Bersepeda Dari Bekasi Ke UI

by Rivai Hidayat
Bersepeda dari bekasi ke UI

Rencana bersepeda dari Bekasi ke UI (Universitas Indonesia) yang berada di Depok sudah aku atur sejak beberapa minggu yang lalu. Rute ini aku dapat setelah bersepeda dari Bekasi menuju Taman Mini Indonesia Indah (TMII) bersama temanku. Karena melihat rute yang aku lewati itu, rasanya menuju kawasan UI tidak terasa jauh. Hanya perlu melintas Jalan Raya Bogor. Menurut peta,Β  jarak dari tempatku menuju UI sekitar 30 km atau 60 km untuk perjalanan pergi pulang. Rute ini bisa dibilang jauh. Dibandingkan dengan Semarang, jalanan di Bekasi, Jakarta, dan Depok bisa dibilang datar dan sangat bersahabat bagi pesepeda.

Hari Minggu, pukul 06:15 aku telah bersiap untuk bersepeda dari Bekasi ke UI. Rencana awal memulai perjalanan pada pukul 05:30. Tapi nyatanya aku bangun kesiangan dan baru memulai perjalanan di waktu tersebut. Untuk keberangkatan aku memilih melintas rute Pasar Pondok Gede menuju perempatan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kemudian menuju Jalan Raya Bogor. Kemudian menuju Cimanggis melalui Jalan Akses UI melintas Kantor Korps Brimob Kelapa Dua yang kemudian menuju kawasan UI. Rute Pondok Gede-TMII aku pilih untuk keberangkatan karena aku beberapa kali melintas rute ini. Ini sangat berguna untuk memangkas waktu keberangkatan dan paham dengan kondisi jalan.

Keramaian Pasar Pondok Gede menyambut perjalananku. Aku bertemu dengang beberapa pesepeda juga melintas rute ini. Kami saling sapa dengan membunyikan bel sepeda kami. Rata-rata mereka bersepeda secara berkelompok. Sedangkan aku seorang diri. Hal yang biasa aku lakukan sejak bersepeda di Semarang. Apalagi di musim pandemi seperti ini. Bersepeda secara sendiri menjadi pilihan yang baik. Perjalanan ini tanpa hambatan hingga aku tiba di simpang Taman Mini Indonesia Indah yang disambut dengan lampu merah.
Baca Juga: Berlabuh di Pulau Sinabang

Dulu aku pernah beberapa kali melintas Jalan Raya Bogor menggunakan sepeda motor. Beberapa tahun yang lalu. Perjalanan pagi itu menggunakan sepeda mengingatkanku pada beberapa momen di masa lampau. Mulai dari keramaian Pasar Induk Kramat Jati, persimpangan Cijantung dengan salah satu tempat makan yang ada di ujung Mall Cijantung, persimpangan Jalan Akses UI, hingga Pasar PAL. Jika dilihat di peta rasanya tidak terlalu jauh. Namun setelah dilalui, lumayan jauh juga. Tapi perjalanan harus tetap berlanjut. Aku beberapa kali melihat peta untuk memastikan aku tidak terlewat dari persimpangan Jalan Akses UI.

Memasuki Jalan Akses UI, aku hanya perlu lurus mengikuti jalan utama hingga dipercabangan jalan menuju Jalan Margonda dan Universitas Indonesia (UI). Sebelum memasuki jembatan layang UI, jalan menanjak bersiap menyambutku. Jalan menanjak itu bisa aku lalui dengan lancar. Saat aku melintas, terlihat beberapa anak dan ibu-ibu yang menuntun sepeda mereka. Sepertinya mereka tidak kuat melintas jalan menanjak tersebut. Aku menyapa dan memberi semangat mereka. Sudah menjadi kebiasaan untuk saling sapa dan memberi semangat jika bertemu dengan pesepeda lain di jalan.

Di depan gerbang UI sudah ramai dengan para pesepeda. Mereka berhenti, tidak melanjutkan perjalanan menuju area UI karena pintu gerbang ditutup. Biasanya di hari Minggu banyak masyarakat yang berolahraga di kawasan UI. Kawasan UI sangat teduh dan banyak pepohonan. Selain itu, jalan di UI cukup lebar, dan sepi dari kendaraan bermotor. Tempat yang cocok untuk berolahraga dan menikmati udara segar. Aku sudah beberapa kali jogging di kawasan UI. Di masa pandemi seperti ini, kawasan UI ditutup untuk membatasi penyebaran virus Covid-19. Aku memilih untuk beristirahat sejenak sambil minum dan makan roti sebagai pengganti sarapan. Setelah cukup istirahat, aku melanjutkan perjalanan balik ke Bekasi.

Gerbang Universitas Indonesia

Rencana awal adalah melintas rute yang sama dengan perjalanan pergi. Namun, aku merasa hal itu kurang seru dan membosankan. Dalam bersepeda, aku terbiasa untuk melintas rute yang berbeda antara perjalanan pergi dan pulang. Setelah memastikan rute lewat peta, akhirnya aku putuskan untuk lewat daerah Pasar Minggu, Kalibata, Patung Dirgantara, kemudian menuju Jalan Kalimalang. Rute ini bisa dibilang hanya lurus mengikuti jalan utama. Rasanya bakal mudah dan menyenangkan.
Baca Juga: Bersepeda ke Cagar Alam Darupono

Aku merasa bakal begitu. Namun nyatanya jalanan ramai, meskipun saat itu hari Minggu. Beberapa kali aku mesti berbagi jalan dengan bus Transjakarta. Bukan aku yang masuk jalur mereka. Tapi karena bus tersebut sedang putar balik atau tidak terdapat jalur bus. Di rute ini aku juga mencoba beberapa jalur underpass yang aku lewati. Dalam perjalanan bersepeda dari Bekasi ke UI, aku sengaja tidak melintas jalan layang. Takut jika tertiup angin kencang ketika berada di atas. Hari mulai beranjak siang. Panasnya jalanan Jakarta menuju Bekasi mulai menemani perjalananku.

Setelah melintas Simpang Cawang, aku mengarahkan sepedaku menuju Jalan Kalimalang. Aku sudah mengenal jalan ini dengan baik. Dari jalan ini aku tinggal lurus saja. Berpikir bahwa jalan ini adalah pilihan jalan yang tepat untuk bersepeda dengan kondisi yang datar dan lebar. Tapi nyatanya tidak, sepanjang sisi Jalan Kalimalang tidak terdapat pepohonan. Tidak ada tempat untuk berteduh. Jalan ini terlalu sering menerima pekerjaan konstruksi. Banyak pohon yang mesti dihilangkan agar tidak mengganggu pekerjaan. Jalan yang lebar tanpa pohon peneduh di sisi jalan dan udara yang panas adalah kondisi yang buruk untuk bersepeda. Udara yang panas membuat tempo kayuhanku melambat. Beberapa kali aku dipaksa berhenti untuk minum dan istirahat sebentar. Rasanya perjalanan melintas jalan ini sangat lama, membosankan, dan membuatku sedikit frustasi.

Beberapa kali aku lihat peta untuk mengetahui persimpangan yang aku tuju. Masih ada sekitar 200 meter lagi. Tempo aku tingkatkan kembali agar segera tiba di persimpangan tersebut. Di dekat persimpangan tersebut terdapat sebuah minimarket. Aku berencana untuk istirahat sekaligus membeli minum di sana. Minumku habis ketika melintas Jalan Kalimalang yang panas dan membosankan. Sekitar 15 menit aku istirahat. Tenaga sudah kembali terisi dan siap melanjutkan perjalanan sejauh 4 km lagi untuk tiba di tempatku.

Rute Bersepeda Bekasi-UI

Β 

Bersepeda dari Bekasi ke UI memang seru dan hampir saja meruntuhkan semangatku ketika melintas Jalan Kalimalang. Jarak yang aku tempuh pagi itu ternyata sekitar 70 km. Jauh dari perkiraan jarak peta, yaitu 60 km perjalanan pergi pulang. Aku tidak menyesal telah bersepeda dari Bekasi ke UI. Bahkan aku telah berencana untuk kembali lagi mencoba rute ini bersama temanku. Saat aku bersepeda pagi itu, temanku sedang berada di Semarang. Sehingga dia tidak bisa ikut bersepeda. Dia sangat penasaran dan semangat untuk mencoba rute bersepeda dari Bekasi ke UI.

Bersepeda Bekasi-UI, 30 Agustus 2020

*Mohon maaf jika artikel memotong kelanjutan cerita tentang Pulau Sinabang. Kelanjutan cerita tentang Pulau Sinabang akau dipublikasikan pada minggu depan. Terima kasih telah singgah di blog ini :’)

You may also like

48 comments

Nasirullah Sitam September 4, 2020 - 7:16 am

Aku malah kepengen gowes di Jakarta atau Bandung. Pokoknya asal blusukan aja tanpa arah ahhahahah. Semoga tahun depan bisa blusukan di sana.

Reply
Rivai Hidayat September 4, 2020 - 8:15 am

aku ada rencana bersepeda di bandung sih. Nunggu waktu luang dan libur agak panjang biar puas. πŸ˜€
Kalau di jakarta enak di jalan protokol, kalau sudah masuk ke jalan-jalan sempit sedikit membingungkan mas. Oyaa, jalan memutar di jakarta juga lumayan jauh πŸ˜€

Reply
Ina September 4, 2020 - 7:22 am

Rutenya mayan juga ya… manteepp tenaan, apalagi sepedaan pas ga ada pohon2, duuh, puanasnyaaa

Lama-lama nyepeda bekasi-semarang nih…

Sehat-sehat selalu kita ya, hehe

Reply
Rivai Hidayat September 4, 2020 - 8:39 am

lumayan untuk menikmati suasana kota metropolitan kemudian menuju kawasan hijau yang banyak pohon πŸ˜€
Nyepeda bekasi-semarang…? sudah masuk wishlist sih..entah kapan dieksekusi πŸ˜€

Reply
CREAMENO September 4, 2020 - 9:02 am

70 KM?! OMG jauh bangettt itu, mas hahahaha. Saya sepertinya naik sepeda nggak pernah bisa sejauh itu, paling jauh mungkin 2 KM dan itu pun sudah ngos-ngosan hahahaha. Dan berhubung saya nggak berani naik sepeda di jalan raya, biasanya saat ingin naik sepeda, saya akan ke Kebun Raya ~ itu pun jarangggg mungkin setahun dua kali saja hahahahahaha *malu sama rumput yang bergoyang*

Kalau bahas soal sepeda, yang saya pikirkan langsung ke betis, sakitnya bagaimana itu mas. Nggak sakit, kah? Saya yang gowes cuma 2KM, traumanya masih berasa sampai sekarang soalnya

Reply
CREAMENO September 4, 2020 - 9:03 am

Ternyata nggak ada emote :3

Reply
Rivai Hidayat September 4, 2020 - 9:26 am

untuk emote tinggal pake kombinasi huruf aja. Bisanya cuma ketawa aja πŸ˜€

Reply
Rivai Hidayat September 4, 2020 - 9:26 am

Sebetulnya baru nyadar bakal tembus 70km. Padahal perkiraan cuma sekitar 60km. Rutenya jalan datar kok. Jadi cukup menyenangkan πŸ˜€
Kalau badan sih ga terasa pegal, hanya sedikit gosong di kaki karena kepanasan… Eh ternyata bagian lengan jadi belang..hahahahaha

Nggak usah trauma mbak, karena Semua akan kembali bersepeda lagi pada waktunya πŸ˜€

Reply
CREAMENO September 4, 2020 - 3:45 pm

Semoga komentar ini nggak dibaca kesayangan, bisa berabe kalau saya diajak naik sepeda, nanti drama Seongsan kembali terulang hahahahaha πŸ˜€

Reply
Rivai Hidayat September 5, 2020 - 5:45 am

Kalau drama seongsan kembali terulang, yaa cukup ajak mbak eno ke mcd aja. Silakan tinggal pesan apa yang ingin dimakan…Pasti langsung baikan..hahahhaha

Reply
Aji Sukma September 4, 2020 - 2:50 pm

Aku membacanya sambil ngos2an & mijit2 kaki. πŸ™

Reply
Rivai Hidayat September 5, 2020 - 5:21 am

yang nyepeda siapa, yang ngos-ngosan siapa πŸ™

Reply
Lia The Dreamer September 5, 2020 - 3:36 am

Dari Bekasi ke UI naik sepedah? *Langsung lemes bayanginnya* wkwk
Naik kendaraan seperti motor atau mobil aja, rasanya jauh sekali kak tapi kakak mampu gowes sejauh itu. Hebat!
Terus lewatin jalur neraka pula alias Kalimalang. Di sana benar-benar gersang banget, nggak heran kalau rasanya lama banget durasi menggowes di daerah sana. Gersang, berdebu, suka macet, paket lengkap wkwk
Tapi, aku salut sama kak Rivai karena sanggup menempuh jarak sejauh itu dan melewati jalur neraka itu. Seru juga baca kisah perjalanannya!

Reply
Rivai Hidayat September 5, 2020 - 5:28 am

Iyaa mbak lia. aku bersepeda sendirian ke sana. Awalnya penasaran untuk bersepeda ke sana. Setelah memantapkan hati, akhirnya ke sana juga:D
naik motor dari bekasi ke depok sudah pernah. Sekarang coba pakai dengan cara lain, yaitu bersepeda πŸ˜€

Bener-bener melelahkan melewati jalan kalimalang. Memang jangan melewati jalan ini ketika siang hari..wkwkkwkwkk
Terima kasih mbak lia. Tunggu cerita perjalananku selanjutnya πŸ˜€

Reply
bara anggara September 5, 2020 - 6:46 am

jauh juga perjalanannya, mana di UInya cuma sebentar, sayang gak bisa masuk ya… Rekor terjauhku bersepeda sekitar 120km, tapi banyak turunan, itu tahun 2012.. Kalau di masa sekarang sih paling jauh cuma 27km πŸ˜€

sepedanya difoto dong masbro..

Reply
Rivai Hidayat September 5, 2020 - 8:51 am

tahun 2012 sudah bersepeda sejauh itu, mantap banget πŸ˜€
Aku belum pernah nembus 100km. Paling jauh masih sekitar 70km. Nanti kalau ada kesempatan bakal touring jarak jauh πŸ˜€

aah iyaa, itu foto sepedanya terpotong karena tulisan Universitas Indonesia…hahahah
Sepeda yang dipakai sepeda federal. Sepeda jadul πŸ˜€

Reply
ainun September 5, 2020 - 1:20 pm

wowww 70 km, aku lari 5-10 aja udah sebuah prestasi
biasanya kalau rame rame capeknya mungkin nggak bakal terasa ya, ada senengnya, meskipun pegel kaki juga tetep ada
amazing pokoknya nih mas rivai

Reply
Rivai Hidayat September 6, 2020 - 2:40 am

Dulu aku juga sering ikutan lari mbak ainun. Tapi setahun ini beralih ke sepeda. Salah satu alasannya karena daya jelajahnya lebih luas..hehehee

Mari bersemangat untuk olahraga mbak πŸ˜€

Reply
Rini Uzegan September 5, 2020 - 2:55 pm

Kalo punya kesempatan seperti Mas Vai, saya pengen banget sepedaan lagi, Mas sayang udah banyak buntut ribet banget jadinya, mo motoran juga ribet apalagi naek sepeda

Dulu sebelum masuk SD saya udah keluyuran naek sepeda. Berhenti setelah masuk kuliah, karena temen-temen yang lebih suka jalan kaki, yah jadi saya ikutan jalan kaki . Dulu sepeda yang pernah saya coba itu dari sepeda mini, sepeda bmx, sepeda federal, sepeda balap dan sepeda ontel (itu kalo pas mudik ke kampung ortu atau silahturahmi ke rumah temen dan keluarga pas lebaran, dateng-dateng langsung nanya-nanya siapa yang punya sepeda trus langsung keliling-keliling di sepanjang pinggiran hutan dan sungai sepanjang hari, pas orang mau pulang baru dicari.

Sepeda yang belum pernah saya coba sejauh ini adalah sepeda pixie sama lipat (maklum orang lama) hihihi… tapi gak tau kalo ada sepeda jenis baru lagi. Dari sekian banyak sepeda pinjeman yang saya coba itu mungkin udah tak terhitung lagi udah berapa banyak accident yang terjadi untunglah sepedanya gak kenapa-kenapa, paling kaki saya yang suka babak belur

Reply
Rivai Hidayat September 6, 2020 - 7:28 am

waah mantap mbak rini. Sedari kecil sudah suka bersepeda. Di kampungku dulu anak-anaknya juga suka bersepeda. Tapi seiring berjalannya waktu, banyak yang ga bersepeda lagi. Mungkin seperti yang dialami mbak rini seperti sekarang.
Aku malah belum pernah nyoba sepeda roadbike mbak. Padahal ada teman yang punya. Mungkin takut jadi kenceng naik sepedanya..hahhahaa
Sama seperti mbak rini, paling berkesan ketika naik sepeda onthel (kadang kami nyebut dengan pit kebo) karena bentuknya yang besar. Saat itu naik pit kebo keliling kampung dan lewati pematang sawah. Sungguh menyenangkan mengenang cerita keliling kampung naik pit kebo πŸ˜€

Sepeda fixie cocok untuk kehidupan kota (macam jakarta). Lumayan kenceng sih untuk jalan datar. Tapi ga cocok untuk jalan dengan kontur perbukitan. Sedangkan sepeda lipat sangat praktis. Kalau capek tinggal dilipat aja, kemudian tinggal pesen taksol…hhahahaha

Ayo mbak Rini, semangat untuk bersepeda lagi πŸ˜€

Reply
Astriatrianjani September 6, 2020 - 8:37 am

Wah.. Luar biasa banget bisa bersepeda sejauh 70 km. Kalau sudah hobi jarak sejauh apapun terasa menyenangkan ya. Walaupun di daerah kalimalangnys udah kayak gurun, tapi tetep semangat. Saya sepedahan paling cuma 100 meter, muter-muter di halaman doang. Minjem sepeda adek sepupu pula

Reply
Rivai Hidayat September 6, 2020 - 10:09 am

Yaa mungkin karena suka eksplore tempat baru jadinya sangat menyenangkan. Tetep semangat agar cepet sampai rumah..hahhahaa
100 meter juga gpp mbak. Yang penting senang melakukannya πŸ˜€

Reply
Agung Pushandaka September 6, 2020 - 8:55 am

Keren mas, bersepadanya jauh. Saya kalau bersepeda jauh, takutnya pas mau pulang malah naik kereta atau taksi. Hehe.

Kalimalang itu nampaknya jalanan yang takkan pernah selesai berkembang. Salah satu andalan warga Bekasi dan sekitarnya yang mau berangkat ke Jakarta. Saya dulu waktu masih tinggal di Duren Sawit, setiap sore melintas di sana.

Sekarang sudah berdiri gagah jalan tol layang di atas kalinya. Mungkin di masa depan akan dikembangkan transportasi sungai di sana karena sungainya lebar dan airnya tak pernah surut. Hehe.

Reply
Rivai Hidayat September 6, 2020 - 10:19 am

itu sih kelebihannya sepeda lipat. Kalau udah capek baliknya bisa naik kereta atau taksi πŸ˜€
Dulu sering macet, sekarang tambah panas dan gersang. Semakin banyak pembangunan, beban kalimalang sangat berat mas πŸ˜€

Reply
Hicha Aquino September 6, 2020 - 11:56 am

Rute terjauh sepedaan saya kayaknya cuma 20km saja. Itu juga waktu masih di Jepang. Sekarang mah sepeda aja ngga punya. :))

Awal-awal pindah ke Jakarta sempat kepikiran buat bike to work. Tapi selain ga tahan dengan polusi dan pengguna jalannya, saya juga bingung nanti sampe kantor mau mandi di mana. Ga enak juga gawe abis keringetan gitu, kan… hahaha

Reply
Rivai Hidayat September 7, 2020 - 2:33 am

pada hari kerja, jalanan di jakarta tidak bersahabat untuk bersepeda mbak. Meskipun sudah ada jalur sepeda, tapi masih sering berbagi dengan kendaraan lainnya. Kalau mau bike to work mesti bernagkat lebih pagi. Jadi sampai kantor bisa mandi sebentar di kamar mandi kantor. jadi lebih nyaman ketika kerja πŸ˜€

Reply
Hicha Aquino September 8, 2020 - 3:47 am

Sayangnya di kantor cuma ada toilet, ga ada kamar mandi

Reply
Rivai Hidayat September 9, 2020 - 12:44 am

Sungguh merepotkan kalau gini πŸ˜€

Reply
PIPIT September 7, 2020 - 3:20 am

Edaaaannn!!!
Ini sepedahan PP 70an km?
Salut sama Mas Rivai!!!

Sebagai masyarakat di wilayah kabupaten, aku g bisa membayangkan kayak apaan tuh perjalanan 70an km melewati daerah-daerah yang notabene wilayah perkotaan, Aku menyadari betul kalau diriku ini nggak betah tinggal di kota besar, jadi udah kebayang jelek-jeleknya duluan, yang panas dan polusi, yang macet, yang diklaksonin kendaraan bermotor yang banyak itu. Huft…

Ngomong-ngomong soal sepeda, bapak aku nih yang lagi keranjingan. Beliau kayak Mas Rivai, sepedaannya g harus patokan kelompok, malah sering sendirian bapak tuh. Cuman yang beda, karena ini masih di daerah, bapak selalu lewat jalur dalam yang notabene hijau. Kemarin beliau cerita habis sepedahan ke 3 kecamatan. Emang nggak sejauh Bekasi – UI sih, soalnya kalau itu kebayang bapak bakal encok pulang-pulangnya.

Reply
Rivai Hidayat September 7, 2020 - 7:20 am

bagi yang suka sepeda jarak jauh, jarak segini sebetulnya sudah biasa sih mbak. Jadi aku mulai membiasakan untuk bersepeda jarak jauh. Anggap saja sebagai eksplore sebuah tempat πŸ˜€

Resiko bersepeda di kota besar memang seperti itu mbak. Harus siap berbagi jalan dengan pengguna jalan lainnya dan segala resiko yang ditemui. Kebetulan semarang, tempatku berasal, juga sangat ramai dan kadang mcaet. Tapi belum sepadat di jakarta dan sekitarnya..hehhehe

Beberapa orang tua yang aku kenal juga sangat suka bersepeda. Kadang mereka gabung dengan anak muda. Gowesan bareng, dan mereka tidak tertinggal. Masih kuat dan bisa mengimbangi kecepatan anak muda..hhehehe
Salam untuk bapaknya mbak pipit. Semoga tetap bersemangat bersepeda πŸ˜€

Reply
Agus warteg September 7, 2020 - 3:28 pm

Wah luar biasa mas Rivai bisa bersepeda dari Bekasi ke universitas Indonesia. Jaraknya itu lho 30 km, bahkan setelah pulang lewat jalan lain jadi 70 km ya. Apa kakinya ngga capek ya?

Kalo aku paling bersepeda hanya beberapa kilometer saja, ngga kuat soalnya kalo jauh.

Reply
Rivai Hidayat September 9, 2020 - 12:40 am

kalau capek sudah biasa mas. Cuma pas di jalan malah ga kuat sama panasnya. Dulu bersepeda cuma beberapa kilometer aja, lama-kelamaan akhirnya jaraknya nambah juga πŸ˜€

Reply
Ikrom September 8, 2020 - 12:38 am

wah keren banget mas 70 km
aku belum 5 km aja udah ngos ngosan huhu
UI itu di depok ya aku suka salah kira masih di JKT
tapi memang sebenarnya tidak hanya tren si sepedaan kalau bisa udah jadi gaya hidup
pengen ke UI jua bagus ya pemandangannya

Reply
Rivai Hidayat September 9, 2020 - 12:44 am

kalau 5km, di semarang itu keliling jalan pemuda-pandanaran-gajahamada-pemuda lagi. Itu jaraknya sekitar 5km mas dengan kondisi jalan datar πŸ˜€
Iyaa di depok, dekat stasiun UI dan Pondok cina. Lingkungannya sangat teduh dan cocok untuk olahraga mas πŸ˜€

Reply
Fanny_dcatqueen September 8, 2020 - 2:06 pm

Astaghfirullah…… Aku auto ngucap mas. Masalahnya jarak segitu aku inget pas dari Denpasar ke Uluwatu naik motor sewaan, aku cek segitu juga, 60 km Pp lah. Suami yg bawa motor dan aku yg duduk di belakang aja ngerasa ini kok ga nyampeeee2 yaaaak.

Apalagi naik sepeda yg jalanannya begituuu hahahaha. Aku saluuuut Suhu…

Malah nambah jd 71 km ya totalnya :D. Kurasa kalo aku, sepeda aku tinggal di mana dulu, trus pulang naik grab, sepeda ntr diambil pake mobil ekwkwkwkwkwk.

Reply
Rivai Hidayat September 9, 2020 - 3:14 am

yang penting yakin dan terus ngayuh aja sih mbak…hahhahaa
kadang yang duduk di belakang itu malah lebih capek mbak daripada yang nyetir. Mikirnya ga sampai-sampai.

Sebetulnya jalannya enak, datar dan lebar. tapi yang ga kuat sama panasnya kalimalang.
Salah satu cara praktis kalau sudah lelah bersepeda. Kalau sepeda lipat yaa tinggal lipat sepeda terus pesen taksol..hehhehehe

Makasih mbak fanny, mari kita bersepeda lagi πŸ˜€

Reply
A Dreamer September 9, 2020 - 3:28 am

Jangankan Bekasi-UI mas Rivai, naik sepeda aja saya nggak bisa haahahha. Baca ini jadi berasa cupu, dulu waktu masih bocah saya lebih suka panas-panasan di lapangan sambil main layangan dibandingin kakak saya yang hobi banget sepedahan. Alhasil sampai sekarang belum bisa naik sepeda, dulu pas KKN belajar siih, cuman ya gituu hahhaa.
Keren lah 70km walau saya nggak tahu 70km itu seberapa lama kalau ditempuh naik motor. Tapi kayaknya kalau 70km gowes pulang pergi, betis saya migrain mas. Haha.

Reply
Rivai Hidayat September 9, 2020 - 12:43 pm

Ayo mbak sovi belajar sepeda lagi. Ga perlu jauh-jauh, yang penting bisa naik sepeda dulu πŸ˜€

Reply
Phebie September 9, 2020 - 6:54 am

Wuih keren sejauh itu loh…pasti sudah biasa ya
Saya suka sepedahan cuma rutenya blm jauh…pelan2 dulu…
Paling seru itu kalau sudah nemu rute2 ajaib …

Reply
Rivai Hidayat September 9, 2020 - 12:41 pm

Yaa akhir tahun lalu mulai serius bersepeda. Jadi ga termasuk ikut tren yang terjadi sekarang πŸ˜€
Rute seru itu kalau rutenya adem dan banyak penjual makanan…hahhaaa

Reply
morishige September 10, 2020 - 2:18 pm

Jauh banget, Mas. Kalau dari Jogja sudah hampir nyampe Sragen itu kayaknya. πŸ˜€ Sepedaan segitu jauh kayaknya saya bakal encok seminggu. Hehehe…

Reply
Rivai Hidayat September 11, 2020 - 10:42 am

Aah iyaa, jalanan di jabodetabek cenderung datar. Jadi sangat menyenangkan kalau bersepeda jarak jauh. Ya paling mesti hati-hati karena jalan padat dan panas.
Ayo bersepeda mas. Kayak pas di angkor wat πŸ˜€

Reply
Zizy Damanik September 11, 2020 - 7:56 am

Gilingan. Jauh amat hahah.
Tapi kalau sudah terbiasa olahraga memang harus push sampai limit ya kan. Sukses terus, jangan lupa ngopi sebelum bersepeda wkwkwk…

Reply
Rivai Hidayat September 11, 2020 - 10:54 am

Biasanya berseepda di pagi hari, bangunnya kesiangan. Jadi tidak sempat kalau ngopi dulu…hahhaha
mungkin pas sore aja, jadi lebih longgar waktunya. Aku penasaran apakah ngopi sebelum bersepeda bisa nambah stamina.. rasanya mesti dicoba…hahaahaa

Reply
Justin Larissa September 11, 2020 - 10:56 pm

Tau suami saya sepedahan dari Bekasi ke Depok saja sudah terkaget kaget, lha ini PP hampir 70 km bok! Gileeee! Tapi memang ya jalan Kalimalang itu bikin frustasi, gak bosennya gak macetnya wakakakakak. Btw soal ngopi sebelum sepedah, suami saya selalu ngopi dulu lho sebelum olahraga termasuk sepedahan. β€œNingkatin adrenalin,” katanya.

Reply
Rivai Hidayat September 12, 2020 - 3:24 am

Dipikirnya bekasi-depok dekat. Tapi ternyata setelah dihitung jarak lumayan jauh juga. Jalan kalimalang memang punya daya tarik sendiri..hahhahaa
Ehm iyaa juga, biasanya abis ngopi memang terpacu adrenalinnya πŸ˜€

Reply
Dyah September 12, 2020 - 9:37 pm

Wah, jauh juga ya, Bekasi – Depok. Terus, pulang lewat Cawang nggak bahaya tuh, banyak mobil? Eh, tapi di PSBB Transisi, kendaraan yang lewat nggak terlalu banyak ya? Saya baca artikel ini kok jadi ikutan capek sendiri, hahaha.

Reply
Rivai Hidayat September 13, 2020 - 10:34 am

Yang penting hati-hati dan patuhi aturan di jalan mas. Sebagai pesepeda, kita berada di lajur paling kiri. Jadi tidak boleh berada di lajur tengah dan kanan.

Reply

Leave a Comment