Mengejar Sunrise Gunung Bromo (Bagian 2- Selesai)

by Rivai Hidayat
Dalam perjalanan turun ke parkiran motor, aku melihat di salah satu kios menjual postcard. Postcard yang dijual memiliki tema Gunung Bromo dan dijual seharga Rp 10.000/biji. Namun, aku tak membelinya. Warung-warung sudah mulai sepi. Kami melanjutkan perjalanan menuju pasir berbisik Gunung Bromo. Jalanan turunan tajam berhasil kami lalui. Kalau lewat sini, pastikan kendaraan dalam kondisi baik. Selama perjalanan terlihat mobil jeep yang hilir mudik mengantar pengunjung Gunung Bromo.
Baca dulu:  Mengejar Sunrise Gunung Bromo (Bagian 1)

Orang-orang Suku Tengger

Setelah menempuh jalanan ekstrim nan curam, akhirnya kami berdua tiba di kawasan pasir Gunung Bromo sambil ditemani rintikan hujan. Kami berdua langsung menuju ke parkiran motor Gunung Bromo. Kami berdua berniat untuk mendaki hingga bibir kawah. Cuaca saat itu memang hujan. Meskipun hujan, banyak pengunjung juga melakukan pendakian. Terlihat beberapa pengunjung menunggangi kuda yang disewakan oleh masyarakat suku Tengger. Kami berdua tetap berjalan kaki. Aku sih tetap semangat, meskipun hujan semakin deras. Di tengah perjalanan, Mas Hendrik meminta ijin untuk istirahat dan tidak melanjutkan perjalanan. Akhirnya aku melanjutkan perjalanan menuju bibir kawah seorang diri.

Mari mendaki..!!!

Langkah kaki aku percepat, hingga akhirnya aku tiba di depan ratusan anak tangga menuju puncak. Aku mulai menarik napas panjang dan berjalan menaiki anak tangga dengan kecepatan stabil. Tak sampai sepuluh menit akhirnya aku sudah di bibir kawah Gunung Bromo. Bibir kawah tidak terlalu ramai. Mungkin karena hujan. Setelah beberapa kali ambil gambar, aku memutuskan untuk segera turun. Melewati anak tangga dengan pelan-pelan, rentan terpeleset kenangan. Mas Hendrik lagi istirahat di sebuah warung. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan turun. Rencana kami akan pulang melalui Tumpang dan akan melewati Jemplang.

Kawah Gunung Bromo
View dari puncak Gunung Bromo

Kami melewati para penyedia jasa kuda. Mereka merupakan warga suku Tengger. Suku Tengger merupakan suku asli yang hidup di sekitar Gunung Bromo. Orang-orang Suku Tengger hanya menggunakan sarung mereka untuk melindungi tubuh mereka dari dingin. Beberapa mobil Jeep terlihat parkir di area yang sudah ditentukan. Mereka sedang menunggu para penumpang mereka yang sedang asyik menikmati Gunung Bromo. Untuk menuju jalur arah Jemplang, kami tidak tinggal mengikuti patok yang ada. Sejauh mata memandang hanya terlihat pasir, savana dan perbukitan nan hijau. Kami berdua tidak berhenti di Bukit Telletubies. Kami memilih untuk langsung beranjak pulang. Melewati jalur Jemplang merupakan pengalaman pertama bagi kami berdua.

Penyedia jasa kuda

Dalam perjalanan, kami bertemu dengan dua pengendara motor lainnya. Mereka juga akan turun melalui Jemplang. Mereka sudah terbiasa touring motor melalui jalur Gunung Bromo- Jemplang. Yaa akhirnya kami berjalan bersama *ciieee. Jalur menuju Jemplang sebagian besar masih berupa pasir. Hal tersebut membuat mas Hendrik mengendarai motor lebih berhati-hati. Selama perjalanan, kami berada dibelakang mereka berdua. Sedari tadi pagi kawasan Bromo masih gerimis. Tak ayal jalanan pasir menjadi banyak kenangan, eeh genangan.

Pura Luhur Poten Gunung Bromo

β€œGubrak..!!!”, terdengar suara motor terjatuh
Karena kurang fokus memikirkan dia, salah satu dari mereka terjatuh. Dia terpleset karena ban motornya slip diantara genagan. Dia baik-baik saja, namun celananya dipenuhi dengan coretan tanah liat. Akhirnya kami menemukan jalan beraspal hingga menuju pertigaan Jemplang. Belok kanan ke arah Ranupane, basecamp pendakian Gunung Semeru. Rasanya ingin melanjutkan perjalanan menuju ke Ranupane, kemudian menuju Gunung Semeru. Tentunya bukan saat ini, aku pun belum memiliki persiapan untuk mendaki Gunung Semeru. Suatu saat nanti akan mendaki Gunung Semeru, bersama kamu. Sedangkan belok kiri menuju arah kota Malang. Jalanan yang dilewati juga sangat bagus. Hingga akhirnya kami beristirahat di pos pintu masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Melepas lelah dan mengobrol dengan pengunjung lainnya.

Om, Telolet Om…!!

Kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Kota Malang. Aku masih seperti membonceng Mas Hendrik. Mas Hendrik enggan aku bocengkan. Kata dia sih takut kalau nanti jadi mengantuk. Akhirnya padatnya Kota Malang mulai menyambut kami. Aku merasa kota Malang seperti Kota Bandung. Jalanannya sempit namun padat dan udaranya yang tidak terlalu panas. Selain itu, kedua kota ini memiliki banyak cerita dan kenangan bagi perjalananku.

Pulang…!!!

Terima kasih Malang dan tentu saja ucapan terima kasih untuk Mas Hendrik yang sudah berkenan menemaniku berkeliling Gunung Bromo. Ini merupakan perjalanan yang sangat berkesan. Banyak cerita dan yang terukir selama perjalanan. Terima kasih Gunung Bromo atas sambutan yang diberikan kepadaku. Mulai dari rintik hujan, kabut pagi, perkasanya orang-orang Suku Tengger, ratusan anak tangga, hingga tawa canda yang menyatu dalam dinginmu. Gunung Bromo tidak hanya bercerita tentang berburu sunrise, namun lebih dari itu.

Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru (TNBTS)
Website: http://bromotenggersemeru.org/
Tiket Masuk Weekday: Rp 27.500 (Nusantara), Rp 217.500 (Mancanegara)
Tiket Masuk Weekend: Rp 32.500 (Nusantara), Rp 317.500 (Mancanegara)
Motor : Rp 5.000
Mobil : Rp 10.000
 
Gunung Bromo, 7 Desember 2016 

You may also like

21 comments

Nur Sulis March 11, 2017 - 12:10 pm

Ahh kangen ke bromo lagi

Reply
Johanes Anggoro March 12, 2017 - 1:06 am

masih bermimpi untuk mengunjungi bromo. sering diajak anak surabayaan ngcamp di bromo, tp gatau sebelah mananya sih wkwkwk
ga kebayang dinginnya juga kalo cuma berlindung di balik tenda πŸ˜€

Reply
Rivai Hidayat March 12, 2017 - 1:12 am

yuk ke bromo lagi…sekarang naik kuda πŸ˜€

Reply
Rivai Hidayat March 12, 2017 - 1:13 am

di bawah area pos penanjakan ada tempat buat camping…bangun2 langsung liat bromo…hehehhee
Datangnya pas musim panas aja…biar ga terlalu dingin dan dapat sunrise yg bagus πŸ˜€

Reply
Silviana Noerita March 14, 2017 - 5:21 am

ya ampun aku belum sampai kesini sini XD

Reply
Rivai Hidayat March 14, 2017 - 8:42 am

di bawah area pos penanjakan ada tempat buat camping…bangun2 langsung liat bromo…hehehhee
Datangnya pas musim panas aja…biar ga terlalu dingin dan dapat sunrise yg bagus πŸ˜€

Reply
Rivai Hidayat March 14, 2017 - 8:44 am

selamat menikmati keindahan gunung bromo πŸ˜€

Reply
rere jayaanti March 16, 2017 - 4:57 am

Wah pingin banget ke Bromo udah ngrencanain tapi banyak gagalnya, semoga tahun ini bisa kesana eh

Reply
AJI SAKA April 6, 2017 - 1:38 am

Konon katanya kalau jalan sendirian bisa hilang ya …

Reply
Travelingika April 6, 2017 - 8:28 am

Waaaa jadi pengen ke Bromo lagi, kesana taun 2014.. sunrise nya memang wow sekali di Bromo ^^

Reply
Nasirullah Sitam April 10, 2017 - 1:02 am

Akhir pekan ini teman-temanku pada mau ke sana. Sayang pas waktunya berbenturan dengan kegiatan lain.

Reply
Rivai Hidayat April 10, 2017 - 5:31 am

Aamiin…bromo wajib dikunjungi yaa πŸ˜€

Reply
Andi Nugraha April 10, 2017 - 6:01 pm

Duh jadi pengen ke bromo nih, beberapa tahun yang lalu sempat mau kesana, tapi gagal karena ada suatu kendala. Udah kangen sama suasana gunung nih ..

Salam kenal ya πŸ™‚

Reply
Inklocita April 11, 2017 - 2:56 am

Iyaaaaa pingin banget ke Bromo lagi

-M.
http://www.inklocita.com/2017/04/beli-jr-pass.html?m=1

Reply
Rivai Hidayat April 12, 2017 - 1:01 am

kurang tau mas…kalo ke bromo enaknya rame-rame πŸ˜€

Reply
Rivai Hidayat April 12, 2017 - 1:01 am

kemarin ga dapat sunrise..hiks

Reply
Rivai Hidayat April 12, 2017 - 1:02 am

aah..mas sitam banyak kegiatan yaa πŸ˜€
semoga bisa segera ke bromo yaa mas πŸ˜€

Reply
Rivai Hidayat April 12, 2017 - 1:03 am

ayo mas…semangat menggunung lagi…suasana gunung memang bikin kangen πŸ˜€

salam kenal mas andi πŸ˜€

Reply
Rivai Hidayat April 12, 2017 - 1:03 am

aku juga pengen πŸ˜€

Reply
Ransel Usang April 14, 2017 - 8:00 am

jadi kangen sama bromo lagi ni

Reply
Lazwardy Perdana Putra April 28, 2018 - 3:02 am

Thanks mas udh berbagi cerita. Suatu saat nanti sya jg mw k Bromo. Amiin

Reply

Leave a Comment