Berlabuh di Desa Tanjung

by Rivai Hidayat

Sesuatu yang diawali, pasti suatu saat akan diakhiri. Seperti itulah perjalananku di Selimbau dan sekitarnya. Kini saatnya aku dan beberapa temanku berpindah tempat menuju Kecamatan Suhaid. Kedua kecamatan ini berbatasan langsung. Namun, letak kedua kantor kecamatannya terbilang cukup jauh. Perjalanan melalui jalur darat membutuhkan waktu sekitar 1-2 jam perjalanan. Sedangkan jika melalui jalur Sungai Kapuas membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit perjalanan. Siang itu, aku melalui jalur darat dengan melewati beberapa jalan yang masih berupa tanah yang rusak parah.

Kualitas jalan yang buruk  menyebabkan sebuah truk terjebak dalam lumpur. Jalan tanah tersebut berubah menjadi jalan berlumpur akibat hujan deras semalam. Butuh beberapa jam dan belasan warga untuk mengevakuasi truk naas tersebut. Menurut Bang Ahmad, sopir kami, kondisi jalan di Desa Menapar dan Krangas ini sangat memprihatinkan. Sudah berkali-kali warga desa meminta kepada pihak dinas dan pemerintah kabupaten untuk memperbaiki ruas jalan ini. Katanya tahun ini atau tahun depan. Namun, sampai saat ini belum ada kabar lagi.
Baca Juga: Singgah di Desa Jongkong Hulu

Di siang hari yang mendung, akhirnya kami tiba di kantor Kecamatan Suhaid. Selama berada di sini, kami akan menempati sebuah rumah dinas milik kecamatan yang letaknya berada di kompleks kantor kecamatan. Setelah meletakkan seluruh perlengkapan, kami bergegas mencari warung makan. Perjalanan yang jauh membuat kami merasa lapar. Singgahlah kami di sebuah warung makan. Setelah mengobrol, kami baru tahu bahwa pemilik warung makan berasal berasal dari kota yang sama dengan kami, yaitu Kota Semarang. Sudah beberapa tahun, pemilik warung makan ini telah menetap di sini. Tidak hanya dia, beberapa pegawainya juga berasal dari Kota Semarang.

Setelah tiba di rumah dinas, kami langsung membagi wilayah desa yang akan kami datangi. Tanpa ada keraguan, aku memilih Desa Tanjung. Pada saat itu juga aku diantarkan ke ujung jalan yang tidak jauh dari kantor kecamatan. Warga sini menyebutnya terminal. Tempat ini menjadi tempat parkir kendaraan bermotor. Terminal ini menjadi tempat pemberhentian perahu yang ingin menuju Kecamatan Suhaid dan desa-desa yang ada di sekitarnya.
Baca Juga: Menyusuri Cerita Kopi dan Berwisata di Desa Muncar

Tak berselang lama, beberapa orang perangkat Desa Tanjung menghampiri kami. Mereka mengajak kami menuju sebuah perahu mesin yang akan membawa kami menuju Desa Tanjung. Sebetulnya ada jalan berupa jembatan kayu untuk menuju desa. Namun, saat itu perlengkapan yang kami bawa cukup banyak. Sehingga tidak memungkinkan untuk berjalan kaki. Perahu mesin menjadi pilihan utama untuk sarana transportasi bagi warga Desa Tanjung. Jembatan kayu hanya diperuntukan bagi pejalan kaki. Kendaraan motor tidak boleh melintasi jembatan kayu, kecuali kendaraan tersebut dituntun oleh pengendaranya.

  • desa tanjung

Perahu mesin sepanjang 8 meter milik Pak Lie, Kepala Desa Desa Tanjung, mulai meninggalkan dermaga yang berada di Sungai Ringgit. Kemudian berbelok menuju Sungai Batang Suhaid. Dari sungai ini barisan permukiman Desa Tanjung dapat terlihat. Sungai ini juga jadi batas wilayah dan memisahkan antara Desa Tanjung dengan Desa Tanjung Harapan. Pada awalnya kedua desa ini merupakan satu desa, yaitu Desa Tanjung. Namun seiring berjalannya waktu dan banyaknya warga, desa ini kemudian dipecah menjadi dua. Kedua desa ini dihubungkan oleh sebuah jembatan gantung yang membentang di atas Sungai Batang Suhaid.
Baca Juga: Tinggal di Desa Jongkong Hulu

desa tanjung
Jembatan kayu yang menjadi akses jalan desa

Dari Sungai Batang Suhaid perahu memasuki sebuah sungai kecil. Warga desa menyebutnya dengan Sungai Terus. Sungai ini hanya ada ketika Sungai Kapuas sedang meluap. Jika sedang surut, maka sungai ini juga akan surut dan tidak bisa dilewati oleh perahu. Sungai ini tidak lebar dan hanya tanaman liar yang menjadi pembatas sungai. Kemudian perahu berbelok ke Sungai Kapuas dan bersandar di sebuah dermaga. Sungai yang sedang meluap memudahkan perahu untuk bersandar. Tali telah tertambat di tiang-tiang dermaga. Aku mulai menaiki anak tangga untuk menuju ke jembatan kayu.

Sungai Terus
Senja saat tiba di Desa Tanjung

Di seberang sana terlihat sebuah rumah. Ternyata kedatangan kami telah ditunggu oleh Mas Irfan, sang pemilik rumah. Selama berada di Desa Tanjung, aku akan tinggal di rumah Mas Irfan. Semua perlengkapan telah selesai dipindahkan dari atas perahu. Tidak terasa perjalanan panjang dari Selimbau menuju Kecamatan Suhaid, dan akhirnya berlabuh di Desa Tanjung. Ternyata hari mulai beranjak petang. Sore hari yang gerimis telah berganti dengan senja temaram. Senja pertama yang aku nikmati di desa ini sangatlah menawan. Rasanya aku tidak akan pernah menyesal telah berlabuh di Desa Tanjung. Aku jadi tidak sabar menanti hari esok dan bertemu dengan senja-senja lainnya.

Cerita Dari Kapuas
Desa Tanjung
4 Februari 2021

You may also like

25 comments

efoteo January 6, 2022 - 4:29 pm

Perkalimantanan memang khas dengan menaiki ketingting gitu ya wkwk, ku jadi ingat tahun kemarin pernah nyebrang sungai gara-gara jalur darat di katingan hilir keputus wkwk, lewat jembatan yang buset kalau kaga nunduk bisa kejedot wkwk tapi seru sih, kusuka 😀

Reply
ainun January 9, 2022 - 12:10 pm

omaigodd foto senjanya cakep beuddd itu, aslikk astagahhhh, pengen kessana deh bawaannya hahaha
foto jembatannya ngingetin aku sama jembatan yang di banjarmasin, pasar terapung lok baintan

Reply
Rivai Hidayat January 10, 2022 - 5:42 am

Sebagai wilayah yang dioebuhi dengan sungai. Pemandangan jembatan seperti itu sangat mudah dijumpai yaa mbak.

Reply
Rivai Hidayat January 10, 2022 - 5:34 am

Perahu kayak gini udah mirip motor. Jadi kendaraan utama. Pas kemarin banjir, oerahu warga juga digunakan untuk evakuasi.
Tahun 2019 aku pernah ke katingan mas. Sungai katingan emang sangat lebar dan dekat dengan pemukiman

Reply
Ikrom Zain January 6, 2022 - 11:13 pm

wah keren banget itu jepretan terkahirnya
banyak banget ya mas sungai yang surut dan ga ada air pas kemarau
tapi kalau pas bisa dilewati jadi keren
berasa di sungai hutan-hutan amazon gitu

Reply
Rivai Hidayat January 10, 2022 - 5:35 am

Anak sungai seperti ini sangat banyak. Antar sungai terkadang juga nyambung. Seru sih pas nyusuri sungai-sungai tersebut. 😀
Makasih mas ikrom 😀

Reply
Nasirullah Sitam January 7, 2022 - 1:26 am

Maktratap lihat foto senjanya, kayaknya pemandangan seperti ini kelihatan waktu menjelang pancaroba. Mengilau dengan baik. Banyak kesan di sana, mas

Reply
Rivai Hidayat January 10, 2022 - 5:36 am

Saat itu sering menikmati langit senja seperti ini. Biasanya menghabiskan waktu dengan duduk di dermaga

Reply
dea merina January 7, 2022 - 10:10 am

nama sungainya rada ambigu ya, Sungai Terus. jadi keinget desa temenku di Tuban. waktu itu kami berempat pergi ke rumah temen yang ada di Tuban dan harus numpang truck soalnya nggak ada kendaraan umum ke arah sana. nah, pas di jalan si driver nanya ke temenku mau turun di mana, temenku bilang ‘Goa Terus, Pak’ ya aku pikir daerah goa tapi masih lurus terus gtu. eh ternyata nama daerahnya Terus hehe
btw, selalu suka pemandangan senjaaaaaa aduh apalagi dikombinasi sama perairan (danau, pantai, lautan lepas) selalu apik

Reply
Rivai Hidayat January 10, 2022 - 5:38 am

Bener mbak dea. Pas pertama kali juga bngung kenapa namanya sungai terus. Yaa karena jadi terusan yang sering dilewati. Kalau pas surut, sungai hilang.

Tinggal nunggu perahu lewat agar senjanya lebih cakep 😀

Reply
Andrie K. January 7, 2022 - 4:31 pm

Wahhh berarti kalau sungai terus ini surut aktivitas warga dilakukan dengan kendaraan bermotor yaa, menarik banget nih sungainya..

Reply
Lalaysf January 8, 2022 - 2:38 am

Mas, dari Selimbau ke Suhaid kenapa nggak jalur sungai saja ketimbang jalur darat? Itu kamu ketemu sama orang Semarang di sana, ngobrol pakai bahasa Jawa juga nda?

Terima kasih foto senjanya yang lagi-lagi buat iri! 🙂

Reply
Rivai Hidayat January 10, 2022 - 5:40 am

Karena belum tahu. Tahunya hanya lewat darat. Ternyata angkutan antar kecamatan bisa menyewa perahu dengan menyusuru sungai kapuas.

Tentu saja pakai bahasa jawa. Khan satu daerah 😀

Reply
Rivai Hidayat January 10, 2022 - 5:39 am

Tidak mas..perahu diletakkan di dermaga lainnya. Aktivitas di sana tanpa kendaraan bermotor mas andri

Reply
Dodo January 9, 2022 - 7:36 am

Mas Rivai, foto yang terakhir keren banget looh. KAlo dipost di IG pasti tambah ciamik banyak yg like n komen heheee

Reply
Rivai Hidayat January 10, 2022 - 5:40 am

Makasih mas dodo 😀
Kebetulan lagi ga main ig. Jadi yaa dipost di blog aja 😀

Reply
Endah April January 10, 2022 - 3:32 am

Senjanya cantik banget! Langit kalau habis hujan itu jadi lebih cantik nggak sih dari biasanya, kadang bisa warna orange, pink, bahkan ungu. <3 Terus itu sungainya warnanya nggak coklat ya wow.

Reply
Rivai Hidayat January 10, 2022 - 5:45 am

Sungai kapuas warnanya coklat. Karena malam ga terlalu keliatan..hehhee

Makasih endah 😀

Reply
Ursula Meta Rosarini January 11, 2022 - 7:35 am

Perahu mesinnya namanya apa mas? Aku pernah naik perahu mesin semacam itu di daerah Tulang bawang, Lampung, namanya perahunya “gethek” hahahha, bisa buat orang dan motor juga.

Reply
Rivai Hidayat January 17, 2022 - 11:47 pm

seingatku tidak ada nama khusus untuk perahunya. Kalau perahu ini hanya untuk orang aja mbak ursula. Kalau untuk motor ada beda lagi. Namanya ponton, biasanya digunakan untuk penyeberangan aja.

Reply
Phebie January 14, 2022 - 8:38 pm

Jadi inget semasa tinggal di Kalimantan naik perahu kemah di pedalaman Seru. Apalagi kalau baca cerita-cerita begini. Saran saya mumpung alamnya banyak yang belum tersentuh banyak manusia kita puas2kan nikmati. Setelah ibukota pindah semua belum tentu sama lagi.

Btw yang lagi banyak pembangunan sepertinya sekarang Kalimantam Timur.

Reply
Rivai Hidayat January 17, 2022 - 11:50 pm

bener sih, kalimantan dikenal sebagai seribu sungai. Perahu menjadi alat transportasi yang digunakan untuk menuju daerah pedalaman. kalau jadi pindah ibukota, kalimantan bakal lebih ramai lagi. Yaa karena ibukota baru terletak di kaltim.

Reply
Fanny_dcatqueen January 15, 2022 - 4:43 pm

Pengalaman ngerasain tinggal di desa yg lumayan terpencil gini, bener2 jadi pengalaman memorable banget ya mas. Aku ngikutin cerita2 mu selama di Kalimantan, dan jadi kepengin kawan2 bisa nginjakin kaki kesana . Ya kali Brunei aku pernah datangin, tapi yg kota2 Indonesianya malah belum .

Aku sukaaa bgt foto sunsetnya. Kombinasi warnanya ga biasa, cantiiiiik. Biasanya kan cendrung Oren merah yaaa, ini merah ungu❤️❤️❤️

Reply
Rivai Hidayat January 17, 2022 - 11:54 pm

Mbak fanny kayaknya emang emsti ke kalimantan deh. Petualangan di sana sangat berbeda. Aku pun masih kepikiran suatu saat bisa balik lagi ke sana.
maksih mbak fani telah mengikuti cerita ini. Belum tahu mau kelar kapan. Masih ada beberapa bagian yang ingin aku ceritakan..hehhehe

Pas di desa Tanjung aku sering banget menikmati senja. Dan yang ini merupakan salah satu yang terbaik 😀

Reply
Gustyanita Pratiwi January 18, 2022 - 6:13 am

Mas vay, kotak komennya kadang kok lompat lompat ya pas kuketik dari hape mbul

oh petualangan di desa desa di Kalimantan masih berlanjut yo Mas, seru juga berperahu dan menyusuri sungai di kala senja. Dan takjubnya pas ke warung yang punya masih orang dari Kota sendiri yaitu semarang, yang merantau di sana
jadi penasaran kalau makanan khasnya tempat masvai kerja di situ apa aja toh?

Reply

Leave a Comment