menjadi tempat mangkal taksi dengan tujuan di berbagai kota di Kalimantan Barat. Taksi yang dimaksud di sini bukanlah taksi yang biasa ditemui di Pulau Jawa, tapi mobil minibus yang dimodifikasi untuk membawa barang dan penumpang.

Tiba di Bandara Supadio, Pontianak

Setelah selesai makan, kami sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Selimbau, di Kabupaten Kapuas Hulu. Lama perjalanan akan ditempuh sekitar 12 jam. Letaknya di ujung Provinsi Kalimantan Barat. Lebih dekat ke perbatasan negara tetangga, dibandingkan ke Kota Pontianak. Pak Bayu siap mengantarkan kami menuju Selimbau.

Wong Jowo yo mas?” tanya Pak Bayu ketika pertama kali bertemu dengan kami.
Iyo pak, aku wong Semarang. Bapak Jowo-ne endi?” (Iyaa pak, aku orang Semarang. Bapak Jawa-nya mana?)
“Aku wong Madiun mas.”

Kedatangan Pak Bayu di Kota Pontianak ini merupakan sebuah ketidaksengajaan. Mungkin bisa disebut sebagai kesialan yang menimpanya dirinya. Pak Bayu muda dahulu diajak merantau ke Brunei Darussalam oleh temannya. Berangkat dari Surabaya menuju ke Pontianak menggunakan kapal. Namun sayang, dia tidak pernah melanjutkan perjalanan menuju Brunei Darussalam. Temannya meninggalkan  Pak Bayu muda di Pontianak seorang diri. Tanpa keluarga dan orang yang dia kenal. Seiring berjalannya waktu, Pak Bayu bertahan hidup dan akhirnya menikah dan menetap di kota ini.

Sebelum menjadi seorang sopir taksi di Pontianak, Pak Bayu adalah seorang sopir bus antarkota di Surabaya. “Dulu kalau bawa bus, biasa ugal-ugalan. Khan bus tersebut sudah terkenal dengan sopir-sopirnya yang suka ngebut.”
“Kalau balik ke Jawa, saya sering mampir ke terminal Bungurasih, Surabaya mas. Ketemu teman-teman sopir bus.”

Sore ini obrolan dimulai dengan kemacetan yang sering terjadi di Pontianak. Banyaknya kendaraan, sempitnya jalan, dan area persimpangan menjadi penyebabnya. Obrolan masih terus berlanjut hingga di warung tempat kami singgah.
“Kita ngopi dulu mas. Sekalian nunggu waktu magrib.” Ajak Pak Bayu.
“Kalau di warung ini, kopinya diseduh menggunakan air yang mendidih. Beda dengan di warung yang kita berangkat tadi.”
Baca Juga: Trekking di Semarang

Senja pertama di Pontianak

Gelas-gelas yang berisi kopi hitam terhidang di depan kami. Selain Pak Bayu, beberapa sopir lainnya juga memanfaatkan warung ini sebagai tempat istirahat. Selepas magrib kami melanjutkan perjalanan. Kali ini alunan lagu dangdut koplo menyertai perjalanan kami. Tidak ketinggalan hembusan asap rokok keluar dari mulut dan hidung Pak Bayu.
“Kalau ga ngerokok, aku bisa ngantuk mas.” Kata Pak Bayu sambil menghebuskan asap rokoknya.

Bagi sebagian besar sopir, merokok ketika menyetir merupakan sebuah kebiasaan. Rokok membuat mereka menjadi lebih fokus sekaligus menghilangkan rasa kantuk dalam berkendara. Apalagi para sopir di jalur lintas Kalimantan Barat ini bisa menyetir mobil hingga belasan jam.

Tiba-tiba Pak Bayu meminta ijin untuk membelokan mobilnya menuju parkiran sebuah minimarket. Pak Bayu segera membuka kap mesin dan memeriksa apa yang terjadi dengan mesin mobilnya. Setelah diperiksa, ternyata ada gangguan pada bagian dinamo mesin. Kami bertiga mesti menunggu Pak Bayu memperbaikinya. Setelah dicoba berkali-kali, ternyata mesin belum bisa berjalan dengan normal. Akhirnya Pak Bayu menelpon temannya untuk menggantikannya untuk mengantar kami menuju Selimbau.

Cerita Dari Kapuas
Semarang, 15 Desember 2020

You may also like

54 comments

Nasirullah Sitam March 9, 2021 - 3:06 am

Selalu ada cerita menarik di setiap perjalanan, mas.
sosok seperti pak bayu, ketika bertemu dengan sesama orang Jawa bakal terasa spesial. Setidaknya ada kesamaan suku dan bisa lebih santai saat berkomunikasi.

Reply
Rivai Hidayat March 9, 2021 - 2:40 pm

Bener mas, apalagi banyak orang jawa yang merantau di berbagai kota di indonesia. Kalau ketemu berasa ketemu saudara jauh..

Reply
tari lestari March 9, 2021 - 12:36 pm

menarik sekali perjalananya, meski dalam situasi yang corona . sosok pak bayu yang saya pikir orang asli pontianak ternyata orang jawa namun saat bertemu ngobrolnya terlihat santai juga ya mas Vay ?”. semoga perjalananya dilancarkan tuhan dari berangkat hingga pulang lagi ke semarang . amin

Reply
Rivai Hidayat March 9, 2021 - 2:47 pm

Dalam rangka pekerjaan. Jadi yaa mesti berangkat.

Orang asli jawa yang merantau ke kalimantan. Mungkin karena dari suku yang sama, bahasa sama. Jadi obrolan lebih santai dan nyambung. Kebetulan kami sering di jalan. Jadi semakin cocok juga.

Makasih mbak tari 🙂

Reply
Gustyanita Pratiwi March 10, 2021 - 10:41 am

jadi teringat pengalamanku ke pontianak tahun lalu juga sesampai di bandara jemputan taxinya modelnya minibus…tak ada taksi yang sedan gitu kan

btw sekarang ternyata ga ada gratis bagasi ya, jadi aman jaya yang bawa ransel, ga perlu biaya ekstra seperti yang bawaannya koper..tapi agak drama juga ya pas di bandaranya itu…terlebih ga ada info pergantian jam penerbangan…

sepertinya ceritanya akan bersambung nih…ditunggu kelanjutannya

Reply
Rivai Hidayat March 10, 2021 - 3:08 pm

Belum ketemu taksi yang seperti di jawa. Kebetulan kemarin di pontianak hanya singgah. Belum eksplore kotanya. Mungkin nanti setelah selesai kerjaan bisa jalan-jalan bentar. Hehhee

Ransel dibawah 40L rasanya masih aman masuk kabin. Asal dipancking rapi. Si singa merah memang sudah lama ga memberikan fasilutas gratis bagasi. –”

Iyaa, ini baru cerita pertama dari beberapa rangkaian cerita..hehhee
Makasih sudah singgah 🙂

Reply
fanny_dcatqueen March 10, 2021 - 8:09 am

Kayaknya kalo naik pesawat zaman skr, hrs selalu siap utk jdwal dicancel, reschedule ato ga jelas yaa mas :(. Temenku yg msh bepergian naik pesawat juga banyak ngeluh gitu. Seenakny jdwal di ubah.

Duuh Pontianak itu PGN bangetttt aku datangin. Cuma Krn kulinernya enak2 hahahahha. Kalo liat postingan temen yg tinggal di sana, suka posting makanan Pontianak, lgs ngiler . Kayaknya bisa pas deh Ama seleraku :D.

Suami dulu pernah tugas ngaudit ke kantor cabang di Pontianak, tp dia malah sakit. Jd ga bisa sekalian wiskul . Cm dia janji kalo nanti ada tugas ke sana lagi, aku diajak :D. Dia meriksain kantor cabang, aku kulineran deh 😀

Reply
Rivai Hidayat March 10, 2021 - 10:46 am

Apalagi kalau penerbangan transit, mesti ngatur semuanya dari awal lagi. Pas itu aja dulu keburu pesen taksi di pontianak. Berhubung ganti jadwal yaa akhirnya ganti jadwal juga..huhuu

Aku di pontianak cuma singgah. belum muter kemana-mana. Nanti rencana setelah kerjaan kelar mau keliling pontianak dan sekitarnya bentar. Sekalian, mumpung di kalbar..hehehhe
Makanan di kalbar yang unik itu kerupuk basah. Kemudian kemarin juga makan tempoyak. Rasanya asamnya sangat berasa.

Nanti kalau jadi di pontianak, nanti juga ditulis di sini mbak fany 😀

Reply
Agus Warteg March 10, 2021 - 1:50 pm

Kalo bertemu sesama orang Jawa di perantauan rasanya spesial ya mas, seperti mas Rivai yang ketemu pak Bayu di Pontianak. Bahkan kadang rasanya seperti bertemu saudara.

Kalo sopir rata rata memang merokok, kadang aku naik bus waktu pulang kampung sopirnya juga begitu, katanya biar fokus

Perjalanan spesial di tanah Borneo, kira kira petualangan apalagi ya?

Reply
Rivai Hidayat March 10, 2021 - 3:22 pm

Iyaa, beberapa kali ketemu orang jawa di perantauan (sumatera, kalimantan) memang rasanya sangat beda. Serasa bertemu dengan saudara jauh mas..hehehe

Bukan hal yang aneh sih kalau seorang sopir biasanya merokok.

Ini cerita pertama dari beberapa rangkaian cerita dari kapuas. Selamat mengikuti mas..heheh

Makasih sudah singgah mas agus 🙂

Reply
nursini rais March 10, 2021 - 2:11 pm

Unik juga kisah Pak Bayu. Kegagalan membawa keberuntungan. Selamat malam, Mas Rivai. Samlam kenal dari nenek ndeso.

Reply
Rivai Hidayat March 10, 2021 - 3:12 pm

Cerita kehidupan seseorang memang sangat menarik untuk disimak. Selalu memberikan kesan tersendiri.

Makasih bu nur telah singgah di sini 🙂

Reply
Reyne Raea March 10, 2021 - 9:45 pm

Hal yang paling menyenangkan dalam perjalanan itu adalah bertemu orang baru, apalagi kalau ketemunya ama orang sekampung, duh rasanya kayak ada sodara gitu 😀

Saya jadi ingat, kapan hari ketemu mantan polisi di Sulawesi, udah belasan tahun dia pulang ke Jawa, tapi masih ingat logat Sulawesi, lah saya asli Sulawesi aja udah terkontaminasi logatnya hahaha.

Btw, tadi saya membayangkan perjalanannya lewat darat dong 😀

Reply
Rivai Hidayat March 11, 2021 - 1:48 am

bener mbak rey, auto ngomong bahasa daerah 😀

yaa bahasa ibu, logatnya sulit berubah. Mbak rey asli sulawesi mana? aku kira aslinya jawa timuran..hahhahaa
Perjalanan lewat darat itu menyenangkan, walaupun kadang juga melelahkan 😀

Reply
Ikrom March 11, 2021 - 9:37 am

di balik kegagalan selalu ada hikmah ya mas
wah iya agak ribet juga ya mas kalau engga ada bagasi
saya dulu naik Lion masih ada bagasinya
tapi sama si dulu kena cancel juga
lama engga naik pesawat terbang hahaha

Reply
Rivai Hidayat March 11, 2021 - 5:02 pm

Tiap orang selalu punya jalan ceritanya masing-masing mas 😀
Sdah sekitar 2 tahun si singa merah menerapkan aturan itu. Kalau cancel dan delay memang identik dengan si singa merah..wkwkwkwk

Reply
Endah April March 11, 2021 - 3:31 pm

Halo Mas Vay, baca postingan ini waktu sampai di dialog dengan sopir dari Madiun, suara di kepalaku otomatis berubah medok Madiun sama medok Semarang Mas Vay medok nggak kalau ngomong? Medoknya orang Semarang lucu, aku niruin nggak pernah bisa

Reply
Rivai Hidayat March 11, 2021 - 5:04 pm

Halo mbak endah 😀
Medoknya jawa timuran dan jawa tengah ketemu..wkwkwkwk
Katanya sih medok mbak..apalagi kalau yang dengerin orang jakarta..hahahaha

Emang bedanya apa mbak endah? Aku malah kurang tahu..wkwkwk

Reply
Tanza Erlambang March 11, 2021 - 6:01 pm

pengalaman yang menarik untuk dibaca….

thank you for sharing

Reply
Rivai Hidayat March 12, 2021 - 3:59 am

makasih gan..!!

Reply
CREAMENO March 11, 2021 - 6:51 pm

Jadi ingat sohibul saya yang kena cancel penerbangan berkali-kali hahahahaha, memang deh Corona ini, mengacaukan banyak hal :s

By the way, mas Rivai itu perjalanan 12 jam naik mobil mantap ughaaaa jauhnya 😀 Terus a bit syok baca cerita Pak Bayu, kok bisa temannya setega itu meninggalkan Pak Bayu sendirian. Gilaaaa. Mana jauh pula di Kalimantan huhu. Kalau masih di Pulau Jawa, bisa diakali bagaimana balik Surabayanya, nah Kalimantan, omaygad, semisal nggak ada uang, masa mau naik sampan 😐

Ohya mas, saya penasaran pada kalimat, “Ini buat kopinya pakai air mendidih, beda sama yang warung tadi.” Memangnya warung sebelumnya pakai air dingin gituuuh? 😀 Wk. Ditunggu kelanjutan ceritanya mas, apa mas Rivai and team baik-baik saja, coming soon, ya 😀

Reply
Rivai Hidayat March 12, 2021 - 7:34 am

corona telah menguji semua sistem yang ada dalam kehidupan sehari-hari…hiiks

Cerita di atas masih sejam mbak eno. Masih ada 11 jam selanjutnya..hihihii
Insting seorang manusia untuk terus bertahan hidup dan beradapatasi membuat Pak bayu mampu bertahan hingga saat ini.

Jadi bagi sebagian besar penikmat kopi, mereka lebih menikmati ketika kopi diseduh dengan air yang mendidih. Bukan sekadar panas. Kalau sekadar panas biasanya tidak bertahan lama panasnya. Sebut saja air panas dari termos atau dispenser…hehhehe
Makasih mbak eno. Ceritanya masih beberapa seri 😀

Reply
Peri Kecil Lia ‍♀️ March 16, 2021 - 6:55 pm

Sama, Kak Enooo. Aku juga shock baca cerita Pak Bayu muda yang ditinggal temannya begitu saja di Kalimantan astaga, kok tega nian nggak kebayang betapa susah hidupnya Pak Bayu setelah ditinggal temannya itu
Pertanyaanku juga samaa! Apa bedanya kopi yang diseduh dengan air mendidih dengan kopi pada umumnya hahaha ternyata agar panasnya lebih awet gitu ya, Kak Rivai?
Baru 1 jam perjalanan aja, udah banyak cerita serunyaaa. Ditunggu sisa kisahnya, Kak
Btw, Perjalanannya jauh banget yak perjuangan sekali mencapai lokasi tujuannya

Reply
Rivai Hidayat March 20, 2021 - 10:10 am

Sebetulnya cerita para perantau di sini terdengar luar biasa. Dari mulai yang seperti Pak Bayu, hingga mereka yang ditugaskan untuk mengabdi di pedalaman. Beberapa cerita ini akan aku ceritakan di postingan berseri ini..hihihii

Iyaa, panasnya lebih awet, dan rasa kopi lebih maksimal dan berasa.
Tungguin saja kak, ceritanya masih berseri-seri kok. Walaupun serinya belum bisa menyaingi ikatan cinta..hahahhaa
Itu perjalanan jauh, namun itu masih berada dalam satu provinsi. Yaitu Kalimantan Barat..hhehhehe

Reply
Dinilint March 12, 2021 - 6:59 am

Duh, sistem penerbangan kita emang kacau ya Vai. Masa pergantian jadwal penerbangan nggak dikabarin. Eh apa karena jumlah penumpangnya dikit dan kalau jadi berangkat maskapai akan rugi jadi main batalin aja ya? Hmmm.
Terus jam terbang yang berdekatan dan fasilitas ruang tunggu yang tidak mencukupi kebutuhan, sungguh bikin bete. Padahal aku baca doang ini ya. Tapi ya,, mengingat semua penumpang pesawat diwajibkan sehat dan bebas virus corona, mestinya oke ya meski berdesakan.

Cerita soal perjalananmu kali ini kayaknya bakal panjang kan ya.
Semoga Vai punya sinyal dan waktu dan niat untuk nulis perjalanannya sampe di Kapuas Hulu. Kutunggu ceritanya.

Reply
Rivai Hidayat March 12, 2021 - 8:22 am

sepertinya sih begitu, uang pemasukan dari tiket penumpang ternyata tidak seusai dengan biaya operasional. Akhirnya dibatalkan dan mungkin dialihkan untuk melayani rute yang lebih ramai. Tidak semua penumpang mendapatkan kabar, salah satunya kami.

Cukup parno ketika berada di ruang tunggu. Terlalu ramai dalam kondisi pandemi seperti ini. Makanya lebih baik aku mencari tempat yang tidak padat.
Ceritanya masih beberapa seri. ditunggu aja kelanjutannya. Makasih yaa 😀

Reply
Iwan March 13, 2021 - 11:46 am

Mas ijin nanya biasanya penyebab dealey penerbangan itu apa ya, soalnya ada kluarga aku kmaren ngak bisa pulang karena pesawatnya dealey bsoknya baru bisa pulang.

Reply
Rivai Hidayat March 13, 2021 - 10:59 pm

Tidak dijelaskan detailnya mas. Hanya dibilang penerbangan saat itu dibatalkan dan dialihkan ke penerbangan pagi. Untung saja, kami masih bisa melakukan perubahan jadwal untuk keesokan harinya.

Reply
Digitalpoin March 13, 2021 - 1:36 pm

Kalo saya ketemu orang yang sama sama jawa apalagi madura di luar provinsi, malah bikin tambah betah dan gak tau juga bawaannya jadi bisa cepat akrab

Reply
Rivai Hidayat March 13, 2021 - 10:58 pm

Mungkin karena berasa dari suku yang sama, akhirnya kita merasa lebih cepat memahami dan akrab. Kalau aku belum pernah ketemu orang madura.

Reply
Hicha Aquino March 14, 2021 - 3:31 am

Lho, mas vay sekarang jadi warga blogger kah? *maaf OOT*

Btw, penerbangan diganti jadwal seenak udelnya itu nyebelin banget, ya… apalagi kalau tanpa pemberitahuan.
Saya pernah ngalamin sekali, perjalanan transit dari KL ke Denpasar. Untungnya bukan dimajuin, tapi dimundurin. Udah gitu dapat kompensasi berupa penginapan lengkap dengan fasilitas buffet. Yah, blessing in disguise sih ini namanya wkwk

Anyway, cerita si Bapak mirip dengan om saya. Dia dijanjikan dibantu ke Belanda, malah ditinggal di KL. Jadinya nikah dan menetap di sana sampai sekarang. Emang rejekinya di situ sih, ya..

Reply
Rivai Hidayat March 15, 2021 - 12:09 am

Masih di wp mbak icha 😀

Nah itu, apalagi kalau ada penerbangan transit. Pasti jadwal selanjutnya berubah dan kita mesti atur perjalanan..hiiks

Orang dengan segala cerita kehidupannya memang sangat menarik. Penuh dengan hal yang tidak terduga

Reply
Sintia Astarina March 14, 2021 - 7:20 am

Wah aku belum pernah ke Pontianak. Jadi gak sabar menanti cerita selanjutnya! 😀

Reply
Rivai Hidayat March 15, 2021 - 12:09 am

Semoga bisa ke pontianak. Aku ke pontianak hanya transit. Belum sempat ekplore kotanya.

Reply
Prisca March 16, 2021 - 2:47 am

Orang Jawa ini emang dimana-mana banget dah

Reply
Rivai Hidayat March 20, 2021 - 9:53 am

gampang sih kalau mau cari orang jawa yang berada di suatu daerah 😀

Reply
Rudi Chandra March 16, 2021 - 4:58 am

Duh… Itu penerbangannya main cancel tanpa pemberitahuan.
Kan bikin agenda jadi berantakan tuh.

Reply
Rivai Hidayat March 19, 2021 - 3:22 am

iyaa, sangat merepotkan kalau banyak jadwal yang berubah. Untung semua bisa dikondisikan lagi agar jalan sesuai rencana

Reply
Rifqy Faiza Rahman March 17, 2021 - 6:11 am

Membaca cerita ini, saya jadi teringat perjalanan darat dari Banjarbaru ke Muara Teweh, 12 jam juga, tapi sopirnya bukan wong Jowo. Warga asli Kalsel haha. Luar biasa panjang, lintas provinsi saja bisa belasan jam 😀

Reply
Rivai Hidayat March 20, 2021 - 9:37 am

Para sopir sini emang luar biaa. Bisa menempuh belasan jam perjalanan. Apalagi jalan belum semuanya bagus. Kalau perjalananku masih dalam satu provinsi mas 😀

Reply
Didut March 18, 2021 - 3:15 am

Sebetulnya tertarik dengan kuliner yang terkenal dari sana itu apa haha
Salam kenal mas. 🙂

Reply
Rivai Hidayat March 20, 2021 - 9:58 am

Aku jarang review kuliner mas. Paling nanti aku ceritakan sekilas aja..hahahha
Salam kenal mas 😀

Reply
Bayu Kurniawan March 21, 2021 - 1:48 am

Ihhh dari penerbangan siang di ubah ke pagi terus nggk ada pemberitahuan.. Ya Ampunn, rasanya pengen tak amuk.. hahah.
Sekarang masih dipontianak apa sudah kembali ke semarang Mas Vay.?? Seru yah bisa dapat kesempatan buat ngunjungin tempat lain.. pngen juga saya.. wkwkw soalnya seumur2 belum prnah lihat tanah kalimantan.. hehe muter2nya selalu di Jawa atau nggk Sumatera. Itupun sumatera hanya lampung sama padang. Hehe.

Btw kok ceritanya Pak Bayu kasihan banget.. ditinggal temannya sndirian di tempat baru. Astaga… beruntung beliau bisa survive dan bertemu dengan tambatan hati..

Reply
Rivai Hidayat March 21, 2021 - 2:54 am

Akhirnya atur ulang untuk perjalanan mas. Lumayan merepotkan sih..hahhahaa
Sekarang masih di kalimantan barat mas bayu. belum ada rencana kapan balik semarang..hahahaa
Kerjaanku mendukung untuk berpindah dari satu kota ke kota lainnya. beberapa kota di sumatera pernah disinggahi. Kalimantan baru dua kali ini..ehehhee

Cerita kehidupan macam begini menarik untuk didengarkan mas. Mungkin aku juga beruntung bisa mendengarkan cerita kehidupan pak Bayu..hehhee

Reply
Nardnaddy March 21, 2021 - 4:06 am

Kita dia Malaysia cuma ada Pontian, pontianak nya hilang 🙂 salam kenal ya

Reply
Rivai Hidayat March 21, 2021 - 4:25 am

begitu yaa, aku baru tahu.
Salam kenal yaa 😀

Reply
ainun March 21, 2021 - 2:34 pm

hal yang aku suka ketika melakukan perjalanan adalah ketemu orang orang yang seperti Pak Bayu itu mas Vay.
misalnya kayak sama-sama dari satu provinsi atau dari satu negara misalnya, jadi berasa kayak ketemu sodara sendiri di tempat asing
tega bener ya temennya pak Bayu itu, kalau waktu muda dulu misalnya frustasi karena dikecewain sama temennya, entah apa yang terjadi sama pak Bayu, untungnya pak Bayu tetep semangat mencari jalan keluar di Pontianak sana seorang diri dan bisa sampe di titik sekarang ini.
Pontianak, Balikpapan ini kota yang pengen aku singgahi, bener tuh yang dibilang mba Fanny, kulinerannya astagahhhh enyak enyak diliatnya

Reply
Rivai Hidayat March 22, 2021 - 6:25 am

Bener sekali mbak Ainun, seperti ketemu dengan saudara di kota lain. Akhirnya jadi lebih akrab…hhehhee
Aku di pontianak hanya singgah, belum benar-benar eksplore. Rencana setelah kerjaan di sini selesai mau eksplore sebentar di pontianak.

Reply
morishige March 31, 2021 - 8:45 am

Ngomong basa Jawa di seberang pulau itu rasanya lain, ya, Mas… 😀

Kebangetan, sih, teman Pak Bayu ninggalin dia sendirian di Pontianak. Untungnya di Pontianak banyak perantau Jawa. Ditinggal satu teman, ketemu banyak dulur anyar 😀

Reply
Rivai Hidayat March 31, 2021 - 12:58 pm

Beberapa kali ketemu orang jawa pas di kalimantan atau sumatera. Kalau udah ketemu biasanya langsung tanya jawa-nya mana dan langsung pakai bahasa jawa. Seru sih kalau ketemu orang jawa di perantauan 😀

Reply
ina April 1, 2021 - 6:42 am

sudah lama banget aku enggak bepergian sama tas ranselku, biasanya pergi berapa lama ya cuma 1 tas itu aja bawaannya, lebih ke capek ya kalo bawa barang banyak2, jadi kangen pergi2an kan, tapi lagi di rumah aja, yaudah nikmati haha
wah, jauh juga ya perjalanannya, 12 jam bo, haduuu keluar mobil boyok rasanya… ah mantabbb >_<

Reply
Rivai Hidayat April 2, 2021 - 12:15 pm

aku bawa 2 tas, dan 1 tas kecil. Bawanyaransel, jadi bisa ditenteng. Ga perlu diseret. Pundakku juga lebih aman daripada tangan mesti nenteng koper. 😀

Lumayanlah tulang bunyi semua..hahahhaa

Reply
dodo nugraha April 3, 2021 - 12:11 am

Haloo mas, piye kabare 😀
Dari gambar paling atas, aku awalnya mengasumsikan bahwa mas Rivai menggunakan mobil dari Semarang ke Pontianak. Mungkin akan menggunakan kapal. Ternyata bukan yaa, menggunakan pesawat rupanya.. Hehhee

Reply
Rivai Hidayat April 3, 2021 - 6:30 am

Kabar baik mas dodo..gimana kabarnya?
Wah naik mobil dan kapal bakal lebih lama lagi mas. Kehabisan waktu dan tenaga

Reply

Leave a Comment