Jip Wisata di Tebing Breksi

by Rivai Hidayat

Pak Anas sudah bersiap di belakang kemudi mobil miliknya. Mobil jenis jip ini akan membawa kami menuju beberapa lokasi yang berada di sekitar kawasan Tebing Breksi. Tebing Breksi merupakan bekas area pertambangan batu kapur. Batuan yang berada di area ini merupakan batuan yang berasal dari aktivitas vulkanis Gunung Api Purba Nglanggeran.

Kegiatan penambangan di Tebing Breksi dilakukan oleh warga sekitar tebing. Hasil tambang biasa digunakan untuk warga sebagai bahan dekorasi bangunan. Sejak tahun 2015, Tebing Breksi ditetapkan sebagai destinasi wisata oleh Gubernur D.I. Yogyakarta. Berbagai fasilitas dan jasa disediakan demi kenyamanan pengunjung. Salah satunya adalah jasa jip wisata. Jip wisata menawarkan pengalaman seru kepada pengunjung untuk berkeliling kawasan Tebing Breksi dan sekitarnya.

Spot Riyadi

Rombongan mobil jip melaju pelan menuju Spot Riyadi yang menjadi tujuan pertama kami. Spot Riyadi merupakan tempat untuk menikmati pemandangan Candi Prambanan dengan latar Gunung Merapi, khususnya di pagi hari ketika matahari terbit. Pada awalnya Spot Riyadi hanya berupa halaman depan rumah seorang warga.

tebing breksi
Spot Riyadi

Nama Riyadi diambil dari nama pemilik halaman rumah tersebut, yaitu Bapak Riyadi. Pemberian nama ini memberi kemudahan bagi siapa saja yang ingin berkunjung dan menikmati suasana pagi di tempat ini. Seiring berjalannya waktu, spot ini mulai dikenal oleh banyak orang dan menjadi salah satu tempat terbaik untuk menikmati matahari terbit dan suasana pagi di Sleman dan sekitar Kota Jogja. Saat ini Spot Riyadi telah dilengkapi dengan warung makan, area foto, dan tempat yang nyaman bagi pengunjung. Bisa dibilang Pak Riyadi merupakan orang yang beruntung karena memiliki pemandangan bagus di halaman depan rumahnya.

Pemandangan dari Spot Riyadi

Candi Barong

Roda jip mobil Pak Anas melaju di jalanan desa yang tidak begitu lebar. Beberapa rumah Joglo terlihat dalam perjalanan ini. Sebuah jalan terjal berhasil dilewati dan berhentilah kami di depan kompleks Candi Barong. Candi Barong diperkirakan dibangun pada  abad ke-9 dan ke-10 Masehi. Candi Barong merupakan candi bercorak agama Hindu dan dikenal sebagai peninggalan peradaban Kerajaan Medang atau Mataram Kuno. Letaknya di Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan atau sekitar 2 km sebelah barat laut dari kawasan Tebing Breksi.

Candi Barong

Menurut Mas Danu, seorang guide yang menemani kami, mengatakan bahwa nama Barong diberikan karena terdapat hiasan kala di bagian candi yang menyerupai barongan. Bentuk Candi Barong menyerupai punden berundak dan menghadap ke arah barat.
Baca Juga: Lebaran di Putussibau

Kami memasuki area candi dan menuju teras bagian atas. Sebelum tiba di teras atas, kami akan melewati gerbang paduraksa kecil yang mengapit tangga naik. Di teras atas terdapat dua bangunan candi pemujaan yang ditujukan kepada Dewa Wisnu dan Dewi Sri. Teras atas memiliki ukuran yang cukup luas.

Dewa Wisnu dikenal Dewa Pemelihara, satu dari tiga dewa yang dikenal sebagai Trimurti (Dewa Wisnu, Dewa Brahma, dan Dewa Siwa) dalam kepercayaan umat Hindu. Sedangkan Dewi Sri dikenal sebagai dewi padi yang memberikan kesuburan. “Candi bercorak Hindu memiliki ciri khas bentuk atap candi yang berbentuk kerucut. Salah satunya adalah Candi Barong ini,” kata Mas Danu.

Candi Banyunibo

Perjalanan jip wisata berlanjut menuju Candi Banyunibo yang berada di sebelah barat daya Candi Barong. Dalam perjalanan tersebut kami disuguhi pemandangan berupa lapisan batuan hasil aktivitas vulkanik yang menjulang tinggi seperti tebing. Keberadaan batuan ini terus dijaga. Masyarakat dilarang untuk menambangnya. Tebing batuan ini sangat berguna untuk menahan longsor dan tempat tumbuh pohon-pohon berukuran besar.

Candi Banyunibo

Mas Anas memarkirkan mobil miliknya tepat di seberang pintu masuk Candi Banyunibo. Kami mesti melewati sebuah jembatan kecil untuk bisa masuk ke area Candi Banyunibo. Candi Banyunibo diperkirakan dibangun pada abad ke-9, pada masa Kerajaan Medang atau Mataram Kuno. Bagian atas yang berbentuk stupa menjadi ciri khas candi bercorak agama Buddha. Candi ini merupakan candi induk dan memiliki enam candi pendamping (perwara) yang telah runtuh. Selain itu, juga terdapat beberapa arca lembu yang terletak di sekitar candi perwara.
Baca Juga: (Gagal) Arung Jeram di Pesona Garda

tebing breksi
Mendengar penjelasan Pak Danu tentang Candi Banyunibo

Dibandingkan dengan candi lainnya yang terletak di daerah perbukitan, Candi Banyunibo terletak di daerah datar. Bahkan di depan candi terdapat sebuah sungai kecil. Di sekitar kompleks Istana Ratu Boko terdapat beberapa candi. Salah satunya adalah Candi Ijo. Candi Ijo merupakan candi tertinggi yang berada di D.I. Yogyakarta. Kata Mas Anas, “Pemandangan di Candi Ijo sangat bagus dan biasa digunakan untuk menikmati matahari terbenam.” Namun, kami tidak singgah di candi tersebut. Kami langsung diarahkan menuju  situs Watu Payung Selo Langit.

Situs Watu Payung Selo Langit

Jalan menanjak nan terjal tentu tidak jadi masalah bagi mobil Mas Anas. Mobil jip berwarna biru ini mampu melibas jalanan tanah berlumpur dengan mudah. Jalanan tanah ini dipilih sebagai rute terakhir sebelum memasuki area situs Watu Payung. Mas Anas tampak berpengalaman melewati jalan ini. Kemampuan mobil dan pengalaman Mas Anas memang tak perlu ditanyakan lagi.

“Naik mobil jip kurang seru kalau belum melewati jalan tanah berlumpur,” kata Mas Anas ketika tiba di area parkir situs Watu Payung.

tebing breksi
Menuju Selo Langit melalui jalan tanah

Situs Watu Payung Selo Langit ini merupakan sebuah area perbukitan. Seperti namanya, di tempat ini terdapat sebuah batu yang berbentuk seperti payung dengan penyangga berupa batu-batu. Watu Payung merupakan tempat yang tepat untuk menikmati pemandangan dari bagian timur Kabupaten Sleman. Selain itu, kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran yang berada di Kabupaten Gunungkidul dan Rowo Jombor di Klaten juga terlihat dari tempat ini.

Shiva Plateau

Selama perjalanan aku penasaran dengan tulisan “Shiva Plateau” yang menempel pada kaca mobil jip. Kemudian aku menanyakan kepada Mas Anas tentang tulisan tersebut, “Mas, Shiva Plateau itu rute yang kita lewati ya?”

“Bukan mas, nama Shiva Plateau itu merupakan koperasi yang menaungi jip wisata di Tebing Breksi. Ketuanya Mas Danu, yang jadi guide di Candi Barong dan Candi Banyunibo tadi,” jawab Mas Anas sambil melajukan mobil

Istilah Shiva Plateau yang aku tanyakan merujuk pada istilah yang dicetuskan oleh seorang arkeolog dan peneliti sejarah, N.J. Krom. Shiva Plateau berasal dari kata Shiva yang berarti Dewa Siwa, dan Plateau yang berarti dataran tinggi. Penamaan Shiva Plateau didasarkan pada penemuan tinggalan budaya agama Hindu, khususnya yang berkaitan dengan pemujaan terhadap Dewa Siwa.

Hal ini ditandai dengan keberadaan candi-candi yang ada di kawasan ini. Seperti Candi Ijo, Candi Barong, Candi Sojiwan, dan masih banyak lagi. Selain itu, juga terdapat beberapa candi Buddha, dan kompleks Istana Ratu Boko. Peninggalan budaya di kawasan Shiva Plateau dibangun pada masa peradaban Mataram Kuno yang pernah berdiri pada abad 8-10 Masehi.

Koperasi Shiva Plateau Tebing Breksi dibentuk untuk mewadahi mobil jip wisata di kawasan Tebing Breksi. Sejak dibuka sebagai destinasi wisata, para penambang dialihkan untuk menjadi pekerja di kawasan Tebing Breksi. Seperti pemahat, pemilik warung, petugas kebersihan, dan penyedia jasa jip wisata. Jip wisata memiliki tiga rute yang ditawarkan kepada para wisatawan. Mulai dari rute pendek, medium, dan jauh. Rute ini berdasarkan jarak dan jumlah destinasi wisata yang dikunjungi. Rute terjauh bisa menghabiskan waktu selama 3-4 jam perjalanan.

Jip wisata ini bisa menjadi pilihan bagi wisatawan untuk menikmati kawasan Tebing Breksi dan sekitarnya. Tidak hanya tentang tebing, dan candi. Namun, juga tentang sejarah, asal usul, filosofi, budaya, adat istiadat yang telah berkembang sejak ribuan tahun silam. Cerita-cerita tentang Shiva Plateau selalu menarik untuk didengarkan. Tidak ada salahnya untuk mencoba menjelajahi Shiva Plateau. Jejak peradaban masa lampau yang terus bertahan di masa kini dengan segala cerita dan misterinya.

Tulisan merupakan hasil dari kegiatan Java Promo
Bantul-Sleman-Gunungkidul-Jogja
2-3 November 2022

You may also like

10 comments

Nasirullah Sitam November 17, 2022 - 8:50 am

Sebagian besar destinasi ini merupakan ruteku pas gowes haahhahaha.
Dulu sering ke Spot Riyadi sebelum dibangun seperti sekarang,

Reply
Rivai Hidayat November 19, 2022 - 11:56 am

rute tanjakannya lumayan mas 😀
tapi pemandangannya emang bagus kok

Reply
Bang Day November 21, 2022 - 4:17 am

Lintasannya dengan kendaraan jip memacu adrenalin ya mas. Pastinya butuh kekuatan fisik

Reply
Rivai Hidayat November 21, 2022 - 7:24 am

betul sekali bang, penuh tantangan jadi lebih bersemangat

Reply
fanny_dcatqueen November 24, 2022 - 2:49 pm

Tebing breksi ini pernah hype bbrp tahun lalu. Trus aku ga sempet denger lagi, karena kemudian Jogja dibanjir tempat2 wisata baru.

Ternyata malah jadi lebih bagus yg breksi Yaa. Pake wisata Jeep segala. Sayang aku baru baca ini telat, kalo ga Agustus kemarin pas ke Jogja bisa tuh kesana .

Jadi suka sih mas ikutan wisata Jeep. Apalagi kalo udaranya lagi adem Yaa. Dengan jalan rusak tapi menantang hahahahah . Next ke Jogja aku masukin ke ITIN ku deh.

Reply
Rivai Hidayat November 26, 2022 - 2:04 pm

Kalau naik jip emang harus lewat jalan rusak mbak fanny. Kalau jalan normal kurang seru dan sensasinya kurang berasa 😀
Tebing breksi dulunya merupakan bekas area tambang mbak. Langsung menarik perhatian dengan tebing-tebingnya. Perkembangan wisata di jogja terbilang sangat cepat. Konsep-konsep baru pun dikembangkan untuk menarik minat wisatawan untuk datang ke jogja

Reply
Penghuni 60 November 25, 2022 - 2:41 am

wah asik ya naik jip wisata, tp bikin deg2an juga kalo jalur jalanannya menantang gitu.

Reply
Rivai Hidayat November 26, 2022 - 2:02 pm

Justru kalau naik jip mesti lewat jalan yang rusak mas. Biar sensasinya lebih terasa

Reply
Moko November 26, 2022 - 9:21 am

Dulu di lokasi tambangnya instagramable banget buat foto itu mas, suasananya kayak di pegunungan kapur di luar negeri……gak tau sekarang spt apa….

Reply
Rivai Hidayat November 26, 2022 - 2:01 pm

Sekarang sangat terawat mas. Banyak pilihan kegiatan yang bisa dilakukan di tebing breksi. Salah satunya wisata jip. Eksplore sekitar tebing dan belahjar tentang candi yang ada di sekitar tebing breksi

Reply

Leave a Comment