Cagar Alam Darupono: Destinasi Bersepeda Di Kendal

by Rivai Hidayat

Cagar Alam Darupono terdengar asing di telingaku. Bisa dibilang aku baru tahu dari temanku yang mengajak bersepeda ke sana. Karena penasaran, aku pun mencari tahu tentang Cagar Alam Darupono. Ternyata terletak di Jalan Kaliwungu-Boja, Kabupaten Kendal. Rute yang akan dilewati adalah Jalan Pantura, dan jalan lintas kecamatan di Kabupaten Kendal. Namun, aku belum bisa memastikan bakal ikut atau tidak. Kadang aku ada acara mendadak. Jadi aku pikir lebih baik mengabari keikutsertaan menjelang keberangkatan saja.

 

Cagar Alam Pagerwunung Darupono atau yang lebih dikenal dengan Cagar Alam Darupono terletak di Desa Darupono, Kecamatan Kaliwungu memiliki luas sekitar 33,2Ha. Kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan cagar alam pada tahun 2004 oleh Menteri Kehutanan. Fungsi cagar alam adalah sebagai kawasan konservasi dan penelitian. Konservasi terhadapat aneka macam flora dan fauna yang terdapat di kawasan cagar alam tersebut. Kawasan cagar alam ini memiliki beraneka macam sebaran flora dan fauna. Seperti pohon jati, sonokeling, jengkol, salam. Sedangkan untuk fauna terdapat monyet ekor panjang, kijang, babi hutan, reptil, dan beberapa jenis burung.

 

Berkumpul di Klenteng Sam Poo Kong

 

Kami memulai perjalanan kami dari Klenteng Sam Poo Kong. Tentu saja dimulai dengan berdoa dan briefing terlebih dahulu. Hari Sabtu pagi jalanan di sekitar klenteng belum terlalu ramai. Namun, kondisi tersebut berubah ketika kami mulai memasuki Jalan Pantura. Jalanan penuh dengan kendaraan ukuran besar. Ruas jalan yang merupakan bagian dari Jalan Raya Pos ini memang selalu ramai. Apalagi menjelang lebaran. Padat merayap. Di pagi dan sore hari, jalanan ini selalu macet, dipenuhi para pekerja pabrik-pabrik yang ada di kawasan industri yang terletak di jalan ini. Rasanya jalan warisan Daendels ini tak pernah tidur.
Baca Juga: Bersepeda ke Batik Semarang 16

 

Kami berhenti sejenak di perbatasan Kota Semarang dan Kabupaten Kendal untuk memastikan tidak ada tertinggal. Setelah lengkap, ada dua pesepeda untuk pamit balik ke Semarang karena ada keperluan. Kami akan menuju ke arah Pasar Gladag, Kaliwungu. Jalan yang akan kami lewati lebih kecil dibandingkan dengan jalan sebelumnya. Aktivitas warga juga menambah keramaian jalan. Anak-anak yang pergi ke sekolah. Ibu-ibu yang berbelanja di pasar. Area pasar tidak dapat menampung seluruh penjual, akhirnya banyak penjual berjualan di luar pasar. Beberapa teman berhenti sejenak untuk membeli makanan kecil sebagai bekal dalam perjalanan.

 

Cagar Alam Darupono

Sebentar lagi tiba di Cagar Alam Darupono

 

Dari Pasar Gladag, kami menuju Jalan Kaliwungu-Boja. Jalanan akan didominasi oleh tanjakan. Beberapa perkampungan dan hutan jadi akan kami temui selama perjalanan. Di jalan tanjakan, beberapa pesepeda mulai terpisah. Sebagian pesepeda bisa melalui tanjakan lebih cepat. Beberapa pesepeda yang terlihat kelelahan, sehingga mereka mengayuh lebih lambat. Sedangkan aku berada di barisan tengah dengan kayuhan yang lebih stabil. Ketika melalui jalan tanjakan, tempo kayuhan sangat diperlukan agar pesepeda tidak cepat lelah. Di tengah perjalanan, rantai sepedaku sempat terlepas. Aku dengan sigap langsung turun dari sepeda dan membetulkan rantai sepeda.

 

Cagar Alam Darupono

Lagi istirahat dan berfoto

 

Aroma bau busuk sampah dari sebuah tempat pembuangan akhir sangat mengganggu kami. Aku memilih menambah kecepatan agar cepat terhindar dari aroma busuk tersebut. Di tengah perjalanan aku melihat beberapa ekor kera ekor panjang sedang duduk di atas pembatas jalan. Sepertinya ini para kera para penghuni Cagar Alam Darupono. Mereka sedang menanti lemparan makanan dari pengendara yang lewat. Anak-anak sekolah yang naik mobil bak terbuka menyapa kami. “Ayo Om, semangat Om!!” Aku tersenyum dan melambaikan tangan untuk membalas salam mereka. Sebuah papan nama yang bertuliskan Cagar Alam Pagerwunung Darupono sudah terlihat. Berarti kami telah tiba di tempat tujuan kami, yaitu Cagar Alam Darupono.

 

Cagar Alam Darupono

Istirahat di warung

 

Kami beristirahat sejenak. Beberapa langsung bersiap berfoto untuk mengabadikan momen. Kami beristirahat di warung dan nglarisi makanan yang ada di warung. Warung ini letaknya tidak jauh dari pos Cagar Alam Darupono. setelah semuanya dicek, ternyata ada satu pesepeda yang tertinggal. Akhirnya dia bisa tiba dengan selamat. Dia bercerita bahwa sudah lama dia tidak bersepeda, sehingga butuh waktu untuk menyesuaikan diri lagi. Setelah 30 menit kami beristirahat, kami bersiap untuk meninggalkan kawasan Cagar Alam Darupono.

 

Bersiap pulang

 

Perjalanan pulang melewati jalan yang berbeda dengan perjalanan berangkat. Tentu saja ini bakal sangat seru karena akan menawarkan pengalaman dan pemandangan baru. Aku kira tidak bakal ketemu dengan jalan menanjak lagi. Selepas 200 meter dari Cagar Alam Darupono, jalan menanjak mulai menyapa kami. Rupanya lebih terjal dari jalan ketika kami berangkat tadi. Selama perjalanan ini kami disuguhi pemandangan hamparan perkebunan warga. Jalanan juga relatif ramai.

 

Perjalanan pulang

 

Setelah jalan menanjak, kami tiba memotong jalan untuk menuju Kota Semarang melalui jalan perkampungan yang sudah bagus dan relatif sepi. Ini merupakan jalan alternatif yang bisa digunakan untuk menuju Kota Semarang. Kami bisa memacu kecepatan sepeda dengan lebih cepat. Tidak terasa kami telah memasuki area Mijen yang sudah masuk dalam wilayah Kota Semarang. Setelah ini kami bakal mampir istirahat untuk sarapan. Sudah terlalu siang untuk disebut sarapan. Selain sarapan, kami juga akan membahas rute untuk pulang. Karena tempat tinggal yang berbeda, kami akan langsung berpisah menjadi dua kelompok. Tinggal disesuaikan dengan lokasi tempat tinggal.
Baca Juga: Menikmati Senja di Pantai Glagah

 

Kelompokku mengambil rute melewati jalan yang menuju Waduk Jatibarang. Kami juga melihat Waduk Jatibarang dari sisi yang berbeda. Sepertinya ini adalah pengalaman pertamaku melewati jalan ini. Rute yang aku lewati ketika perjalanan pulang didominasi oleh jalanan turunan. Namun ada satu tanjakan yang membuatku istirahat cukup lama. Stamina yang sudah terkuras dan cuaca panas menjadi penyebabnya. Meskipun begitu, aku berencana untuk membuat rute yang melewati jalan ini. Mungkin sendirian, atau bersama dengan yang lainnya.

 

Waduk Jatibarang dari sisi yang lain

 

Bersepeda dari rumah hingga Cagar Alam Darupono dan kembali lagi ke rumah menempuh jarak sekitar 70km. Sepertinya ini merupakan jarak terjauh yang pernah aku tempuh dengan bersepeda. Banyak pengalaman seru yang aku dapatkan selama perjalanan ini. Senang karena bisa menembus batas kemampuan bersepeda, dan senang bisa bertemu dengan teman-teman yang memiliki hobi yang sama. Kalau masalah lelah, jangan ditanya lagi. Pasti lelah, tapi lelahnya masih terbayar pengalaman seru yang didapat.

 

 

Selang beberapa jam, badanku terasa begitu sakit dan lemas. Mungkin karena es kelapa muda yang aku konsumsi satu jam setelah bersepeda. Rasanya badan ini tidak bisa menerima minuman seperti itu. Akhirnya aku mengalami flu selama 3 hari. Tenang saja, ini bukan indikasi terpapar virus corona. Aku hanya perlu banyak istirahat dan memperbaiki asupan nutrisi agar daya tahan tubuh bisa meningkat. Di akhir sakit, aku berkonsultasi dengan dokter karena ada dahak yang tersangkut di tenggorokan. Dokter memberikan beberapa obat dan vitamin, serta saran untuk menghindari makanan pedas, gorengan, dan minuman dingin. Hari ini badan sudah pulih dan siap untuk bersepeda lagi. Rajin berolahraga untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan agar terhindar dari virus penyakit, termasuk Covid-19. Ayo hidup sehat dengan berolahraga.

You may also like

40 comments

Himawan Sant March 23, 2020 - 7:22 am

Mantul sepedaan sampai sejauh 70 kikometer …, seru pula rombongan ke hutan Darupono.

Seingatku, kalau dilihat lokasi jalan foto ini aku pernah melewati jalanan ini.
Waktu itu aku dan temenku cuma berdua nekad naik motor dari Bogor ke Magelang,padahal lewat jalan itu sudah mulai gelap.

Reply
Rivai Hidayat March 23, 2020 - 11:19 am

Bersepeda ramai-ramai jadi lebih seru dan semangat. Jadi ga terasa telah menempuh perjalanan sejauh 70km

Ehm bisa jadi motong lewat sini mas. Sebetulnya ada beberapa ruas jalan yanh hampir mirip. Jalan ini bisa digunakan untuk jalan tembus. Kalau malam yaa lumayan sepi dan gelap.

Reply
Himawan Sant March 24, 2020 - 1:20 am

Iyaaah seru banget pastinya ya sepedaan rame-rame begitu .
Kalau saja rumahku dekat, aku pengin ikutan gabung.

Yups, setelah semalam kuingat memang betul jalan inilah yang dulu kutempuh berdua bareng temenku itu. Terutama lihat peta yang tercantum

Lewat jalur ini kalau terus nembusnya ke Temanggung, akan melewati jalan berliku-liku dan salah satu sisinya ada perbukitan hutan jati …,pemandangannya baguuuus banget buat fefotoan.
Apalagi pas musim kemarau, saat dedaunan pohon jati berguguran dan pohon kelihatan meranggas.

Reply
Rivai Hidayat March 24, 2020 - 3:18 am

Sekarang banyak komunitas sepeda menjamur di berbagai kota. Tidaknsulit jika kita ingin bergabung untuk bersepeda.

Jalan ini juga bisa nembus ke arah temanggung. Yaa walaupun nanti juga bakal ketemu jalan yang sepi. Tapi kondisinya sangat bagus untuk dilalui 😀

Reply
CREAMENO March 23, 2020 - 12:04 pm

Seru banget ya mas, bisa jalan-jalan naik sepeda sama teman-teman 😀

Saya jujur saja paling nggak berani naik sepeda di pinggir jalan, apalagi kalau pas-pasan ada mobil lewat, pasti kagok terus oleng jatuh di tempat, that’s why saya cuma berani naik sepeda di lapangan atau di jalan komplek yang sepi total :)))

Ohya, salut juga masnya bisa mengendarai sepeda sebegitu jauhnya kalau hobi memang rasa cape pasti nggak akan berasa keep sharing and inspiring mas, semoga bisa saling berkunjung di hari-hari mendatang 😀

Reply
Rivai Hidayat March 23, 2020 - 4:54 pm

Mungkin perlu dibiasakan mbak. Agar terbiasa sama suasana bersepeda di jalan raya. Ga kagok lagi. Bersepeda jadi lebih menyenangkan 😀

Bersepeda bareng teman juga jadi penyemangat tersendiri mbak. Ada teman yang siap bantu kita selama perjalanan.

Semangat untuk terus berkarya untuk mbak juga. Pasti bakal sering berkunjung ke tempat mbak 😀

Reply
arenapublik March 23, 2020 - 1:03 pm

ini nih emang nikmatny, olahraga sambil menikmati alam. keren mas… parah hehe
saya aja ga kuat kalau sudah sampai puluhan kilo gtu gowes nya

Reply
Rivai Hidayat March 23, 2020 - 4:44 pm

Selain itu kita bisa menjelajah tempat-tempat baru mas 😀
Dulu aku juga ga terlalu jauh jaraknya. Karena sering latihan akhirnya bisa sedikit lebih jauh dari biasanya 😀

Reply
Vicky Cahyagi March 23, 2020 - 1:24 pm

Mantap, tetap semangat bersepeda sambil Travelling jantung pun sehat. Jaga kondisi mas, hindari zona merah korona

Reply
Rivai Hidayat March 23, 2020 - 4:42 pm

Yaa mungkin suatu saat akan traveling menggunakan sepeda mas 😀
Iya, saat bersepeda juga jaga jarak dan jumlah pesepeda tidak banyak.

Reply
slamsr March 24, 2020 - 1:25 am

pay, aku gak nduwe sepeda, entuk mbonceng?
nek gak entuk tak playon wae timik timik tak tunggu nang prapatan gunungpati.

Etapi kan lagi dihimbau isolasi diri ini malah rame rame pit pitan. keplak san

Reply
Rivai Hidayat March 24, 2020 - 3:15 am

Besok kalau situasi sudah memungkinkan mas. Mas slam lari dan aku naik sepeda. Anggap saja sebagai kolaborasi, walaupun dengan aktivitas berbeda 😀

Reply
Andi Nugraha March 24, 2020 - 7:05 am

Ini seru banget sih, Mas. Walaupun jauh jaraknya kalau rame-rame gini jadi gak terasa malah senang. Aku kangen sepedahan lagi nih dengan jarak yang lumayan lah, ke pantai atau curug gitu.. Seru ya ada macem-macem sepedanya.

Melihat sepeda gunung gitu kadang suka teringat akan sepedaku yang hilang entah kemana diambil orang 🙁

Reply
Rivai Hidayat March 24, 2020 - 10:15 am

Karena ramai-ramai perjalanan jadi lebih menyenangkan. Jenis sepeda yang dipakai juga beraneka macam. Mulai dari roadbike, MTB, hingga folding bike (sepeda lipat).

Huuftt…semoga bisa dapat ganti sepeda baru mas 🙂

Reply
thya March 30, 2020 - 9:55 am

wew naik sepeda 70 km?
kalo saya auto pingsan kayaknya.. huhu..
tapi kalo rame3 mungkin jadi seru yaa, gak berasa.. hehe..

btw, saya baru dengar cagar alam darupono. nanti kalo waba covid sudah berakhir, boleh juga dijadikan destinasi

Reply
Rivai Hidayat April 2, 2020 - 6:15 am

Ini jadi kuat gara-gara ramai-ramai bareng yang lain mbak. mungkin kalau sendiri bakal kesepian dan kurang semangat mbak 😀
aku yang tinggal di semarang juga baru tahu kemarin mbak. padahal pernah lewat jalan ini beberapa kali.
semoga wabah corona segera berakhir

Reply
Azhafizah March 24, 2020 - 9:41 am

Laluan redup, permandangan cantik dan cuaca tak panas seronok kalau berbasikal. Bagus beriadah begini. Teringin tapi hobi begini agak mahal 🙂

Reply
Rivai Hidayat March 24, 2020 - 10:17 am

Ayo, bersepeda itu sangat bagus untuk kesehatan. Bisa jadi olahraga pilihan dan menawarkan banyak pengalaman baru.

Reply
Gustyanita Pratiwi March 24, 2020 - 1:11 pm

Biar ga flu, kelapa mudanya berarti ga pake es mungkin heuheu #sotoy deh aku

Asyik banget blusuk blusuk Semarang sampai ngliwatin rute rute begini, kanan kiri ijo, tanjakan, bermuara di waduk, tapi yang ada keranya agak ngeri juga, maklum aku takut monyet huhuhu…

Tapi Klo nggowes bareng teman teman gini serunya ya gitu, meski ada yang mencar mencar tapi berasa banget petualangannya

Jujur aku belum pernah ke Semarang agak lamaan, cuma liwat tol thok. Terus tadi sekilas ngliat Post yang kuliner semarangan, trus dalam ati langsung mbatin…ntar mau tapa baca post sebelah dulu #buru buru cari cemilan buat bacaan ntar

Reply
Rivai Hidayat March 25, 2020 - 1:37 am

Betul sekali, ketika selesai olahraga sebaiknya tidak minum air dingin atau es. Karena suhu tubuh yang turun secara tiba-tiba tidak bagus untuk tubuh.

Bersepeda ramai-ramai itu memberikan semangat tersendiri, jadi semangat agar tidak tertinggal dan bisa mengejar yang lainnya. Pas ketemu monyet tidak membawa makanan. kalau saja tahu bakal ketemu monyet, aku bakal lempar makanan untuk mereka.

sebagai pencinta kuliner, sbaiknya kamu datang ke semarang. Minimal satu hari lah. Di semarang itu banyak kuliner unik yang bisa dicicipi. Mulai dari camilan hingga makanan berat. semuanya tersedia di semarang.

Reply
Reyne Raea March 24, 2020 - 8:28 pm

Lah, jauh banget sepedaannya Mas, saya cuman baca kok berasa ngos-ngosan, betis pegal hahahaha.
Ini cuman baca, gimana sepedaan beneran ya.
Bersepeda memang olahraga mengasyikan dan aman, apalagi kalau rutenya mengasyikan seperti ini, beramai-ramai pula.
Rasanya makin semangat deh sepedaannya 🙂

Reply
Rivai Hidayat March 25, 2020 - 1:45 am

Kalau sendirian belum pernah sejauh itu mbak. Mungkin karena ramai-ramai akhirnya bisa sejauh itu.

Ayo bersepeda, untuk tubuh yang sehat dan jiwa yang ceria 😀

Reply
Ina March 25, 2020 - 2:19 pm

Jauh banget ya rute sepedaannya, ngebayangin aja kayaknya udah capek.
Tapi seru sih, apalagi pemandangan yang ditawarkan juga asik.
Cuma kalo siang rasanya pasti kebakar banget karena panasnya Semarang
Yaudah, kapan2 sepedaan bareng ya! Tp jangan sejauh ini rutenya.

Reply
Rivai Hidayat March 25, 2020 - 5:05 pm

Yaa namanya juga ramai-ramai sama yang lain. jadi ngikut suara terbanyak mau ke mana.
Semarang kalau siang emang belum bersahabat. Panasnya masih sering keterlaluan. ga cocok bersepeda siang hari di semarang.
sudah lelah mengayuh, masih kepanasan juga. Lelahnya jadi berlipat ganda.
ayolah bersepeda bareng. aku tinggal menyesuaikan sama kemampuanmu aja 😀

Reply
Michael David March 26, 2020 - 6:00 am

Enaknya bersepeda sambil ditemani pemandangan hijau-hijau :D.

Reply
Rivai Hidayat March 26, 2020 - 10:15 am

apalagi bersepedanya ramai-ramai sama teman

Reply
sulis March 27, 2020 - 1:31 am

Wow, ngeri..70 km sepedaan. Manteps mas. Sehat dapet…wisata sejarah-budaya nya dapet juga yaa. Tapi klo aku kayaknya bisa pingsan di jalan klo sejauh itu. Motoran aja lah klo mpe berpuluh2 kilo gitu..ha..ha

Reply
Rivai Hidayat March 27, 2020 - 10:14 am

bersepeda sejauh itu jadi semangat karena ramai-ramai bareng teman. Kalau sendirian belum tahu bisa sejauh itu ga. Lagipula bisa sampai sejauh itu karena sering latihan bersepeda 😀

Reply
Wisnu Tri March 30, 2020 - 1:53 pm

70 km. Yowes mas, mundur alon-alon aku. Hahahaha. Monyet ekor panjang yang di kawasan hutan itu minta makanan ke pengunjung / pesepeda yang istirahat di sekitar situ nggak mas? Biasane kan hewan-hewan (apalagi monyet) cukup agresif kalau kedatangan “tamu”.

Weh, hampir mirip sama ceritaku pas pulang dari jakarta beberapa minggu lalu. Balek-balek malah mriang. Sedih banget ini 🙁

Reply
Rivai Hidayat April 2, 2020 - 6:13 am

perjalanan 70km menjadi menyenagkan karena rame-rame sam yang lainnya mas. Kalau sendirian pasti langsung merasa kesepian. Sendiri, bergelut dengan aspal dan berpacu dengan panasnya matahari. hiiks

Mungkin karena ini di pinggir jalan, jadi mereka ga agresif. Takut tertabrak kendaraan.
Saat-saat sekarang kita mesti jaga kondisi kesehatan mas. Agar tidak mudah terkena penyakit.

Reply
Lokabisnis March 30, 2020 - 4:10 pm

Tampak indah dan asri ya… rupanya dikendal ada destinasi sebagus ini ya…

Reply
Rivai Hidayat April 2, 2020 - 6:05 am

iyaa mas. Suasana yang teduh dan alami membuat pertualangan semakin menyenangkan

Reply
Bara Anggara March 30, 2020 - 4:23 pm

paling ngga enak kalau ketinggalan gitu,, serba salah tuh pasti ahaha..

Rute terjauhku sepedaan adalah sekitar 110 km, dari Kota Soe sampai Kota Kupang, NTT.. Padahal ngga pernah sepedaan tapi waktu itu berbekal sepeda pinjaman akhirnya menempuh jarak segitu, tapi banyakan jalan menurunnya sih, dan karena rame2 jadi merasa aman 😀

-Traveler Paruh Waktu

Reply
Rivai Hidayat April 2, 2020 - 6:01 am

Dulu pernah ketinggalan paling belakang. Tapi yaa tetap santai saja, karena kemampuannya memang masih segitu. Apalagi kalau tanjakan, pasti sering ketinggalan. hahaha
wuih, keren mas. Apalagi bersepeda di kota orang. hahahha
bersepeda ramai-ramai memang pilihan terbaik untuk semangat bersepeda 😀

Reply
morishige April 1, 2020 - 5:39 am

Keteduhan treknya mirip jalan di sekitar makam raja-raja Mataram di Imogiri. Tapi mungkin Imogiri agak sedikit lebih nggak manusiawi tanjakannya. Enaknya buat turun aja. Hehehe..

Wah, jauh banget, Mas, 70 km. Itu Jogja-Muntilan PP aja masih lebih 10 km. Hehehe. Keren! 🙂

Reply
Rivai Hidayat April 2, 2020 - 5:57 am

duh, tanjakan ke imogiri sangat melelahkan mas. Tapi setiap tanjakan selalu ada turunan. Pas turunan jadi semangat lagi 😀
tipe jalan antar kecamatan di kabupaten memang kayak gini mas. Masih teduh dan hijau sepanjang jalan.

hehee, makasih mas. Kau masih belajar untuk meningkatkan kemampuan dalam bersepeda. Masih perlu banyak belajar 🙂

Reply
Agus Warteg April 3, 2020 - 8:52 am

Enaknya kalo bersepeda bareng rame rame itu kompak ya mas, kalo ada yang ketinggalan satu saja maka ditungguin.

Ternyata di Kendal ada juga waduk Jatibarang ya, kirain aku Jatibarang cuma ada di Indramayu sama di Brebes.

Wah jauh sekali bersepeda 70 km mas, apa ngga ngos-ngosan ya. Aku pernah bersepeda 20 km saja sudah capek.

Reply
Rivai Hidayat April 6, 2020 - 1:16 pm

Kalau bersepda ramai-ramai jadi lebih bersemangat mas. 😀
Waduk Jatibarang lokasinya di semarang kak. bukan di kendal. berdekatan dengan tempat wisata Goa Kreo.
Bisa bersepeda sejauh itu juga karena sering latihan dan belajar dari yang lebih senior mas. Dulu belum pernah sejauh itu. Tapi yaa akhirnya bisa sejauh itu juga 😀

Reply
smore traiolit April 22, 2020 - 3:17 am

Some genuinely great information, Sword lily I discovered this. “It is only with the heart that one can see rightly what is essential is invisible to the eye.” by Antoine De Saint-Exupery.

Reply
Rivai Hidayat April 22, 2020 - 3:52 am

Thank you for coming to this article

Reply

Leave a Comment