Jejak Kaki di Tana Tidung

by Rivai Hidayat

Kami tiba di sebuah rumah yang akan kami tempati selama berada di Kabupaten Tana Tidung. Rumah ini berada di ujung gang di sebuah jalan buntu. Ukuran jalan relatif lebar karena truk sampah datang setiap pagi mengambil sampah di tong sampah yang ada di depan rumah. Rumah ini terbilang luas karena terdiri dari dua kamar tidur, ruang tengah, ruang depan, dapur, ruang belakang, teras, dan tiga kamar mandi. Rumah ini mampu menampung kami yang berjumlah lebih dari 20 orang. Sepuluh orang tidur di kamar, sedangkan sisanya tidur di ruang tengah dan ruang depan.

Di sebelah selatan dan belakang rumah merupakan area perkebunan milik warga. Di sekitar rumah terdapat sebuah kolam dan rumah walet yang memiliki lebar 4-5 meter dan tinggi sekitar 10 meter. Rumah yang kami tempati letaknya sekitar 1.5 km dari Pelabuhan Tideng Pale. Letaknya tidak jauh dari pusat kota, tetapi suasana lingkungan rumah tenang, dan teduh. Di malam hari ruang belakang menjadi tempat kami mengobrol banyak hal. Sedangkan bagian teras rumah biasa menjadi tempat sarapan dan makan malam dengan duduk secara melingkar.
Baca Juga: Menyusuri Sungai Sesayap

Selama berada di Tana Tidung kami memesan makanan–untuk sarapan dan makan malam–di sebuah warung makan yang letaknya dekat dengan kantor bupati. Anak pemilik warung selalu mengantarkan makanan tepat waktu. Saat pagi hari makanan akan diantar pada pukul 06.30-07.00. dan malam hari pada pukul 19.00. Setiap hari menunya selalu berganti, rasanya enak, dan porsi nasinya sangat banyak. Beberapa dari kami sering tidak menghabiskan nasi ketika sarapan karena memang porsinya sangat banyak. Meski menu selalu berganti, tapi ada satu menu yang sering ada di nasi kotak kami, yaitu sayur tumis pakis.

Kabupaten Tana Tidung
Tugu yang ada di alun-alun kota

Makan sayur tumis pakis merupakan pengalaman baru bagi kami. Di Pulau Jawa kami tidak pernah menemukan menu ini.  Di Pulau Kalimantan sayur ini biasa dikonsumsi sehari-hari. Tanaman pakis yang dimakan adalah jenis pakis kebun atau hutan yang mudah ditemukan di kebun-kebun warga. Awalnya aku mengira itu adalah tumis kangkung. Ternyata aku salah. Pada siang hari kami membeli makanan sendiri. Hal itu disebabkan karena pada siang hari biasanya kami berada di lapangan. Aku sering memilih menu ikan. Bagiku, menu ikan di luar Pulau Jawa itu memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan ikan yang berada di sekitar Pulau Jawa.

Asal Usul Tana Tidung

Pada awalnya Kabupaten Tana Tidung masuk dalam Provinsi Kalimantan Timur. Pada Oktober 2012, sebagian wilayah Provinsi Kalimantan Timur mengalami pemekaran menjadi Provinsi Kalimantan Utara. Provinsi baru ini terdiri dari lima kabupaten, yaitu Kabupaten Bulungan, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Tana Tidung, dan Kota Tarakan. Kota Tanjung Selor yang merupakan ibukota provinsi terletak di Kabupaten Bulungan. Bukan Kota Tarakan yang dinilai lebih maju dan modern dibandingkan kota dan kabupaten lainnya. Sedangkan Kabupaten Tana Tidung beribukota di Tideng Pale. Kabupaten ini menjadi kabupaten termuda di antara kabupaten dan kota lainnya di Provinsi Kalimantan Utara.

Kabupaten Tana Tidung
Jalan di sekitar Pelabuhan Tideng Pale

Menurut cerita yang aku dapat dari warga lokal bahwa pada awal pembentukan provinsi ini, Kabupaten Berau ditawari untuk bergabung ke dalam wilayah Kalimantan Utara. Kabupaten Berau dinilai memiliki potensi yang luar biasa dan dinilai mampu memberikan pengaruh pada perkembangan dan kemajuan di Provinsi Kalimantan Utara. Namun, hingga saat ini Kabupaten Berau belum memikirkan tawaran tersebut dan masih tetap menjadi bagian dari Provinsi Kalimantan Timur.
Baca Juga: Lawatan ke Tebing Tinggi

Kabupaten Tana Tidung
Sungai Sesayap dari jalan sekitar kantor bupati

Nama Tanah Tidung berasal dari Afdeeling Tidoengsche Landen yang berarti Wilayah Tanah Tidung. Sedangkan nama Tideng Pale (baca: Tidung Pala) yang merupakan ibukota kabupaten berasal dari dua kata dalam bahasa Tidung, yakni “Tideng” yang berarti gunung, dan “Pale” yang berarti tawar atau hambar. Jika digabung maka bermakna Gunung Hambar. Tideng Pale yang atau gunung pembatas antara air tawar dan air asin. Kantor Bupati Tana Tidung terletak di sebuah perbukitan yang menghadap Sungai Sesayap. Sesuai dengan makna nama Tideng Pale yang menjadi gunung pembatas.

Aktivitas bongkar muat kapal

Di hari keenam semua pekerjaan lapangan sudah selesai kami kerjakan. Beberapa hari ke depan kami akan fokus mengolah dan melengkapi data. Di sela-sela pekerjaan aku membiasakan diri untuk berjalan kaki keliling kota. Baik di waktu pagi hari, maupun sore hari. Pelabuhan Tideng Pale dan lapangan alun-alun kota menjadi tempat yang biasa aku kunjungi ketika berjalan kaki. Alun-alun kota di pagi hari sering digunakan warga untuk lari pagi. Aku dan temanku memilih untuk berjalan kaki keliling lapangan. Suasana kota yang sepi sering jadi pemandangan yang kami temui.

Pelabuhan Tideng Pale

Di sore hari kami biasanya berjalan kaki menuju Pelabuhan Tideng Pale. Pelabuhan ini menjadi tempat yang tepat untuk menikmati sore dan matahari tenggelam. Pelabuhan Tideng Pale menjadi tempat bersandarnya kapal-kapal ekspedisi pembawa logistik. KM Putra Jaya VII sedang melakukan bongkar muat di pelabuhan. Kapal ini mengangkut berbagai barang. Mulai dari bahan sembako, air mineral, peralatan rumah tangga, hingga kendaraan bermotor. Para anak buah kapal bekerja sangat cepat dan efisien. Di dermaga penumpang terdapat sebuah kapal cepat yang sedang dibersihkan oleh dua orang pemuda yang merupakan anak buah kapal tersebut. Kapal ini baru saja membawa penumpang dari Tarakan.

Penumpang yang sedang berjalan di atas tangga dermaga
Kabupaten Tana Tidung
Anak buah kapal yang sedang membersihkan kapal

Pelabuhan Tideng Pale memang tidaklah besar. Hanya ada sebuah dermaga untuk penumpang dan sebuah tangga dari kayu papan sebagai akses jalan penumpang. Halaman pelabuhan masih beralaskan kayu yang di beberapa bagian terlihat lapuk. Sebetulnya ada pelabuhan baru yang dibangun tidak jauh dari pelabuhan ini. Ketika kami ke sana, pelabuhan tampak sepi. Bangunannya megah dengan beton-beton keras yang menopang seluruh bangunan.

Pelabuhan ini juga dilengkapi dengan dermaga, ruang tunggu penumpang, dan kios-kios pedagang. Namun, pelabuhan ini tampak sepi dan pintu terkunci. Tidak ada aktivitas di pelabuhan baru ini. Hanya ada empat pemuda yang sedang duduk di luar pelabuhan dan menikmati suasana sore. Mungkin pemilik kapal dan penumpang lebih suka bersandar di pelabuhan lama. Dalam ketenangan Sungai Sesayap, sebuah perahu milik nelayan melaju lambat menciptakan riak di sekitar perahu.

Senja di Pelabuhan Tideng Pale

Di bagian selatan Kabupaten Tana Tidung berupa daerah perbukitan. Sedangkan sebelah utara berbatasan langsung dengan Sungai Sesayap. Area perbukitan menjadi tempat yang tepat untuk menikmati pemandangan Sungai Sesayap dan area kota. Aku rasa Sungai Sesayap menjadi bagian yang terpisahkan bagi masyarakat Tana Tidung. Aku tidak menyangka bahwa aku telah menjejakkan kakiku di Tana Tidung. Sebuah wilayah yang baru aku ketahui tiga bulan yang lalu.

Cerita dari Tana Tidung
Oktober 2021

You may also like

18 comments

Nasirullah Sitam March 6, 2023 - 8:34 am

Setiap cerita di sini, aku selalu menantikan foto-foto bangunan atau jembatan kayu. Begitu melimpah kayu berkualitas bagus di sini. Jika dibawa ke Jawa, harganya benar-benar mahal

Reply
Rivai Hidayat March 7, 2023 - 3:20 am

Pas disana sering lihat rumah yang menggunakan kayu sebagai bahan utamanya. Rumahnya banyak yang rumah panggung

Reply
Nasirullah Sitam March 13, 2023 - 8:54 am

Benar mas, di sana rumah kayu hal yang biasa dengan kualitas nomor satu.

Reply
Rivai Hidayat March 13, 2023 - 9:01 am

Kayu ulin semakain lama malah semakin bagus

Reply
Heni March 7, 2023 - 4:32 am

Saya malahan kurang tau kalau Tanah Tidung itu di Kalimantan mas..taunya Nunukan dan Tarakan aja krna sering denger
Kalau sayur pakis di tempat saya(Lampung) sih banyak yg jualnya mas di pasar tradisional..memang enak Krenyes”..biasanya di tumis atau di kuah santan…..mlh bahas makan wkwkkk

Reply
Rivai Hidayat March 7, 2023 - 5:32 am

Tarakan dan Nunukan memang jadi dua kota penting di kalimantan utara mbak Heni. Jadi banyak orang yang lebih tahu tentang tarakan dan nunukan dibandingkan tana tidung.
Di jawa tidak ada yang masak pakis mbak heni. Mungkin ada, tapi aku belum pernah ketemu. Paling enak dimasak tumis dan aku pernah dikasih tumis pakis bagian temanku 😀

Reply
Nuhid Santai March 7, 2023 - 7:01 am

Saya beberapa kali dengar ada provinsi baru. Ternyata Kalimantan Utara salah satu provinsi barunya.

Itu kok sayang sekali ya pelabuhannya gak digunakaan. Padahal fasilitasnya sudah mumpuni. Malah dermaga kecil dengan kayu lapuk yang justru ramai. Itukah proyek salah sasaran .

Serius dah saya jadi penasaran dengan tujuan masvay ke tanah tidung yang katanya ada sebuah pekerjaan, pekerjaan apakah itu?

Reply
Rivai Hidayat March 9, 2023 - 4:06 am

Mungkin warganya masih terbiasa dengan pelabuhan lama yang letaknya dekat dengan kota. Walaupun sebetulnya pelabuhan baru juga tidak jauh dari kota. Memang penggunaannya belum maksimal.

Yaa pas ke sana ada yang dikerjakan kok mas nuhid 😀

Reply
rezkypratama March 8, 2023 - 10:29 am

kalimantan timur ini saya belum pernah kunjungi
saya pernahnya hidup di pontianak

Reply
Rivai Hidayat March 9, 2023 - 4:03 am

Tana Tidung dulu ikut kalimantan timur, kemudian terjadi pemekaran dan akhirnya masuk dalam wilayah kalimantan utara.

Reply
Nursini Rais March 8, 2023 - 1:52 pm

Kapan ya, saya bisa ke sana.

Reply
Rivai Hidayat March 9, 2023 - 4:01 am

Semoga suatu saat bisa ke tempat yang diinginkan.

Reply
Amirul Faozi March 12, 2023 - 12:34 am

tugu di alun-alun bentuknya sangat unik

Reply
Rivai Hidayat March 12, 2023 - 12:55 pm

bener mas, bentuknya unik

Reply
fanny_dcatqueen March 16, 2023 - 8:21 pm

Kalo di sumatera, daun pakis juga kayak sayuran sehari2, tapi paling sering digulai hijau mas. Bikin yg pedes, pake udang . Manteeep hahahahah. Susah dapat daun pakis di JKT. Makanya kdg aku suka minta mama kirimin. Atau sekalian masakin kalo akunya sedang mudik ke Medan

Penasaran juga kalo ditumis. Agak ga kebayang Krn kalo tumis kan berarti tanpa kuah. Sementara aku bayangin daun pakis agak berserat, jadi kalo ga pake kuah bakal seret ngunyahnya

Reply
Rivai Hidayat March 21, 2023 - 10:46 pm

Di semarang pun juga belum pernah ketemu pakis mbak. Saat itu hanya ditumis, belum coba kalau digulai. Jadi pengen makan pakis lagi 😀

Reply
ainun March 23, 2023 - 2:14 pm

berarti pakis yang dimaksud bukan kayak pakis yang di jawa, yang melungker-melungker ya
kalau tinggal di kawasan yang dekat dengan laut seperti ini , aktivitas sore hari paling asik kalau jalan-jalan dan menikmati sunset di sekitar pelabuhan . Plus nya lagi sambil ngeliat aktivitas warga lokalnya

Reply
Rivai Hidayat March 27, 2023 - 3:59 pm

Bukan mbak ainun. Beda dengan pakis yang di jawa
Hampir tiap sore kalau ada waktu kosong selalu menyempatkan diri untuk berjalan kaki keliling kota

Reply

Leave a Comment