Perjalanan ke Kota Putussibau

by Rivai Hidayat

Setiap perjumpaan akan selalu ada perpisahan. Itulah hal yang aku pikirkan ketika sudah bersiap meninggalkan Kecamatan Suhaid. Rasanya setelah ini aku tidak akan kembali lagi ke tempat ini. Perjalananku akan berlanjut ke Kota Putussibau, ibukota Kabupaten Kapuas Hulu. Aku berangkat ke Putussibau dengan menumpang mobil Bang Firdaus. Bang Firdaus ini merupakan kurir jasa pengiriman yang mengambil dan mengantar paket di wilayah Selimbau, Suhaid, dan Semitau. Siang itu Bang Firdaus akan kembali ke Putussibau dengan paket-paket yang telah dia ambil di ketiga wilayah tersebut.

Aku dan Bang Firdaus sudah bersiap untuk meninggalkan Kecamatan Suhaid. Dalam perjalanan kami akan singgah di Kecamatan Semitau dan Selimbau untuk mengambil paket. Jarak Suhaid dan Semitau tidak terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja. Sedangkan menuju Selimbau akan membutuhkan waktu sekitar 45 menit.

Bang Firdaus memilih untuk melewati jalan perkebunan kelapa sawit untuk menuju Selimbau. Menurutnya jalan ini lebih cepat dibandingkan jalan utama yang lebih jauh dengan kondisi rusak parah di beberapa ruas. Memasuki jalan perkebunan ini seperti masuk ke dalam sebuah labirin yang tak berujung. Hampir semua jalan memiliki karakter jalan yang mirip. Sepanjang perjalanan hanya terlihat pohon kelapa sawit. Sesekali kami juga berpapasan dengan motor dan truk-truk pengangkut buah sawit. Tidak ditemui mobil pribadi melintas di jalan tanah ini.
Baca Juga: (Kembali) Ke Mantan

Bang Firdaus mengenal baik jalan perkebunan ini. Bang Firdaus butuh waktu lama untuk benar-benar menghafal jalan perkebunan yang mirip labirin ini. Setelah lebih dari 30 menit akhirnya kami bertemu dengan area perkebunan warga. Berarti area pemukiman warga desa tidak jauh lagi. Kami tiba di persimpangan jalan di Desa Menapar dan Krangas yang menjadi jalan keluar dari jalan perkebunan kelapa sawit. Kemudian mobil berbelok ke arah Selimbau. Kami akan melintas di jalan rusak di Desa Menapar, jalan aspal di Desa Mensusai, dan beberapa jembatan kayu di Desa Gudang Hulu.

Bang Firdaus langsung beristirahat sejenak begitu tiba di Selimbau. Kebetulan hari ini dia tidak berpuasa. Sedangkan aku masih berpuasa. Perjalanan pergi pulang ke Putussibau mengharuskan dia untuk tetap fokus dan tidak boleh lelah selama perjalanan. Beberapa paket barang dari Selimbau telah dimasukkan ke dalam mobil. Sekarang mobil minibus ini penuh dengan barang kiriman. Sejenak aku menatap pemukiman warga Selimbau, ini mengingatkan pada kedatangan pertamaku di sini pada Bulan Desember lalu. Dalam hati aku mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan karena telah diberikan kesempatan datang dan mengenal daerah Selimbau, Suhaid, dan Semitau. Kami bersiap berangkat meninggalkan Selimbau.

Dalam perjalanan menuju Kota Putussibau

Dalam rencana awal, Bang Firdaus akan lewat jalan antarkecamatan yang menghubungkan Desa Jongkong Hulu dan Desa Benuis. Namun, jalan tersebut sedang ditutup karena adanya perbaikan jembatan yang ada di Desa Benuis. Kesempatanku untuk melewati jalan ini akhirnya gagal. Padahal aku sangat menunggu kesempatan ini. Jalan ini belum pernah aku lalui sebelumnya. Jika melewati jalan tersebut aku bisa melihat kehidupan desa-desa yang kami lalui. Tentu saja aku akan melihat rumah Pak Amri, tempat aku tinggal selama berada di Desa Benuis. Akhirnya perjalan berlanjut melewati jalan utama yang pernah aku lalui ketika pertama kali tiba di Selimbau.

Bang Firdaus langsung memacu kencang mobilnya begitu melewati jalan nasional. Jalan ini lebar dan sepi. Ini merupakan satu-satunya jalur darat untuk menuju ke Kota Putussibau. Menuju Putussibau juga bisa melalui jalur sungai dengan menyusuri Sungai Kapuas. Waktu tempuhnya sekitar lima jam perjalanan. Perjalanan jalur darat akan menghabiskan waktu sekitar 4-5 jam perjalanan. Berarti kami akan tiba di sana menjelang waktu berbuka puasa.
Baca Juga: Menyeberang ke Desa Nanga Kenepai

Dalam perjalanan kami sering berpapasan dengan taksi yang akan menuju ke Pontianak. Para pengemudi taksi ini memang terkenal dengan daya jelajahnya. Mereka mampu menempuh perjalanan panjang setiap harinya. Selain itu, mereka juga dikenal dikenal sebagai pengemudi yang suka memacu mobilnya dengan kencang. Bang Firdaus juga mengemudikan mobil dengan kecepatan yang kencang.

Salah satu hal yang menjadi traumaku dalam perjalanan di Kalimantan ini adalah mabuk perjalanan. Seperti yang aku alami ketika pertama kali tiba di Selimbau. Aku tidak menyangka akan mengalami mabuk perjalanan lagi dalam perjalanan ini. Tiba-tiba kepalaku pusing. Perutku terasa mual dan ingin muntah. Aku sudah menyiapkan sebuah plastik kresek apabila aku mengalami muntah. Ternyata aku benar-benar muntah dalam perjalanan ini.

Kondisi puasa dan perut kosong ternyata membuatnya terasa lebih sakit. Aku terpaksa membatalkan puasa dan singgah di sebuah toko untuk membeli minuman dan obat. Kemungkinan saat itu kondisiku kurang sehat dan jalan yang berkelok-kelok membuatku mengalami mabuk perjalanan. Sebuah hal yang sebetulnya jarang aku alami sebelumnya.

Senja di Putussibau

Hari sudah sore ketika kami memasuki jalan utama Kota Putussibau. Sesuai dengan perkiraan, kami akan tiba menjelang waktu berbuka puasa. Mobil langsung menuju sebuah rumah yang sudah kami sewa sebelumnya. Letaknya tidak jauh dari Bandara Pangsuma, Putussibau. Di rumah itu sudah ada temanku, Eka dan Wisnu. Mereka berdua sudah tiba di rumah ini beberapa hari yang lalu. Rumah yang kami sewa lokasinya tidak jauh dari Bandara Pangsuma, Kota Putussibau.

Perjalanan selama 4-5 jam dari sebuah kecamatan menuju ibukota kabupaten tentu bukan sebuah perjalanan yang dekat dan singkat. Jika di Pulau Jawa, perjalanan selama itu bisa menjadi perjalanan antarkota. Bahkan perjalanan antarprovinsi. Namun ini adalah Pulau Kalimantan, bukan Pulau Jawa. Perjalanan ini memang melelahkan dan aku memilih untuk istirahat begitu begitu tiba di rumah yang kami sewa.

Cerita dari Kapuas
Kota Putussibau
25 April 2021

You may also like

5 comments

Peri Kecil Lia ‍♀️ September 21, 2022 - 5:19 am

Jangankan berjam-jam, kadang aku naik mobil 15 menit aja udah mual, Kak 🙁 dengar-dengar sih cara mengatasinya dengan cara perut nggak boleh kosong waktu berkendara, jadi nggak mual. Mungkin Kak Rivai waktu itu sedang dalam kondisi perut kosong karena puasa terus ditambah kondisi jalannya begitu, jadi mabuk >.<

Reply
Nasirullah Sitam September 22, 2022 - 4:58 am

Jalan sawit ini sebenarnya diperuntukkan truk yang meangbil hasil panen ya? Menarik sih kalau membahas luar Jawa. Jalan masih berlubang, dan wilayahnya sangat luas.

Reply
fanny_dcatqueen September 22, 2022 - 6:01 am

Akhirnya ada nama kota yg aku pernah denger . Selimbau. Soalnya temen kantorku ada yg punya rumah di sana, setelah nikah Ama polisi. Aku jadi tau ada tempat dengan nama itu .

Waaah sampe muntah mas di perjalanan ? Tapi bisa JD Krn ga fit aja yaaa. Aku termasuk yg kuat perutnya tiap jalan darat. Apalagi udh sering lintas Tarutung Sibolga yg 2 jam nonstop berbelok2 membelah gunung. Jadi penasaran rute yg mas lewati. .. separah jalan ke Sibolga kah…

Reply
Endah April September 23, 2022 - 3:14 am

Kok hebat ya bisa hapal jalan kayak labirin di kebun sawit begitu. Sama kayak driver Bromo di lautan pasir, sumpah itu kalo dini hari isinya kabut dengan jarak pandang satu meter aja tapi drivernya nggak nyasar. Btw mabuk perjalanan is the worst thing kalo lagi perjalanan, huhu. Bawannya pingin tidur istirahat kalo udah mabuk perjalanan. :(((

Reply
duniamasak September 28, 2022 - 4:37 am

stay safe and stay happy ya kak 😀

Reply

Leave a Comment