Menyusuri Cerita Kopi dan Berwisata di Desa Muncar

by Rivai Hidayat

Di ujung jalan, gapura setinggi empat meter bertuliskan Muncar Moncer menyambut kedatangan kami. Gapura ini menjadi tanda bahwa kami telah tiba di Desa Muncar, sebuah desa dengan komoditas andalan berupa kopi robusta—salah satu kopi unggulan dari Kabupaten Temanggung. Kami lalu mengikuti papan penunjuk arah menuju Dusun Muncar Krajan. Sebuah jalan cor yang hanya muat dilewati satu buah mobil memandu kami. Tujuan utama siang itu yakni rumah Pak Jujuk, homestay tempat kami menginap.

Desa Muncar merupakan sebuah desa di Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Letaknya di sebelah utara Kabupaten Temanggung dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Kendal. Tak hanya kopi, Desa Muncar punya keberagaman potensi alam dan wisata lain. Wisata ini dikenalkan melalui paket wisata yang sudah tersedia, seperti jelajah desa, garden coffee trip, sekolah Muncar Fun Brewing, belajar menanam padi dan budidaya mina padi, dan Festival Panen Raya Kopi Bumi Phala.

Gapura Desa Muncar

Menyusuri Cerita Kopi Robusta Khas Muncar

Menurut cerita warga, kopi di Desa Muncar sudah dikembangkan sejak abad ke-17. Hal itu dibuktikan dengan adanya tugu triangulasi yang berada di salah satu perbukitan di Desa Muncar yang dibangun pada tahun 1619. Namun, warga desa mulai melirik potensi tanaman kopi pada kisaran tahun 1990-an. Sebelum menjadi petani kopi, sebagian besar warga desa bermata pencaharian sebagai perambah hutan. Merawat tanaman kopi hanyalah sambilan. Hasil panen dan nilai ekonomi tinggi berhasil membuat warga meninggalkan aktivitas sebagai perambah hutan dan mulai fokus menjadi petani kopi.

Setibanya di Desa Muncar, kami langsung berkenalan dengan Ahmad Sofiyudin, atau biasa disapa Sofi. Sofi merupakan seorang sociopreneur dan penggerak Desa Sejahtera Astra (SDA) Kabupaten Temanggung. Pada tahun 2017, Sofi mendapatkan penghargaan Satu Indonesia Awards tingkat provinsi dalam bidang lingkungan. Kemudian pada tahun 2018 Desa Muncar dipilih menjadi Desa Sejahtera Astra (DSA) dan Sofi menjadi penggeraknya.

Sofi memang bukanlah warga asli Desa Muncar, tapi kecintaannya terhadap desa ini membuatnya selalu bersemangat untuk mengembangkan dan memajukan desa menjadi lebih baik. Kopi dipilih sebagai komoditas utama dalam pengembangan Desa Muncar. Penandatanganan program Desa Sejahtera Astra (DSA) Kabupaten Temanggung ditandai dengan pemberian mesin roasting kopi kepada kelompok tani yang ada di Desa Muncar.

Sofi dibantu tim dan beberapa warga desa mulai berbenah untuk mengembangkan potensi yang ada di Desa Muncar. Pada awalnya cukup sulit untuk menyakinkan masyarakat desa untuk mengikuti program ini. Namun dengan penuh tekad, Sofi dan tim terus memberikan pemahaman bahwa program Desa Sejahtera Astra (DSA) dapat memberikan dampak positif bagi pengembangan desa. Sofi membuat branding Desa Muncar sebagai langkah pertama. Kemudian memilih tagline Muncar Moncer, Place of Serenity. Moncer berarti bersinar atau cemerlang. Sedangkan Place of Serenity berarti alam, budaya, kearifan lokal, dan kuliner di Desa Muncar akan memberikan ketenangan bagi para wisatawannya.

Kopi jenis robusta menjadi komoditas utama dan pertama yang dikembangkan di Desa Muncar. Sebelum adanya program DSA, pengelolaan kopi tidak tertata dengan baik dan produksinya masih terkesan asal-asalan. Hal ini mempengaruhi nilai jual kopi di pasaran. Sofi mulai mengenalkan pengelolaan kopi yang lebih tertata dan berkelanjutan. Maka dia membentuk sebuah manajemen beserta perangkat dan tugasnya. Ada sebuah manajemen yang memantau setiap proses pengolahan kopi. Mulai dari masa panen, pasca panen, pengolahan hasil panen, hingga pemasaran produk kopi.

Salah satu cara yang dilakukan adalah memberi pemahaman ke petani untuk memetik biji kopi yang sudah berwarna merah. Sedangkan biji kopi yang masih berwarna hijau tidak perlu dipetik. Istilah ini dikenal dengan sebutan petik merah. Biji kopi berwarna merah memiliki kualitas lebih baik dibandingkan biji kopi berwarna hijau. Selain itu, Sofi mengajak para petani kopi untuk bergabung dalam kelompok-kelompok tani.

Petik merah biji kopi

Sofi juga mengenalkan konsep para-para. Para-para merupakan tempat penjemuran biji kopi yang terbuat dari kayu dengan tinggi sekitar 140 cm dan tidak menapak di tanah. Pada proses pengolahan biji kopi, tempat penjemuran bisa mempengaruhi kualitas biji kopi. Para-para ini berfungsi untuk menjaga dan meningkatkan kualitas biji kopi saat penjemuran.

Proses penjemuran kopi di atas para-para

Pada saat pasca panen, biji kopi akan diproses sesuai kebutuhan. Beberapa proses yang dilakukan di Desa Muncar antara lain adalah proses natural, honey, dan wine. Proses natural menjadi proses yang biasa dilakukan oleh masyarakat. Mas Widhi menjadi salah satu petani yang mengolah biji kopi secara wine adalah Mas Widhi.

Unit Pengolahan Hasil (UPH) menjadi salah satu tempat pengolahan kopi di Desa Muncar. Pak Sutrisno menjadi ketua Unit Pengolah Hasil (UPH). Beliau juga merupakan seorang petani kopi. Di UPH semua proses produksi kopi bisa ditemui. Mulai dari pemilihan biji kopi, perimbangan, pengolahan biji kopi, pengupasan biji kopi, penyortiran bean kopi, sangrai (roasting), penggilingan (grinding), pengemasan, hingga pemasaran kopi.

Unit Pengolahan Hasil (UPH) Desa Muncar

Ketika aku tiba di UPH, beberapa karyawan sedang mengolah biji kopi hasil panen pada bulan Agustus lalu. Di sudut ruangan terlihat beberapa produk kopi yang siap untuk dipasarkan. Pak Sutrisno dan petani lainnya menjadikan UPH sebagai tempat edukasi bagi barista yang ingin mengenal karakteristik kopi robusta Desa Muncar.

Pegawai sedang menyortir biji kopi

Dua orang perempuan melakukan proses penyortiran bean kopi berdasarkan ukurannya. Di dekat mesin roasting, terlihat Mas Widhi dan Pak Sutrisno sedang sibuk menyangrai biji kopi. Biji kopi tersebut disangrai dengan metode medium roast sehingga menghasilkan biji kopi yang berwarna tidak terlalu gelap. Metode medium roast dinilai mampu menghadirkan rasa dan komposisi yang pas pada biji kopi.

Sebelum menggiling (grinding) biji kopi, Mas Widhi mengistirahatkan sejenak biji kopi yang telah selesai disangrai di mesin roasting. Hal ini bertujuan untuk mengurangi panas pada biji kopi hasil proses roasting. Proses penggilingan (grinding) adalah proses memecah biji kopi utuh menjadi bubuk halus agar mudah dilarutkan dalam air. Proses grinding dilakukan dengan menggunakan mesin grinding. Baik mesin grinding manual, maupun mesin grinding elektrik. Mesin grinding manual biasanya digunakan untuk menghaluskan biji kopi yang akan diseduh oleh barista. Sedangkan mesin grinding elektrik digunakan untuk menghaluskan biji kopi yang akan dipasarkan.

Proses grinding kopi

Setelah proses grinding, proses selanjutnya adalah pengemasan. Kopi hasil grinding dimasukkan ke dalam kemasan. Kemudian pengemasan dilakukan dengan menggunakan mesin. Besarnya kemasan tergantung pada berat kopi yang akan dijual. Desain pada kemasan kopi Desa Muncar merupakan hasil desain Mas Himawan, salah satu tim dari Sofi. Kemasan yang menarik tentu akan meningkatkan nilai jual dan menarik perhatian konsumen. UPH menyediakan kopi dalam bentuk bubuk dan biji.

Desa Muncar
Pemberian label pada kemasan kopi

Jalan Panjang Kopi Robusta Desa Muncar

Kopi robusta Desa Muncar memiliki keunikan tersendiri. Konsep penanaman secara agroforestri membuat biji kopi mengandung aroma dan rasa tumbuhan yang berada di sekitar tanaman kopi. Setiap kebun kopi bisa memiliki aftertaste yang berbeda-beda. Beberapa aftertaste atau cita rasa bisa dijumpai pada kopi robusta Muncar adalah aren, fla, dan vanili. Semua produk kopi yang dihasilkan diberi nama Kopi Muncar Muncer.

Masa panen biji kopi biasanya jatuh pada bulan Juni hingga Agustus. Menurut Mas Widhi, satu kebun bisa menghasilkan biji kopi sebanyak 3-5 ton. Hal ini membuat Desa Muncar  dan Kabupaten Temanggung menjadi pemasok kopi robusta terbesar di Jawa Tengah. Peningkatan kualitas kopi di Desa Muncar membuat nilai jual biji kopi mengalami peningkatan. Biji kopi yang diolah secara natural bisa dijual dengan harga Rp24.000-Rp25.000/kg. Padahal beberapa tahun yang lalu harganya di kisaran Rp19.000/kg.

Dalam rangka mengenalkan kopi robusta Desa Muncar dan menarik wisatawan, Sofi dan tim mengadakan berbagai event. Pada tahun 2019 diadakan event Festival Panen Raya Kopi Sang Intan Merah Bumi Phala dan Muncar Fun Brewing V60 Competition. Ini merupakan lomba tarung seduh barista tingkat Jateng-DIY. Tidak hanya barista dari Kabupaten Temanggung, tapi barista dari luar daerah sangat antusias mengikuti ajang ini. Kopi robusta Desa Muncar pernah beberapa kali memenangkan festival seduh kopi di pelbagai daerah. Salah satunya Pak Karjan yang berhasil menjadi juara lomba seduh kopi tingkat nasional pada tahun 2015 di Banyuwangi.

Pada tahun 2021, bersama Astra berhasil memperluas pasar kopi dengan menyuguhkan aftertaste yang berbeda kepada penikmat kopi, membentuk Koperasi Mulyo Migunani, memperluas Desa Sejahtera Astra (DSA) menjadi 14 Desa Sejahtera Astra (DSA) yang terdiri dari 13 desa induk, satu sebagai desa andalan. Desa Muncar menjadi desa andalan dalam program Desa Sejahtera Astra (DSA). Desa Muncar pernah mengikuti kompetisi Desa Wisata Indonesia, dan berhasil mempromosikan kopi DSA Kabupaten Temanggung hingga ke Belanda.

Jumlah desa binaan meningkat semenjak tahun 2018 adalah kerja keras bersama Astra dan fasilitator meyakinkan masyarakat bahwa manajemen yang baik akan mengarahkan hasil yang baik. Ada sekitar 5.500 orang masyarakat desa yang terpapar dalam program bersama, menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun 2018 yang hanya 200 orang. Penyerapan tenaga kerja mengalami peningkatan. Pada tahun 2018 tenaga kerja sebanyak 20 orang, pada tahun 2021 tenaga kerja meningkat jadi 80 orang.

Bersama Astra, Desa Muncar mendapatkan bantuan berupa alat-alat serta dana yang dikelola secara profesional untuk mempermudah kinerja masyarakat. Semangat dan keuletan masyarakat yang dibantu Astra akhirnya membuahkan hasil. Pertanian kopi semakin maju dengan tersedianya alat-alat pengolahan yang lengkap. Astra telah membantu memberdayakan desa melalui pengembangan potensi wisatanya. Masyarakat tidak hanya bergantung pada satu sumber pendapatan. Astra terus berupaya menciptakan masyarakat Desa Sejahtera Astra (DSA) yang mandiri, kreatif, dan bersahaja. Jalan panjang yang ditempuh kopi robusta Desa Muncar menciptakan cerita yang layak untuk diceritakan.

Berwisata di Desa Muncar

Semakin berkembangnya bisnis kopi di Desa Muncar tidak hanya memberikan dampak positif bagi petani kopi dan masyarakat, tapi juga berhasil menarik unit bisnis lainnya. Sofi bekerja sama dengan masyarakat desa untuk mengembangkan potensi wisata hingga produk UMKM dari masyarakat.

Blawong View

Matahari pagi belum nampak, tapi kami sudah memulai aktivitas. Dinginnya udara pagi tak menghalangi niat kami untuk menuju Blawong View di Dusun Blawong Kulon—salah satu dari delapan dusun yang ada di Desa Muncar. Lokasinya berjarak sekitar 3 km dari tempat kami menginap di Dusun Muncar Krajan. Kami melewati jalan dengan kondisi bagus, tapi sedikit licin akibat hujan semalam. Perjalanan menyuguhkan pemandangan berupa area perkebunan kopi milik warga. Menurut Sofi, Blawong View merupakan lokasi yang tepat untuk menikmati suasana matahari terbit di Desa Muncar.

Desa Muncar
Matahari terbit dari Blawong View

Sofi menemukan lokasi Blawong View setelah mendaki bukit sebanyak 12 kali. Menurutnya, lokasi ini merupakan lokasi terbaik untuk menikmati pagi dan pemandangan Dusun Blawong Kulon. Pada awalnya lokasi masih dalam bentuk perkebunan yang ditumbuhi pepohonan. Sofi dan warga bekerja sama membersihkan dan membangun area tersebut agar layak dan aman untuk dikunjungi. Warga dengan senang hati menghibahkan sebagian tanahnya untuk dijadikan akses jalan yang nyaman dan aman bagi wisatawan.

Warna jingga hanya terlihat sejenak, kemudian tertutup awan. Angin yang bertiup kencang membuat udara di Blawong View terasa lebih dingin. Di kejauhan terlihat Gunung Ungaran dan barisan pegunungan lainnya. Sedangkan tampak di depan mata adalah pemandangan area pemukiman warga Dusun Blawong Kulon. Rata-rata rumah warga dusun memiliki rumah dua tingkat dengan atap rata. Atap-atap ini biasa digunakan sebagai tempat penjemuran biji kopi ketika memasuki musim panen.

Desa Muncar
Menikmati suasana pagi di Blawong View

Tidak hanya menikmati suasana pagi, kami disuguhi bubur candil, pisang rebus, wedang jahe, dan tak lupa secangkir kopi. Sofi dan tim biasanya menyediakan menu ini dalam paket wisata. Mas Widhi menyeduh kopi hasil yang diolah menggunakan metode wine kepada kami. Kopi ini merupakan hasil dari kebunnya sendiri. Aroma kopi mulai menyeruak di hadapan kami. Begitu juga dengan aftertaste yang kami rasakan setelah menyesap kopi racikan Mas Widhi. Semua panganan yang ada disuguhkan kepada kami berasal dari perkebunan warga desa.

Curug Lawe

Setelah puas menikmati suasana pagi di Blawong View, kami berpindah ke Curug Lawe. Letaknya tidak jauh dari Dusun Blawong Kulon. Terdapat sebuah gapura yang menyambut kedatangan wisatawan. Jarak curug dari gapura masih sekitar 400 meter. Setelah motor terparkir di sebuah tanah lapang, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Selama perjalanan kami menemukan beberapa tanaman vanili yang sedang berbunga. Hal ini membuat kopi Desa Muncar bisa menghasilkan dengan aftertaste rasa vanili pada kopi.

Desa Muncar
Pemandangan Curug Lawe

Curug Lawe memiliki ketinggian sekitar 250 meter dengan tipe air terjun bertingkat dengan debit air yang sangat deras. Sofi membawa kami ke spot terbaik untuk menikmati curug. Tidak perlu berjalan sampai dasar curug karena jalannya curam. Terdapat sebuah tanah datar yang bisa digunakan untuk duduk bersantai. Sofi dan tim sudah menyiapkan sarapan dengan menu nasi megono, lauk tahu dan tempe bacem, serta ikan asin. Famela, salah satu tim penggerak DSA Muncar meracik dan memasak makanan untuk kami. Ia bertanggung jawab terhadap makanan yang disajikan kepada wisatawan. Bahan panganan diutamakan dari desa. Jadi benar-benar memanfaatkan potensi yang ada di desa.

Menu makanan di Curug Lawe

Jembatan Sawah

Jembatan Sawah menjadi salah satu daya tarik Desa Muncar. Letaknya di  Dusun Muncar Krajan, tepatnya berada di seberang homestay milik Pak Jujuk. Jembatan Sawah terbuat dari kayu sebagai alas dan besi sebagai tiang penyangganya. Jembatan Sawah menjadi ikon wisata di Desa Muncar. Pembangunan jembatan sawah tidak lepas dari kerjasama antara Sofi dan Astra. Meskipun dibangun di area persawahan, Jembatan Sawah tidak mengubah fungsi dan bentuk sawah. Jembatan sawah dibangun mengikuti bentuk galangan atau pembatas sawah yang ada.
Baca Juga: Tinggal di Desa Jongkong Hulu

Kami menginap di homestay milik Pak Jujuk sering menyempatkan diri untuk berkunjung ke Jembatan Sawah. Tak hanya digunakan sebagai tempat berfoto, Jembatan Sawah menjadi sebagai ruang berkumpul bagi anak-anak dan pemuda desa. Di beberapa ujung jembatan terdapat sebuah gazebo. Anak-anak sekolah sering mengerjakan tugas dan bermain di sini. Di ruang sempit itu, banyak ide dan kreatifitas anak-anak dan pemuda tumbuh dan berkembang.

Pemandangan Jembatan Sawah

Saat ini, para penggerak desa sedang membangun kedai kopi, tepat di depan rumah Pak Jujuk. Menurut Sofi, kedai kopi ini tidak hanya sekadar tempat ngopi, tapi juga digunakan sebagai tempat berkumpul para pemuda desa. Dari kedai kopi ini diharapkan lahir ide-ide dan kreatifitas yang bermanfaat untuk kemajuan Desa Muncar. Selain itu, kedai kopi ini berfungsi sebagai pusat informasi wisata Desa Muncar. Para wisatawan bisa mendapatkan informasi lengkap tentang Desa Muncar sembari menikmati kopi, dan hamparan sawah di hadapan mereka.

Gula Semut

Selain kopi, aren menjadi komoditas Desa Muncar. Kita bisa dengan mudah menjumpai pohon aren di sepanjang hutan dan kebun warga. Dulu, warga mengolah nira aren menjadi gula aren. Namun karena gula aren memiliki waktu simpan yang tidak bertahan lama, maka warga mengolah nira aren menjadi gula semut. Gula semut merupakan bentuk bubuk dari gula aren. Waktu simpannya juga lebih lama dan kualitas tetap terjaga dengan baik.  Kami menemui Ibu Muriah, salah satu pembuat gula semut di Desa Muncar.

Desa Muncar
Pengambilan nira aren

Di rumah Ibu Muriah, kami bisa melihat seluruh proses produksi gula semut. Mulai dari pembuatan gula aren, perebusan gula aren, penghalusan gula aren menjadi gula semut, pengemasan, hingga akhirnya siap untuk dipasarkan. Dalam sehari, Ibu Muriah dapat memproduksi beberapa kilogram gula semut. Semua tergantung pada nira yang didapatkan. Menurut Ibu Muriah, gula semut bisa digunakan sebagai campuran kopi, wedang jahe, dan minuman lain seperti kunyit asam. Gula semut yang diseduh dengan wedang jahe bisa memberikan kehangatan dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Keluarga Ibu Muriah juga memproduksi madu klanceng—jenis madu yang berasal dari lebah spesies Trigona. Lebah jenis ini ukurannya cukup kecil dan tidak menyengat. Lebah klanceng menghasilkan madu yang lebih manis dan sedikit asam. Rasa madunya dipengaruhi nektar bunga yang dihisap oleh lebah. Pak Amin, suami Ibu Muriah, meletakkan kotak kayu untuk sarang lebah klanceng di sebelah rumahnya. Lebah ini membutuhkan waktu sekitar 3-4 bulan untuk menghasilkan madu. Waktu yang lama dan kualitas yang lebih bagus membuat madu klanceng memiliki harga lebih mahal dibandingkan madu biasa. Menyajikan gula semut dan wedang jahe bersama madu klanceng adalah pilihan terbaik. Madu klanceng bisa meningkatkan daya tahan tubuh seseorang.

Homestay

Selama berada di Desa Muncar aku menginap di homestay milik Pak Jujuk. Tinggal bersama dengan Pak Jujuk dan keluarganya. Pak Jujuk merupakan warga asli Desa Muncar dan salah satu perangkat desa. Pak Jujuk menyewakan tiga kamar untuk wisatawan yang ingin menginap di rumahnya. Harganya sangat terjangkau. Bahkan Pak Jujuk dan keluarga dengan ramah menyambut kedatangan setiap wisatawan. Dari homestay milik Pak Jujuk, kami bisa menikmati pemandangan Jembatan Sawah, hamparan sawah, dan perbukitan di Dusun Blawong Kulon.

Desa Muncar
Pemandangan dari homestay Pak Jujuk

Selain homestay Pak Jujuk, ada pula homestay Rumah Kepala Suku. Bisa dibilang sebagai homestay terbaik di Desa Muncar. Homestay milik Pak Hermawan memiliki konsep bangunan klasik kontemporer Jawa-Bali ini menyediakan beberapa kamar dan beberapa spot yang bisa digunakan untuk berkumpul atau bersantai. Panitia tarung seduh kopi Desa Muncar pernah menggunakan Rumah Kepala Suku sebagai tempat acara tarung seduh kopi yang diikuti puluhan barista dari pelbagai daerah.
Baca Juga: Singgah di Desa Jongkong Hulu

Suasana tenang, bentuk bangunan unik, pemandangan jembatan, dan hamparan sawah menjadi daya tarik tersendiri di homestay ini. Tentu saja dilengkapi dengan suguhan kopi dari kebun milik Pak Hermawan. Pak Hermawan merupakan salah satu petani kopi yang ikut bekerja sama dengan Sofi untuk mengembangkan kopi di Desa Muncar.

Desa Muncar
Gerbang homestay Rumah Kepala Suku

Homestay menjadi salah satu elemen penting untuk memajukan wisata di Desa Muncar. Sofi dan tim selalu mengajak pemilik homestay untuk selalu meningkatkan pelayanan, kebersihan, dan kenyamanan. Konsep homestay dinilai sangat cocok diterapkan di desa ini. Selain meningkatkan perekonomian pemilik homestay, konsep ini memungkinkan wisatawan bisa merasakan keramahan dan keakraban warga desa. Kemudian mendapatkan kesempatan untuk mengenal Desa Muncar lebih dalam lagi. Dan pada akhirnya memberikan kesan dan kenangan tersendiri bagi wisatawan. Dengan begini, wisatawan bisa saja merencanakan perjalanan untuk kembali datang ke Desa Muncar pada kesempatan yang lain.

Mina Padi

Satu unit bisnis yang tak luput untuk dikembangkan dalam program Desa Sejahtera Astra (DSA) Kabupaten Temanggung adalah mina padi. Mina padi merupakan sistem usaha tani dengan memanfaatkan air sawah yang sedang ditanami padi sebagai kolam untuk ikan. Unit bisnis ini merupakan milik Mas Yasin. Mina Padi yang dikelola oleh Mas Yasin menjadi percontohan dan beberapa kali menerima kunjungan dari dinas pertanian dan petani dari daerah lain.

Saat aku datang, area sawah mina padi belum memasuki masa tanam. Lahan sedang disiapkan untuk ditanami dalam waktu dekat. Tidak jauh dari area sawah terdapat beberapa kolam ikan. Ikan yang terdapat di kolam ini adalah ikan nila, ikan mas, dan ikan bawal.

Desa Muncar
Area mina padi

Di sebelah barat kolam terdapat sebuah bangunan yang merupakan hasil kerja sama antara Mas Yasin sebagai pemilik mina padi, Sofi sebagai penggerak desa, dan pihak Astra sebagai penyelenggara program Desa Sejahtera Astra (DSA) Kabupaten Temanggung. Dari bangunan kami bisa menyaksikan area persawahan, kolam ikan, dan aliran sungai yang berada di sekitar area persawahan. Masyarakat bisa memanfaatkan bangunan ini untuk tempat diskusi. Dari diskusi yang ada bisa menghasilkan ide-ide kreatif yang berguna demi kemajuan Desa Muncar. Seperti yang kami lakukan siang itu. Kami mendiskusikan banyak hal sambil menikmati secangkir kopi, pemandangan hijau, dan semilir angin.

*****

Sudah lebih dari tiga tahun program Desa Sejahtera Astra (DSA) Kabupaten Temanggung telah berjalan di Desa Muncar. Masih banyak hal yang mesti diperbaiki dan dikembangkan. Terutama dalam hal manajemen dan sumber daya manusia. Satu hal yang selalu ditekankan oleh Sofi bahwa kemajuan Desa Muncar seperti sekarang ini bukanlah hasil jerih payahnya sebagai penggerak, tapi hasil semangat para warga desa untuk memajukan dan mengembangkan desanya. “Tidak ada superman, yang ada super team.” Kata Sofi mengakhiri obrolan malam itu.

Sofi, Himawan, dan Putri

Tiga hari berada di Desa Muncar memberikan pengalaman tersendiri bagiku. Mulai dari menikmati suasana pedesaan, merasakan keramahan warga lokal, menyesap aroma kopi, makan dari hasil perkebunan warga, hingga merasa betah tinggal di Desa Muncar. Sepertinya aku bakal balik lagi ke desa ini. Jadi, kapan kalian akan datang ke Desa Muncar?

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Anugerah Pewarta Astra 2021

Cerita Dari Temanggung
Desember 2021

#TersenyumlahIndonesia
#SemangatSalingBantu
#KitaSATUIndonesia

You may also like

12 comments

Lala Yusuf December 31, 2021 - 10:16 am

Tidak disangka, proses pengolahan kopi, dari biji kopi sampai menjadi bubuk kopi itu rumit juga. Terima kasih Mas, melalui tulisanmu aku jadi tau salah satu desa dengan penghasil biji kopi terbaik. Boleh ya sekali-sekali diajak kesini. 🙂

Reply
Rivai Hidayat January 3, 2022 - 10:18 am

secangkir kopi yang kita nikmati di coffee shop itu melalui proses yang panjang dan melibatkan banyak orang. Sebuah biji kopi mampu memberikan manfaat bagi banyak orang, termasuk para penikmatnya.
Terima kasih telah singga di sini La. Semoga bisa menikmati secangkir kopi dan mendapatkan banyak cerita. 🙂

Reply
Nasirullah Sitam January 3, 2022 - 1:53 am

Lihat lanscape-nya menyenangkan, mas. Ada banyak potensi di tempat ini yang bisa digali dengan dalam dan membuat geliat UMKM setempat naik. Semoga beruntung di tahun ini, mas. Aku dua tahun absen ikut astra heheheh

Reply
Rivai Hidayat January 3, 2022 - 10:20 am

Potensi desa Muncar emang tinggi mas. Perlu untuk dikembangkan secara berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Makasih mas sitam, semoga tahun depan bisa ikut astra lagi 😀

Reply
Ursula Meta Rosarini January 4, 2022 - 4:56 am

Ternyata panen kopi cuma setahun sekali ya mas?

Aku ga asing ama pengolahan kopi dari masih di pohon sampe jadi siap jual, soalnya perusahaan tempatku kerja jg skrg lg mengembangkan sayap ke kopi jd dikit2 aku tau, banyak mesin2 juga di kntr, kaya grinder, roaster dll wkwk.

3 hari di Muncar dpt pengetahuan dan pengalaman yg luar biasa banyak ya mas, sangat menyenangkan.

Reply
Rivai Hidayat January 6, 2022 - 6:37 am

Masa panen terjadi di kisaran bulan juni-agustus. Jadi petani sangat sibuk untuk memetik biji kopi.

Waah asyik mbak ursula, jadi bisa belajar banyak tentang kopi. Termasuk cara pengolahannya.
Pengalaman di muncar membuat ingin balik lagi ke sana mbak 😀

Reply
ainun January 9, 2022 - 12:29 pm

aku kira tadi Muncar di Banyuwangi, namanya sama soalnya
seneng bisa ikut serta melihat perkembangan komoditas di desa ini, apalagi sampai menginap, jadi bisa berbaur dengan perangkat desa juga
menarik cerita kopinya, di Banyuwangi, Jember, Bondowoso kalau soal kopi banyak jugaceritanya, kebetulan temen aku pecinta kopi dan pernah jadi juri di event event kayak dunia perkopian gitu
aku taunya juga dari sohib aku ini

Reply
Rivai Hidayat January 10, 2022 - 5:43 am

Kopi dari tiap daerah memiliki ceritanya masing-masing. Sebuah kekayaan budaya dalam menyesap secangkir kopi. Hal yang lebih menyenangkan dari ngopi adalah cerita-cerita yang terkandung di dalamnya 😀

Reply
Phebie January 14, 2022 - 8:41 pm

Waaa kopi. Its a heaven. Keren ya desa penghasil biji kopi terbaik. Menarik sekali bisa visit.

Happy New Year 2022 mas Rivai. Sukses sehat dan keep on writing

Reply
Rivai Hidayat January 17, 2022 - 11:51 pm

Itu kopinya, belum lagi tentang keramahan warga dan kehidupan pedesaan seperti ini. 😀
selamat tahun baru mbak phebie. Terus semangat untuk menulis dan memotret 😀

Reply
Fanny_dcatqueen January 15, 2022 - 4:13 pm

Penasaran metode wine itu seeprti apa. Kopinya bakalan punya rasa after taste anggur kah ?

Sbnrnya aku tuh suka kopi mas, tapi belum bisa nikmatin kopi hitam tanpa gula. Masih hrs pakai susu dan gula. Naaah aku tuh suka penasaran Ama temen2 yg pecinta kopi banget, kdg bilang after taste kopi ini ada rasa buahnya, ada rasa coklat , ada rasa vanili .. Krn pernah aku coba icip, aku ga bisa nemuin after taste yg mereka bilang . Ntah lidahku ga sensitif utk kopi atau perlu latihan mencecap rasanya yaaa

Itu ngliat Balong view, LGS pengen banget bisa stay di samaaaa . Duuuh udh yakin udaranya dingin, pasti enak bgt liburan , disuguhin pemnadangan cantik begitu ❤️

Reply
Rivai Hidayat January 18, 2022 - 12:43 am

tidak ada rasa anggurnya mbak fanny. karena wine dalam kopi sendiri merupakan proses pengolahan pascapanen. Dalam proses ini kopi akan mengalami proses fermentasi sebelum jadi biji kopi.
Bisa aja emang belum terbiasa menyesap kopi untuk menemukan aftertaste yang dihasilkan mbak. Keahlian menyesap kopi juga bergantung dengan pengalaman seseorang.

Udara bersih, suasana tenang dan ramah, akhirnya menikmati hari dengan bersantai aja 😀

Reply

Leave a Comment