Kutacane Dan Perjalanan Yang Singkat (Bagian 1)

by Rivai Hidayat

Kutacane, satu kata yang menurutku spesial ini aku temukan ketika membaca novel Love Letter and Leuser karangan Nonier. Membaca kata Kutacane membuat ingatanku kembali ke tahun 2017 silam ketika aku ada pekerjaan di Provinsi Aceh. Kutacane menjadi salah satu kota yang aku singgahi. Novel ini aku beli di awal tahun 2019, tapi baru kelar aku baca dua hari yang lalu. Alur ceritanya sangat bagus dan mudah untuk dipahami. Salah satu latar yang diambil di novel adalah Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang berada di Kutacane, Aceh Tenggara.

 

Kutacane merupakan ibu kota Kabupaten Aceh Tenggara. Meskipun termasuk bagian dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Kutacane lebih dekat diakses dari Kota Medan, Sumatera Utara dibandingkan dari Kota Banda Aceh. Dari Medan bisa dicapai dengan waktu 6-8 jam perjalanan melewati Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Kutacane merupakan dataran tinggi dengan ketinggian 1.000 mdpl dan dikeliling barisan pegunungan Tentu saja itu sangat dingin bagi sebuah kota kecil.

 

Kota Singkil, Aceh Singkil menjadi titik awal perjalananku beserta tim menuju Kutacane. Kota ini menjadi salah satu kota terparah yang terkena bencana Tsunami pada tahun 2004 silam. Kota kecil ini langsung menghadap ke Samudera Hindia dan tidak dilalui jalur lintas Sumatera. Jadi kota ini cukup lengang dan tidak ramai. Pagi itu kami langsung menuju Kabupaten Sidikalang, Sumatera Utara. Aku mengenal kota itu dari temanku, Christina. Dia berasal dari Sidikalang dan sekarang tinggal di Medan. Dari Sidikalang bisa langsung menuju kearah barat untuk menuju Kutacane. Berhubung si sopir tidak menguasai jalan tersebut, akhirnya kami memilih rute yang melalui Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Baca Juga: Sepotong Kisah Sedih dari Ereveld Kalibanteng

 

Banyak orang bilang bahwa perjalanan itu lebih seru dibandingkan destinasi atau tujuannya. Itulah yang aku alami dalam perjalanan panjang ini. Untuk menuju Kutacane, lama waktu perjalanan yang dibutuhkan lebih dari 6 jam perjalanan dengan keluar dari Provinsi Aceh menuju Provinsi Sumatera Utara kemudian masuk Provinsi Aceh lagi. Perbedaan yang mencolok dari kedua provinsi adalah tentang kualitas jalan di kedua provinsi. Provinsi Aceh memiliki kualitas jalan yang bagus dan lebar dibandingkan Provinsi Sumatera Utara yang memiliki kualitas jalan yang buruk dan sempit. Kondisi jalan ini bahkan menjadi bahan bercanda di antara para sopir kami. Dalam perjalanan menuju Medan dari Aceh Tamiang, Pak Agus, salah satu sopir kami bilang jika nanti kita memasuki jalan yang sempit dan macet, berarti kita sudah memasuki Sumatera Utara. Hal itu sesuai dengan yang beliau sampaikan. Ketika memasuki Sumatera Utara, kami langsung disambut oleh jalan yang sempit, dan arus lalu lintas yang padat.

 

Kutacane

Gunung Sinabung yang dilihat dari Berastagi

 

Dalam perjalanan menuju Kota Singkil, Pak Samsul, salah seorang sopir kami berhenti untuk istirahat di sebuah warung yang ada di Kota Subulussalam, Aceh yang terletak dekat dengan gapura perbatasan Sumatera Utara dan Aceh. Di seberang warung terdapat sebuah kolam penampungan air yang biasa digunakan para sopir untuk mencuci mobil, motor, atau truk mereka sebelum memasuki Kota Subulussalam, Aceh. Si sopir cukup memasukkan uang di kotak yang telah disediakan. Tidak ada nominal pasti. Seikhlasnya seusai keinginan si sopir.

“Sebelum memasuki Aceh, mobil kita mesti bersih dari debu dan kotoran yang terbawa dari Medan.” Kelakar Pak Samsul.

 

Sambil menunggu mobil dicuci, aku memesan kopi di sebuah warung tersebut. Aku terlibat obrolan santai dengan seorang sopir truk pembawa minyak kelapa sawit mentah yang kebetulan sedang makan. Sopir truk yang mengetahui aku dari Jakarta, dia mulai cerita tentang banyak hal. Mulai lambatnya pembangunan di Sumatera Utara, kualitas jalan yang buruk, hingga semakin mahalnya harga pokok. Sedangkan penghasilannya tidak mengalami kenaikan. Bahkan terkadang mesti nombok untuk operasional truknya. Sopir yang berasal dari Sibolga ini bercerita dengan sangat bersemangat, mungkin malah terdengar seperti orang marah-marah. Dia bilang jika logatnya memang seperti itu, terdengar seperti orang yang marah-marah. Aku hanya mendengarkan dan memperhatikan dia bercerita. Seperti biasa, aku lupa menanyakan namanya. Setelah mobil selesai dicuci, aku pamit meninggalkan sopir truk tersebut.

Baca Juga: Sepotong Cerita dari Katingan

 

Saat itu di Aceh dan Sumatera Utara sedang musim durian. Banyak penjual jualan di sepangjang jalan. Bisa dibilang hampir setiap hari aku bisa makan durian. Dalam perjalanan menuju Kutacane, kami berhenti di lapak seorang pedagang durian. Pedagang itu menjual durian yang berasal dari kebun duriannya yang berada di belakang lapaknya. Kami membeli 9 buah durian yang dijual dengan harga Rp150.000. Meski ukurannya tidak terlalu besar, namun rasanya sangat lezat dan tidak mengecewakan. Temanku yang tidak suka durian hanya bisa melihat kami yang makna durian dengan lahap. Kami puas dengan durian yang disajikan. Tentunya juga merasa senang karena bisa membantu perekonomian warga sekitar.

 

Kutacane

Pesta durian dalam perjalanan menuju Kutacane

 

Perjalanan dari Sidikalang menuju Kabanjahe melewati jalan perbukitan yang masih hijau dan asri. Jalanan saat itu sangat sepi, dan berkelok-kelok dengan udara segar. Aku membuka jendela mobil agar udara segar masuk ke dalam. Sesekali terlihat Danau Toba. Biru dan seolah-olah menyapaku untuk singgah. Aah, ini bukan waktu yang tepat untuk singgah. Mungkin lain waktu aku singgah. Pemandangan sepanjang perjalanan sangat teduh, namun kami tidak bisa berhenti untuk menikmatinya. Di jalan juga banyak rumah makan yang menjual Babi Panggang Karo (BPK). Menu makanan dengan bahan daging babi ini sangat terkenal, khususnya bagi masyarakat Batak dan Karo.

 

Dari Kabanjahe, perjalanan menuju Kutacane masih memerlukan waktu sekitar 3-4 jam perjalanan.  Jalan yang akan dilewati merupakan jalan yang berkelok-kelok melewati deretan pegunungan. Dalam perjalan itu, aku bisa melihat aktivitas Gunung Sinabung yang sedang erupsi. Erupsi Gunung Sinabung bisa dibilang sangat lama. Banyak warga masyarakat mesti dievakuasi dan hidup di tempat penampungan.

 

Kami tiba di Kutacane pada petang hari. Kedatangan kami langsung disambut udara dingin dan rintik hujan. Kami mesti mengecek lokasi yang akan kami gunakan untuk keesokan harinya. Banyak pilihan penginapan yang bisa kami gunakan untuk menginap. Tentu saja kami mencari penginapan yang dekat dengan pusat kota dan tempat makan. Rencana kami berada di Kutacane selama dua hari. Tidak lama, tapi ini kesempatan untuk mengenal sebuah kota.

Kutacane dan Perjalanan yang Singkat (Bagian 2-Habis)

You may also like

24 comments

Ina April 20, 2020 - 3:24 pm

Aku baru asik membaca, kok udah abis aja?!
Kentaang… 🙁 dan aku jadi kepengen durian kan… huft. Di Jepara kemarin, mana ada 150ribu dapet 9 buah 🙁 100ribu dpt 3 :”
Gitu aja aku udah seneng.
Bagian 2nya ditunggu…

Reply
Rivai Hidayat April 22, 2020 - 1:24 am

Sengaja, biar ga terlalu panjang bacanya.
Rasanya kamu mesti coba durian sumatera. Dijamin ketagihan.

Reply
Ina April 22, 2020 - 1:50 am

Durian Sumatera pernah, kalo papa (papanya temanku) pulang dari sana pasti bawa durian itu.
Cuma dah di tupperware jadi kurang sensasi makan langsungnya,
rasanya enak. Apalagi kalo dibikin tempoyak.
:9

Reply
Rivai Hidayat April 22, 2020 - 3:54 am

durian mah enak makan di tempat. Buka, makan, bayar. Kalau ga enak yaa gausah bayar. Biasanya begitu, ada kesepakatan terlebih dahulu jika durian yang dimakan kurang enak, pembeli tidak perlu membayarnya.
Aah tempoyak, pertama kali makan rasanya cukup aneh. tapi bikin penasaran 😀

Reply
Wisnu Tri April 23, 2020 - 3:48 am

Itu ibarat jalanan Purworejo dan Jogja sih. Purworejo itu jalan sempit dan agak bergelombang, sementara pas sampai perbatasan Jogja, jalanan lebar dan halus mulus. *sedih*

Dibayanganku, nyuci mobil di deket warung kopi itu kaya “ritual” wajib yang harus dilakukan sebelum masuk Aceh. Hahaha

Reply
Rivai Hidayat April 23, 2020 - 3:13 pm

Aku pernah lewati jalur purworejo-jogja. Sangat bergelombang. Jadi yaa mesti berhati-hati lewat sana 😀

Kata sopir kami seperti itu. biasa dilakukan, Khususnya bagi orang aceh yang akan memasuki provinsi mereka

Reply
Nasirullah Sitam April 21, 2020 - 7:54 am

Jangan-jangan mau ke TN Gunung Leuser heeeeeee.
Aku tahu Kutacane itu semacam gerbangnya ke Taman Nasional tersebut.

Reply
Rivai Hidayat April 22, 2020 - 1:22 am

tidak ke gunung leuser mas, cuma singgah sebentar. Kemudian melanjutkan perjalanan lagi

Reply
Si Klimis April 22, 2020 - 1:16 am

Owalah Kutacane ternyata ibu kota Kabupaten Aceh Tenggara, ada wisata apa aja nih yg keren di Kutacane?

Reply
Rivai Hidayat April 22, 2020 - 1:21 am

aceh tenggara itu perbatasan dengan sumatera utara. Banyak wisata alam yang ada di Kutacane

Reply
Rudi Chandra April 22, 2020 - 10:31 am

Jalanan Sumatera utara sama Aceh emang kerasa banget bedanya Mas, soalnya pembangunan di Sumatera Utara itu tergolong lambat.
Perbedaan kualitas jalanan itu udah jadi candaan yang biasa buat anak-anak touring sumut kalo lagi ke Aceh.

Reply
Rivai Hidayat April 23, 2020 - 2:17 am

Apalagi setelah tsunami, jalan di aceh lebih lebar dan bagus. Candaan jalan di aceh dan sumut sepertinya sudah berkembang sejak lama yaa mas.
Apalagi untuk anak-anak touring yang sering melakukan perjalanan jauh 😀

Reply
Himawan Sant April 23, 2020 - 1:44 pm

Menarik dibaca kisah perjalanannya ke Kutacane..
Siap ditunggu part 2 nya

Reply
Rivai Hidayat April 24, 2020 - 2:41 pm

Makasih sudah singgah mas. Sebentar lahi diupdate kelanjutannya 😀

Reply
Fanny_dcatqueen April 22, 2020 - 3:50 pm

18 thn pernah tinggal di Lhokseumawe Aceh Utara, jujurnya aku blm prnh ke Kutacane, walopun tau tempatnya. Temen2ku banyak yg asalnya dr Kutacane, dan sedihnya banyak juga yg meninggal pas tsunami :(.

Padahal dulu sempet janji, kalo aku bakal main2 ke sana pas liburan. Ga bisa ditepati malah sampe skr….

Sebelum tsunami , jalanan Aceh seingetku ga terlalu bagus jg. Tp setelah tsunami jd haluuuuus Krn dibangun Ama NGO yg banyak DTG. Aku Ama adikku jg sering becanda, kalo sdg mudik ke medan, kalo jalanan jelek, berarti msh area Sumut :p.

Jadi kangen banget Ama Aceh. Udh terlalu lama aku ga prnh balik ksana. Sbnrnya Krn msh sedih tiap kali inget temen2 yg meninggal Krn tsunami sih. Makanya aku jrg mau ke Aceh LG.

Reply
Rivai Hidayat April 23, 2020 - 2:15 am

Turut berduka untuk teman-temannya mbak 🙁
bahkan dalam perjalanan di sekitar aceh besar dan aceh jaya, aku bisa melihat jalan lama dan jalan baru yang dibangun setelah tsunami. Jalannya lebih bagus dan lebar dari jalan lama. Mungkin candaan tentang jalan di Aceh dan Sumut memang sudah berkembang lama yaa mbak.

Semoga bisa balik ke aceh mbak, dan tetap baik-baik saja ketika berada di sana 🙂

Reply
CREAMENO April 25, 2020 - 2:32 pm

Kalau dengar nama Kutacane, saya jadi ingat teman saya semasa sekolah dulu yang pindah dari Aceh ke Jakarta akibat tsunami di sana. Teman saya kebetulan salah satu korban selamat, dan saya ingat betul dia sering bilang kalau dia dari Kutacane sampai saya hapal dan familiar dengan nama Kutacane ini (padahal dulu pertama kali dengar Kutacane serasa aneh namanya) :”D

Saya pribadi belum pernah ke Aceh, dan selalu ingin pergi ke Aceh ~ mungkin one day bisa ke sana, karena ada beberapa makanan Aceh yang saya suka meski makannya sih di Jakarta bukan di Aceh sana :)) by the way, ditunggu cerita perjalanan bagian 2-nya mas 😀

Reply
Rivai Hidayat April 26, 2020 - 3:49 am

Kutacane yang terletak di dataran tinggi sebetulnya tidak termasuk wilayah yang terkena dampak tsunami. Nama kutacane memang belum banyak yang tahu mbak 😀
Banyak temanku ke aceh malah via Kuala lumpur, soalnya tiket dari jakarta-aceh via kuala lumpur lebih murah dibandingkan dengan tiket langsung jakarta-aceh.

Semoga bisa ke aceh suatu saat nanti . bisa menikmati kopi dan makanan khas sana. Jangan lupa makan indomie di aceh. indomie di sana beda banget dengan indomie di Jawa. Indomie di sana diolah dengan bumbu khas aceh. 😀

Reply
morishige April 26, 2020 - 3:58 pm

Seru banget perjalanannya, Masvay. Seringnya, jalur-jalur pegunungan seperti ini ngasih pemandangan dan pengalaman yang lebih berkesan ketimbang lewat jalur-jalur utama. Tapi, kalau naik kendaraan umum, kayaknya jadi jauh lebih lama perjalanannya karena ngeteng dari satu kota ke kota lain.

Btw, gimana rasanya mampir ke Sidikalang yang kopinya tenar itu, Masvay? Selalu terbayang Sidikalang kah setiap kali menyeruput secangkir kopi Sidikalang panas? 🙂

Reply
Rivai Hidayat April 27, 2020 - 2:51 pm

jalur kutacane itu jalur yang jarang dilewati mas. Rata-rata lewat jalur lhoksuemawe yang lebih bersahabat. Jalur yang kami lewati benar-benar sepi, tapi sangat seru dan menyenangkan. Kalau punya waktu lama, untuk ngeteng bisa jadi pilihan yang menarik untuk sebuah perjalanan 😀

Bener banget mas, sidikalang juga terkenal dengan kopi. khususnya arabika. Pernah dapat kiriman dari kawan yang di sidikalang.

Reply
Deny Oey April 29, 2020 - 5:36 am

Kirain kutacabe dimana, ternyata di Aceh. Cerita perjalanan yg menarik, terutama soal pemandangan selama perjalanannya yg aduhai..

Reply
Rivai Hidayat May 1, 2020 - 8:09 am

Terima kasih mas sudah singgah ke sini 🙂

Reply
Nunik Utami May 5, 2020 - 8:26 am

Belum pernah ke Aceh. Baca ini jadi makin pengen jalan2 ke sana. Liat2 Mseum Tsunami, dan tentunya makan duren 😀

Reply
Rivai Hidayat May 7, 2020 - 3:44 am

Dan tentu saja jangan lupa minum kopi dan makan mie aceh mbak

Reply

Leave a Comment