Menyapa Kota Pagaralam

Jalan-Jalan , Keliling Kota , Pagaralam Jun 30, 2018 No Comments
Pesawat Wings jenis ATR 72-600 berhasil mendarat dengan sempurna di landasan Bandara Atung Bungsu, Kota Pagaralam. Pesawat yang memiliki sekitar 70 tempat duduk ini membawa kami dari Bandara Sultan Badaruddin II, Kota Palembang.  Penerbangan  dari Kota Palembang menuju Kota Pagaralam berlangsung selama 45 menit. Aku berada di Kota Pagaralam karena ada suatu pekerjaan dengan perkiraan waktu selama tiga minggu. Aku tidak akan bercerita tentang tempat tempat wisata, karena aku tidak sedang berwisata di kota ini. Apalagi tentang pekerjaanku di sana. Namun, aku akan bercerita tentang beberapa hal yang aku temui di kota ini.

Tulisan Pagaralam yang terletak di Tugu Rimau

Kota Pagaralam merupakan kota yang terletak di Provinsi Sumatera Selatan. Dahulu Pagaralam masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Lahat. Namun, sekitar tahun 2001 Pagaralam mengalami pemekaran menjadi sebuah kota mandiri. Kota Pagaralam bisa dijangkau melalui jalur darat dengan waktu sekitar 6-7 jam dari Palembang. Pagaralam tidak terletak di jalur barat, timur, dan tengah Pulau Sumatera. Sehingga kota ini bukanlah kota yang ramai, apalagi macet. Malah cenderung sepi. Sekitar pukul 21:00, jalanan di kota ini mulai sepi. Wilayah Pagaralam dikelilingi oleh perbukitan dan pegunungan. Yang paling terkenal adalah Gunung DempoSehingga udara di kota ini sangat sejuk, dingin, tenang, dan ramah. Cocok sebagai tempat untuk menikmati hari tua.

Bandara Atung Bungsu, Kota Pagaralam

Gunung Dempo
Bagi sebagian besar pendaki gunung di wilayah Sumatera Selatan dan sekitarnya tentu tidak asing dengan Gunung Dempo. Jalur pendakian gunung ini terletak di Kota Pagaralam. Salah satunya adalah jalur Tugu Rimau. Tempat ini bisa dikenali dari tulisan “Pagaralam” yang bisa dilihat dari kawasan kota. Selain itu, terdapat patung harimau dan seekor burung di kawasan Tugu Rimau.
Baca Juga: Sunrise Trip Gunung Telomoyo

Tugu Rimau yang diselimuti kabut
Pemandangan Gunung Dempo dari halaman rumah warga


Perjalanan menuju Tugu Rimau bisa ditempuh dalam waktu satu jam perjalanan dari pusat kota. Sepanjang perjalanan bakal disuguhi dengan hamparan kebun teh dan jalan yang berkelok-kelok. Khas jalan sebuah daerah pegunungan. Kebetulan wilayah kerjaku juga terletak di daerah yang mengarah ke Gunung Dempo. Kabut dan sejuknya udara selalu menemani perjalananku.

Pemandangan kebun teh dari Tugu Rimau
Gunung Dempo yang tertutup awan

Gunung Dempo merupakan gunung berapi yang masih aktif. Seringkali aku menikmati pemandangan Gunung Dempo ketika pagi atau sore hari. Terkadang kabut dan awan membuat gunung ini menarik untuk dipandangi. Pemandangan Gunung Dempo ini bisa dinikmati dari penjuru Kota Pagaralam. Kalau menurutku, Gunung Dempo adalah Kota Pagaralam, dan Pagaralam adalah Gunung Dempo. Bahkan nama Gunung Dempo digunakan sebagai nama brand sebuah kopi di Pagaralam.

Kopi Pagaralam
Ketika kita bicara tentang kopi Sumatera, hal pertama yang selalu terlintas dalam pikiran adalah kopi Gayo, kopi Aceh, kopi Sumatera Utara, dan kopi Lampung. Padahal beberapa daerah di Pulau Sumatera merupakan penghasil kopi dengan kualitas yang baik, salah satunya adalah Pagaralam. Bahkan, beberapa biji kopi yang diolah di Lampung juga dikirim dari Pagaralam. Begitulah yang diceritakan oleh salah satu petani kopi yang bertemu denganku di desa Dempo Makmur.
Kemungkinan para petani belum terbiasa mengolah biji kopi dan memilih untuk menjual biji kopi kering ke daerah lain, seperti Lampung. Sekali kirim bisa lebih dari seratus kilogram. Mereka masih berpikir yang terpenting masih bisa panen, bisa langsung menjualnya untuk mendapatkan penghasilan. Aku pernah menyarankan untuk mengolah biji kopi tersebut agar harga jualnya bisa lebih tinggi. Selain itu, ini merupakan salah satu cara mengenalkan Kopi Pagaralam kepada masyarakat luas.
Baca Juga: Menjelajah Kawasan Pecinan Semarang
Kota Pagaralam menghasilkan kopi jenis robusta yang memiliki rasa dan wangi yang istimewa. Perkebunan kopi terhampar luas. Pernah aku disuruh singgah di rumah seorang warga. Kami berbincang banyak hal. Kemudian aku disuguhi kopi yang dihasilkan dari kebunnya. Beliau juga menyuguhkan pisang yang baru dipetik dari kebunnya.
“Silahkan diminum kopinya mas, itu kopi dan pisang dari kebun kami.” ujar beliau menawariku.
Aku juga pernah dijamu di rumah seorang ketika menunggu hujan reda. Seperti biasa suguhan secangkir kopi menemani obrolan kami. Bahkan, aku meminta menambah satu cangkir lagi. Nama pemilik rumah tersebut adalah mas Imam. Kedua orang tua mas Imam adalah perantauan yang berasal dari Boyolali. Beliau masih bisa berbahasa Jawa. Kami sesekali mengobrol menggunakan Bahasa Jawa. Rumah Mas Imam memiliki bentuk dasar rumah panggung. Namun, rumah diubah menjadi rumah dua lantai. Lantai pertama menggunakan bahan baku semen. Sedangkan lantai dua menggunakan kayu. Tinggi plafon di lantai pertama juga tidak tinggi. Sekitar 2.25 meter. Hal ini dilakukan agar ruangan di lantai pertama tetap hangat, meskipun rumah berada di daerah perbukitan dan perkebunan teh yang memiliki udara yang dingin. Apalagi ketika hujan.

Kebun teh di depan rumah Mas Imam

Pernah di siang hari yang hujan deras, aku menumpang berteduh di salah satu rumah warga. Aku dipersilahkan untuk masuk ke rumah. Namun, aku memilih untuk berada di teras rumah. Aku ingin menikmati hujan dan pemandangan Gunung Dempo. Suguhan kopi dan kue menemani obrolan santai kami. Dalam obrolan itu, aku baru tahu ternyata istri pemilik rumah berasal dari Magelang.
“Matur suwun nggih bu kopine” ujarku pada istri pemilik rumah.
“Inggih mas, monggo kopine diunjuk rumiyin” jawabnya dengan bahasa Jawa juga.

Gunung Dempo ketika hujan

Beliau bercerita bahwa beberapa petani kopi mulai mengolah biji kopi menjadi kopi bubuk. Kemudian mengemas dan memasarkannya ke beberapa daerah, salah satunya Palembang. Beberapa kopi juga dijual di pasar di dekat kota.
Ketika belanja di salah satu toko di pasar, aku melihat bungkusan kopi Pagaralam dengan merk Gunung Dempo. Aku membeli dua bungkus untuk diminum di mess. Kopi tersebut dikemas dalam plastik yang cukup sederhana dengan sablon bergambar Gunung Dempo. Namun soal rasa, kopi ini memiliki rasa yang enak dan nyaman diperut. Aku punya masalah dengan asam lambung, tapi tak mengalami masalah ketika meminum kopi Pagaralam.

Kopi Pagaralam merk Gunung Dempo

Cerita kopi ini pun berlanjut ketika aku singgah di Palembang sebelum kembali ke Jakarta. Aku bertemu dengan teman-temanku yang tinggal di Palembang di kedai kopi. Kedai kopi ini merupakan milik salah satu temanku. Di kedai kopi ini menyediakan Kopi Pagaralam. Dia bilang jika kopi Pagaralam memiliki kualitas yang baik.

Ngopi dulu gan..!!!


Selain sebagai penghasil kopi terbesar di Sumatera Selatan, Pagaralam juga menghasilkan berbagai hasil pertanian dan perkebunan. Antara lain aneka sayuran, teh, wortel, kubis, dan kentang. Aku pernah diberi 1kg wortel oleh warga yang sedang memanen sayuran wortel di kebun mereka. Mungkin ibunya tahu kalau aku suka wortel.

*****
Sebetulanya banyak sekali destinasi wisata yang bisa dikunjungi ketika berkunjung ke Kota Pagaralam. Sebagian besar merupakan wisata alam. Mulai dari gunung, bukit, air terjun/curug, kebun teh, hingga kegiatan rafting. Selain itu, terdapat beberapa situs sejarah jaman megalitikum yang tersebar di beberapa lokasi. Bahkan, beberapa batuan terletak di area persawahan warga. Aku hampir tiap hari melihat situs-situs tersebut. Dalam perjalanan itu, aku juga sangat tertarik dengan keberadaan sebuah rumah panggung yang terletak di area persawahan dengan latar belakang Gunung Dempo. Sungguh menyenangkan ketika membuka jendela di pagi hari langsung disuguhi pemandangan hijaunya sawah dan birunya langit Gunung Dempo.
Baca Juga: Minggu Pagi di Pasar Karetan

Rumah panggung di tengah persawahan

Selama di Pagaralam, aku tidak menemukan kuliner yang sangat khas dari kota ini. Kuliner di Pagaralam tidak jauh beda dengan kota-kota di Sumatera Selatan. Di kota ini juga mudah ditemui makanan pempek dan model. Lengkap dengan  cukonya. Oyaa, di Pagaralam banyak yang berjualan bakso. Mungkin karena Pagaralam yang begitu dingin, oleh sebab itu banyak masyarakat yang berjualan bakso.
Setelah berkeliling untuk mencari makan, akhirnya aku singgah di CFC. CFC ini merupakan satu-satunya restoran cepat saji yang ada di Pagaralam. Ada yang lainnya, tapi belum setenar CFC, apalagi McDonalds dan KFC. Beberapa kali aku dan teman-temanku singgah di sini. Biasanya ketika kami ingin makan banyak, enak, dan murah.

Full Team

Kota Pagaralam memang tak pernah masuk daftar kota yang ingin aku kunjungi atau tinggali dalam beberapa waktu. Namun, di kota ini aku malah mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman baru. Mulai dari Gunung Dempo, Tugu Rimau, kopi, teh, dan keramahan masyarakatnya. Ini semua jauh melebihi dari apa yang aku bayangkan dari kota kecil ini. Aah, dahulu tak pernah terpikir dalam benakku untuk menyapa Kota Pagaralam. Tapi aku sangat menikmati ketika tinggal di kota kecil ini. Semoga aku bisa menyapamu lagi di lain waktu.
Kota Pagaralam, November 2017

Rivai Hidayat

0 Comments

  1. Jujur aku krg suka gaya penulisan yg ini pai…focus interestnya krg kuat, gaya ganti orang pertama jg terlalu mendominasi. Tp masing2 punya gaya nulis sendiri2 kok. Jk nyaman ya lanjuttt *sokritikus #dikrikititikus

  2. Itu tahun kemanrin mas. Kalau tahun ini belum tahu 😀

  3. Maksude ga dijelaske detail mas,hehehe

    Daerah wisata di sana masih sepi mas. Masih asyik dan nyaman 😀

  4. Waah, makasih buat masukannya mas 😀
    Lagi belajar nulis model gini mas. Mngkin perlu latihan lagi agar lebih enak dibaca.
    Suwun mas gus 😀

  5. Wah krasan kalo tinggal di sana, adem udaranya. Pemandangannya juga bikin damai di hati

  6. saya pertama kali melihat pagaralam yang hijau dari program 86 net tv yang sempat mengupas pagaralam.. luar biasa.. saya tidak menyangka, masih ada kota yang hijau dan sejuk.. meskipun terlalu jauh dari tempat saya, saya yakin pagaralam dapat menjadi contoh yang baik kota lain dalam menyelaraskan sosial dan alam.. 🙂

  7. Ini dari kampung saya kurang lebih 5 jam perjalanan. Dari dulu mau mampir ke Pagar Alam belum kesampaian. Enak ya kayaknya sejuk banget, kalau di kampung saya cenderung panas tapi di tepi Sungai Musi banget. 😀
    Baru tahu ada pesawat ATR sampai ke Pagar Alam, tarifnya berapaan tu kira-kira, mas?

  8. Iyaa mas, disana minim polusi udara. Jadi tiap hari bisa melihat langit biru yang bersih. Di sana juga dingin. Bisa main ke kebun kopi dan kebun teh juga

  9. Secara suasana dan pemandangan jadi betah dan kerasan mbak. Adem dan langitnya sering biru. Belum lagi pemandangan gunung demponya yang selalu menggoda 😀

  10. Di pagaralam banyak yang bisa dikunjungi mbak. Ga nyesel kalo ke sana karena pemandangannya bagus 😀

    Kemarin sekitar 300anribu. Berangkat dari palembang.

  11. Kebun Tehnya bikin adem, perpaduan kabut dan alam sangat sejuk.

  12. Liana

    adem bener mas, bikin betah tempatnya ya.
    saya jadi fokus banget ke kue dan kopinya. kopinya enak? ga bawa pulang kopi aja mas?
    itu wortel dibawa ke Semarang pulangnya masih awet ga? >.< haha

  13. Pemandangan gunung dempo dari rumah warga itu begitu indah, kalau rumahnya disitu foto tinggal ke samping rumah aja ya, Mas..he

    Duh lihat kebun tehnya pengen deh rasanya kesitu, Mas. Seger banget pemandangannya, belum kesampean juga nih maen ke kebun teh.

    Terkadang memang suatu tempat yang gak masuk dalam list perjalan kita selalu memberikan kejutan. Ya itu salah satunya seperti ilmu, pengalaman dan pemandangan yang indah.

  14. Kayaknya seneng–adem–tenang gitu ya, kalau punya rumah di daerah pegunungan. Selain bisa dapet view gunung Dempo, mata juga seger karena lihat perkebunan teh yang ijo royo-royo. Weh, ada orang Boyolali di Sumatra 🙂

  15. Ngopi ditemani hujan itu bener bener luar biasa rasanya. Tenang dan damai…

  16. Waah kita samaan mas, ada sedikit masalah asam lambung kl minun kopi. .Hhh
    Jd pengen nyoba itu kopi deh

  17. Tugu

    sueger banget pemandangannya mas…

  18. duhh gunung Dempo. beberapa tahun silam sempat punya niat mau nanjak kesana. pas ngejemput teman di Lampung ternyata diinfokan lagi ada pendaki yang hilang disana dan ditutuplah tuh gunung buat pencarian.
    Akhirnya melipir main-main di Lampung aja deh. hehehe

  19. Aku lebih bermasalah sama kopi sachet, daripada kopi hitam 😀

  20. Waah pasti asyik thu mas. Apalagi jalannya berkelok-kelok

  21. Bikin betah mas. Apalagi kalau pagi hari, bakal mager di bawah selimut 😀

  22. Kalau hujannya lama, malah ga bisa pulang mas dan resikonya habisin banyak gelas kopi 😀

  23. Banyak orang jawa di sumatera mas, di kalimantan juga banyak 😀

  24. beberapa perbukitan juga punya pemandangan ke arah gunung dempo. jadi Gunung Dempo bisa dinikmati dari hampir seluruh penjuru kota 😀

    Bener banget mas, kejutan-kejutan itu menjadikan perjalanan kita semakin beragam 😀

  25. Mungkin belum berjodoh dengan gunung dempo mbak. Perlu diagendakan buat ke sana mbak. Apalagi gunung dempo juga belum terlalu ramai dengan pendaki 😀

  26. Kopinya enak banget. Apalagi diminum pas hujan 😀

    Yang dibawa pulang cuma kopi, wortelnya sudah dihabiskan di sana 😀

  27. Adem rasanya di sana, kadang tempat-tempat jauh dari kampung kita menyajikan pemandangan yang indah. Buat foto lanskap bagus di sana mas.

  28. Adem banget mas. Lokasinya memang menyediakan pemandangan yang bagus

  29. Wahhh bacanya enak mas dari atas sampe bawahh, jadi kayak diceritain orangnya secara langsung dan kita sendiri kek dibawa berkeliling kota pagar alam ini.. Disertai dengan gambar dan tulisan yang sesuai, lanjutkan travelingnya dan berbagi cerita dari tempat yang dikunjungi hhe 😀

  30. Makasih mas. Semoga mas andre juga bisa jalan-jalan terus. Atau mungkin nanti kita bisa jalan bareng 😀

  31. Liana

    kopi beserta kenangannya, ya mas? :p

  32. Nah itu, kopi beserta kenanga yang belum usai…wkwkwkkwk

  33. Senangnya bisa dapet kesempatan bekerja di luar pulau. Kantornya ke arah Gunung Dempo pulak.

    Kopi daerah + kue tradisional itu memang nikmatnya juara!

  34. Resikonya kerja lapangan bakal sering ketemu dengan hal-hal yang baru. Salah satunya suguhan pemandangan gunung dempo.

    Juara banget mas, apalagi pas hujan-hujan 😀

  35. Keknya sejuk gitu ya? Menyenangkan kl bisa jalan-jalan ke tempat semacam itu.
    Tempatku yg lereng Gunung Slamet saja sekarang meski di atas berasa panas 🙁

  36. Panasnya daerah bisa dipengaruhi kepadatan pemukiman. Kalau pemukiman padat berarti bakal semakin panas. Walaupun letak diatas 😀

  37. Cukup 3 kata untuk Pagaralam – Adem, Ayem, Tentrem

    Menyenangkan sekali suasananya, masih sejuk dan dingin. Sepertinya waktu berjalan pelan di Pagaralam.

    Salam

  38. Apalagi pagaralam tidam terlalu ramai. Semuanya berjalan lebih lambat mas 😀

  39. Sering denger tentang gunung dempo.. Indah banget disana

    Pernah nanjak kesana ga kak??

  40. Semoga aku kaapan-kapan juga bisa main ke sini ah.
    NGerasain euforiamu Mas berada di sana.

  41. Aamiin. Semoga kamu bisa mendapatkan euforiamu sendiri 😀

  42. Indah banget mbak tara. Gunung dempo selalu mempesona.

    Ndak jadi nanjak, soale keburu kerjaan kelar dan balik ke jakarta 😀

  43. Eh aku malah suka baca tulisan yang model begini lho,, berasa 'diceritani'.
    Aku pada dasarnya emang suka denger cerita pengalaman orang.

    Btw, Vai kamu baru hitungan hari ke Pagaralam ceritanya udah lumayan banyak,, gimana aku eksplore benerannnnn

  44. bungkus kopinya ga dipoto kak. soalnya aku pernah minum kopi dari daerah medan juga biasa bungkusnya tapi enak banget. bahkan tanpa gula lebih enak

  45. Hehehe..makasih mbak dini 😀

    Yaa sebetulnya lebih banyak interaksi sama warga asli aja. Biasanya perjalanan kita bakal lebih berwarna. Sama2 ke suatu tempat, namun pengalamannya tetap bakal berbeda 😀

  46. Ntar aku update lagi untuk foto bungkus kopinya mbak. Semoga dapat fotonya 😀

  47. Andai blogwalking bisa sekalian nyicip kopi yang diceritakan … atau minimal bisa menghirup aromanya saja..

    jadi pengen ke Pagaralam, menikmati suasana yang diceritakan kak Vay, sekalian ngopi..

    duh, ngiler kopi.

  48. Vai, coba interaksinya diperbanyak. Pengen tahu bahasa lokal di sana sekalian hihihi..
    Seneng ya sebenernya saat pekerjaan kita juga mendukung passion. Jadi bisa sekalian cerita pengalaman di blog.

  49. Semoga bisa ke pagaralam dan menikmati kopinya jga 😀

  50. Bahasa lokalnya sama kayak bahasa palembang. Terdengar cengkok melayu.

    Intinya seneng bisa menandatangi tempat-tempat baru 😀

  51. Pai punya ciri khas sendiri ketika bercerita di blog. Aku malah suka model tulisan begini, kayak didongengin. Hhihi..Nggak ngebosenin
    by he way, kayaknya kota Pagaralam asik juga ya buat dikunjungin

  52. Bs jadi reff perjalanan nih i, klo pas dolan palembang. Trus baliknya borong kopi. Haha

  53. Hehee..cerita berdasarkan pengalaman aja sih mbak 😀

    Ayo kesana mbak. Jangan lupa beli kopi pagaralam jga 😀

  54. Bisa perjalanan via darat dari palembang selama 6-7 jam 😀

  55. Pagar Alam, pagarnya alam atau pagar terbuat dari alam? hehe… Salam

  56. Kota pagaralam dibatas dengan barisan perbukitan, yang seolah berbentuk pagar yang alami

  57. hmmm tapi ini yang difoto bagian desanya kah?
    atau memang di tengah kota?

    Pagaralam keren ya
    ku juga pengen mampir melipir ke sana tipis2
    hehehe

  58. liana

    *puk puk, sabar ya mas :p

  59. Desa dan kotanya beda sedikit…tapi memanh pemandanhannya seperti itu 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *