Jalan Panjang Menuju Selimbau

by Rivai Hidayat

Malam semakin larut, saat itu jarum jam sudah menunjukkan pukul 22:30. Sebual mobil minibus masuk area parkir minimarket. Mobil ini akan menggantikan mobil Pak Bayu mengantarkan kami ke Selimbau. Sedangkan Pak Bayu akan kembali ke Pontianak. Setelah semua barang dipindahkan, kami melanjutkan perjalanan. Kami berangkat beriringan dengan mobil lainnya yang akan menuju Selimbau.

Pak Lik, begitulah sopir kami biasa dipanggil oleh rekan-rekan sesama sopir. Pak Lik menyebutkan bahwa dia paling terakhir bergabung ke dalam grup sopir dengan tujuan Selimbau.
“Baru dua tahun bawa taksi Pontianak-Selimbau, Mas.” Ujar Pak Lik mengawali perjalanan kami.
Baca Dulu: Perjalanan Semarang-Pontianak

Sebetulnya hari ini Pak Lik tidak ada rencana ke Selimbau. Namun karena diminta tolong oleh Pak Bayu, akhirnya Pak Lik bersedia untuk ke Selimbau. Perjalanan masih panjang, mungkin masih sekitar 10 jam lagi. Malam semakin larut dan kami mulai merasa lapar. Warung makan yang berada di sepanjang jalan sudah tutup. Pak Lik meyakinkan kami bahwa masih ada warung makan yang buka. Setelah melakukan perjalanan selama dua jam, akhirnya kami berhenti di sebuah warung makan yang tadi disebutkan oleh Pak Lik.

Menuju Selimbau
Kabupaten Sintang di pagi itu

Pukul 01:00, waktu makan malam yang sangat terlambat. Aku tidak terbiasa makan di waktu tersebut. Namun, tiada pilihan lain selain makan. Kami sudah terlalu lapar dan perjalanan masih sangat jauh. Setelah makan dan istirahat, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Mobil mulai melaju di jalur lintas di Provinsi Kalimantan Barat. Tetap beriringan dengan rekan yang berada di mobil lainnya. Aku memilih untuk tidur. Masih sangat jauh untuk tiba di Selimbau.

Matahari mulai menyapa ketika kami tiba di Kabupaten Sintang. Pak Lik singgah di sebuah toko buah untuk mengantarkan barang yang dibawanya. Kami memanfaatkan situasi ini untuk merenggangkan badan kami yang mulai pegal karena duduk terlalu lama. Tak lama setelah ini perutku mulai merasa mual dan kepala pusing. “Aah, sepertinya aku akan mengalami mabuk perjalanan.”

Jalan lintas yang sepi

Perjalanan dilanjutkan kembali, perut mual dan kepala pusing malah semakin terasa. Akhirnya aku mencoba cari plastik sebagai antisipasi jika tiba-tiba aku ingin muntah. Tak berapa lama, akhirnya aku muntah juga. Tidak hanya sekali, tapi sampai beberapa kali ganti plastik. Aku merasa lega karena semuanya berhasil aku keluarkan. Perut sudah tidak merasa mual lagi.

Sebetulnya aku bukanlah orang yang mudah terkena mabuk perjalanan. Hanya ketika badan benar-benar mengalami kelelahan. Perjalanan panjang dari Semarang ke Pontianak memang terasa sangat lama dan melelahkan. Transit di Jakarta pun juga tidak banyak membantu badan untuk beristirahat yang cukup. Sesampainya di Pontianak kami langsung menuju Selimbau melalui jalur darat.. Perjalanan panjang menuju Selimbau membuat tubuhku benar-benar mengalami kelelahan.

Mobil Pak Lik yang masih melaju di jalanan kabupaten. Tepat di Simpang Desa Kenerak, Pak Lik membelokkan mobilnya menuju Kecamatan Selimbau. Sesuai dengan papan petunjuk arah yang berada di tepi jalan. “Perjalanan dari sini masih sekitar 1 jam mas.” Ujar Pak Lik ketika membelokkan mobilnya. Aku masih berpikir apakah sejauh itu untuk menuju Selimbau. Aku berusaha mengecek melalui aplikasi berapa jarak yang akan kami tempuh. Namun, aplikasi tidak dapat menampilkan informasi. “Ehm, sepertinya di sini mulai susah sinyal.
Baca Juga: Sejarah Kereta Api di Semarang

Jalan depan Kantor Kepala Desa Desa Krengas

Setelah beberapa menit perjalanan, aku mulai menemukan jawaban atas pertanyaanku itu. Bukan karena jauhnya jarak, tapi karena buruknya jalan yang membuat perjalanan lebih lama. Jalan penghubung antar kecamatan ini memiliki kualitas yang buruk. Lebih tepatnya sangat buruk. Banyak lubang dan genangan air. Pak Lik dan para sopir taksi ini memang sudah terbiasa melewati jalan ini. Mereka tidak pernah ragu. Menganalisa sejenak, dan kemudian melaju mulus menembus kubangan sisa hujan semalam.

Menurut kepala desa Desa Krengas, sepanjang jalan dari Desa Krangas menuju Desa Mensusai akan diperbaiki. Mereka menandatangai nota kesepakatan dengan calon bupati terpilih ketika masa kampanye lalu. Selain karena proses pembangunan jalan yang telat, kerusakan di sepanjang jalan ini juga disebabkan oleh banyak truk pembawa sawit yang melintas. Jalan lintas kecamatan ini memang jadi masalah tersendiri bagi yang ingin menuju Selimbau.

Jalan di Desa Menapar. Desa antara Desa Krangas dan Desa Mensusai

Memasuki Desa Mensusai, kualitas jalan lebih baik dari sebelumnya. Area permukiman mulai ditemui di sepanjang jalan. Beberapa kali Pak Lik menyapa warga yang kami temui. Mungkin mereka sudah saling mengenal. Apalagi banyak warga yang sering menggunakan jasa taksi seperti ini untuk mengantarkan mereka ke kabupaten lainnya. Terlihat juga beberapa warga mandi di sungai. Tidak hanya anak-anak, tapi orang dewasa juga mandi di sungai. Meskipun mereka memiliki kamar mandi, mandi di sungai menjadi kebiasaan warga di desa ini.
“Sebentar lagi kita sampai di Selimbau mas.” Ujar Pak Lik kepada kami bertiga.

Pasar Selimbau
Pasar Selimbau yang ada hanya di hari Jumat

Aku langsung mengabari temanku untuk menjemput kami di tempat pemberhentian taksi. Tepatnya di depan sebuah masjid. Saat itu badanku sudah merasa lebih baik dibandingkan ketika pagi tadi. Sekitar pukul 10:20, akhirnya kami tiba di Selimbau. Sejauh mata memandang, terlihat permukiman padat di tepi sungai. Dengan barisan rumah panggung dan perahu yang hilir mudik.

“Akhirnya sampai juga di Selimbau”, gumanku dalam hati.
“Selamat datang di Selimbau..!!”
“Mari kita memulai pertualangan baru!!”

-Cerita Dari Kapuas-
Selimbau, 17 Desember 2020

You may also like

84 comments

Peri Kecil Lia ‍♀️ March 23, 2021 - 11:11 am

Kak Rivaiii, perjalanannya sungguh jauh sekali, aku bayanginnya aja udah bikin badan remuk duluan benar-benar ke pelosok sekali sampai jalanannya kecil dan aksesnya masih sulit. Foto yang penuh dengan tanah merah dan ada truck di atasnya, itu trucknya stuck di situ kah?
Sebuah pengalaman baru yang tak terlupakan pastinya bisa pergi ke Selimbau! Bahkan nama lokasinya aja aku baru dengar, padahal masih ada di Indonesia juga. Indonesia luas banget yak

Reply
Rivai Hidayat March 28, 2021 - 11:45 am

Itu foto pas bulan februari mbak lia. berhubung pas berangkat ga sempat foto jalanan karena sudah terlalu lelah. Itu masih sebagian, masih ada beberapa ruas jalan yang rusak. Yaa intinya bikin badan remuk, perut mules..hhahaha

Masih ada cerita lanjutannya. tungguin saja kelanjutannya 😀

Reply
Endah April March 24, 2021 - 7:13 am

Aku asing banget mas Vay dengan Kalimantan wkwkwkwk, baca cerita ini dan lihat foto-fotonya jadi tau salah satu potret daerah di sana seperti apa. Kalau penampilan kotanya nggak jauh beda dengan kota-kota yang ada di Jawa ya. Pernah dulu di Twitter lewat sebuah twit yang isinya tentang asumsi orang Jawa ke Kalimantan. Ternyata yang mengira Kalimantan isinya hutan dan kebun sawit banyak juga, termasuk aku HEHEHEHEHEHE. Ternyata modern juga bangunan-bangunan yang ada di kotanya.

Reply
Rivai Hidayat March 28, 2021 - 11:37 am

di ibukota dan kota besar di kalimantan memang lebih maju. Tapi kalau masuk ke pelosok, hutan dan jalanan tanah jadi pemandangan yang biasa.
kalau aku lebih banyak ketemu dengan permukiman di pesisir sungai kapuas. Beberapa kali di dekat hutan dan area kebun sawit..hehehhe

Reply
Nasirullah Sitam March 24, 2021 - 9:18 am

Lihat jalannya langsung syok hahahahah. Jalan seperti ini memang banyak di Indonesia, khususnya luar Jawa.
Semoga ke depannya benar-benar jalan menjadi bagus dan geliat perekonomian warga membaik.
Kalau perjalanan selama itu, aku mesti udah bawa tolak angi n atau antangin mas ahahhahah

Reply
Rivai Hidayat March 28, 2021 - 11:39 am

di kecamatan sekitar selimbau perekonomian lebih maju karena akses jalannya bagus dan perekonomian lebih maju.
Sudah minum tolak angin, tapi ternyata masih terlalu lelah..wkwkwk

Reply
fanny_dcatqueen March 27, 2021 - 4:54 pm

Aku lgs ngebayangin jalan lintas Sumatra kalo baca ceritanya :D. Banyak lubang dan kiri kanan hutan ato kebun sawit :D.

Tp kebayang sih, jalan yg begitu panjang dan rusak, bikin bdn memang berasa bgt drop nya, dan bikin masuk angin trus muntah2. Aku sendiri udh lama jg ga mabuk darat mas. Tp ga yakin kalo sejauh itu, bisa jd bakal mabuk :D.

Aku belum prnh ke kota2 Kalimantan. Tp udh pesen Ama suami, kalo dia dpt tugas kantor utk cek cabang yg di Kalimantan, aku hrs ikuuut hahahahah. Pgn bgt liat kota2 nya

Reply
Rivai Hidayat March 28, 2021 - 11:59 am

Truk sawit juga mudah dijumpai disini 😀
Biasa perjalanan panjang di jalur jawa, bakal merasakan hal berbeda kalau di luar jawa. Jalannya emang beda. 😀

yaa semoga bisa ke kalimantan mbak fany. 😀

Reply
Agus warteg March 28, 2021 - 1:10 pm

Ngeri lihat jalan di desa menapar itu mas Rivai, benar benar jelek sekali ya, itu bagaimana jalannya bisa seperti itu ya, bukankah ada anggaran untuk prasarana umum seperti jalan desa. Tapi untungnya tidak semua jalan desa di sana seperti itu ya.

Kalo jalannya jelek memang bisa jadi bikin mabok, aku pernah pulang kampung, karena jalur Pantura macet maka bis memakai jalur alternatif yang jelek, perut jadi mual dan akhirnya keluar makanan yang beberapa waktu lalu baru dimakan.

Reply
Rivai Hidayat March 28, 2021 - 2:47 pm

Masih banyak jalan seperti ini di daerah kalimantan mas. Sudah direncanakan untuk perbaikan. Nunggu realisasinya saja..hehehhe
Mabuk perjalanan memang sangat menjengkelkan yaa mas agus. Tapi mau gimana lagi kalau tubuh kita sedang mengalami kelelahan…hehhehe

Reply
gustyanita pratiwi March 29, 2021 - 11:14 am

medan yang ditempuh alamakjang bener bener membuatku percaya kalau mas vai sampai muntah muntah beberapa kali, cukup melelahkan karena memang akses ke sana lumayan lama terlebih jalannya memang belum mulus ya mas, isi oerut jadi keluar semua jadi setelahnya malah lega ya

tapi sempat terkesima ada bagian sungai yang buat ajang mandi…bukan hanya anak anak tapi orang dewasa juga, mungkin sudah habitnya kali ya jadi sambil bersenda gurau begitu ngumpul di sungai

masvai kok kolom komennya loncat lincatkah?

Reply
Rivai Hidayat March 30, 2021 - 2:44 am

Sungai-sungai di desa yang aku lewati airnya masih jernih. Makanya banyak yang memilih mandi di sungai. Aku pun juga pernah mandi di sungai. Mandi bareng dengan warga lainnya. Ikut anak-anak main air. Nantikan di cerita selanjutnya..hahhahaa

Entah, aku gatau. Mungkin efek kolom komentar yang ga aku moderasi…hihihi

Reply
Taumy Alif March 28, 2021 - 3:26 pm

Yang paling seru juga selain melintasi jalan khas daerah yang memang tidak semulus aspal ibukota, apalagi di Kalimantan adalah penyberangan mobil menggunakan perahu. Menarik.

Reply
Rivai Hidayat March 28, 2021 - 3:34 pm

aspal di jakarta dan sekitarnya masih ada yang bolong juga sih mas. Kalau di sini belum sepenuhnya aspal mas. Banyak yang masih berupa tanah.
Nama perahu untuk menyeberang disebut dengan ponton mas. Biasanya untuk menyeberang yang sungainya lebar. Seperti sungai kapuas.

Reply
Febi March 28, 2021 - 6:22 pm

Cerita Rivai ngebolang, pas baca jadi ngebayangin kalo dibikin video sinematik pasti bagussss..
Ditunggu kelanjutannya, dan harus lebih seru..hehe..

Nice story!

Reply
Rivai Hidayat March 29, 2021 - 4:44 am

aku ga banyak ambil video mbak febi. Biasanya cuma foto. Kalau video emang sepertinya bakal bagus. Banyak waktu dan momen yang bisa diabadikan..hahhahaa
Bulan depan ada lanjutannya mbak…hehhehee

makasih mbak febi sudah singgah 😀

Reply
Bayu Kurniawan March 28, 2021 - 11:21 pm

ASTAGAAAA 10 JAM?? aku mengerti perasaannya bagaimana. Dulu sewaktu tol Jawa belum sepanjang yg skrang. Tiap mudik ke Magelang pas bulan ramadhan yah selalu begini.. haha. Cuma emnk ya belum pernah ngerasain jalanan yg kaya gitu.
Jalanannya gitu bnget ya. Kebayang itu shockbreaker mobil kudu sekuat apa yah semoga kedepannya bisa dibagusin lagi.

Tapi seru Mas, baca ceritanya.. yah ikutan berasa kagi ikut berpetualang meskipun secara virtual.. ditunggu kisah selanjutnya lagi ya.. hehe terimakasih buat sharingnya.

Reply
Rivai Hidayat March 29, 2021 - 4:48 am

Macetnya lalu lintas dan jalan rusak memang beda, tapi sama-sama membuat tubuh kelelahan.. Jalan di jawa jarang ketemu yang begini. paling hanya jalan berlubang..hehhehe

Mobilnya kuat, dan tentu saja sopirnya juga sangat berpengalaman. Emang main terabas sih, tapi mereka sangat memperhitungkan agar berkendara tetap nyaman..hihii

Bulan depan ada kelanjutannya mas. Masih panjang cerita dari kapuas ini…hahahhaa
makasih sudah singgah mas bayu 😀

Reply
Ning! March 29, 2021 - 1:26 am

Jalannya ngeri banget ya. Gak kebayang kalau melewati pas malam dan kondisi hujan. Pasti bikin jantungan, dan sangat melelahkan.

Reply
Rivai Hidayat March 29, 2021 - 4:42 am

Justru perjalanan pontianak-selimbau biasanya malam hari mbak ning. Ketika tiba di selimbau sudah pagi. Tidak tahu jalan seperti apa yang kami lewati. Hanya kemarin karena mobil mengalami masalah, kami tiba di selimbau menjelang siang. Jadi kami tahu jalan seperti apa yang kami lalu.

Tapi seru sekali perjalanannya..hahahhaa

Reply
Merry Olivia March 29, 2021 - 2:01 am

Aku aja keturunan kalbar belum pernah ke sana. Jarang pulang kampung juga sih, palingan main di kota aja kulineran. Hehehe. Keren banget lah mas vay.

Reply
Rivai Hidayat March 29, 2021 - 4:37 am

Kalbar-nya mana mbak merry?
kabupaten Kapuas hulu letaknya terlalu jauh dari pontianak, sebagai ibukota provinsi…hehhehee
aku di pontianak cuma singgah. Belum sempat eksplore kemana-mana 😀

Makasih sudah berkunjung mbak merry 😀

Reply
Mrs.kingdom17 March 29, 2021 - 5:20 am

Ya ampun gimana itu rasanya duduk 10 jam di mobil…untung malem2 ya tapi tetep aja pasti capek banget…wajar lahh sampai muntah…wong yg fisiknya lagi sehat aja bisa tetap mual. Mana jalanannya kurang bersahabat, aku bayangin kalau aku yang jalanin gak tahu lagi dehh gimana rasanya. Tapi seru sih ya kalau bisa ke pedalaman Kalimantan, aku aja baru pertama kali denger Selimbau….keren MasVay bisa datengin tempat yang masih jarang diketahui orang. Btw, fotonya bagus2, ini ambilnya pake hp atau kamera?

Reply
Rivai Hidayat March 30, 2021 - 2:13 am

Jalan lintas provinsi masih bagus sih. Hanya saja ketika masuk ke jalan lintas kecamatan, jalanan berubah jadi kurang bagus. Tidak bersahabat dan sangat menguji keahlian dalam berkendara. Sopir di sini sudah terlatih dan siap terabas ketika bertemu dengan jalanan seperti ini.

Selimbau bukan destinasi wisata, jadi banyak orang yang tidak tahu. Aku baru tahu ketika ditugaskan di sini. Tapi daerah selimbau juga terkenal dengan budidaya ikan arwana.
fotonya pakai kamera hp 😀

Reply
Firdaus Soeroto March 29, 2021 - 5:41 am

10 jam?! wow jauh yaa… Baru denger nih tentang Silembau. Thank you for sharing ya Kak.

Reply
Rivai Hidayat March 30, 2021 - 1:05 am

Jauh dan jalan yang dilalui kurang bagus. Selimbau bukan tempat tujuan wisata di Kalimantan barat. jadi banyak orang belum mengetahui tentang selimbau, termasuk aku yang baru mengetahui ketika tiba di sini.

Reply
Clara Kinasih March 29, 2021 - 6:27 am

Allohu Akbar.
Itu jalan di Desa Menapar bukan main kondisinya.
Gambar yang kakak tunjukan, sekilas tak tampak seperti jalan.
Malah terlihat seperti aliran sungai yang terkena banjir lumpur dan ada mobil yang terjebak ditengahnya.
Luar biasa sekali perjalanan Anda, kak.

Reply
Febi March 29, 2021 - 7:04 am

Mungkin kalo nanti bisa hunting foto bareng, nnt gw yg jadi bagian videoinlah..
Tapi soal editting video masih newbie, jadi jgn berharap bakal wah hasilnya ya..hehe..

Sama2..

Reply
Rivai Hidayat March 30, 2021 - 1:13 am

Bolehlah mbak febi. Nanti aku juga diajari ambil video yang bagus gimana 😀
Masalah editing bisa dibahas bareng 😀

Reply
Rivai Hidayat March 30, 2021 - 1:09 am

Kalau hujan jalanan menjadi becek dan lumpur. Makanya banyak mobil atau truk sulit melewati jalan ini.
Beberapa jalan di sekitar selimbau masih ada yang seperti ini kak 😀

Reply
Anni NS March 29, 2021 - 4:10 pm

Asyik bin seru baca tulisannya mas vay ini, rasanya aku seperti membaca cerpen. Aku suka dengan gaya tulisannya, dan terus terang lebih menikmati gaya tulisannya dan membuat deskripsi, imajinasi juga bayangan sendiri dari apa yang diceritakan melalui tulisan.
Namun, aku juga suka dengan hasil foto-fotonya, terang, jelas plus ada nama pemiliknya/penulisnya.
Cerita perjalanannya cukup seru dan menarik, untukku rasanya..sekali lagi, beneran deh seperti membaca tentang kisah perjalanan seorang tokoh di dalam cerpen hehehe…

Reply
Rivai Hidayat March 30, 2021 - 2:17 am

Makasih mbak ani sudah singgah di sini. Tulisan ini termasuk rangkaian tulisan dengan tema “Cerita dari Kapuas”. Masih ada beberapa cerita lagi 😀

Reply
Antin Aprianti March 30, 2021 - 7:15 am

Bener-bener panjang ya mas perjalanannya. Udah berasa Jakarta ke Surabaya, kebayang pegelnya tapi aku kalau jadi Mas Vai pasti banyak tidurnya sih haha
Aku ngebayangin kalau perjalanannya siang pasti seru ya mas bisa lihat pemandangan sekitar. Ditunggu cerita di Selimbaunya

Reply
Rivai Hidayat March 31, 2021 - 1:14 am

Sudah tidur sih, tapi tetap saja ga nyaman..hehhehehe
Sampai sintang pagi hari. Masih bisa menikmati perjalanan 2-3 jam di pagi hari sebelum sampai selimbau. Biasanya taksi jalan pada sore hari dan tiba pada jam 6 pagi. Jadi benar-benar ga bisa menikmati pemandangan selama perjalanan 😀

Reply
Mariaa March 30, 2021 - 4:17 pm

Asam lambung naik kayaknya ya karena telat banget makan? Lain kali bisa mungkin bisa sedia obat maag dan cemilan untuk mengganjal rasa lapar. Nggak enak banget itu mabuk di perjalanan. Huhuhu (pernah ngalamin juga soalnya)
Perjalanan panjang dengan jalan yang rusak itu kayak mimpi buruk deh. Semoga sesampainya di tujuan sesuai ekspektasi ya.

Reply
Rivai Hidayat March 31, 2021 - 2:35 am

Jaga kondisi kesehatan pas perjalanan itu memang sangat penting yaa mbak maria.
Di sekitar sini, masih ada beberapa jalan tanah seperti itu mbak 😀

Reply
Ikrom March 31, 2021 - 8:29 am

syahdu banget mas perjalanannya
aduh tapi sempat muntah juga’untung bisa sehat kembali
saya suka banget sama jepretan pasar tradsionalnya
gatau klo ngomongin Kalimantan saya suka banget liat suasana pasarnya
apakagi itu cuma ada hari jumat ya

Reply
Rivai Hidayat March 31, 2021 - 10:31 am

Pasar di Selimbau ini hampir mirip pasar terapung. Banyak pedagang dan pembeli menggunakan perahu untuk menuju pasar. Kadang mereka juga bertransaksi di atas perahu. Yang dijual rata-rata hasil kebun mereka.

Reply
morishige March 31, 2021 - 8:51 am

Jalan ke Selimbau ini lewat jalan menuju Entikong-kah, Mas? Sekitar sepuluh tahun lalu saya pernah ke Entikong naik bus. Busnya masih butut banget, kayak kopaja. Jadi penasaran sekarang apakah bus antarkota di Kalbar sudah bagus apa masih kayak gitu…

Reply
Rivai Hidayat March 31, 2021 - 10:30 am

bukan mas, beda jalur. Kalau selimbau jalan kearah kabupaten sintang. Bus yang dari sini mengarah ke putussibau (ibukota kabupaten kapuas hulu) juga masih butut. Persis, seperti kopaja..hehhehe
yang ke pontianak rasanya juga seperti itu. Tapi memang kebanyakan pada menggunakan taksi untuk ke pontianak.

Reply
RULY March 31, 2021 - 10:48 am

Wahh Perjalananmu Jauh Banget Mas Broo, Ngebayangin Jalan Tanah Merah nya saya sudah keder duluan

Btw kalau ketemu Lagi Salam buat Pak Lik nya Ya

Reply
Rivai Hidayat April 2, 2021 - 12:02 pm

Beberapa jalan desa masih banyak yang jalan tanah mas. Jadi mesti hati-hati kalau lewat. Apalagi kalau malam sebelumnya hujan deras 😀

Reply
Rara April 1, 2021 - 2:31 pm

Kalimantan itu satu-satunya Pulau besar yang belum pernah aku kunjungi. Sudah niat ingin pergi ke Sintang, tapi harus tes PCR jadinya malas haha. Tulisan Mas Vay ini tetiba kembali membuat aku semangat untuk pegi ke Kalimantan hehe

Reply
Rivai Hidayat April 2, 2021 - 12:04 pm

Eh ke sintang mau pergi kemana…?
kalau dari tempatku ke sintang waktu tempuhnya sekitar 2 jam perjalanan. Jalanannya lumayan sepi 😀
ayo datang ke Kalimantan, biar bisa lihat air sungai yang jernih 😀

Reply
Rara April 3, 2021 - 6:57 am

Loh, mas sekarang tinggal di Kalimantan?

Mau ziarah mas hehe, ada temenku korban SJ waktu itu, dimakamkannyandi Sintang

Reply
Rivai Hidayat April 3, 2021 - 1:27 pm

tidak, masih di semarang. Kebetulan lagi ada kerjaan di selimbau dan sekitarnya..hehhehee
ouw begitu. kalau kamu ke sintang bisa naik taksi dari pontianak. Ongkosnya sekitar 250-300ribu. banyak taksi yang menawarkan jasa mereka.

Reply
Iqbal April 2, 2021 - 2:28 am

Sempat saya proyek di Tayan, dari Pontianak cuma 2 jam sih, gak sejauh Slimbau. Tapi kondisi jalannya ya sama, sepi. Banyak warga yang pelihara babi di rumahnya, sering terlihat dari jalan raya. Kadang-kadang malah itu babi ada di jalan raya. Kalau kita gak sengaja tabrak, ya diminta ganti. Kabarnya, kit aharus ganti rugi sampai anak cucunya 🙂

Reply
Rivai Hidayat April 2, 2021 - 12:17 pm

Ouw Tayan yaa. Berarti mayoritas suku dayak. Emang aturan adatnya begitu mas. Sampai puting susu juga dihitung, karena itu untuk merupakan makanan bagi anak-anaknya. Jadi emang mesti berhati-hati kalau di jalanan. Tapi biasanya babi ditaruh di kandang. Ga dilepas

Reply
Beni April 2, 2021 - 6:57 pm

Perjalanan yang melelahkan ya bang. Gak heran sih kalau bakal mabuk perjalanan. Ngebayanginnya aja kayaknya sudah lelah hehe.
Ini bukannya sudah hampir mendekati perbatasan Malaysia kah? Pernah baca berita kalau di sana lebih baik akses jalannya dari di Indonesia.
Mau ke Danau Sentarum juga kah?
Ada part 2, 3 kayaknya nih. Keren.

Reply
Rivai Hidayat April 3, 2021 - 6:27 am

Ke perbatasan daerah Badau sekitar 2-3 jam mas. Lebih dekat ke pwrbatasan dibandingkan ke pontianak, ibukota provinsi..hehehhe

Belum ada rencana ke danau sentarum. Soalnya ke sini dalam rangka kerjaan..hehehhe

Reply
ainun April 3, 2021 - 12:45 am

mas Vayyy 10 jam itu sama kayak perjalanan Jember ke Jogya kurang lebihnya. Mayann banget jauhnya
gini ini kalau ga pernah liat peta lagi, daerah Selimbau aja baru aku denger
terpencil banget ya ini? pasarnya hanya ada di hari tertentu soalnya
itu truknya sampe tenggelam sama tanah gitu ya,kalau musim ujan kayaknya akan lebih parah lagi

Reply
Rivai Hidayat April 3, 2021 - 6:52 am

Tapi jalanan Jember-Jogja lebi bagus dan lebar, tentu saja juga ramai..hehhehhe

Selimbau termasuk yang jauh dari ibukota kabupaten. Waktu tempuhnya sekitar 3-4 jam..hehhee

Malam sebelumnya, jalan tersebut diguyur hujan. Makanya jalanan tanah jadi seperti itu..heheh

Reply
Dian Restu Agustina April 3, 2021 - 2:32 am

Jauh bener ya jaraknya, perjalanan menuju Selimbau yang dihiasi drama mabuk perjalanan. Kebayang pasti karena kelelahan dan makan malam yang telat, jadi perut protes itu…Hm, sudah susah sinyal, pasar cuma hari Jumat pula…air sungai jernih di depan mat, wah meski jauh bisa jadi tempat menenangkan diri dai Ibukota nih

Reply
Rivai Hidayat April 3, 2021 - 1:31 pm

di selimbau sinyal aman, dibandingkan dengan desa-desa yang dilewati dalam perjalanan. Bisa dibilang begitu mbak dian. Ketika pulau jawa jadi sentral pandemi, aku malah dapat kesempatan untuk menjauh dari pulau jawa..hehhehee

Reply
Icha April 3, 2021 - 3:46 am

Mas vay jauh aja perjalanannanya, jangan lupa pulang ya hahahah, itu kebayang deh perut oleng ampe muntah, biar dibawa tidur jg pasti kurang nyaman.. Ditunggu perjalanan selanjutnya

Reply
Rivai Hidayat April 3, 2021 - 1:31 pm

Kalau pulang sih pasti. Hanya saja belum tahu kapan..hahahaha
Iya mbak icha, perjalanan masih terus berlanjut kok..hehheehe

Reply
Dayu Anggoro April 3, 2021 - 3:51 am

Itu ngeri banget gak sih, jalanan tanah belok semua euy. Pemerintah setempat dari dulu apa tyda memerhatikan jalan yang buruk banget kayak gitu.

Reply
Rivai Hidayat April 3, 2021 - 2:22 pm

Itu hanya sebagian sih mas. Sebagiannya sudah diperbaiki. Yang rusak hanya beberapa ruas aja. Kebetulan jalan desa ini sering dilewati truk pengangkut sawit. Makanya jalan sering mengalami kerusakan.

Reply
Tuty Prihartiny April 3, 2021 - 3:50 pm

20 jam dari Pontianak ke Selimbau ..sungguh perjalanan panjang ya Kak. Apalagi di beberapa lokasi kondisi jalan yang kurang memadai… duh kebayang banget ini. Saya pernah perjalanan darah di wilayah sulawesi tengah_tenggara lebih dari 20 jam, sampai Sekarang masih keinget deg-deg kannya, melewati wilayah konflik. waktu itu aman-aman aja kan Mas jalurnya?

Reply
Rivai Hidayat April 3, 2021 - 4:06 pm

waah..itu perjalanan panjang dan sangat berkesan mbak. Jalur darat memberikan cerita tersendiri yaa mbak 😀
kebetulan daerah yang aku lewati aman mbak 😀

Reply
Eka rahmawati April 3, 2021 - 4:24 am

Saya tuh selalu suka baca cerita perjalanan nyebrang pulau. Karena belum pernah ngalamin. Sekalinya nyebrang pulau itu juga cuma ke Bali aja dan naik pesawat pula hehe.

Seru banget mas pengalamannya melintasi jalan khas daerah yang memang tidak semulus Jakarta ya.

REPLY
RIVAI HIDAYAT

Reply
Rivai Hidayat April 3, 2021 - 2:25 pm

Berarti mesti merasakan perjalanan nyeberang pulau kak. Soalnya bakal berasa banget perbedaan kehidupan di Jawa dan pulau lainnya.
Aah, jalan jakarta musuh utamanya hanya kemacetan. Bukan jalan rusak seperti di daerah ini 😀

Reply
Ina April 3, 2021 - 5:34 am

Jalan panjang menuju langit biru
Tiba tiba kulihat seorang anak
Yang menemukan harta karun di dalam sana
Alangkah senang dan hati gembira
Hal yang menyenangkan hati
Banyak sekali
Bahkan kalau kita bermimpi
Sekarang ganti baju
Agar menarik hati
Ayo kita mencari teman

Aduh, aku salfok waktu liat judul, langsung nyanyi deh, hayooo tau lagu itu nggak?
Jam 1 pagi baru makan, telat banget, pasti udah pusing kepalanya dan perih perutnya, enggak bawa roti tah mas? Disayang2 lambungnya, ntar kalo sakit kaya aku repot. :'(
Kalo aku, pasti udah cranky dan mood berubah banget hahaa makanya kebiasaan buat mbekel apapun itu di jalan. Setidaknya tidak merepotkan orang lain, apalagi kalo barengan kan biasanya susah mampir sana sini karena bukan lagi liburan dan jalannya juga enggak santai. Hihi :3

Sehat2 terus mas, sampe semarang lagi dengan selamat dan sehat. Aamiin.

Reply
Rivai Hidayat April 3, 2021 - 2:36 pm

Gatau itu lagu apa..tahunya lagu jalanku tak panjang :3
Sudah makan roti, tapi emang butuh nasi sebagai makanan utama. Sudah berusaha agar repotin orang, tapi apa daya badan memang mengalami kelelahan dan kurang istirahat..heuheuu

Aamiin, makasih yaa 😀

Reply
Deny Oey April 3, 2021 - 9:26 am

Ah kentang nih, ditunggu cerita selanjutnya dan penasaram jg ada apa di selimbau sampe bela2in ngebolang kesana dan muntah2 di perjalanan.

Reply
Rivai Hidayat April 3, 2021 - 2:23 pm

Ke selimbau urusan kerjaan, ngebolangnya kadang-kadang saja 😀

Reply
Lo April 3, 2021 - 2:01 pm

Waaaaah… Luar biasa banget perjalanannya. Semoga segera diperbaiki yah fasilitas jalannya. Tapi saya ga kebayang sih, kalau harus melakukan perjalanan sejauh itu. Hahahaha…

Reply
Rivai Hidayat April 3, 2021 - 2:31 pm

Coba aja mbak untuk roadtrip. Bisalah perjalanan darat di jawa. Khan jalannya bagus, tapi jangan pas libur panjang. Biasanya macet. Kalau pengen lebih berasa, jangan lewat jalan tol. Lewat jalur biasa. Pasti bakal lebih berkesan 😀

Reply
Mamak Rempong April 3, 2021 - 2:07 pm

MasVay, di Selimbau ada apaaaa? Kenapa sampe rela blusukan ampe sana?

Saya pernah ke maratua dari berau lewat jalur darat, lewat perkebunan sawit, tergolong jalur ramai tapi tetep aja ngeri ngeri sedep, ga bisa bayangin sih jalan ke selimbau ampe muntah begitu…secape apa

Sehat sehat terus MasVay

Reply
Rivai Hidayat April 3, 2021 - 2:28 pm

Banyak ikan arwana mbak 😀
tapi ke selimbau untuk urusan kerjaan sih. Jadi sekalian jalan-jalan. Anggap saja begitu..hahhahaa
Hihihi..jalur sawit emang begitu mbak. Jalanan yang ga mulus dan banyak truk sawit yang lalu-lalang..:D

selama di sini dalam keadaan sehat-sehat terus mbak 😀

Reply
Sri Raditiningsih April 3, 2021 - 2:40 pm

Mas Vai aku baca ceritanya aja ikutan cape masaaa, ya ampun saluut aku yg pada kuat perjalanan darat jauh gituu. Tapi pas udah sampe tujuan emang kaya ada rasa puwaas tersendiri yaa.

Reply
Rivai Hidayat April 3, 2021 - 2:56 pm

Perjalanan roadtrip belasan jam memang punya kesan tersendiri mbak. Meskipun mobil mengalami kerusakan yang membuat kami telat tiba di tujuan, tapi itu seperti ngasih kesempatan untuk menikmati pemandangan di pagi hari dalam perjalanan. Karena biasanya tiba di selimbau pada pagi hari. Sepanjang jalan menikmati gelapnya malam..hehhehe

Reply
Lenifey April 3, 2021 - 2:21 pm

Jauh banget perjalanan yaampun aku nggak ngebayangin kalo aku yang ngelakuin. Apalagi dengan kondisi jalanan kayak gitu. Kadang jakarta-jogja aja aku bisa mabok. Asli aku cemen banget sih kalo jalan darat. Gatahu kenapa. Seru sih ini semoga nanti kebaca cerita selanjutnya

Reply
Rivai Hidayat April 3, 2021 - 2:33 pm

Jangan dibayangkan. Tinggal jalan aja. Yaa mabuk perjalanan emang tidak enak. Makanya perlu jaga kondisi badan agar perjalanan lebih nyaman.
masih ada kelanjutannya kok. Beberapa cerita dengan ciri khas masing-masing. Tungguin saja 😀

Makasih telah singgah 😀

Reply
Retno Nur Fitri April 3, 2021 - 3:08 pm

Perjalanan seru banget kak, banyak sensasi baru yang dirasain ya

Reply
Rivai Hidayat April 3, 2021 - 3:17 pm

Perjalanan jalur darat sering memberikan sensasi tersendiri sih 😀

Reply
Kalena Efris April 3, 2021 - 3:24 pm

Jalannya mirip banget kyk jalan di kampungku Sumatra wkwkwk. Malah masih banyak jalan yg diaksesnya kudu pake roda dirante biar ban ga lari kemana2 . Semoga aja pembangunan bisa cepat merata biar diluar jawa juga akses transportasinya makin bagus

Reply
Rivai Hidayat April 3, 2021 - 3:36 pm

kampungmu dimana mbak kalena..? kalau aku belum pernah pakai yang rodanya dirantai. Baru motor yang dimodifikasi menjadi motor trail agar bisa menembus jalan ke kebun yang berupa tanah. Asli bikin kaki pegel..hahahha

Rencananya jalan ini akan diperbaiki oleh bupati terpilih. Akses jalan memang sangat penting untuk menunjang perekonomian warga

Reply
Nia Devy April 3, 2021 - 3:41 pm

Perjalanannya melebihi kalau saya mau mudik nih kak, pantesan aja badan pada sakit semua. Hahaha
Tapi pas sampe tujuan liat ada pasar kaget jadi auto seger pengen kuliner cari-cari yang ga ada di Jakarta.

Reply
Rivai Hidayat April 3, 2021 - 3:56 pm

mengalami kelelahan dan berasa jetlag..huhuuhu
Pasar hanya ada tiap jumat. Selalu tertarik dengan transaksi yang terjadi antara penjual dan pembeli 😀

Reply
inez April 3, 2021 - 6:32 pm

wah sama mas. aku jg ga tahan kalo naik mobil lama2. bs mabuk. belom pernah sampe jackpot sih

Reply
Rivai Hidayat April 4, 2021 - 3:51 am

Baguslah kalau gitu

Reply
rere April 7, 2021 - 8:02 am

Thanks for sharing
.

Reply
Rivai Hidayat April 10, 2021 - 1:19 am

ok

Reply

Leave a Comment