Jalur Lintas Barat Aceh

by Rivai Hidayat
Jalur lintas Barat Aceh

Setelah berlayar selama 15 jam, akhirnya kapal bersandar di Pelabuhan Meulaboh, Kota Meulaboh. Kota ini berada di jalur lintas barat Aceh. Pagi itu langit masih terlihat mendung. Jarum jam baru menunjukkan pukul 06:15. Masih sangat pagi, tapi kesibukan di pelabuhan ini sudah terlihat. Ini adalah pelayaran pertama semenjak penutupan jalur pelayaran dari atau menuju Pulau Sinabang karena cuaca buruk. Pagi itu ombak di sekitar dermaga cukup tinggi. Kapal sempat mengalami kesulitan untuk bersandar.

Pelabuhan Meulaboh ini merupakan pelabuhan pengganti dari pelabuhan lama yang hancur diterjang gelombang tsunami pada tahun 2004 silam. Sambil menunggu mobil keluar dari kapal, aku dan temanku menunggu di sebuah gubuk warung untuk menyeduh teh hangat. Menikmati suasana pagi dan hembusan angin laut. Keluar dari pelabuhan, kami akan langsung menyusuri jalur lintas barat Aceh.

Kami memulai perjalanan menuju Calang, Kabupaten Aceh Jaya untuk bertemu dengan tim yang lainnya. Perjalanan akan menghabiskan waktu selama dua jam. Jalur lintas barat Aceh ini menghubungkan Kota Banda Aceh dan Meulaboh. Kemudian menyambung hingga Kota Medan di Sumatera Utara. Jalur lintas barat Aceh tidak seramai jalur lintas timur. Waktu tempuh dari Banda Aceh menuju Medan melalui jalur timur lebih cepat dibandingkan melalui jalur barat. Namun, jalur lintas barat Aceh menawarkan pemandangan pantai barat Aceh.
Baca Juga: Desa di Ujung Pulau Sinabang

Roda mobil mulai melewati jalan menanjak. Jalan yang dipenuhi dengan batas hutan dan tebing di sisi kanan, dan hamparan laut dan garis pantai di sisi kiri jalan. Kami telah tiba di jalur Gunung Geurutee. Jalannya cukup sempit, hanya dua lajur. Tapi jalan ini dipenuhi dengan truk pembawa minyak sawit mentah yang akan dikirim ke Medan. Dibutuhkan kewaspadaan yang ekstra ketika melintasi jalur ini.

Pak Agus, sopir kami, menepikan mobilnya di salah satu warung tenda yang ada di tepi jalan. Pak Agus menyarankan kami untuk beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan berupa pantai beserta deburan ombaknya dan beberapa pulau yang terlihat dari gunung Geurutee. Ada beberapa warung tenda yang berdiri di sepanjang jalan ini. Menu yang ditawarkan hampir sama semua, yaitu mie instan. Seperti yang aku temui di Banda Aceh, mie instan di sini juga dihidangkan menggunakan bumbu khas Aceh. Rasanya memang lebih spesial, dibandingkan mie instan yang disajikan dengan cara yang biasa.

Rombongan kerbau melintas di jalanan

Selain pemandangan dari Gunung Geurutee, yang khas dari jalur lintas barat Aceh ini adalah banyaknya hewan ternak yang berkeliaran di jalan raya. Tidak hanya satu atau dua hewan. Tapi satu rombongan yang berisi belasan hingga puluhan ekor. Baik itu kambing, kerbau, maupun sapi. Jangan pernah terpengaruh untuk memacu kendaraan dengan kencang ketika melihat jalan lintas barat Aceh yang sepi dan lebar ini. Tetap waspada dan hati-hati, karena hewan-hewan ini sering tiba-tiba melintas di jalan raya.

Di beberapa ruas jalan ada rambu yang berisi peringatan banyak hewan yang melintas. Hewan ini juga tidak terpengaruh dengan kendaraan yang melintas. Sudah terbiasa. Bahkan banyak kendaraan memilih untuk berhenti dan menunggu mereka melintas terlebih dahulu. Mereka melintas bagaikan para model yang berjalan di catwalk.

Rambu Peringatan Hewan Melintas

Banyak warung makan yang bisa ditemui selepas melewati Gunung Geurutee. Warung makan itu terlihat biasa saja seperti warung makan biasanya. Namun setelah mendekat area warung, akan terlihat beberapa menu spesial yang ada di warung tersebut. Salah satunya adalah menu ikan hiu muda. Iya, ikan hiu muda. Beberapa jenis ikan hiu tergolong dalam hewan yang langka dan dilindungi. Belum lagi ikan hiu juga tidak bagus untuk kesehatan apabila dikonsumsi. Meskipun penasaran, aku tetap mengurungkan niat untuk mengonsumsi ikan hiu. Lagi pula banyak ikan laut yang lebih layak dikonsumsi. Ketika berada di Aceh, aku malah lebih sering mengonsumsi ikan dibandingkan daging. Kualitas ikan di Aceh lebih bagus dibandingkan ikan yang dijual di Pulau Jawa.
Baca Juga: Cerita dari Masjid Baiturrahman

Sudah pasti lelah, tapi aku sangat menikmati perjalanan ini. Banyak hal unik yang aku temui sepanjang perjalanan menyusuri jalur lintas barat Aceh. Perjalanan panjang ini yang menyenangkan ini akhirnya berakhir di atas ranjang sebuah penginapan di Kota Banda Aceh. Selang tak berapa lama aku menerima kabar dari kamu.

Kalau kalian punya pengalaman unik tentang road trip seperti apa?

Aceh, September-Oktober 2017

You may also like

22 comments

Rudi Chandra October 31, 2020 - 12:06 pm

Jalan lintas barat Aceh ini katanya emang mempesona, karena hampir sepanjang jalan bisa liat pantai, di daerah Tapak Tuan juga bisa liat tapak kaki raksasa di pinggir pantainya.

Reply
Rivai Hidayat October 31, 2020 - 12:20 pm

Benar sekali mas. Sepanjang jalan pemandangannya pantai dan jalanannya tidak membosankan 😀
saat itu aku tidak lewat tapak tuan. Dari singkil kemudian balik kutacane. kemudian ke nagan raya dan lanjut ke labuhan haji

Reply
CREAMENO October 31, 2020 - 1:26 pm

Waaaahhhh seru yaaah 😀

Saya paling suka jalan di pesisir pantai, apalagi bisa lihat langsung dari mobil hihihi, sayangnya di Bali nggak ada yang begitu, palingan hanya Tol Mandara 😛

By the way, bagaimana kira-kira rasanya ikan hiu, hiiii bayangkannya saja takuttt. Padahal ada banyak ikan yang lebih enak untuk dimakan, ikan Gurame misalnya 😀 hahahahaha. Eniho, ini~kah post yang mas maksud sebagai post lama yang ditulis ulang? 😀

Reply
Rivai Hidayat November 1, 2020 - 1:31 am

Lumayanlah tol mandara, daripada tidak ada sama sekali..hhahahha
Dagingnya lembut. Mungkin saat itu sedang penasaran. dagiing ikan hiu tidak mudah ditemui di pulau jawa. Jadi ketika ketemu makanan unik, yaa jadinya penasaran. Ikan laut di luar pulau jawa begitu menggoda mbak eno 😀

Bukan mbak eno, ini memang cerita tahun 2017. Belum pernah aku tulis. 😀

Reply
Eya October 31, 2020 - 1:52 pm

Ngomongin pelabuhan di Aceh jadi inget waktu nonton film The Man From The Sea, di situ dilihatin ada bangkai kapal besar di kota, katanya kapal yang terseret tsunami. Pas lihat antara takjub dan sedih sih, ga kebayang gimana keadaannya pas itu.

Saking banyaknya hewan yang jalan-jalan di jalanan raya sampai ada rambu khususnya sendiri yaa? Keren juga, buat pengingat supaya tetap hati-hati dan ga ngebut walaupun jalanan sepi

Btw aku pernah makan daging ikan hiu sekali-kalinya pas acara makan-makan sama orang kantor. Terus ga lama abis itu baca kalo ikan hiu ga seharusnya dimakan dan termasuk ikan yang dilindungi, ya ampun langsung nyeseeeell banget rasanya :(( sekarang udah tau jadi bakal menolak kalo ada hidangan ikan hiu, betul Mas Rivai, masih banyak ikan lain yang bisa dimakan kok..

Reply
Rivai Hidayat November 1, 2020 - 4:59 am

Kalau kapal yang terseret karena tsunami ada di kota banda aceh. Kapal PLTD apung yang berfungsi sebagai pembangkit listrik. sekarang kapal dijadikan sebagai museum. Dulu kapal itu terseret sejauh 5km dari bibir pantai.

Soalnya di jalan tersebut banyak hewan melintas. Seringkali terjadi kecelakaan yang disebabkan oleh hewan-hewan tersebut.
Ikan hiu itu malah makan ikan-ikan kecil. Jika ikan hiu dikonsumsi, maka akan terjadi gangguan pada rantai makanan di ekosistem laut. Belum lagi mitos-mitos yang berhubungan dengan khasiat ikan hiu tidak ada yang benar. Ikan laut di indonesia itu sangat enak 😀

Reply
Fanny_dcatqueen November 2, 2020 - 3:22 pm

Ikan hiu muda itu memang sering dikonsumsi Ama orang2 Sumatra. Bahkan di kampungku juga. Mau ga mau aku udh sering nyobain kuliner itu mas. Di masak gulai biasanya. Skr sih, jujurnya aku kurangjn banget makan ini sjk tau memang ini sebaiknya ga dimakan. Lagian di rumahku yg JKT g ada yg bisa masak kuliner itu hahahahaha. Rempahnya ampuuuun banyak bgt. Apalagi hiu nya susah.

Tapi stiap aku balik ke Medan, mama pasti bikin. Dan ga mungkin aku ga makan. Apalagi rasanya memang enak bgt. Tp ya itu, aku kurangin laah. Ga stiap sat jg mau makan beginj.

Aku blm prnh lintas barat nih . Slalunya lintas timur kalo ke Medan dari Aceh. Pengen jg kapan2 lewat sana. Percaya sih pasti bakal cakep view-nya.

Kemarin aku baru balik road trip ke solo dan Jogja. Pake tol baru itu mas :D. Gilaa cepeeet yaaaa. Tapi ngntuk saking lurusnyaaa hahahahha. Pak suami hrs diwanti2 juga supaya ga bosen. Cm pas pulangnya rada macet, walo ttp aja sih LBH cepet. Setidaknya msh 7 jam solo Jakarta. Normalnya 6 jam kan.

Reply
Rivai Hidayat November 3, 2020 - 9:25 am

Bener mbak fany. Aku juga ketemu beberapa warung makan yang menjual daging ikan hiu muda. Kalau di jawa memang sulit ditemui yang menjual itu. Selain dilarang, harganya pasti juga mahal. Bumbu gulainya memang sangat khas banget…hahhahaha

Jalur lintas timur memang jalur yang biasa digunakan mbak. Jalur utama Banda aceh-medan. Kalau lewat jalur barat lebih jauh, memutar, dan kualitas jalannya tidak sebagus jalur timur. Terutama jalur yang masuk daerah sumatera utara..hehhehe

Iyaa cepat banget. Kalau aku balik dari bekasi ke semarang biasa naik bus dengan rute full tol. Eh tahu-tahu sudah sampai di semarang..hahhaa
pemandangan tol semarang-solo bagus khan mbak…? Bisa menikmati pemandangan gunung merbabu..hahhaha

Reply
Agus Warteg November 2, 2020 - 11:56 pm

Wow, aku yang jadi sopirnya ya mas rivay.

Ternyata di Aceh masih banyak hewan ternak yang berkeliaran di pinggir jalan ya, mungkin karena tempatnya luas jadinya dibiarkan saja. Disini juga sama masih banyak kerbau atau kambing berkeliaran tapi paling hanya 5-8 ekor saja, ada sih yang nyampai puluhan ekor tapi agak jauhan.

Ada juga menu daging ikan hiu, rasanya gimana ya? Kalo ikan bandeng atau mujaer atau lele disini banyak, begitu juga ikan kembung, tongkol tapi kalo hiu tak ada.

Reply
Rivai Hidayat November 3, 2020 - 7:00 am

Pasti lahirnya bulan agustus 😀
Banyak mas, di pinggiran kota banda aceh juga masih ada hewan peliharaan yang berkeliaran. Saking banyaknya, hewan-hewan yang berkeliaran juga diatur dalam aturan daerah.

Dagingnya enak mas. tapi sebenarnya itu ga bagus untuk dikonsumsi juga. lebih baik konsumsi ikan yang biasa dikonsumsi aja mas. lebih aman..hehhee

Reply
Nasirullah Sitam November 3, 2020 - 12:30 am

Menarik ini mas, plangnya itu loh ikonik sekali hahahahah.
Cuaca laut memang sudah diprediksi, kadang ombak besar datang sewaktu-waktu. Orang pantai hanya ingat misalkan awal tahun atau akhir tahun biasanya ombak, atau pertengahan tahun ada ombak juga. Tapi ini menjadi perjalanan yang menyenangkan

Reply
Rivai Hidayat November 3, 2020 - 6:46 am

Makasih mas sitam 😀
itu plang yang sulit ditemui kalau di pulau jawa..hahahaha
Benar sekali sih, laut memang sulit untuk diprediksi. Ketika ketemu ombak yang luamyan besar merasa takut juga. Tapi tetap suka melakukan perjalanan melalui laut 😀

Reply
Lia The Dreamer November 3, 2020 - 7:14 am

Saking masih menyatu dengan alam, sampai-sampai masih banyak hewan yang asik berlenggang di jalan raya ya, bahkan sampai ada rambunya! Hahaha. Baru pertama kali aku lihat rambu awas hati-hati ada hewan seperti itu.
Aku baru tahu kalau ikan hiu kurang bagus dikonsumsi, aku pikir banyak yang makan ikan hiu karena bagus untuk tubuh. Tapi aku pribadi kurang tertarik untuk mencoba, lebih ke “kasihan” dan aku tahu banyak jenis hiu yang dilindungi karena langka, jadi aku juga nggak ingin makan ikan hiu, seperti Kak Rivai juga 🙂
Anyway, pemandangannya bagus! Kalau sore pasti cantik sekaliii <3

Reply
Rivai Hidayat November 3, 2020 - 10:14 am

Rambu yang sulit ditemukan di daerah pulau jawa..hahahhaa
Soalnya kita sering termakan informasi yang kurang tepat tentang dagin ikan hiu. kita terbiasa mendengar “katanya” yang belum terbukti kebenarannya.
Konsumsi ikan hiu juga bisa merusak rantai makanan pada ekosistem laut 😀

Sepanjang perjalanan akan disuguhi pemandangan pantai dan laut kak 😀

Reply
Indi Sugar November 4, 2020 - 3:19 pm

Ada rambu buat mengingatkan kalau sering ada hewan melintas. Bagus sekali 🙂 Aku sudah lama sih gak jalan-jalan. Aceh ada di bucket list ku. Dan tempat yang buatku berkesan (juga perjalannya) adalah Jogja 🙂

Reply
Rivai Hidayat November 5, 2020 - 4:52 am

tahun ini, banyak orang yang tidak melakukan perjalanan jauh kak indi. Aku termasuk salah satunya..hehhehe
Jogja juga bercerita banyak hal dalam perjalananku ketika di sana. Jogja memeng kota yang bisa menyimpan banyak kenangan bagi orang-orang yang pernah ke sana 🙂
Semoga suatu saat bisa datang ke aceh 😀

Reply
Andrie Kristianto November 4, 2020 - 10:03 pm

Dengan adanya warung dan toko-toko disepanjang jalan, jadi tidak perlu khawatir jika ingin beristirahat atau sekedar makan sebentar mengisi tenaga setelah melakukan perjalanan panjang..

Reply
Rivai Hidayat November 5, 2020 - 4:48 am

Warung-warung ini emang biasa digunakan untuk istirahat dan sekaligus menikmati pemandangan berupa laut dan pantai

Reply
Icha Afriza November 5, 2020 - 8:38 am

Di salah satu daerah yang ada di Makassar juga ada yang seperti ini hewan ternaknya, bahkan kalau tidak sengaja terinjak bahkan sampai metong bakal disuruh ganti sesuai dengan harga di pasaran. Pernah mobil knator harus bayar 25rb karena nabrak ayam mereka wkwkwkwk
Syukurnya ayam gimana kalau Sapi dan lagi di daerah, gak kebayang ngambil duitnya.

Reply
Rivai Hidayat November 7, 2020 - 9:37 am

Kalau di Aceh, yang didenda adalah pemilik hewan peliharaan. Hal itu dikarenakan si pemilik hewan ternak tidak bisa menjaga hewan ternaknya. Bahkan itu sudah tercantum dalam sebuah peraturan daerah.
Pernah ada kejadian, temanku pernah nabrak seekor kambing di jalan. Kambing belum mati, sedangkan kendaraan juga dalam keadaan baik-baik saja. Nah warga sekitar tidak ada yang mengaku sebagai pemilik kambing. Takut kalau dimintai uang untuk mengganti kerusakan mobil. Aturan tiap daerah beda-beda 😀

Reply
Dodo Nugraha November 8, 2020 - 10:38 am

Woow, cukup unik yaa mas. Ada rombongan sapi yang ada di jalan begitu. Aku belum pernah lihat lih 😀

Reply
Rivai Hidayat November 10, 2020 - 10:32 am

Sangat unik. Aku yang hidup di Jawa belum pernah melihat rambu lalu lintas seperti ini 😀

Reply

Leave a Comment