Merindu Merbabu

by Rivai Hidayat
Gunung Merbabu

Perjalanan sore ini memang terasa berbeda. Bukan karena teman seperjalananku. Namun, karena perjalanan ini berhasil menarik kembali ingatanku ke beberapa tahun yang lalu. Tepatnya tiga hari setelah kelulusan SMA. Saat itu adalah perjalanan pertamaku mendaki Gunung Merbabu bersama dengan para siswa pencinta alam dari sekolah lain. Kata mereka, pendakian ini untuk merayakan kelulusan yang juga diikuti oleh senior dan junior mereka.

Saat itu, kami tiba di Dusun Cuntel pada malam hari. Dusun ini merupakan dusun terakhir dan lokasi basecamp pendakian Gunung Merbabu melalui jalur Cuntel. Dusun sudah tampak sepi dan gelap. Papan petunjuk arah jalur pendakian juga terlihat jelas. Setelah melewati permukiman warga, pendaki akan bertemu dengan area perkebunan warga dan menuju ke jalur pendakian.

basecamp gunung merbabu
Gapura Dusun Cuntel

Dusun Cuntel, sebuah dusun kecil yang bisa ditempuh dalam waktu 15 menit dari pertigaan Jalan Raya Getasan dan Umbul Songo. Dusun ini selalu ramai dengan pendaki ketika musim pendakian Gunung Merbabu. Perjalanan menuju Dusun akan disuguhi dengan pemandangan dan pohon pinus yang tumbuh menjulang tinggi. Selain itu, destinasi baru dibangun di sini. Tidak hanya arena kegiatan luar ruangan, tapi juga tempat makan, taman bermanin, dan gardu pandang.

Umbul Songo
Umbul Songo menjadi tempat persinggahan pertama kami. Letaknya di lereng Gunung Merbabu. Dikelola oleh pihak Taman Nasional Gunung Merbabu. Rimbunnya pohon pinus dan langit yang mendung menyambut kedatangan kami. Nama Umbul Songo sendiri diambil dari sembilan sumber mata air yang ada di tempat itu. Sumber mata air ini dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air warga sekitar.

Trekking Umbul Songo

Di Umbul Songo juga terdapat sebuah air terjun. Uniknya, air terjun ini hanya ada ketika musim penghujan. Aliran air terjun dipengaruhi oleh deras air hujan. Jika musim kemarau, aliran air terjun mengalami kekeringan. Saat itu debit air